Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Perjalanan Bersama dan Ujian Kecil
Perjalanan bersama karavan terasa sangat berbeda. Meskipun lebih lambat, suasana menjadi lebih hidup. Para penjaga, setelah mengetahui identitas Jiang Chen sebagai penyelamat mereka dan seorang ahli yang kuat, menaruh hormat yang mendalam padanya. Mereka sering mencoba berbicara dengannya, menanyakan tentang dunia kultivasi, tetapi Jiang Chen lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Lin Ziyan, di sisi lain, sangat cerdas. Ia tahu Jiang Chen bukanlah tipe orang yang suka berbasa-basi. Ia tidak mengganggunya dengan obrolan kosong, tetapi setiap kali mereka berhenti untuk beristirahat, ia akan secara pribadi memastikan Jiang Chen mendapatkan makanan dan air terbaik. Ia juga sesekali akan menceritakan kisah-kisah menarik tentang berbagai kota, sekte, dan tokoh-tokoh kuat di Kerajaan Angin Timur, informasi yang dengan senang hati diserap oleh Jiang Chen.
Melalui Lin Ziyan, Jiang Chen mengetahui bahwa "barang penting" yang mereka bawa adalah sekelompok ramuan langka berusia ratusan tahun yang dipesan oleh seorang alkemis terkemuka di ibukota. Ini menjelaskan mengapa mereka menjadi target para perampok.
Suatu sore, sekitar lima hari setelah meninggalkan Maplewood City, karavan berhenti di tepi sebuah sungai untuk beristirahat dan memberi minum kuda-kuda mereka.
Saat para penjaga sedang sibuk, Lin Ziyan mendekati Jiang Chen yang sedang duduk di bawah pohon, memejamkan mata.
"Tuan Muda Jiang," panggilnya dengan lembut. "Bolehkah saya menanyakan sesuatu tentang kultivasi?"
Jiang Chen membuka matanya. "Tanyakan saja."
"Saya... saya telah terjebak di puncak tingkat lima Alam Pengumpul Qi selama hampir satu tahun," katanya dengan sedikit frustrasi. "Saya sudah mencoba berbagai metode, tetapi saya tidak pernah bisa merasakan tanda-tanda terobosan ke tingkat keenam. Paman Zhong berkata hati saya kurang tenang, tetapi saya tidak tahu bagaimana cara menenangkannya."
Jiang Chen meliriknya. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa Qi di dalam tubuh Lin Ziyan memang sangat padat, tetapi ada sedikit kekacauan dalam alirannya, seolah-olah ada sumbatan tak terlihat yang menghalanginya.
"Tunjukkan padaku gerakan pedangmu," kata Jiang Chen tiba-tiba.
Lin Ziyan sedikit terkejut tetapi segera mengerti. Ia mundur beberapa langkah, menghunus pedang rampingnya, dan mulai memperagakan satu set teknik pedang. Gerakannya anggun dan indah seperti tarian, setiap tebasannya menciptakan suara siulan yang merdu. Itu adalah teknik pedang tingkat tinggi yang jelas berasal dari keluarga kaya.
Setelah beberapa saat, ia berhenti, napasnya sedikit terengah-engah.
Jiang Chen mengangguk perlahan. "Teknik pedangmu indah. Terlalu indah. Kau lebih fokus pada bagaimana agar setiap gerakan terlihat sempurna daripada pada tujuan sebenarnya dari pedang itu."
"Tujuan sebenarnya?" ulang Lin Ziyan, bingung.
"Untuk membunuh," jawab Jiang Chen dengan datar. "Pedang adalah senjata. Tujuannya adalah untuk mengalahkan musuh seefisien mungkin. Teknikmu memiliki terlalu banyak gerakan yang tidak perlu, terlalu banyak hiasan. Kau mengorbankan kecepatan dan kekuatan demi keindahan. Itulah yang menghambat aliran *Qi*-mu. Pikiranmu terbagi antara bertarung dan 'tampak bagus' saat bertarung."
Kata-kata Jiang Chen sangat blak-blakan dan menusuk, tetapi bagi Lin Ziyan, itu seperti sambaran petir di hari yang cerah. Ia tidak pernah memikirkannya seperti itu. Sejak kecil, ia selalu dipuji karena gerakan pedangnya yang anggun.
"Lalu... apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan sungguh-sungguh.
"Lupakan semua gerakan indah itu. Pikirkan hanya satu hal: bagaimana cara menusuk pohon di depanmu secepat mungkin," kata Jiang Chen sambil menunjuk sebuah pohon besar sekitar sepuluh meter jauhnya. "Jangan pedulikan posturmu, jangan pedulikan bagaimana penampilanmu. Tusuk saja."
Lin Ziyan ragu-ragu sejenak, lalu ia menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba mengosongkan pikirannya dari semua ajaran yang telah ia pelajari. Ia menatap pohon itu, membayangkannya sebagai musuh bebuyutannya.
SWOOSH!
Ia melesat maju dan melakukan sebuah tusukan sederhana. Gerakannya tidak lagi seanggun sebelumnya, bahkan sedikit canggung, tetapi kecepatannya jelas lebih tinggi.
THUNK!
Ujung pedangnya menancap beberapa inci ke dalam batang pohon.
Jiang Chen menggelengkan kepalanya. "Masih terlalu lambat. Kau masih berpikir. Jangan berpikir. Rasakan. Rasakan garis lurus antara kau dan targetmu."
Lin Ziyan menarik pedangnya dan mencoba lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Selama hampir satu jam, di tepi sungai itu, hanya ada suara tusukan pedang yang berulang-ulang. Awalnya, para penjaga melihatnya dengan bingung, tetapi Paman Zhong menghentikan mereka untuk bertanya. Ia bisa melihat bahwa nona mudanya sedang mengalami semacam pencerahan di bawah bimbingan Tuan Muda Jiang.
Keringat membasahi dahi Lin Ziyan, dan lengannya mulai terasa berat. Tetapi ia tidak berhenti. Setiap kali ia menusuk, ia mencoba untuk menjadi lebih cepat, lebih langsung.
Tiba-tiba, pada tusukan yang keseratus, sesuatu 'klik' di dalam benaknya. Ia merasa seolah-olah dirinya, pedangnya, dan pohon itu telah menjadi satu. Semua gangguan di dunia lenyap.
FWUSSSSH!
Tusukannya kali ini menghasilkan suara yang sama sekali berbeda. Jauh lebih tajam, lebih fokus.
CRACK!
Pedangnya tidak hanya menancap, tetapi menembus seluruh batang pohon itu dan keluar dari sisi lain.
Pada saat yang sama, aura di sekitar tubuh Lin Ziyan berfluktuasi dengan liar. Qi di dalam tubuhnya, yang tadinya tersumbat, kini mengalir deras seperti bendungan yang jebol.
BOOM!
Sebuah gelombang energi kecil menyebar darinya. Ia telah berhasil menembus kemacetan yang telah menahannya selama setahun.
Lin Ziyan berdiri tertegun, menatap pohon yang berlubang di depannya, lalu pada tangannya sendiri, merasakan kekuatan baru yang mengalir di dalam meridiannya. Ia telah mencapai tingkat keenam Alam Pengumpul Qi.
Matanya berkaca-kaca karena gembira. Ia berbalik dan tanpa ragu-ragu, berlutut di hadapan Jiang Chen.
"Terima kasih atas bimbingan Anda, Guru Jiang!"
Satu jam bimbingannya lebih berharga daripada sepuluh tahun latihan kerasnya. Ia tidak lagi memanggilnya 'Tuan Muda', tetapi 'Guru'. Itu adalah bentuk penghormatan tertinggi yang bisa ia berikan.
Jiang Chen hanya mengangguk, menerima panggilan itu dengan tenang. Di kehidupan sebelumnya, miliaran makhluk menyebutnya 'Guru'.