Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Hari Pertama di Kampung
“Kang Asep, Kang!” suara teriakan seorang wanita mengusik tidur Ziya yang terlelap sejak sore hari akibat kelelahan di perjalanan.
“Siapa sih yang teriak-teriak berisik banget,” keluh Ziya sambil menutupi kepalanya dengan bantal.
“Kang Asep!” teriaknya lagi, kali ini diiringi isakan.
“Ada apa atuh Teh? Kenapa Teteh teriak-teriak di depan rumah saya?” keluh Asep. Mendengar suara Asep, Ziya pun terbangun karena merasa tertarik dengan apa yang terjadi diluar rumah tersebut.
“Akang jahat, kenapa Akang malah nikah sama Awewe kota itu, kemaren sama Siti, Akang bilangnya belum siap berumah tangga lalu ini apa atuh Kang, tiba-tiba Siti dapat kabar kalau Akang bawa Istri Akang pulang dari Jakarta, huaaaa!” dia menangis keras.
“Aduh Teh, jangan keras-keras atuh nangisnya Istri saya lagi tidur.”
“Se-seharusnya Akang jujur kalau misalnya Akang gak suka sama Saya atuh Kang, jangan begini,” ujarnya diiringi isakan keras.
“Maaf Teh, Saya gak suka sama Teteh.”
“Akang!” teriaknya.
“Hah, kenapa atuh Teh, tadi katanya suruh saya jujur kalau saya gak suka sama Teteh?”
Bhahaha, Ziya yang semula hanya mendengarkan percakapan Asep dan Siti tiba-tiba tertawa keras membuat Asep maupun Siti sontak menoleh ke asal suaranya. Dia pun membuka kaca jendela kamarnya.
“Eh Sorry, aku bukan lagi ngetawain kalian ko, ini aku liat video lucu di hape,” dustanya masih dengan bibir menahan tawa.
“Neng udah bangun?” Asep berucap kikuk, seakan dia baru ketahuan selingkuh.
“Hem,” Ziya mengangguk pelan.
Wanita yang bernama Siti itu membuang mukanya kearah lain, kemudian pergi.
“Gak dikejar Sep? Kayanya dia marah tuh,” ucap Ziya sambil menopang dagu dengan tangannya.
“Nggak atuh Neng, buat apa di kejar, lagian saya gak ada hubungan apa-apa sama dia,” ujar Asep sambil masuk kembali kedalam rumah.
“Bangun dulu Neng, kita makan,” panggil Asep.
Ziya pun keluar dari kamar, “Huah, jam berapa ini?” dia menguap sambil menggeliat pelan.
“Jam delapan Neng, sok atuh duduk kita makan dulu,” ucap Asep yang sudah nampak duduk lebih dulu di atas tikar yang digelar, disana sudah tersedia sebakul nasi dan beberapa lauk dan sayur, sepertinya itu hasil masakan Asep sendiri.
“Iya tapi gue mau ke wc dulu, wcnya dimana?”
“Oh dibelakang Neng, ada pintu disana Neng buka aja,” ujar Asep.
Ziya melenggang ke dapur sambil sesekali melihat-lihat isi rumah itu, “ternyata udah ada kompor gas juga, gue bayangin ini tempat udah kayak jaman primitif tapi ternyata enggak,” ujarnya, dia pun membuka pintu yang dimaksud Asep, sontak matanya pun membola sempurna yang ia kira pintu kamar mandi ternyata adalah pintu keluar.
“Ah kayanya gue salah pintu,” ralatnya berusaha menetralkan rasa takutnya dan kembali menutup pintu tersebut. Pandangan mata Ziya menyapu seluruh ruangan mencari keberadaan pintu lain, namun ternyata yang ada hanya satu pintu itu saja.
“Sep, gue gak nemuin wc nya,” teriak Ziya.
Taklama Asep pun datang, “oh itu Neng udah di depan pintunya, tinggal dibuka aja atuh Neng,” ujarnya.
“Ini yang Lu sebut wc, Sep?” ucap Ziya tak percaya, dia kembali membuka pintu tersebut yang menampilkan pemandangan malam hari di perkampungan yang sepi dengan rumah yang berjarak, belum lagi WC-nya pun agak jauh dari pintu dapur tersebut sekitar lima meter dari rumah.
“Iya Neng, itu WC nya, saya belum bikin WC di dalam rumah soalnya,” ujarnya.
“Kalau gitu bikin sekarang.”
“Hah sekarang? Gak bisa atuh Neng masa sekarang.”
Ziya berdecak kesal, sesuatu dalam tubuhnya memaksa terus ingin keluar, “Arghh sial, gu-gue gak berani kesana sendiri, elu harus temenin gue,” ucapnya dengan nada gugup.
“Oh gitu, iya sok atuh Neng.”
Ziya pun melangkah keluar, dia bergidik sendiri melihat pemandangan sekitar yang gelap gulita, hanya ada titik-titik cahaya di kejauhan, serta semak-semak yang terkena sinar cahaya lampu.
Asep menghentikan langkahnya beberapa langkah dari pintu kamar mandi, “ko lu berhenti?” tanya Ziya dengan nada takut, dia seperti sedang syuting film horor.
“Masa saya harus diem di depan pintu WC atuh Neng,” tanggapnya.
“I-iya lu bener, gu-gue masuk dulu, a-awas kalau lu berani ngintip,” ancamnya.
“Saya mana berani atuh Neng, udah sok tinggal masuk.”
Walau takut Ziya tetap memaksakan diri untuk masuk kedalam WC tersebut, bangunan tunggal dengan ukuran 3×3 meter persegi, didalamnya terdapat bak semen dengan air yang terus dibiarkan mengalir, airnya begitu jernih hingga bisa menampilkan dasar baknya, aliran airnya pun cukup besar hingga menimbulkan bunyi bising ditelinga, disini cukup terang karena dipasang lampu sebagai penerang.
Pandangan Ziya menyapu seluruh ruangan, benaknya terus menampilkan bayangan-bayangan penampakan makhluk Astral, membuat bulu kuduknya seketika meremang.
Guk...Guk... Byur....!!!
Argh....
Dia menjerit seketika.
“Ada apa Neng?!” teriak Asep dari luar.
Seketika pintu terbuka, “gu-gue denger suara air sama suara aneh dari belakang WC, Sep,” ungkapnya dengan tubuh mengkerut takut.
“Oh itu mah cuma burung elang atuh Neng, dibelakang WC ini ada empang biasanya kalau malem mereka suka berburu ikan,” jelas Asep.
“Oh gitu,” ucap Ziya sambil menyentuh tengkuknya yang terasa meremang, ucapan Asep sama sekali tak membuat hatinya tenang sama sekali.
“Udah ke WC nya?”
“Udah,” sahut Ziya, tentunya dia tak ingin berlama-lama di tempat menyeramkan seperti itu.
Asep mengikuti langkah Ziya dibelakangnya, saat Asep menutup pintu suara jeritan Ziya kembali terdengar, Arghhhh... Dia berlari kearah Asep tanpa aba-aba, bruk... Tubuhnya menabrak tubuh Asep seketika, beruntung tubuh Pria itu sudah terlatih dengan beban berat membuatnya cukup kuat untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh kelantai.
“A-ada apa atuh Neng?” tanyanya gugup.
“Itu ada itu,” pekiknya, tanpa dia sadari dia memeluk tubuh Asep dengan mata terpejam.
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..
❤💪💪💪😍😍😄😄😄