Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi terakhir sebelum Arkan kembali ke Jakarta disambut oleh udara Solo yang masih basah sisa hujan semalam. Alih-alih menggunakan motor, Arkan mengajakku jalan kaki menyusuri koridor city walk Slamet Riyadi. Katanya, dia ingin merekam suara langkah kaki kami di aspal yang sama sebelum kembali ke bisingnya ibu kota .
Arkan mengenakan hoodie abu-abu favoritnya, sementara aku memakai jaket rajut tipis. Tangan kanannya menggenggam jemariku erat, sesekali ia mengayunkan tangan kami pelan layaknya anak kecil yang sedang bahagia.
"Ra, liat gedung tua itu," Arkan menunjuk sebuah bangunan peninggalan kolonial dengan pilar-pilar besar yang kokoh. "Dulu gue cuma liat itu sebagai tumpukan batu. Sekarang, setelah dua tahun di Arsitektur, gue liat itu sebagai bentuk kesetiaan. Dia tetep berdiri meski zaman udah berubah, meski catnya mulai ngelupas."
Aku menoleh, menatap wajahnya yang kini tampak lebih dewasa. "Kayak lo?"
Arkan terkekeh, lalu berhenti melangkah tepat di bawah pohon tanjung yang bunganya mulai berguguran. "Kayak kita. Gue mau hubungan kita punya struktur kayak pilar itu, Ra. Nggak peduli Jakarta sesibuk apa, atau Solo sepi kayak gimana, pondasinya nggak boleh geser."
Ia merogoh saku hoodie-nya dan mengeluarkan sebuah kamera analog tua. "Sini, foto dulu. Biar ada bukti kalau pagi ini 'asuransi' lo masih ganteng maksimal sebelum kena polusi Jakarta."
Cekrek!
Satu lembar foto polaroid keluar. Di sana, aku sedang tertawa lebar—tawa yang dulu sangat sulit keluar—dan Arkan yang sedang menatapku, bukan menatap kamera
"Gue mau bawa satu foto 'asuransi' fisik buat gue pajang di meja studio Jakarta."
Cahaya lampu kilat kecil memecah pagi yang syahdu itu. Aku tertawa melihat Arkan yang sibuk menggulung film kameranya.
Kami melanjutkan jalan pagi menuju sebuah kedai soto kecil di dekat Pasar Pon. Di sana, kami makan dalam diam yang nyaman. Sesekali Arkan memindahkan potongan daging dari mangkuknya ke mangkukku, sebuah perhatian kecil yang sudah ia lakukan selama dua tahun ini
Arkan berhenti tepat di depan pagar rumahku. Ia memegang kedua bahuku, menatapku dengan intensitas yang selalu berhasil membuatku merasa menjadi orang paling berharga di dunia. "Enam bulan lagi, Ra. Enam bulan lagi gue bakal balik buat magang di Solo. Kita nggak perlu LDR-an jauh lagi."
Aku mengangguk, menyentuh kalung kunci di leherku. "Gue tunggu, Kan. Hati-hati di jalan ya. Daisy di tas lo jangan sampe lepas."
Arkan mencium keningku lama, sebuah segel janji yang mengakhiri kencan pagi kami. Saat ia berjalan menjauh menuju mobil Kak Pandu yang sudah menunggu, aku menyadari bahwa perpisahan kali ini tidak lagi meninggalkan lubang. Karena aku tahu, Arkan bukan pergi untuk meninggalkan, tapi pergi untuk membangun jalan agar kami bisa terus bersama
Suara mesin mobil Kak Pandu perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang biasanya membuatku sesak. Namun pagi ini berbeda. Aku berdiri di depan pagar, meraba bekas hangat kecupan Arkan di keningku yang masih tertinggal.
Aku melangkah masuk ke rumah, di mana Mama sudah menunggu di meja makan dengan segelas teh hangat. Beliau menatapku, lalu tersenyum tipis melihat kalung kunci perak yang berkilau di leherku.
"Dia sudah berangkat, Ra?" tanya Mama lembut.
"Sudah, Ma. Kak Pandu yang antar ke bandara," jawabku sembari duduk di sampingnya. "Katanya enam bulan lagi dia magang di Solo. Dia mau fokus selesaikan proyek studionya di sini."
Mama mengelus rambutku pelan. "Mama senang liat kamu sekarang. Arkan itu seperti semen yang bagus buat retakan di hati kamu. Dia nggak cuma nutup lukanya, tapi dia memperkuat fondasinya, persis seperti cara dia bicara soal bangunan."
Aku mengangguk setuju. Jika dulu aku menganggap laki-laki adalah badai yang menghancurkan rumah, Arkan mengajariku bahwa laki-laki bisa menjadi atap yang melindungi dari hujan.
Sore harinya, aku memutuskan untuk pergi ke Markas Rahasia. Aku menggunakan kunci perak di leherku untuk membuka pintu besi yang berderit itu. Di dalam, cahaya sore masuk dari celah ventilasi, menyinari meja sketsa Arkan yang kini sudah bersih rapi.
Di sudut meja, aku menemukan sebuah bungkusan kecil dengan memo kuning:
"Buat asuransi cadangan kalau gue lagi di atas pesawat. Jangan dibuka sampai jam 12 siang."
Aku tertawa kecil melihat jam tangan yang menunjukkan pukul empat sore. Aku terlambat membukanya. Di dalam bungkusan itu ada sebuah miniatur pilar kolonial yang terbuat dari resin, persis seperti pilar yang kami lihat di city walk pagi tadi. Di bawahnya tertulis ukiran halus: "Nara & Arkana: Struktur Abadi."
Aku meletakkan miniatur itu di samping maket apotek impianku. Aku menyadari bahwa enam bulan ke depan bukanlah beban, melainkan waktu bagi kami untuk tumbuh di jalur masing-masing sebelum akhirnya bertemu kembali di titik yang sama.
Ting!
Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang paling kusukai.
Arkan P: Gue baru mendarat di Jakarta. Polusinya langsung bikin gue kangen udara Solo... dan kangen lo. Foto polaroid tadi udah gue tempel di casing HP. Jangan lupa makan siang, Ra. Gue sayang lo.
Aku tersenyum lebar, mengetik balasan sembari menatap miniatur pilar di depanku. Bab perpisahan kali ini resmi ditutup dengan rasa percaya yang mutlak. Aku tidak lagi takut pada hari esok, karena aku tahu, sejauh apa pun Arkan melangkah, hatinya selalu punya titik koordinat yang tetap: di sini, bersamaku.