dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Yang Dingin
Hati ku sedikit tersentuh. Ternyata, masih ada manusia yang menganggapnya manusia—yang melihatnya saat dia hampir terjatuh, yang bergerak cepat untuk menolongnya tanpa ragu. Rasa hangat itu menjalar pelan dari titik di mana tangannya menyentuh kulitku, merambat hingga ke sudut-sudut hatiku yang sudah lama beku. Untuk sesaat, aku merasa dilihat, merasa ada, merasa berharga.
Namun, perasaan itu hanya bertahan sekejap.
Detik berikutnya, kesadaran itu datang kembali seperti tamparan keras yang membangunkanku dari mimpi singkat. Tidak ada manusia di dunia ini yang benar-benar tulus baik. Semua kebaikan pasti ada tujuannya, ada balasannya, atau sekadar sandiwara belaka. Mungkin dia hanya menolong karena tidak ingin terlihat buruk di depan orang lain, atau mungkin karena tugasnya sebagai panitia yang harus menjaga siswa baru. Tidak ada yang peduli sungguh-sungguh pada orang asing yang bahkan wajahnya saja terlihat datar dan tak menarik ini.
Perasaan hangat itu lenyap secepat ia datang, digantikan oleh tembok tebal yang kembali berdiri, bahkan lebih kokoh dari sebelumnya. Aku menarik tubuhku perlahan, melepaskan genggaman tangannya dengan gerakan yang sedikit kaku dan terburu-buru.
"Aku tidak apa-apa," jawabku pelan, suaraku datar tanpa nada, mataku segera menunduk menghindari tatapannya. Aku tidak berani menatapnya lebih lama, takut jika dia bisa membaca kekacauan perasaanku, atau lebih buruk lagi, takut aku akan terbuai oleh tatapan itu dan lupa pada kenyataan pahit yang sudah aku pelajari seumur hidup.
"Terima kasih," tambah ku singkat, lalu aku segera berbalik, berjalan cepat kembali ke tempat kelompokku berada, meninggalkan dia yang masih berdiri di sana. Aku tidak menoleh ke belakang lagi, meski aku bisa merasakan tatapannya masih mengikuti punggungku. Aku harus menjaga jarak. Aku tidak boleh membiarkan siapa pun masuk, tidak boleh membiarkan diriku berharap pada sesuatu yang pada akhirnya hanya akan menyakitiku.
Di tengah keramaian lapangan yang masih riuh, aku kembali menyusut ke dalam diriku sendiri. Hati yang sempat sedikit retak dan terasa hangat itu, kini kembali tertutup rapat, dingin, dan mati rasa seperti sedia kala.
Suasana MOS di lapangan sekolah masih sangat hiruk-pikuk. Tepuk tangan sorak-sorai, suara pemandu sorak dari masing-masing kelompok, dan tawa riang siswa-siswi baru bercampur menjadi satu. Di tengah kegembiraan itu, Laras tetap berdiri di pinggiran kelompoknya, seperti sebuah pulau kecil yang terpisah dari daratan utama.
Beberapa kakak kelas panitia yang sedang berkeliling mencoba mendekatinya. Seorang kakak perempuan dengan pita merah di lengan bajunya berhenti di sampingnya, senyumnya lebar dan ramah. "Dek Laras, kan? Kenapa berdiri sendirian di sini? Ayo ikut main sama teman-teman yang lain, seru lho!" katanya sambil mencoba menarik lengan Laras pelan.
Laras segera menarik tangannya kembali dengan gerakan halus namun tegas. Wajahnya tetap datar, tanpa sedikit pun senyum yang terukir. "Tidak mau, Kak. Aku lebih suka di sini," jawabnya pelan namun dingin, matanya menatap lurus ke depan seolah tidak ada orang lain di sampingnya.
Kakak kelas itu terdiam sejenak, terlihat sedikit canggung dengan penolakan yang begitu jelas. "Ya... ya sudah kalau begitu. Kalau butuh apa-apa, panggil Kakak ya," ucapnya akhirnya, lalu berjalan menjauh dengan perasaan sungkan.
Tak hanya kakak kelas, teman-teman satu angkatannya pun berusaha mendekat. Seorang gadis berambut pendek yang bernama Dinda mencoba duduk di samping Laras saat acara istirahat. "Hai, Laras. Kamu tidak lapar? Aku bawa bekal, mau bagi-bagi nih. Ini roti cokelat enak banget," katanya sambil menyodorkan bungkusan roti ke arah Laras.
Laras menoleh sekilas, tatapannya kosong dan tidak menunjukkan minat. "Tidak, terima kasih. Aku sudah bawa," jawabnya singkat, lalu kembali memandang ke arah lain, memberikan jarak yang jelas antara dirinya dan Dinda.
Dinda tersenyum kecut, menyimpan kembali rotinya. "Oh... ya sudah," gumamnya pelan, lalu pindah duduk ke tempat lain bersama teman-teman yang lain yang lebih terbuka.
Satu per satu orang mencoba memecah keheningan Laras—ada yang mengajak berkenalan lebih dalam, ada yang bertanya tentang hobi, ada yang mengajak bergabung dalam permainan kelompok. Namun, setiap kali ada yang berusaha mendekat, Laras selalu merespons dengan jawaban yang sepotong-sepotong, dingin, dan tanpa antusiasme. Dia tidak pernah membalas senyuman, tidak pernah bertanya balik, dan tubuhnya selalu mempertahankan jarak yang membuat orang lain merasa tidak diundang.
Perlahan, pesan itu sampai ke telinga semua orang. Laras adalah gadis yang dingin, tertutup, dan tak tersentuh. Akhirnya, mereka semua merasa sungkan untuk terus memaksakan diri. Mereka membiarkan Laras berada di dunianya sendiri, sementara keramaian dan kehangatan MOS terus berjalan di sekelilingnya tanpa pernah benar-benar menyentuh hatinya yang beku. Laras pun merasa tenang—setidaknya, dengan cara ini, tidak ada yang bisa menyakitinya, dan tidak ada yang bisa mengecewakannya.