NovelToon NovelToon
DINIKAHI MANTAN MERTUA

DINIKAHI MANTAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Dunia Andini Kharisma Sulistia (21 tahun) runtuh seketika saat kecelakaan maut merenggut nyawa suaminya, Keenan Adiwijaya. Di tengah duka yang masih basah, Andini harus menghadapi kenyataan pahit tanpa sosok pendamping. Namun, hadirnya Farhady Sastranegara (41 tahun) membawa kebimbangan baru.
​Farhady bukanlah orang asing; ia adalah mantan ayah mertua yang ternyata hanyalah ayah sambung Keenan. Meski tak ada ikatan darah, lamaran Farhady memicu badai emosi dan stigma sosial yang tajam. Terjebak antara kesetiaan pada mendiang suami dan kasih sayang tulus Farhady, Andini harus menentukan arah hatinya dalam balutan dilema cinta yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Embun di Puncak Pinus

​Waktu adalah tabib yang paling lamban, namun ia tidak pernah berhenti bekerja. Enam bulan telah berlalu sejak tanah merah di Maribaya menelan separuh jiwa Andini. Lembang masih tetap sama—dingin, berkabut, dan beraroma pinus—namun rumah mungil itu kini terasa lebih luas dan sepi. Langkah kaki Keenan yang biasanya menggema di selasar kini hanya tinggal gema dalam ingatan yang mulai memudar warnanya, meski rasa sakitnya masih sedalam sumur tua.

​Andini mulai kembali ke sekolah. Bibit dan bobotnya sebagai pendidik membuatnya tidak ingin tenggelam terlalu lama dalam melankoli yang melumpuhkan. Ia kembali berdiri di depan kelas, menatap wajah-wajah polos muridnya, meski terkadang di tengah pelajaran, matanya akan terpaku pada kursi kosong di pojok ruangan dan teringat impian Keenan tentang perpustakaan desa.

​"Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita akan belajar tentang bagaimana pelangi terbentuk," ujar Andini dengan suara yang berusaha tetap stabil, meski hatinya terasa seperti kaca yang direkatkan kembali dengan lem yang rapuh.

​Di sisi lain kota, di gedung perkantoran mewah di pusat Bandung, Farhady juga telah kembali ke rutinitasnya. Namun, ada yang berbeda dari pria itu. Wibawanya kini lebih tenang, lebih dalam, seperti laut setelah badai besar. Ia tidak lagi mengejar target perusahaan dengan ambisi yang meledak-ledak. Baginya, angka-angka di atas kertas itu kini terasa hambar dibandingkan dengan kenyataan bahwa putra yang ia banggakan telah tiada.

​Setiap sore, tanpa absen, Farhady akan mengarahkan sopirnya menuju Lembang. Ia tidak lagi datang dengan setelan jas lengkap; seringkali ia hanya mengenakan kemeja santai, membawa keranjang berisi buah-buahan segar atau buku-buku sastra terbaru yang ia tahu akan disukai Andini.

​"Dini, Ayah bawakan apel malang kegemaranmu," ujar Farhady suatu sore, berdiri di ambang pintu rumah Andini.

​Andini menyambutnya dengan senyum tipis yang mulai kembali menghiasi wajah pucatnya. "Terima kasih, Ayah. Seharusnya Ayah tidak perlu repot-repot setiap hari menanjak ke Lembang."

​"Ayah tidak merasa repot. Melihatmu baik-baik saja adalah satu-satunya misi Ayah sekarang," jawab Farhady tulus, namun ada intensitas dalam tatapannya yang sulit diartikan—sebuah perlindungan yang melampaui batas mertua biasa.

​Mereka sering menghabiskan waktu di beranda belakang, tempat yang dulu menjadi saksi bisu kemesraan Andini dan Keenan. Di sana, mereka akan tenggelam dalam elegi masing-masing. Mereka akan bercerita tentang Keenan bukan lagi dengan isak tangis yang meraung, melainkan dengan senyum getir yang penuh kerinduan.

​"Keenan selalu bilang, kalau dia sedang bingung, dia akan melihat matamu untuk menemukan kompasnya," kenang Farhady sambil menatap lembah Maribaya yang mulai tertutup kabut.

​Andini menunduk, jemarinya memainkan ujung syal. "Dan dia selalu bilang, Ayah adalah gunung yang menjaganya dari badai. Dia sangat memuja Ayah."

​Dalam keheningan yang tercipta setelah penyebutan nama itu, ada sebuah benang merah yang tak kasat mata mulai terajut di antara mereka. Keduanya adalah fragmen dari kehidupan Keenan yang tersisa. Kehadiran Farhady bagi Andini adalah jembatan menuju kenangan suaminya, sementara bagi Farhady, Andini adalah cermin hidup dari semua kebaikan yang pernah dimiliki Keenan.

​Emosi pembaca akan dibawa pada suasana yang sangat halus dan menyentuh—melihat dua manusia yang berbeda generasi ini mencoba saling menyembuhkan. Andini mulai terbiasa bergantung pada kehadiran Farhady untuk mengisi kekosongan harinya, dan Farhady mulai merasa bahwa hidupnya kembali memiliki tujuan setiap kali melihat binar kecil di mata Andini.

​Belum ada pikiran tentang masa depan yang rumit, belum ada bayangan tentang lamaran yang akan menggegerkan jagat sosial. Saat ini, mereka hanyalah dua jiwa yang sedang belajar bernapas kembali di tengah udara Lembang yang tipis. Mereka sedang mengumpulkan serpihan sutra yang koyak, mencoba menjahitnya kembali meski warnanya tak akan pernah sama lagi. Di bawah langit yang mulai meredup, elegi itu perlahan berubah menjadi simfoni kehidupan yang baru, sunyi namun tetap berjalan.

1
ayu cantik
sukaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!