Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Julian
Cahaya rembulan memantul di permukaan wine yang bergoyang di tangan ketiga wanita itu, menciptakan kilatan yang hampir sedingin niat mereka. Ana melempar tawa renyah yang diikuti oleh senyum puas Yunda dan Glenna, sebuah simfoni kemenangan yang lahir dari rasa iri yang mendarah daging.
Mereka membayangkan Claire terisak di depan gerbang mansion, memohon pengampunan yang tidak akan pernah datang dari keluarga Lergan. Begitu yakinnya mereka bahwa jebakan itu telah mengunci nasib Claire, hingga mereka tidak mendengar kesunyian yang mencekam di dalam mansion, sebuah tanda bahwa mangsa yang mereka sangka terjebak mungkin justru sedang menarik tali jeratnya sendiri.
Ana menyesap wine dengan anggun, matanya berkilat penuh kemenangan. "Aku benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum malam ini. Kak Yunda, Bibi Glenna... bisakah kalian bayangkan ekspresi Julian nanti? Pria kaku yang selalu menjunjung tinggi kehormatan keluarga itu akan melihat istrinya sendiri, Claire yang licik mengerang di bawah dekapan pria lain. Oh, noda itu tidak akan pernah bisa dihapus seumur hidup!"
Yunda tertawa kecil, memutar-mutar gelas wine di tangannya. "Julian tidak pernah memberikan hatinya pada wanita itu. Baginya, Claire hanyalah benalu busuk yang menjebaknya dengan cara paling rendah, menggunakan tubuh untuk hamil dan melahirkan ahli waris Lergan. Begitu Julian melihat perselingkuhan dari skenario yang kita buat, Julian sendiri yang akan menyeret Claire keluar dari gerbang mansion ini tanpa alas kaki."
Wajah Glenna mengeras oleh kebencian terhadap Claire karena perkataan wanita itu. "Wanita sombong itu memandang ku dan mengatakan bahwa aku hanyalah istri kedua dengan status yang tidak kuat. Dia pikir status 'istri pertama yang sah' bisa melindunginya? Malam ini, aku akan memastikan dia jatuh lebih dalam dari lumpur yang dia injak. Aku akan melihatnya merangkak, memohon ampun, sementara posisinya sebagai Nyonya Julian Lergan hancur berkeping-keping."
"Kita harus bersiap, Bibi. Kamera sudah terpasang, pria bayaran kita sudah berada di posisinya. Begitu pintu kamar itu didobrak, drama paling spektakuler dalam sejarah keluarga Lergan akan dimulai. Aku ingin semua orang melihat betapa kotornya Claire malam ini." kata Ana membayangkan dengan wajah berseri - seri.
Yunda mengangguk antusias. "Benar, Ana. Ini akan sangat menyenangkan. Seperti menonton pertunjukan teater di mana sang Antagonis yang sombong mati secara mengenaskan di akhir babak. Mari kita bersulang untuk kejatuhan Claire Lergan malam ini!"
Mereka membenturkan gelas kristal hingga berdenting nyaring, tawa mereka bersahutan, tanpa menyadari bahwa di balik kegelapan pilar mansion, Claire berdiri dengan senyum tipis yang mematikan.
Sementara di aula yang berpendar dingin, Julian merasakan sebuah rongga kehampaan yang perlahan menggerogoti ketenangannya—sebuah kegelisahan asing yang belum pernah ia cicipi sebelumnya, tepat di titik di mana Claire seharusnya berada.
Dulu, wanita itu hanyalah bayangan tak kasat mata dalam hidupnya, seorang istri sah yang hanya ada di atas lembaran kertas yang tak pernah ia anggap memiliki detak jantung atau perasaan.
Baginya, Claire tak lebih dari sekadar nama tanpa makna, sebuah status yang diabaikan. Namun malam ini, entah mengapa, setiap detik yang berdetak terasa seperti beban berat karena Claire tak kunjung menampakkan diri--- netranya terus terpaku pada ambang pintu, mengharap sosok itu datang dan mengisi kursi kosong di sampingnya yang kini terasa sedingin es.
"Ke mana wanita itu? Kenapa juga aku jadi sangat gelisah seperti ini!" batin Julian bergejolak. Ia mengepalkan tangan di bawah meja, mencoba meredam debaran jantungnya yang tidak keruan. Dulu, ia bahkan tidak akan sadar jika Claire menghilang berhari-hari. Baginya, Claire hanyalah nama di atas kertas dokumen pernikahan, sosok figuran dalam hidupnya yang tidak berarti. Namun sekarang, ketidakhadirannya terasa seperti lubang hitam yang menyedot seluruh fokusnya.
Di sudut lain, Ares justru tampak seperti predator yang sedang beristirahat, bersandar angkuh dengan tubuh tegak di atas sofa beludru, membiarkan rentetan pujian dari Kakek Carlos mengalir lewat begitu saja tanpa menyentuh sanubarinya.
Ares hanya teringat pada senyum misterius Claire dan kalimat tentang sebuah drama besar yang mungkin akan memporak-porandakan kedamaian mansion ini, membuatnya terjaga dalam rasa penasaran yang membakar tentang bagaimana babak terakhir dari sandiwara ini akan berakhir.
"Jika kau ingin melihat sebuah pertunjukan yang menarik malam ini, aku sarankan kau tetap tinggal. Mungkin kau akan sangat menyukai adegan puncaknya." kata Claire kala itu.
Ares menyesap minumannya perlahan, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. " Drama apa yang kau siapkan, Nona Claire?
Amber, yang sejak tadi mengamati kegelisahan putranya, akhirnya tidak tahan lagi. Ia meletakkan gelas kristalnya dengan denting yang cukup halus.
"Ada apa denganmu, Julian? Wajahmu terlihat sangat gelisah, seperti kehilangan arah," tegur Amber dengan nada tajam yang tertata.
Julian menoleh, guratan cemas tak bisa disembunyikan dari keningnya. "Ma, Claire belum kembali. Tadi ada pelayan yang tidak sengaja menumpahkan minuman di pakaiannya. Dia bilang hanya pergi sebentar untuk membersihkan diri, tapi sampai sekarang dia belum menampakkan batang hidungnya."
Amber mendengus sinis, senyum meremehkan tersungging di bibirnya yang merah menyala. "Sejak kapan kau jadi begitu peduli pada wanita itu, Julian? Bukankah kau sendiri yang bilang dia hanya pajangan? Lagi pula, dia tidak akan hilang selama masih ada di dalam tembok mansion ini. Mungkin dia hanya sedang mencari perhatianmu dengan sengaja berlama-lama."
"Perasaanku tidak enak, Ma. Ada sesuatu yang salah," bantah Julian, suaranya merendah namun penuh penekanan. Ia kembali melirik ke arah pintu aula, berharap sosok anggun istrinya muncul dari sana.
"Buang jauh-jauh perasaan konyolmu itu," jawab Amber dingin, matanya menatap Julian dengan peringatan keras. "Jika Claire melihatmu secemas ini, dia akan semakin besar kepala. Jangan biarkan wanita rendahan seperti dia merasa memiliki kendali atas emosimu. Duduklah dengan tegak dan bersikaplah seperti seorang pewaris, bukan seperti pria yang kehilangan induknya."
Julian terdiam, namun matanya terus tertuju pada pintu besar yang tetap tertutup rapat. Di sana, di balik lorong-lorong mansion yang gelap, ia tahu sesuatu sedang terjadi. Dan rasa gelisah ini... adalah peringatan yang tidak bisa lagi ia abaikan.
Sudah lebih dari tiga puluh menit jarum jam berdetak, namun sosok Claire tak kunjung muncul di ambang pintu aula. Julian berulang kali melirik jam tangannya, matanya tidak tenang, menciptakan irama gelisah.
Suasana tegang itu mendadak terinterupsi. Seorang pelayan berlari kecil mendekat dengan wajah pucat pasi. Napasnya tersengal seolah baru saja melihat hantu.
"T--tuan Carlos, N--nyonya... maaf, maaf saya lancang mengganggu," ucap pelayan itu sambil menunduk dalam.
Kakek Carlos meletakkan gelasnya. Tatapannya setajam elang, membuat siapapun yang dipandang merasa terintimidasi. "Ada apa? Bicara yang jelas!"
"T--tadi saya mendengar suara aneh... dari dalam kamar tamu di sudut lorong, Tuan," lapor pelayan itu dengan suara bergetar.
Maxime mengerutkan kening. "Suara aneh? Suara apa maksudmu?"
Pelayan itu menelan ludah dengan susah payah, matanya melirik ke arah Julian sesaat sebelum menjawab, "Seperti suara... desahan, Tuan."
Uhuk!
Ares yang tengah meminum minumannya seketika tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil sambil mengusap bibirnya, namun matanya berkilat penuh arti. “Pertunjukan? Apa ini pertunjukan yang dimaksud?” batinnya penuh selidik.
"Jangan mengaco!" bentak Kakek Carlos hingga suaranya menggelegar di sudut aula. "Kita semua ada di sini. Lalu siapa yang kau tuduh sedang berada di kamar tamu?"
"Ampun, T--tuan..." Pelayan itu jatuh berlutut karena ketakutan. "Tadi saya yang mengantar Nyonya Claire untuk membersihkan diri. Saya pergi sebentar saja untuk mengambilkan pakaian baru untuknya. Namun, saat saya kembali ke depan pintu kamar... saya mendengar suara desahan itu dari dalam. Saya tidak berani masuk."
"APA?!"
Suara Julian meledak. Urat-urat di lehernya menonjol keluar, menandakan emosi yang sudah mencapai puncak. Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-bukunya memutih. Amarah, cemburu, dan rasa tidak percaya bercampur aduk menjadi satu badai di kepalanya.
"Wanita murahan itu..." desis Amber dengan nada puas yang tersembunyi di balik keterkejutannya. "Sudah kuduga dia hanya akan membawa aib bagi keluarga ini."
Julian tidak menunggu perintah siapa pun lagi. Ia memutar tubuhnya dan melangkah lebar menuju lorong kamar tamu dengan aura yang sangat mematikan.
Kakek Carlos, Nyonya Mariam, Maxime dan Amber mengikuti dari belakang dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara penasaran, jijik, dan tak percaya. Sementara Ares tetap tenang dengan wajah dingin nya.
Saat mereka tiba di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat itu, langkah mereka terhenti. Benar saja, dari balik celah pintu, terdengar suara desahan halus yang sangat jelas di tengah keheningan lorong.
Wajah Julian mengeras. Tanpa peringatan, ia mengangkat kakinya dan MENGHANTAM pintu itu dengan kekuatan penuh.
BRAKKK!
Pintu terbuka paksa, membentur dinding dengan keras. Semua orang merangsek masuk dan detik itu juga mata mereka langsung melotot. Di dalam ruangan yang remang-remang itu, pemandangan yang tersaji membuat jantung mereka seakan berhenti berdetak saat itu juga.
Deg...
•
•
•
BERSAMBUNG