UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Kesiangan
"Kamu ikut aku ke kampus."
Kalimat itu meluncur dari mulut Sinta pagi tadi dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Logika Sinta sederhana, Nara tidak punya kunci cadangan, kosan akan sepi sampai siang, dan Sinta tidak mau mengambil risiko ada barang yang hilang atau Nara minggat lagi entah ke mana.
Maka di sinilah Nara sekarang.
Duduk di sudut kantin Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran tahun 1995.
Suasana kampus ini sangat berbeda dengan yang Nara kenal di masa depan.
Tidak ada mahasiswa yang menunduk menatap layar ponsel.
Sebagai gantinya, udara dipenuhi oleh suara tawa yang keras, kepulan asap rokok kretek dari meja-meja sudut, dan bunyi halaman buku tebal yang dibalik.
Mahasiswa berlalu lalang dengan kemeja flanelnya, celana jeans berpotongan lurus, dan sepatu kanvas yang mulai pudar warnanya.
Nara, yang meminjam kaus putih polos dan kemeja kotak-kotak milik Sinta, membaur dengan sempurna.
Sinta duduk di seberangnya.
Perempuan itu sedang sibuk membolak-balik diktat setebal batu bata, mencatat sesuatu di buku tulisnya dengan raut wajah sangat serius.
Sesekali ia meniup poninya yang jatuh menutupi mata.
Nara menopang dagu, menatap ibunya dengan senyum tipis.
Sinta di masa muda benar-benar perwujudan dari mahasiswa teladan.
Lalu, sebuah bayangan menghalangi cahaya matahari yang masuk dari jendela kantin.
"Serius amat, Sin."
Suara berat dan kelewat percaya diri itu membuat Sinta mendongak.
Nara ikut menoleh.
Berdiri di samping meja mereka adalah seorang pria.
Mungkin usianya sekitar dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun.
Penampilannya sangat kontras dengan mayoritas mahasiswa di kantin ini.
Pria itu mengenakan kemeja polo berwarna biru dongker yang dimasukkan rapi ke dalam celana bahan. Ikat pinggang kulitnya mengkilap, rambutnya disisir rapi dengan belahan samping yang menggunakan pomade. Di pergelangan tangan kirinya melingkar sebuah jam tangan logam yang terlihat mahal.
Aroma parfum maskulin yang cukup menyengat langsung mengalahkan bau soto ayam dari kedai sebelah.
Sinta menutup bukunya, raut wajahnya sedikit berubah. Bukan tersenyum, tapi berubah menjadi sopan yang dibuat-buat.
"Oh, mas Danang," sapa Sinta. "Iya, lagi nyalin catetan buat kuis nanti."
Pria bernama Danang itu tersenyum lebar, ia menarik kursi kayu di sebelah Sinta tanpa meminta izin lalu duduk dengan gaya sok santai.
"Udah kubilang kan, kamu nggak usah repot-repot nyalin sendiri, fotokopi aja catetanku tahun lalu. Dosennya masih Pak Haris, kan? Soalnya nggak bakal jauh beda," kata Danang, memamerkan senyum deretan giginya.
Sinta tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat kaku di telinga Nara.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku lebih gampang ingat kalau nulis sendiri."
Danang mengangguk-angguk sok bijak, ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Sinta.
Terlalu dekat.
"Nanti sore pulang jam berapa? Mas antar ya pakai mobil, kebetulan hari ini Mas bawa sedan bapak."
Mendengar kata 'mobil sedan', radar di kepala Nara langsung berbunyi nyaring.
Nara menatap Danang dari atas ke bawah.
Pria ini... adalah tipe ideal Sinta di atas kertas.
Rapi, mapan, punya kendaraan, berpendidikan, dan punya rencana masa depan yang jelas.
Pria ini adalah kebalikan total dari Raka.
Nara menelan ludah, kepanikan mulai merayap naik ke tenggorokannya.
Ia melihat bagaimana Sinta terlihat sedikit salah tingkah, bukan salah tingkah karena cinta, tapi salah tingkah karena merasa segan. Namun, bagi Sinta yang sangat rasional, pria seperti Danang adalah prospek investasi masa depan yang sangat menjanjikan.
"Tunggu dulu," batin Nara panik.
"Kalau Sinta tergoda dengan mobil sedan dan kemeja rapi ini... bagaimana dengan Raka?"
"Kalau mereka tidak pernah bersatu... aku tidak akan pernah lahir!"
"Mas, ini temanku, Nara," Sinta tiba-tiba memperkenalkan, menyadari keberadaan Nara yang sedari tadi hanya diam seperti patung.
Danang menoleh sekilas ke arah Nara, ia hanya tersenyum tipis, basa-basi yang sangat singkat.
"Oh, halo, teman SMA Sinta, ya?" tanyanya asal, lalu kembali menatap Sinta, sepenuhnya mengabaikan Nara.
"Jadi gimana, Sin? Nanti sore Mas tunggu di depan fakultas, ya?"
"Itu tidak bisa dibiarkan." Nara berdiri dengan gerakan yang terlalu tiba-tiba hingga ujung kursinya berdecit keras melawan lantai keramik kantin.
Sreek!
Sinta dan Danang menoleh kaget.
"Aku mau cari angin," kata Nara cepat, wajahnya serius. "Sinta, tunggu di sini. Jangan ke mana-mana, terutama... jangan pulang dulu."
Sinta mengerutkan kening kebingungan. "Kamu mau ke mana, Nar? Ini kampus orang..."
Nara tidak menjawab, ia sudah berbalik dan berjalan setengah berlari keluar dari kantin.
Jantungnya berdebar kencang, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling area luar fakultas. Matanya mencari-cari sosok pemuda berantakan yang pagi tadi mengetuk pintu kos dengan wajah panik.
"Raka bilang pintu selalu terbuka di taman, tapi ini siang hari. Raka pasti ada di sekitar kampus, kan?"
Nara berlari kecil menyusuri koridor, melewati papan pengumuman, hingga ia tiba di area parkir motor yang rindang oleh pohon beringin tua.
Dan di sanalah pemuda itu.
Duduk bersila di atas tembok pembatas parkiran, memangku gitarnya.
Raka sedang tertawa mendengar sesuatu yang diceritakan oleh Dimas di sebelahnya.
Ia sudah mengenakan kembali jaket denimnya, asap putih tipis mengepul dari sebatang rokok yang terselip di sela jarinya.
Santa, bebas, tanpa beban.
"Raka!"
Panggilan Nara membuat tawa Raka terhenti.
Pemuda itu menoleh. Matanya sedikit melebar melihat Nara berlari ke arahnya dengan wajah tegang.
Raka mematikan rokoknya ke ujung sol sepatunya, lalu melompat turun dari tembok pembatas dengan gerakan luwes. Ia menatap Nara dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Ada apa?" tanya Raka santai, cengiran khasnya muncul. "Kamu dikejar satpam karena nyuri buku perpus?"
"Sinta dalam bahaya," napas Nara terengah-engah.
Cengiran di wajah Raka langsung luntur, ia memajukan selangkah tubuhnya.
"Bahaya apa? Ada yang ganggu dia?" Nada suaranya turun satu oktaf, menjadi jauh lebih serius.
"Dia lagi dipepet buaya darat," jelas Nara cepat. "Kating tajir pakai kemeja polo dan bawa mobil sedan, orang itu terus-terusan maksa buat antar Sinta pulang, Sinta kelihatan segan buat menolaknya."
Raka terdiam selama dua detik.
Rahangnya sedikit mengeras, tapi kemudian ia mendengus pelan. Ia memutar lehernya hingga berbunyi krek pelan, lalu menyandarkan gitarnya ke dinding.
"Buaya darat, ya?" gumam Raka, senyum miring kembali muncul di wajahnya, tapi kali ini senyum itu tidak mencapai matanya. "Dimas, tolong pegangin gitarku bentar, aku mau ngecek harga mobil sedan."
Nara berjalan cepat di samping Raka kembali menuju kantin.
Berbeda dengan Nara yang panik, langkah Raka panjang, tenang, dan luar biasa percaya diri.
Begitu mereka masuk ke area kantin, mata Nara langsung tertuju pada meja Sinta.
Danang semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Sinta, berbicara dengan suara pelan sambil memainkan kunci mobil di tangannya dengan gaya sombong.
Raka tidak mempercepat langkahnya, ia berjalan santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jeans-nya.
Lalu, tanpa peringatan apa pun...
SREEK!
BRAK!
Raka menarik sebuah kursi kosong dari meja sebelah dengan kasar, lalu menjatuhkan bokongnya tepat di tengah-tengah antara kursi Sinta dan kursi Danang.
Ia duduk dengan kaki terbuka lebar, menghalangi pandangan Danang ke arah Sinta secara total.
Danang terlonjak kaget, kunci mobilnya hampir jatuh.
"Woi! Apa-apaan nih?!" bentaknya marah.
Sinta membelalakkan matanya. "Raka?! Kamu ngapain ke sini?!"
Bukannya menjawab, Raka menoleh pada Sinta, lalu tanpa permisi mengambil botol minuman teh dingin milik Sinta dan menegaknya sampai habis.
"Haus Sin, panas banget di luar," kata Raka santai, mengusap mulutnya dengan punggung tangan. Ia lalu menoleh perlahan ke arah Danang yang sedang menatapnya dengan raut wajah jijik.
"Eh, sori bang," sapa Raka dengan nada usil yang dibuat-buat. "Kursi di sini kosong kan? Tadi abang kelihatannya terlalu maju, takutnya encok. Makanya saya kasih batas biar tulang punggung abang aman."
Nara, yang baru tiba dan berdiri di belakang kursi Sinta, harus mati-matian menggigit bibirnya agar tidak tertawa.
Wajah Danang memerah karena marah, ia menatap Raka dari atas ke bawah. Celana jeans sobek di lutut, kaus hitam oblong, dan jaket denim kusam.
"Kamu siapa? Anak mana? Gak sopan banget main duduk di meja orang!"
"Saya?" Raka menunjuk hidungnya sendiri. "Saya Raka, anak jalanan Bang. Kebetulan lagi lewat, lihat ada bapak-bapak maksa nawarin tumpangan ke temen saya. Saya pikir ini terminal bus, ternyata kantin fakultas."
Sinta langsung menendang kaki Raka di bawah meja. "Raka! Mulutmu!" desisnya tajam, tapi Nara bisa melihatnya. Sinta sedang menahan tawa, ketegangan yang tadi dirasakan Sinta karena desakan Danang, kini menguap seluruhnya.
Danang berdiri, merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang gembel kampus.
"Sinta," kata Danang kaku, menatap Sinta dengan tajam. "Mas pulang dulu, nanti sore kalau kamu butuh tumpangan, cari saja mobil Mas di parkiran depan."
"Nggak usah repot-repot, Bang!" sahut Raka riang sambil melambaikan tangan. "Nanti sore Sinta baliknya sama saya, naik angkot jurusan Cicaheum. Anginnya lebih seger, nggak bau pomade!"
Danang tidak membalas lagi, ia mendengus kasar, memutar tubuhnya, dan berjalan pergi dengan langkah menghentak.
Begitu pria rapi itu hilang dari pandangan, Sinta langsung memukul lengan Raka dengan buku tulis gulungnya.
Plak!
"Aduh!" Raka mengaduh berlebihan sambil mengusap lengannya. "Sakit, Sin! Aku baru aja nyelametin kamu dari penculikan bersenjata kunci mobil, lho!"
"Kamu selalu bikin keributan!" omel Sinta, tapi wajahnya tidak terlihat marah. Ujung bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyuman kecil yang sangat manis. "Kamu sengaja banget bikin malu aku di depan kating!"
"Dia maksa-maksa kamu," balas Raka, nada suaranya tiba-tiba melembut kehilangan unsur bercandanya, mata Raka menatap Sinta lurus-lurus. "Kamu nggak suka dipaksa, kelihatan dari muka kamu yang tegang tadi. Benar, kan?"
Sinta terdiam.
Rona merah menjalar dari leher hingga ke pipinya.
Pemuda urakan yang selalu terlihat tidak peduli pada apa pun ini, ternyata bisa membaca ekspresi Sinta jauh lebih akurat daripada pria cerdas berkemeja polo tadi.
Raka tahu apa yang Sinta rasakan, bahkan sebelum Sinta menyadarinya sendiri.
"Udah minum dulu sana, nanti keselek kebanyakan bengong," goda Raka lagi, kembali ke mode usilnya untuk memecah kecanggungan Sinta.
Sinta mendengus pelan, menutupi wajahnya yang memerah dengan buku.
Di belakang mereka, Nara berdiri dalam diam.
Misi penyelamatannya sukses besar, Raka masuk tepat pada waktunya menggeser posisi Danang tanpa perlu memakai mobil atau kekayaan, Raka menang hanya dengan menjadi dirinya sendiri.
Seharusnya, Nara bersorak.
Seharusnya, ia tersenyum melihat kedua orang tuanya saling melempar candaan dengan wajah memerah seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
Namun, menatap punggung Raka dari jarak sedekat ini...
Melihat bagaimana cara Raka menatap ibunya dengan tatapan penuh perlindungan yang belum pernah pemuda itu berikan pada siapa pun...
Nara merasa ada sebongkah batu besar yang menimpa dadanya.
Ia berhasil menjadi makcomblang yang sempurna.
Tetapi sebagai bayarannya, ia harus berdiri di luar lingkaran, menyaksikan pria yang semalam menghapus air matanya, kini tersenyum untuk perempuan lain.
Nara memaksakan sebuah tawa kecil untuk ikut bergabung dalam obrolan mereka.
Tawa yang terasa seperti pecahan kaca di tenggorokannya.
"Tuh kan, Sin," kata Nara dengan nada ceria palsunya. "Aku udah bilang, preman satu ini punya fungsi lain selain bikin berisik."
Raka menoleh ke arah Nara.
"Bagus, berarti tugas penyelamatanku berhasil. Gimana, Nar? Aku udah cocok jadi pahlawan kesiangan?"
Nara mengangguk, membalas senyuman itu meski matanya terasa panas.
"Cocok, sangat cocok, Raka."
Di tengah keramaian kantin tahun 1995 itu, Nara akhirnya mengerti.
Menyelamatkan sebuah cerita cinta, berarti ia harus siap membiarkan hatinya sendiri menjadi abu.