Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang familiar
"Jawab, Bas! Barusan lo tadi manggil nama siapa?" tanya Aufar sekali lagi.
"Nanti aja ngobrolnya, Far. Gue buru-buru," tukas Ibas yang memilih untuk pindah ke lift sebelah demi mengejar Aliya.
Ia abaikan kehadiran sang sepupu yang baru saja kembali ke tanah air. Padahal, mereka sudah dua tahun lebih tidak bertemu.
"Bas, mau kemana? Hei?" teriak Aufar memanggil.
Namun, pintu lift sudah tertutup. Membawa Ibas turun ke lantai bawah untuk mengejar Aliya. Sementara, Aufar masih berdiri di sana. Terlihat ragu, haruskah melanjutkan langkah menuju ke ruangan VIP yang disewa Raka untuk merayakan ulangtahunnya atau justru menyusul Ibas agar tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Mending, gue kasih selamat ke Raka dulu baru nyusulin Ibas," gumam Aufar mengambil keputusan.
.......
Aliya tak bisa menghentikan deras air mata yang mengalir. Dadanya terasa begitu sesak. Tangannya masih gemetar hebat setelah tadi memberi pelajaran kepada Raka.
Dengan langkah terseok-seok, dia berjalan ke pinggir jalan untuk menghentikan taksi. Yang ada didalam pikirannya saat ini hanya ingin segera menghilang dari tempat itu.
Dia ingin pergi sejauh mungkin dari tempat yang seolah memaksanya untuk berhenti bernapas itu.
"Aliya, tunggu, Al!" teriak Ibas panik.
Dia berlari sekencang mungkin. Namun, tetap saja dia terlambat. Aliya sudah terlanjur menaiki taksi dengan tujuan yang tidak diketahui Ibas.
"Sial!" geram Ibas penuh amarah.
Dia meninju udara kosong untuk melampiaskan kekesalannya. Wajahnya terlihat semakin memerah.
Tanpa pikir panjang, Ibas kembali ke dalam tempat karaoke. Dia masih memiliki perhitungan yang belum selesai dengan Raka dan juga Evan.
Brak!
Ibas membuka pintu dengan gerakan kasar. Semua orang didalam ruangan itu sontak membeku. Terutama, orang-orang yang jelas memiliki salah terhadap Aliya.
"Bas, akhirnya kamu balik. Kami udah nungguin kamu daritadi, loh," tutur Nadia yang mencoba mengabaikan ketegangan dihatinya karena ekspresi Ibas yang menyeramkan.
Gadis itu berdiri. Berjalan menghampiri Ibas kemudian menggandeng lengan pria itu dengan mesra.
"Kamu bisa minggir dulu, nggak, Nad?" tanya Ibas dengan suara rendah, sarat akan penekanan.
"Ke-napa?" tanya Nadia heran.
"MINGGIR!" hardik Ibas dengan suara keras.
Tak hanya Nadia yang tersentak kaget. Orang-orang yang ada didalam sana juga memperlihatkan ekspresi yang sama kecuali satu orang, Aufar.
"Bas, ada apa? Kenapa Lo marah?" tanya Aufar bingung.
Dia belum tahu soal masalah yang terjadi tadi. Saat dia datang, orang-orang sepakat untuk tidak membahas hal tadi. Bahkan, saat Aufar bertanya kenapa kepala Raka terluka, Raka hanya mengatakan jika dia tak sengaja terjatuh dari tangga saat baru saja datang ke tempat itu.
"Lo juga jangan ikut campur, Aufar!" peringat Ibas.
Kening Aufar tampak berkerut. Sebelum dia sempat mencerna situasi yang terjadi, dirinya dikejutkan dengan tindakan yang dilakukan oleh Ibas.
Ibas tiba-tiba menghajar Raka. Pukulannya keras, cepat, dan terarah. Dalam hitungan beberapa detik, wajah Raka sudah babak belur.
"Ampun, Bas!" kata Raka sambil meringis menahan sakit.
"Yang nyuruh lo ngerendahin dia, siapa, hah?" teriak Ibas murka.
"Maaf! Gue benar-benar nggak bermaksud kayak gitu. Gue khilaf, Bas!" jawab Raka dengan wajah yang tampak menahan tangis.
Bugh!
Ibas menendang perut Raka hingga pria yang seharusnya bahagia karena sedang berulang tahun itu justru malah kesakitan gara-gara dipukuli.
"Sekarang, giliran Lo, B@ngsat!" tunjuk Ibas ke arah Evan.
Glek!
Mata Evan melebar sempurna. Bibirnya tampak gemetaran. Kulitnya yang memang sangat putih tiba-tiba berubah pucat kemerahan.
"Sini Lo!" panggil Ibas sambil melambaikan tangannya.
"Bas, kita bicara baik-baik ya! Gue akan minta maaf sama Aliya. Kalau perlu, Gue bakal sujud di hadapan dia agar dia bisa maafin gue. Tapi, jangan pukul gue, please! Kalau muka gue babak belur, karir gue bisa hancur. Besok gue ada pemotretan penting, Bas."
Evan memohon. Tak hanya lewat sorot matanya tapi juga dari gestur tubuhnya.
Sayangnya, semua itu tidak ada gunanya sama sekali. Ibas mengabaikan permintaannya dan malah melangkah maju untuk mendekatinya.
"Bas, mau apa?" tanya Evan sambil melangkah mundur secara refleks.
"Bas, please jangan kayak gini! Gue udah ngaku salah. Bukannya, kita ini sahabat? Lo tega pukul sahabat lo sendiri?"
"Menurut Lo?" Ibas menyeringai sinis. Satu pukulan cepat langsung dia layangkan dan mendarat tepat sasaran di hidung Evan.
Arghh!
Evan memekik kesakitan. Hidungnya patah dalam sekali tinju.
"Bas, please! Udah," pinta Evan memohon. Satu tangannya memegang hidung yang berdarah sementara satu lagi mencoba menahan Ibas.
"Bas, apa-apaan, sih?"
Aufar memutuskan untuk ikut campur. Dia menahan Ibas agar tidak menyerang Evan lagi.
"Lepasin, Far! Bajingan-bajingan bermulut kotor ini harus dikasih pelajaran!"
"Nggak. Lo bisa dapat masalah kalau terus ngamuk kayak gini, Bas!" timpal Aufar.
"Lepas, Aufar! Jangan sampai, Lo kena pukul juga!" peringat Ibas dengan tatapan tajam.
"Pukul aja!" sahut Aufar. "Itu pun kalau lo bisa mukul gue."
Ibas berdecak kesal. Terpaksa, dia harus menyerah. Bukan karena dia tak bisa melawan Aufar. Hanya saja, sang sepupu mungkin ada benarnya.
Kalau Ibas terus menggila, kabar perkelahian ini pasti akan sampai ke telinga orangtuanya. Bagaimana kalau penyakit jantung sang Ibu kembali kambuh jika mendengar berita ini?
"Kali ini, kalian selamat! Lain kali, kalau ketemu gue lagi, mati kalian!" peringat Ibas sambil berlalu pergi.
"Bas, mau kemana?" teriak Nadia.
Dia ingin sekali menyusul Ibas tapi rasa takut didalam hatinya malah melarangnya. Dirinya adalah salah satu dari tiga tersangka yang sudah menghina Aliya. Mungkin, Ibas juga sangat marah terhadap dirinya.
"Sebenarnya, ada apa ini? Kenapa Ibas bisa semarah itu? Ada yang bisa jelasin?" tanya Aufar dengan tatapan frustasi ke semua orang.
Namun, hanya hening yang dia dapat. Tak ada yang berani menjawab hingga seseorang akhirnya memberanikan diri untuk angkat suara.
"Tadi... Raka sama Evan ngata-ngatain istrinya Ibas, Far."
Lagi, Aufar terkejut untuk yang ke sekian kalinya. "Apa!? Istri? Ibas udah nikah?" tanyanya agak syok.
Tak ada yang mengabarinya soal pernikahan Ibas. Selama ini, ternyata dia sudah ketinggalan banyak berita.
"Ibas nikah sama siapa? Nadia?" tanya Aufar sambil menatap Nadia.
Yang ditatap tampak membuang muka ke arah lain. Ekspresi teman-teman yang lain juga terlihat ganjil.
"Bukan, ya?" tebak Aufar. "Terus, kalau bukan sama Nadia, Ibas nikahnya sama siapa?"
"Namanya... Aliya. Aliya Naqiya."
Degh!
Satu nama itu membuat tubuh Aufar seolah baru saja di siram dengan seember es batu. Nama itu sangat familiar. Aufar sudah mengenal nama itu sejak lama sekali.
"Apa Ibas sudah ingat soal Aliya?" gumam Aufar dengan mata memerah.
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺