NovelToon NovelToon
Preman Sekolah Jadi Pewaris

Preman Sekolah Jadi Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Preman / Komedi / Harem
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.

Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?

"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.

"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.

"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.

"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 - Hasil Tes DNA

Wajah Tantri langsung berubah masam. Jelas terlihat dia tidak menyangka permintaan Ge akan mengarah ke sana.

“Apa?” ulang Tantri pelan, seolah ingin memastikan dia tidak salah dengar.

Ge tetap santai. “Lu denger kok.”

Tantri menggeleng pelan. “Ge… itu bukan hal kecil.”

Ge mengangkat bahu. “Gue juga nggak minta hal kecil.”

Tantri menghela napas panjang. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. “Gue bisa lakuin apa aja,” katanya lagi, nada suaranya mulai tertekan. “Tapi jangan yang berhubungan sama geng Bintang.”

Ge menyipitkan mata. “Kenapa?”

Tantri menatapnya tajam. “Karena gue bukan satu-satunya yang pegang kendali di situ.”

Ge tertawa kecil. “Tapi lu bagian penting, kan?”

Tantri tidak menjawab. Itu sudah cukup jadi jawaban.

Ge mendekat sedikit. “Lu tau sendiri kelakuan mereka gimana.”

Tantri menggigit bibirnya. “Anak-anak baru ditindas, dipalak, disuruh macem-macem…” lanjut Ge. “Lu pikir gue nggak liat?”

Tantri menutup mata sebentar. “Ge…” suaranya melemah. “Minta yang lain aja.”

Ge terdiam sebentar. Lalu dia mendecak pelan. “Lu tadi bilang apa?” tanyanya.

Tantri menatapnya bingung.

Ge menirukan ucapannya barusan, “Apa aja, katanya.”

Tantri langsung terdiam lagi.

“Sekarang giliran gue minta,” lanjut Ge, “lu malah milih.”

Tantri terlihat semakin gelisah. “Gue bakal coba bantu lu yang lain,” katanya cepat. “Apa pun. Tapi jangan itu.”

Ge menghela napas panjang. Ekspresinya mulai berubah jengah. “Ribet amat sih lu,” balasnya.

Tantri langsung mendekat lagi. “Ge, please…”

Ge mengangkat tangan, menghentikannya. “Udah!" Nada suaranya datar. “Gue males debat.”

Tantri terdiam.

Ge berbalik badan. “Anggap aja gue belum minta apa-apa,” ujarnya santai.

“Ge!” panggil Tantri.

Tapi Ge tidak berhenti. Dia berjalan menjauh begitu saja, meninggalkan Tantri yang berdiri dengan wajah cemas di belakangnya.

...***...

Beberapa jam kemudian, Ge duduk di depan sebuah minimarket dekat sekolah. Motor tuanya terparkir miring di samping. Kala itu jam pulang sekolah sudah lewat satu jam. Dia lagi minum es teh botol sambil memainkan ponselnya.

Tiba-tiba layar ponsel ge menyala. Nama yang muncul membuat alisnya sedikit terangkat. Nama Pak Arif terpampang di layar ponselnya. Ge segera mengangkat panggilan itu.

“Iya, Om?”

Suara Arif terdengar tenang dari seberang. “Hasilnya sudah keluar.”

Ge langsung diam. Beberapa detik hening.

“Di mana kamu sekarang?” lanjut Arif.

Ge menoleh ke sekitar. “Minimarket deket sekolah.”

“Saya ke sana.”

Telepon langsung ditutup. Ge menatap layar ponselnya beberapa detik. Lalu dia menghembuskan napas pelan. “Cepet juga…”

Sekitar sepuluh menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan minimarket. Arif turun dari mobil itu. Seperti biasa, rapi, tenang, dan penuh wibawa.

Ge berdiri dari duduknya. “Om...”

Arif mengangguk kecil. Dia langsung mengeluarkan sebuah map tipis dari dalam tasnya. Tanpa basa-basi, dia menyerahkannya ke Ge.

“Hasil tes DNA," ungkap Arif.

Ge menatap map itu beberapa detik sebelum menerimanya. Tangannya sedikit terasa berat. Perlahan dia membuka map tersebut. Matanya bergerak membaca isi dokumen di dalamnya.

Ge terdiam. Ekspresinya berubah. Hanya kaget.

“Negatif…” gumamnya pelan.

Arif mengangguk. “Hasil menunjukkan bahwa kamu tidak memiliki hubungan biologis dengan Tarno dan Marni.”

Ge menelan ludah. Dadanya terasa aneh. Bukan sedih atau pun senang.

“Jadi…” katanya pelan. “…bener?”

Arif menatapnya serius. “Bukankah sudah jelas? Kau sudah tidak bisa membantah lagi sekarang. Apalagi menuduhku sebagai penipu," tukasnya.

Ge menutup map itu. Dia menatap ke jalanan kosong di depannya. Beberapa detik tidak bicara. Lalu dia tertawa kecil. Tapi tawanya hambar.

“Gila…”

Arif tetap diam, membiarkan Ge mencerna semuanya.

Beberapa saat kemudian, Arif berkata, “Langkah berikutnya adalah bicara dengan orang yang membesarkanmu.”

Ge tidak langsung menjawab. Dia masih menatap lurus ke depan.

“Tarno dan Marni,” lanjut Arif.

Ge akhirnya mengangguk pelan. “Iya…”

Arif menatapnya. “Saya bisa menemanimu.”

Ge menoleh. Ia menatap Arif. Lalu dia berkata, “Boleh.”

Arif sedikit mengangguk.

“Tapi…” lanjut Ge.

Arif menunggu.

Ge menatapnya dengan serius sekarang. “Om harus janji dulu.”

Arif mengernyit tipis. “Apa?”

Ge memasukkan map itu ke dalam jaketnya. “Apapun yang terjadi nanti…” katanya pelan, “…perlakukan mereka dengan baik.”

Arif diam.

Ge melanjutkan, “Mereka emang nyebelin. Suka marah, suka ngomel…” Dia tersenyum kecil.

“Tapi mereka yang ngebesarin aku. Mereka bahkan sering ngasih makan enak. Kasih uang jajan yang banyak...”

Arif memperhatikan wajah Ge.

“Aku nggak peduli mereka bukan orang tua kandungku,” lanjut Ge. “Tapi buatku… mereka tetap keluarga.”

Suasana jadi hening sejenak. Arif akhirnya mengangguk pelan. “Saya mengerti.”

Ge menghela napas panjang. “Yaudah,” katanya. “Kita ke sana sekarang?”

Arif menatapnya memastikan. “Kamu udah siap?”

Ge terdiam sebentar. Lalu dia menyeringai tipis. “Belum,” jawabnya jujur. Dia menatap ke arah jalan. “Tapi mau nggak mau… harus siap.”

Arif membuka pintu mobil. Mempersilahkan Ge masuk.

"Ck, Om saja yang naik mobil. Aku pakai motor saja," ucap Ge sembari naik ke motornya.

Arif menggeleng sambil menghela nafas panjang. Dia memang lega sudah menemukan putra kandung Romy yang hilang. Namun jujur saja, dia sekarang merasa pekerjaannya jadi lebih berat. Mengingat Ge adalah anak badung dan sering melanggar aturan. Arif setidaknya harus membuat Ge berubah menjadi anak yang berpendidikan seperti anak konglomerat pada umumnya.

1
Tiara Bella
waduh bakalan diapain Ge ya....gk bawa bodyguard sh km Ge
Aidil Kenzie Zie
si Naya tau maknya kalo selingkuh jangan macam-macam sama Ge nanti kalian ditendang
Tiara Bella
waduh bpknya Ge mana lg blm kelihatan....
Rommy Wasini Khumaidi
preman dilawan🤣
Tiara Bella
Clara dimanfaatin doang kasian ....
Tiara Bella
wow Ge semangat ya
Rommy Wasini Khumaidi
bentar lagi gk ada kata santai Ge,kamu bakalan digembleng jadi seorang pebisnis muda
Maryanah May
lanjut thor seruuu
Tiara Bella
Ge nya kemana ini....
Rommy Wasini Khumaidi
tek kasih vote thor
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
ge anaknya cerdas dan pintar pasti bakalan tau klo zara naya m clara licik
Tiara Bella
tenang aja Ge bakalan tw klu mereka cm pura² baik
W I 2 K
ternyata ada udang dibalik batu sikapmu Zara..mana GE tambah ganteng lagi....masa iya JD rebutan 3 Kwek Kwek...
Tiara Bella
semua orng dirmh itu terpesona sm Ge... wkwkkw
D_wiwied
jangan coba2 jodohin Ge sm Clara ya thor, ga ikhlas aku 😆🤣🤣
D_wiwied
wah wah wahh ternyata licik jg kamu Ra, kirain kamu tuh beda dr naya n ibumu.. tp jangan kamu kira Ge bakal bs kamu kibulin yg ada kalian semua yg akan tunduk di bawah kaki Ge 😆🤭
Kamsia
disini gak ad terusan dari rangga sm dita ceritanya udh beda thor
Auraliv
mantul
D_wiwied
kelakuanmu Ge,, eh tp mungkin semua jg bakal ky gitu ya 🤣🤭
D_wiwied
maunya dipanggil apa Ra, sayaaang gitu ya 😆😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!