Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Kedua telapak tangan Felysha Anindhita menekan permukaan meja potong yang dilapisi plastik hijau grid, mencoba menstabilkan napasnya yang mulai pendek. Di hadapannya, selembar kain muslin putih yang sudah dipotong kasar membentang, menanti untuk disematkan pada tubuh manekin kayu yang berdiri kaku di samping meja. Felysha meraih kapur jahit biru yang sudah menipis, lalu mulai menarik garis tipis mengikuti lekukan pola kertas yang sudah ia siapkan sejak semalam. Ia tidak berbicara pada siapa pun di studio ini, meski suara bising dari mesin jahit di sudut ruangan terus menderu tanpa henti.
Jemari Felysha meraba bantal jarum yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia mencabut satu jarum pentul dengan gerakan ibu jari dan telunjuk yang sudah mulai terasa kaku. Ia menusukkan jarum itu ke kain muslin, menyatukannya dengan permukaan manekin yang keras. Bunyi klik halus setiap kali jarum itu menembus material manekin menjadi satu-satunya irama yang ia perhatikan. Ia menarik kain itu sedikit ke arah bawah, mencoba menciptakan gelombang alami pada bagian dada gaun percobaan tersebut. Namun, kain itu seolah menolak untuk jatuh dengan luwes; setiap lipatan yang ia buat terlihat kaku dan dipaksakan.
Dahi Felysha mulai dipenuhi butiran keringat kecil meski suhu di dalam studio cukup rendah karena pendingin ruangan yang dipasang maksimal. Ia melangkah mundur tiga tindak, menyipitkan mata untuk menilai proporsi dari jarak jauh. Bahunya terasa tegang, seolah-olah ada beban yang tidak terlihat sedang menekan pundaknya agar tidak bergerak terlalu bebas. Ia melihat ke arah meja Sophie di sebelah kiri, di mana temannya itu sedang asyik memotong kain satin merah dengan gerakan yang jauh lebih santai.
Sophie meletakkan gunting besarnya, lalu menoleh ke arah Felysha sambil memutar-mutar pita meteran di lehernya. "Fely, kamu sudah mengulang bagian drapery itu lima kali. Kalau terus begitu, muslin itu akan penuh lubang jarum sebelum sempat kamu jahit."
Felysha tidak langsung menyahut. Ia kembali mendekati manekinnya, mencabut tiga jarum pentul sekaligus, lalu membiarkan kain itu jatuh kembali. "Jatuhnya masih belum benar, Sophie. Siluetnya terlihat seperti sedang mencekik tubuh, bukan membungkusnya."
"Mungkin karena kamu memikirkan hal lain saat mengerjakannya," Sophie berjalan mendekat, memperhatikan sketsa yang disematkan Felysha di sudut meja kayu tersebut. "Sketsamu ini sangat cantik, tapi yang ada di manekin sekarang... kelihatannya sangat takut. Kenapa bagian lehernya jadi tertutup begitu? Padahal di gambar aslimu ada sedikit aksen terbuka."
Felysha meremas jarum pentul di tangannya. Ia tidak bisa mengatakan pada Sophie bahwa perubahan desain itu adalah instruksi Julian lewat telepon semalam. Julian tidak suka jika Felysha mendesain sesuatu yang menurutnya "terlalu berani". Julian ingin Felysha membuat sesuatu yang anggun, tertutup, dan terlihat seperti milik pria terhormat. Bagi Felysha, itu berarti ia harus membunuh kreativitasnya sendiri demi menyenangkan pria yang membayar tagihan rumah sakit ayahnya dulu.
"Aku hanya merasa ini lebih klasik," jawab Felysha pelan, meski suaranya terdengar ragu di telinganya sendiri.
Ia kembali menyibukkan diri dengan menarik kain muslin tersebut. Ia mengambil gunting kain yang berat, lalu mulai memotong sisa kain di bagian keliman bawah. Bunyi krek, krek, krek saat bilah logam membelah serat kain terdengar mantap. Ia bergerak secara mekanis, mengikuti garis biru kapur tanpa banyak berpikir lagi. Setiap gerakan tangannya adalah bentuk pelarian dari rasa sesak yang mulai memenuhi dadanya.
Pukul dua siang, pintu studio terbuka dengan suara decit yang panjang. Madame Claire masuk mengenakan mantel cokelat elegan dengan kacamata yang digantung di leher menggunakan rantai emas. Wanita itu berjalan perlahan, memeriksa progres setiap mahasiswa. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi mengeluarkan bunyi ketukan ritmis di atas lantai kayu yang sudah tua. Felysha berdiri tegak di samping manekinnya, kedua tangannya tertaut di depan tubuh, menunggu dengan detak jantung yang tidak beraturan.
Madame Claire berhenti di depan manekin Felysha. Ia tidak langsung bicara, hanya mengamati lipatan kain itu dari berbagai sudut. Ia menyentuh bagian bahu, lalu menarik sedikit kain di bagian pinggang. "Teknikmu bersih, Felysha. Jahitanmu sangat rapi, hampir tidak ada celah."
Felysha mulai mengembuskan napas lega, namun kalimat berikutnya dari Madame Claire membuatnya kembali membeku.
"Tapi desain ini mati," Madame Claire menatap Felysha tepat di mata. "Tidak ada napas di dalamnya. Kamu punya kemampuan teknis yang luar biasa, tapi kamu menggunakannya untuk membangun tembok, bukan untuk menciptakan busana. Kenapa kamu mengurung kain ini dengan begitu banyak jarum? Biarkan dia bergerak."
Madame Claire mencabut satu jarum di bagian kerah, membuat kain muslin itu jatuh sedikit lebih rendah dan menciptakan gelombang yang lebih luwes. "Lihat? Sekarang dia mulai hidup. Jangan biarkan ketakutanmu atau aturan siapa pun menghalangi instingmu sebagai desainer. Aku ingin melihat perubahan ini besok pagi."
Setelah Madame Claire berlalu, Felysha merosot duduk di kursi tinggi di depan mejanya. Ia menatap potongan kain di lantai yang berserakan. Kalimat Madame Claire terus berputar di kepalanya. Jangan biarkan aturan siapa pun menghalangi instingmu. Felysha meraba kalung perak di lehernya, pemberian terakhir ayahnya sebelum semuanya hancur. Ia merasa terjepit di antara dua dunia: dunia desain yang menuntut kebebasan, dan dunia nyata di mana ia terikat pada hutang budi kepada Julian.
Ia bangkit kembali, kali ini dengan gerakan yang sedikit lebih berani. Ia mulai mencabut sisa jarum pentul yang tadi ia pasang dengan penuh ketakutan. Ia membiarkan kain muslin itu jatuh mengikuti gravitasi. Ia mengambil kapur jahitnya lagi, kali ini ia tidak mengikuti garis pola lama. Ia menggambar garis baru yang lebih berani, lebih terbuka, dan lebih menyerupai sketsa aslinya sebelum "disensor" oleh Julian.
Bunyi mesin jahit mulai memenuhi studio kembali saat mahasiswa lain mulai bekerja. Felysha membawa potongan kainnya ke mesin jahit merek Juki di sudut meja. Ia memasukkan benang putih ke dalam lubang jarum dengan tangan yang kini jauh lebih tenang. Ia menginjak pedal kaki secara perlahan, membiarkan jarum mesin naik turun dengan kecepatan yang terkendali. Ia memfokuskan seluruh perhatiannya pada setiap inci kain yang menyatu, mengabaikan getaran ponsel di tasnya yang sejak tadi menandakan ada pesan masuk.
Hingga matahari mulai meredup di balik jendela besar studio, Felysha masih di sana. Ia tidak peduli jika Andre sudah menunggunya di depan gerbang kampus. Ia terus menjahit, menyatukan bagian lengan ke bagian badan dengan teknik jahitan tangan agar hasilnya lebih halus. Ia merasa seolah-olah setiap jahitan yang ia buat adalah bentuk perlawanan kecilnya terhadap kontrol Julian. Di dalam studio yang mulai gelap ini, Felysha Anindhita akhirnya menemukan sedikit ruang untuk bernapas, meski ia tahu bahwa di luar sana, sangkar emasnya sudah menunggu untuk mengurungnya kembali.
Ia baru merapikan mejanya saat penjaga gedung mulai mematikan lampu utama. Felysha memasukkan semua peralatannya ke dalam kotak kayu, menutup manekinnya dengan plastik pelindung, lalu menyampirkan tas sketsanya ke bahu. Ia berjalan keluar dengan langkah yang terasa sedikit lebih ringan, meski punggungnya terasa pegal luar biasa. Ia menuruni tangga batu gedung kampus yang dingin, menuju pintu keluar di mana sedan hitam mewah milik Julian sudah terparkir di sana, seperti predator yang sedang menunggu mangsanya pulang.