"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU TAHUN BARU
Minggu minggu berlalu di Aethelgard dengan ritme yang lebih tenang. Kerja keras Riezky mulai membuahkan hasil; gubuk tua yang dulu sering bocor kini berubah menjadi hunian yang jauh lebih layak. Atap-atap yang bolong sudah tertutup rapat, dan dinding kayu yang rapuh telah diganti dengan papan kayu baru yang kokoh. Riezky bukan lagi sekadar nelayan biasa; ada ketenangan dan kekuatan baru yang terpancar dari setiap gerakannya.
Malam ini, seluruh penjuru Aethelgard tampak benderang. Perayaan tahun baru mengubah desa nelayan itu menjadi lautan cahaya. Di alun-alun, orang-orang tua berkumpul bertukar cerita, sementara anak-anak berlarian dengan tawa yang memecah malam.
Namun, Riezky memilih tempat yang berbeda. Ia duduk santai di langkan tinggi Menara Jam Aethelgard, kaki-kakinya berayun di udara, menatap hamparan bintang yang berpadu dengan persiapan kembang api di bawah sana.
"Hmm, aku bentar lagi dua puluh satu..." gumam Riezky pada diri sendiri.
"Bukankah itu bagus?" balas sebuah suara wanita dari kegelapan di belakangnya.
"Aishhhh! Jangan begitu dong!" Riezky terlonjak, hampir saja kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari ketinggian menara. Ia segera berpegangan pada pilar batu, jantungnya berdegup kencang.
Ekspresi Riezky mendadak membeku saat ia menoleh. Di bawah temaram cahaya bulan, sosok itu berdiri di sana. Si pemanah misterius. Kali ini ia tidak mengenakan penutup wajah, memperlihatkan raut muka yang lebih tenang meski tetap tegas.
"Aku Sabrina," ucap si pemanah sambil mengulurkan tangan kanannya yang biasanya menggenggam busur.
Riezky menatap tangan itu dengan ragu. "Aku nggak bakal dibanting lagi, kan?" tanyanya sambil perlahan meraih tangan Sabrina dan bersalaman. Genggamannya kuat, namun tidak lagi mengancam. "Butuh waktu lama buat tahu namamu. Aku Riezky."
"Tertarik ya?" tanya Sabrina dengan nada sedikit jail, sebuah kilatan jenaka muncul di mata cokelatnya.
"Kau membuntutiku ya?" balas Riezky, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil kembali menatap langit yang mulai dihiasi ledakan kembang api pertama.
"Nggak, aku cuma kebetulan lewat," ucap Sabrina datar. Ia sedikit berbohong, tentu saja; tidak ada orang yang "kebetulan lewat" sampai ke puncak menara jam di tengah malam tahun baru.
Keheningan menyelimuti mereka berdua selama beberapa saat, hanya diiringi suara kembang api yang menggelegar di kejauhan. Sabrina kemudian duduk di samping Riezky, memeluk lututnya sendiri.
"Hey, matamu itu... bagaimana kau melakukan itu?" tanya Sabrina, merujuk pada pendaran warna biru dan merah yang sempat ia lihat di hutan.
"Dari lahir," jawab Riezky singkat.
"Unik... kau ini penyihir ya?"
Riezky terkekeh pelan. "Cih, nggak lah, apaan. Aku cuma nelayan. Tapi yang kau lihat kemarin itu, ehm... ya, mungkin aku memang sedikit penyihir."
Riezky menoleh, menatap wajah Sabrina yang kini tampak lebih lembut terkena cahaya kembang api. "Tinggal di mana kau?"
Sabrina tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke arah cakrawala laut. "Kau akan tahu nanti. Tapi, kau tidak merasa terancam nih? Ngobrol santai begini sama orang yang kemarin-kemarin hampir membunuhmu?" tanya Sabrina, benar-benar terheran-heran dengan sikap santai pemuda di sampingnya ini.
Riezky hanya mengangkat bahunya, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. "Kau terlihat baik kok."
TAK!
Sebuah anak panah menancap kuat di dinding batu menara, tepat di sebelah kepala Riezky. Bentuknya tidak seperti panah kayu biasa; ia tampak berdenyut, hitam pekat, dan seolah menyerap cahaya malam di sekitarnya. Riezky terpaku, rasa ngeri yang luar biasa menjalar di punggungnya.
Kejadian ini... Riezky teringat pagi di pesisir pantai dulu, saat The Razor Jaws mengepung rumahnya. Panah bayangan yang sama, hawa dingin yang sama. Ternyata ancaman itu belum benar-benar pergi dari Aethelgard.
"Apa-apaan itu?!" seru Sabrina, matanya membelalak melihat material bayangan yang perlahan menguap dari batang anak panah itu.
Tanpa sepatah kata pun, insting bertarung Riezky meledak. Dengan hentakan petir dari kakinya, ia melesat bak kilat biru. Ia menerjang ke arah sosok pemanah bayangan yang berdiri di kejauhan. BRAK! Riezky menghantam atap rumah warga dengan keras. Beruntung, konstruksi kayu Aethelgard yang kokoh mampu menahan beban hentakan itu. Sabrina yang masih bingung hanya bisa terpaku di atas menara, mengamati dari jauh.
Riezky tidak memberi napas. Ia melontarkan rentetan serangan api, memancing mahluk bayangan itu menjauh dari pemukiman warga menuju kegelapan hutan agar tidak ada penduduk—atau ibunya—yang terluka seperti kejadian di pantai dulu. Sabrina, yang tak ingin tinggal diam, melompat dari menara dan membuntuti dari bayang-bayang pohon.
Di tengah hutan, pertarungan menjadi semakin liar. Mahluk bayangan itu bergerak dengan cara yang mustahil bagi manusia. Tepat saat Riezky sedikit lengah setelah menghindari sebuah tebasan, mahluk itu menarik busurnya.
Sabrina beraksi. Dengan gerakan cepat, ia mengambil tongkat kecil dari kakinya yang secara ajaib berubah menjadi busur berukuran normal. Syuuut! Ia menembakkan panah yang tepat menghancurkan anak panah bayangan di udara sebelum menyentuh Riezky.
Riezky yang baru saja bangkit dari tanah segera memanfaatkan momentum itu. "Terima kasih, Sabrina!" teriaknya. Ia merentangkan tangan, menciptakan dua bola elemen—listrik di kanan dan api di kiri—lalu membenturkannya tepat di depan wajah mahluk itu.
BOOM!
Ledakan itu membutakan sejenak. Sabrina, melihat mahluk itu limbung, melepaskan anak panah andalannya tepat ke arah dada si bayangan. Mahluk itu terhenti, tubuhnya bergetar tak stabil. Riezky mengambil ancang-ancang terakhir, melesat secepat cahaya, dan menghantamkan pukulan keras yang dialiri listrik murni tepat ke wajah mahluk tersebut.
Puff—!
Mahluk itu lenyap menjadi kabut hitam, meninggalkan kesunyian yang mencekam di tengah hutan. Riezky berdiri terengah-engah, tubuhnya gemetar. Dalam kegelapan, kedua matanya menyala terang—satu berwarna biru elektrik, satu lagi merah membara—memberikan kesan mistis pada wajahnya yang lelah.
Sabrina menghampiri Riezky dengan langkah perlahan, matanya tidak lepas dari pendaran cahaya di mata pemuda itu. "Kau ini... benar-benar sesuatu," ucapnya dengan nada terheran-heran, antara kagum dan ngeri.
Riezky meringis kesakitan, ia melihat sebuah anak panah bayangan menancap di betisnya. Dengan tangan gemetar, ia meraih dan mencabutnya paksa. Begitu lepas dari dagingnya, anak panah itu lenyap menjadi asap hitam. Tidak ada darah, tidak ada luka terbuka, hanya rasa sakit yang menusuk tulang sebelum perlahan menghilang.
"Mahluk itu... dia datang lagi," ucap Riezky terengah-engah. Pikirannya melayang kembali ke pesisir pantai, saat ia pertama kali berurusan dengan mahluk ini bersama para bandit Razor Jaws.
"Kurasa dia mencarimu," ucap Sabrina dengan nada yang sangat yakin. Tatapannya masih tertuju pada tempat di mana makhluk itu lenyap, seolah sedang menganalisis sisa-sisa energi yang tertinggal di udara.
Riezky yang masih mencoba mengatur napasnya menoleh dengan dahi berkerut. "Bagaimana kau tahu?"
Sabrina mengalihkan pandangannya ke arah Riezky, menatap lurus ke dalam matanya yang perlahan mulai kembali ke warna normal. "Aku pernah bertemu satu makhluk seperti itu sebelumnya, dan itu adalah makhluk teraneh yang pernah aku temui sepanjang hidupku. Tapi..." ia menjeda kalimatnya sejenak, "dia tidak menyerangku. Dia hanya menatapku tajam, lalu pergi begitu saja."
Pertunjukan kembang api pun usai, menyisakan kepulan asap tipis di langit Aethelgard yang kembali sunyi. Satu per satu warga mulai membubarkan diri dari alun-alun, kembali ke kehangatan rumah masing-masing untuk beristirahat.
Riezky berjalan pulang sendirian menyusuri jalan setapak dermaga. Pikirannya masih kacau, terombang-ambing antara rasa heran atas serangan mendadak tadi dan ucapan Sabrina yang masih terngiang di telinganya. Betisnya masih terasa sedikit linu, meski bekas panah itu sudah lenyap tak berbekas.
Sesampainya di rumah, aroma kayu manis dan teh hangat menyambutnya. Lyra sudah menunggu di ruang tengah dengan senyum lebar yang menenangkan.
"Selamat tahun baru, Nak," sambut Lyra hangat.
Riezky hanya tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang lelah. Namun, sebelum ia sempat melangkah ke dapur, pertanyaan ibunya membuat langkahnya terhenti.
"Pacarmu?" tanya Lyra sambil melirik ke arah pintu.
Riezky seketika mengerutkan dahi dan alisnya. Bingung. "Hah? Siapa yang—"
Ia menoleh ke sisi kirinya dan matanya hampir keluar dari tempatnya. Sabrina sudah berdiri di sana, tepat di ambang pintu, tampak sangat santai seolah ia sudah biasa berkunjung ke sana.
"Halo, Tanteee! Aku Sabrina," sapa Sabrina dengan nada yang sangat manis dan ceria. Tanpa menunggu dipersilakan, ia nyelonong masuk melewati Riezky begitu saja.
Lyra, yang memang dasarnya ramah, sama sekali tidak keberatan. Ia justru tersenyum melihat gadis enerjik itu masuk ke rumahnya.
"Hah? Apa-apaan—hei! Dia bukan pacarku, Bu!" seru Riezky sambil cepat-cepat menutup pintu.
Ia berbalik dan mendapati Sabrina sudah duduk santai di sofa ruang tamu, menyandarkan punggungnya seolah itu rumah miliknya sendiri.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Riezky dengan nada sedikit tinggi, masih syok dengan kelakuan nekat si pemanah ini.
"Santai saja sih. Lagian aku sudah membantumu tadi, jangan galak-galak dong," jawab Sabrina sambil tersenyum jail ke arah Riezky.
Lyra muncul dari dapur membawa secangkir teh tambahan. "Membantu apa? Mengalahkan apa?" tanyanya penasaran.
Riezky langsung berkeringat dingin. Ia belum siap menceritakan soal makhluk bayangan itu pada ibunya di malam tahun baru yang damai ini. "Eh, bukan apa-apa, Bu! Tadi... anu... ada serangga besar di menara. Ah, sudahlah!"
Riezky menghela napas pasrah. Ia pun duduk di kursi seberang Sabrina, menatap gadis itu dengan tatapan "kita-perlu-bicara-nanti", sementara Sabrina hanya membalasnya dengan kerlingan mata santai sambil menerima teh dari Lyra.
Riezky hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa cepatnya Sabrina membaur. Ia memutuskan untuk mengalihkan topik sebelum pembicaraan tentang "makhluk bayangan" benar-benar bocor ke telinga ibunya.
"Bu, besok nggak usah kerja ya," ucap Riezky tiba-tiba.
"Hah? Kenapa, Nak?" tanya Lyra terheran-heran sambil meletakkan cangkir tehnya.
Riezky mengambil sepotong roti di meja dan mulai mengunyahnya. "Aku mau kerja di tambang dekat gunung itu. Hasilnya lumayan, katanya penambang lama sudah banyak yang pindah. Pak Morris sendiri yang suruh tadi."
Sebenarnya, itu adalah alasan yang cerdik. Riezky ingin memastikan keuangan rumah aman tanpa harus membiarkan ibunya kelelahan di laut, apalagi setelah serangan panah tadi yang membuatnya makin waspada.
Lyra tersenyum hangat, matanya memancarkan rasa bangga. "Beneran, Nak? Syukurlah kalau Pak Morris mempercayaimu. Tapi, Ibu masih mau beraktivitas. Kalau diam saja di rumah, badan Ibu malah pegal semua," jawab Lyra lembut.
Riezky menghela napas pendek. "Hmm, yaudah deh, terserah Ibu aja," balasnya dengan nada santai, meski dalam hati ia sudah berencana untuk memasang pengawasan lebih ketat di sekitar pelabuhan.
"Emangnya kamu kerja apa sebelumnya?" tanya Sabrina yang tiba-tiba ingin masuk ke dalam pembicaraan, matanya menatap Riezky dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Nyabutin bulu kambing," jawab Riezky asal sebelum sempat dipotong oleh ibunya.
"Husshhh! Kamu ini, jangan ngaco," Lyra menepuk pelan bahu Riezky lalu beralih menatap Sabrina. "Kami ini nelayan, Nak. Oh iya, kamu darimana? Kamu terlihat bukan dari sini, wajahmu dan pakaianmu tidak asing tapi... berbeda."
Sabrina tersenyum manis, senyum yang terlihat sangat polos jika dibandingkan dengan ketajamannya saat menarik busur panah tadi. "Aku dari desa sebelah, Tante. Gak jauh kok, cuma lagi keliling-keliling saja cari suasana baru," jawab Sabrina lancar.
Riezky melirik Sabrina dari sudut matanya. Bohongnya jago juga dia, batin Riezky. Namun, ia merasa sedikit lega karena setidaknya Sabrina mengerti cara menjaga rahasia di depan ibunya.
Gemuruh guntur yang tadinya hanya terdengar samar dari kejauhan kini meledak menjadi badai yang nyata. Tepat saat Sabrina melangkah menuju pintu dengan niat untuk berpamitan, langit Aethelgard seolah tumpah. Hujan turun begitu deras hingga jarak pandang ke dermaga hanya menyisakan kabut putih. Angin laut yang kencang menghantam pesisir, menerbangkan pasir pantai yang basah hingga menyiprati sepatu kulit milik Sabrina yang tadinya bersih.
"Deras sekali..." ujar Sabrina pelan. Ia berdiri mematung di ambang pintu yang sedikit terbuka, menatap tirai air yang menghalangi jalan pulangnya. Nada suaranya terdengar pasrah, menyadari bahwa menerjang badai seperti ini dengan busur kayu di punggung adalah ide buruk.
Riezky yang masih asyik dengan rotinya hanya melirik sekilas ke arah jendela yang bergetar dihantam angin. "Hmm, mirip banget pas sama Paman Valerius," sautnya spontan. Pikirannya melayang sejenak pada kenangan masa lalu, saat badai serupa menjadi latar belakang perbincangan penting dengan pamannya itu.
Lyra, yang sejak tadi mengamati situasi, segera beranjak dari kursinya dengan naluri keibuan yang kental. Ia merasa tidak tega membiarkan teman baru anaknya itu pergi dalam kondisi cuaca ekstrem. "Menetap saja dulu di sini, Nak. Hujannya terlalu berbahaya kalau dipaksa. Ehh... kamu bisa tidur di kamar Ibu—"
"Di kamarku saja!" potong Riezky cepat, hampir tersedak serpihan roti. Ia tidak ingin ibunya harus repot berpindah tempat atau merasa tidak nyaman di kamar sendiri. "Ibu tetap di kamar ya. Biar dia di kamarku, aku yang tidur di sofa malam ini."
Riezky berdiri, menepuk-nepuk sisa remah roti di jubahnya dan berjalan menuju lemari kecil untuk mengambil selimut tambahan. "Lagipula, sofa ini baru saja aku perbaiki kayunya minggu lalu, jadi seharusnya cukup kuat menahan bebanku," tambahnya dengan nada santai, meski diam-diam ia merasa ini adalah posisi strategis untuk tetap berjaga di ruang tamu—tepat di antara pintu depan dan kamar ibunya.
Sabrina menoleh, menatap Riezky dengan alis terangkat, seolah sedang menilai apakah tawaran itu tulus atau hanya bagian dari sifat "tengil" pemuda itu. Namun, melihat wajah Lyra yang tulus dan Riezky yang sudah mulai menata bantal di sofa, ia akhirnya menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.
Sabrina melangkah pelan memasuki kamar Riezky. Ruangan itu tidaklah luas dan jauh dari kata mewah, namun setiap sudutnya seolah bercerita tentang kepribadian pemiliknya yang eksentrik. Ia mulai memperhatikan barang-barang yang tersusun di rak kayu kecil yang agak miring.
Ada cangkang kerang dengan bentuk spiral ganda yang sangat langka, serta beberapa botol kaca buram yang di dalamnya terdapat gulungan kertas kusam—sepertinya surat botol yang ditemukan Riezky saat melaut, namun anehnya, segel lilinnya masih utuh, seolah Riezky lebih suka menyimpan misterinya daripada mengetahui isinya.
Namun, langkah Sabrina terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang berbeda. Di sebuah kotak kayu kecil yang tak tertutup rapat, terselip selembar kain sutra halus. Kontras sekali dengan suasana kamar yang didominasi kayu kasar dan bau garam.
Sabrina mengambil kain itu dengan ujung jarinya. Teksturnya sangat lembut, jenis kain yang hanya bisa dimiliki oleh bangsawan atau pedagang lintas samudera kelas atas. Di tepian kain tersebut, terdapat sulaman benang emas yang membentuk sebuah nama:
"Riezky I...von"
Sisa namanya telah hilang, hangus terbakar hingga menyisakan noda gosong yang permanen di atas serat sutra tersebut. Sabrina mengusap jahitan emas itu, merasakan pola rumit yang dikerjakan dengan tingkat ketelitian tinggi. Ini bukan sekadar kain bayi biasa; ini adalah kain pembungkus dari masa lalu yang terasa sangat asing di desa nelayan seperti Aethelgard.
"I...von?" batin Sabrina sembari menyipitkan mata.
Ia teringat pendaran cahaya biru dan merah di mata Riezky saat bertarung tadi. Kain mewah ini, kekuatan elemen yang meluap-luap, dan nama keluarga yang sengaja atau tidak sengaja terbakar—semuanya seolah menunjuk ke satu arah yang sama. Riezky mungkin menganggap dirinya hanya seorang nelayan, tapi kain sutra di tangannya bicara hal yang berbeda.
Sabrina segera melipat kembali kain itu dan mengembalikannya ke tempat semula saat mendengar derit sofa di ruang tamu. Ia tidak ingin Riezky tahu bahwa ia baru saja menyentuh rahasia terbesar yang mungkin Riezky sendiri pun belum memahaminya.