NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinginnya Amsterdam

​Amsterdam di bulan November adalah kanvas yang disapu warna abu-abu. Langit yang rendah, rintik hujan yang konstan, dan embusan angin dari kanal-kanal tua membuat siapa pun ingin meringkuk di balik mantel wol yang tebal. Namun, di dalam sebuah studio tari modern di kawasan Museumplein, suasana justru memanas.

​Nina, Maya, dan Sari baru saja menyelesaikan sesi latihan intensif untuk pertunjukan kolaborasi musim dingin mereka. Keringat mengucur di pelipis Nina, namun matanya memancarkan kepuasan. Selama enam bulan di Belanda, nama Aura Shenina mulai diperbincangkan di kalangan kritikus seni Eropa. Ia bukan lagi sekadar penari dari Indonesia; ia adalah "Si Jenius dari Timur" yang mampu memadukan mistisnya tari Jawa dengan ketajaman tari kontemporer Barat.

​"Nin, lihat! Ulasan di surat kabar pagi ini memuji koreografimu habis-habisan," teriak Maya sambil menunjukkan layar tabletnya.

​Nina tersenyum tipis. "Syukurlah, May. Setidaknya kerja keras kita tidak sia-sia."

​Mereka bertiga tinggal di sebuah apartemen kecil namun hangat di pinggiran kota. Hidup bertiga membuat beban rindu pada tanah air sedikit teralihkan. Setiap malam, mereka memasak nasi instan dan sambal botolan, tertawa mengenang masa-masa asrama, meski ada satu nama yang selalu Nina hindari untuk dibahas: Arya.

​***

​Sore itu, saat mereka sedang menikmati cokelat panas di sebuah kafe pinggir kanal untuk melepas penat, seorang wanita dengan mantel beige elegan dan syal sutra melangkah masuk. Wajahnya tampak familiar.

​"Siska?" panggil Sari ragu-ragu.

​Wanita itu menoleh. Matanya membelalak tak percaya. "Sari? Maya? Nina?"

​Siska, seorang penari yang dulu dikenal sangat ambisius dan lincah. Namun, sosok di depan mereka sekarang tampak sangat berbeda. Rambutnya dipotong pendek rapi, riasannya tipis dan natural, serta pembawaannya jauh lebih tenang—hampir menyerupai wanita bangsawan Eropa yang kalem.

​"Ya ampun, aku dengar kalian ada proyek di sini, tapi tidak menyangka bisa bertemu di kafe ini!" seru Siska lembut.

​Mereka pun berbincang panjang. Siska menceritakan bahwa ia sudah dua tahun menetap di Belanda setelah menikah dengan seorang arsitek lokal.

​"Aku sudah berhenti menari, teman-teman," ujar Siska sambil mengaduk tehnya. "Sekarang aku fokus mengurus rumah dan mendampingi suamiku. Ternyata, kebahagiaan itu tidak selamanya harus di bawah lampu panggung. Menjadi istri yang baik pun memberikan ketenangan yang beda."

​Nina menatap Siska dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia teringat kata-kata Ibu Lastri tentang sosok istri ideal bagi seorang perwira. Apakah ia harus menyerah seperti Siska demi sebuah pernikahan?

​"Oh ya, bagaimana kabar Kapten itu? Siapa namanya... Arya? Maaf ya, atas perkataanku yang dulu" tanya Siska tiba-tiba, menatap Nina dengan rasa ingin tahu yang tulus. "Dulu kalian sangat dekat, kan? Kudengar dia sudah jadi perwira hebat di Jakarta."

​Nina tertegun. Ia memutar-mutar cangkir cokelatnya. "Tidak apa apa, Sis.. semua sudah berlalu. Dia... dia baik-baik saja di Jakarta. Sedang sibuk dengan tugasnya di Mabes," jawab Nina singkat, tanpa detail, tanpa binar di mata.

​Maya dan Sari segera mengalihkan pembicaraan ke topik lain, mengerti bahwa luka Nina masih basah dan berdenyut setiap kali nama itu disebut.

​***

​Sementara itu, ribuan kilometer dari Amsterdam, di sebuah butik pengantin eksklusif di daerah Jakarta Selatan, suasana terasa sangat kontras. Ruangan itu berbau harum bunga lili dan melati, dipenuhi dengan deretan gaun putih yang mewah dan hiasan kristal yang berkilauan.

​Ibu Lastri, yang sudah kembali segar dan tampak lebih dominan setelah sembuh dari sakit jantungnya, duduk di sofa beludru dengan senyum kemenangan. Di sampingnya, Papi Sudrajat duduk dengan wajah yang lebih banyak diam, sesekali mengangguk saat istrinya meminta pendapat.

​"Maura, coba yang itu. Potongan ekornya lebih panjang, sangat pas untuk resepsi di aula gedung nanti," perintah Ibu Lastri antusias.

​Maura keluar dari ruang ganti mengenakan kebaya pengantin modifikasi berwarna putih tulang. Ia tampak sangat cantik, hampir sempurna. Auranya sebagai seorang dokter muda yang cerdas bersatu dengan keanggunan busana itu. Ia tersenyum menatap bayangannya di cermin besar.

​"Bagaimana, Mas Arya?" tanya Maura lembut, menoleh ke arah pria yang berdiri di sudut ruangan.

​Arya berdiri dengan tangan bersedekap. Ia masih mengenakan seragam dinas hariannya, seolah ingin menunjukkan bahwa ia berada di sini hanya karena tugas, bukan keinginan. Wajahnya datar, matanya kosong menatap Maura. Tidak ada kilatan kekaguman, tidak ada senyum kebahagiaan.

​"Bagus. Terserah kamu saja," jawab Arya pendek. Suaranya dingin, tanpa intonasi.

​"Arya! Yang antusias sedikit kenapa, sih? Ini calon istrimu, ini acara sekali seumur hidupmu!" tegur Ibu Lastri dengan nada tajam.

​"Mami yang mengatur semuanya, kan? Jadi, Mami saja yang putuskan mana yang bagus. Arya hanya akan datang di hari-H," sahut Arya dingin, lalu ia melangkah keluar menuju balkon butik untuk menyulut rokok, meski ia tahu itu area dilarang merokok.

​Miris dalam Diam

​Aurel dan Arista yang juga hadir di sana hanya bisa berdiri di pojok ruangan dengan hati yang miris. Sebagai kakak, mereka tahu betul adiknya sedang sekarat di dalam.

​"Lihat Arya, Rel. Dia seperti mayat hidup," bisik Arista pada kakaknya. "Dia tidak mencintai Maura. Dia hanya melakukan ini supaya Mami tidak sakit lagi."

​Aurel menghela napas panjang. "Aku sudah mencoba bicara pada Papi, tapi Papi bilang ini demi keutuhan keluarga. Papi tidak mau Mami kambuh lagi kalau Arya membatalkan ini. Maura... dia perempuan baik, tapi dia bukan Nina."

​Mereka melihat bagaimana Maura tetap mendekati Arya di balkon, mencoba mengajaknya bicara tentang dekorasi bunga, meski Arya hanya menanggapi dengan anggukan minimalis. Maura bukan tidak tahu bahwa hati Arya tertinggal di Yogyakarta—atau mungkin sudah terbang ke Belanda. Namun bagi Maura, memenangkan Arya adalah sebuah pencapaian. Ia yakin, dengan ketulusannya merawat Ibu Lastri dan kesabarannya mendampingi Arya, suatu saat nanti Arya akan melihatnya.

​"Aku tidak akan menyerah, Mas," batin Maura sambil menatap punggung tegap Arya. "Dukungan keluarga Sudrajat sudah di tanganku. Hanya waktu yang aku butuhkan untuk menghapus bayangan penari itu dari kepalamu."

​***

​Malam itu di Amsterdam, Nina berdiri di balkon apartemennya, menatap lampu-lampu kota yang memantul di permukaan kanal yang tenang. Ia baru saja menerima pesan dari Aurel yang secara tersirat mengabarkan tentang persiapan pernikahan itu.

​Nina meraba liontin sepatu balet di lehernya. Ia tahu, di Jakarta, pria yang dicintainya sedang dipaksa memakai topeng untuk membahagiakan orang lain. Ia tahu Arya menderita, tapi ia juga tahu wejangan ibunya: Cinta tidak boleh merusak hubungan orang tua.

​"Jika ini memang cara Kakak berbakti, aku akan melepasmu dengan tarian terakhirku di sini," bisik Nina lirih. Air matanya jatuh, mendingin di pipi tertiup angin musim dingin Belanda.

​Ia tidak membenci Arya. Ia tidak pula membenci Maura. Ia hanya membenci kenyataan bahwa di dunianya, garis pangkat dan restu terkadang lebih tajam daripada mata pedang. Namun, Nina bersumpah, ia tidak akan hancur. Jika ia kehilangan cintanya, ia tetap memiliki harga dirinya sebagai seorang penari dunia.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!