NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: UTUSAN DARI ISTANA

Tiga hari telah berlalu sejak pengusiran Tetua Seok dan putranya.

Klan Namgung perlahan kembali normal—atau setidaknya, versi normal baru mereka. Para pelayan tidak lagi berbisik ketakutan setiap kali melewati paviliun tamu. Para pengawal kembali ke jadwal rutin mereka. Bahkan Tetua Kang, meskipun masih dipermalukan, mulai menunjukkan diri lagi setelah menerima hukuman ringan dari Namgung Cheon—tugas menjaga gudang persediaan selama sebulan, sebuah tugas rendahan yang sangat memalukan bagi seorang tetua.

Namgung Jin menghabiskan waktunya dengan kultivasi. Lukanya di perut sudah hampir pulih total, dan meridian keenam akhirnya terbuka sempurna. Kini ia memiliki naegong setara enam tahun kultivasi normal—masih kecil, tapi cukup untuk menggunakan beberapa jurus dasar Kitab Sembilan Jurang dengan efektif.

Ia duduk bersila di kamarnya, kedua tangan bertumpu di lutut. Di sekelilingnya, energi hitam samar berputar pelan, masuk dan keluar dari tubuhnya dalam ritme yang teratur. Ini adalah teknik kultivasi lapisan kedua Kitab Sembilan Jurang—Mageuksimbeop, Metode Hati Iblis.

"Dengan kecepatan ini, dalam sebulan aku akan setara dua puluh tahun kultivasi normal."

Cepat. Sangat cepat. Tapi tidak cukup cepat. Musuh-musuhnya tidak akan menunggu.

Pintu diketuk—ketukan kode Tetua Pyo.

"Masuk."

Tetua Pyo melangkah masuk dengan wajah tegang. Di belakangnya, Nyonya Hwa Ryun ikut serta, meskipun ia tidak diundang.

"Jin-ah, ada kabar buruk."

"Apa lagi?"

"Utusan dari Istana Kekaisaran sudah tiba di wilayah kita. Mereka akan sampai di sini besok pagi."

Namgung Jin membuka mata. "Besok? Cepat sekali."

"Mereka memacu kuda tanpa henti. Konon, mereka membawa perintah langsung dari Kaisar."

"Perintah apa?"

"Tidak tahu. Tapi yang jelas, mereka minta bertemu denganmu."

"Denganku?"

"Secara spesifik. Namgung Jin, anak selir Klan Namgung."

Keheningan.

Nyonya Hwa Ryun angkat bicara. "Ini aneh. Istana Kekaisaran tidak pernah peduli pada orang sepertimu. Pasti ada sesuatu."

"Atau seseorang." Namgung Jin berdiri, berjalan ke jendela. "Seseorang di istana punya kepentingan denganku."

"Siapa?"

"Aku tidak tahu. Tapi aku akan segera mengetahuinya."

---

Pagi harinya, seluruh Klan Namgung bersiap menyambut tamu istana.

Ini bukan tamu biasa. Utusan Kaisar—meskipun hanya seorang utusan—mewakili pribadi Kaisar sendiri. Menghina mereka sama dengan menghina Kaisar. Dan menghina Kaisar berarti hukuman mati untuk seluruh klan.

Namgung Cheon berdiri di barisan depan dengan jubah kebesarannya. Di sampingnya, Nyonya Kim berdiri dengan pakaian termahal, meskipun wajahnya pucat karena gugup. Para tetua berjajar di belakang, termasuk Tetua Kang yang dipanggil khusus untuk acara ini.

Namgung Jin berdiri di barisan kedua, bersama anggota klan lainnya. Dari posisi ini, ia bisa melihat segalanya tanpa menarik perhatian.

Di kejauhan, debu berputar. Satu regu pasukan berkuda muncul—dua puluh orang dengan seragam hitam merah, lambang naga emas di dada mereka. Pasukan Kekaisaran.

Di tengah mereka, sebuah tandu mewah yang dibawa delapan kuli. Tandu itu dihiasi ukuran naga dan sulaman emas. Di dalamnya, duduk sesosok pria berjubah ungu—warna yang hanya boleh dipakai oleh pejabat tinggi istana.

Rombongan berhenti di depan gerbang. Pria berjubah ungu turun dari tandu.

Ia adalah seorang pria paruh baya, mungkin berusia lima puluhan, dengan postur tegap dan wajah dingin yang khas pejabat istana. Jenggot tipis terpangkas rapi, mata sipit yang tajam, dan senyum tipis yang tidak pernah mencapai mata.

"Kepala Klan Namgung." Suaranya dalam, berwibawa. "Aku Pejabat Hwang, utusan khusus Yang Mulia Kaisar."

Namgung Cheon membungkuk dalam. "Selamat datang di Klan Namgung, Paduka. Kami merasa terhormat."

"Terhormat?" Pejabat Hwang tersenyum tipis. "Kita lihat saja nanti."

Matanya beralih, mencari seseorang di antara kerumunan.

"Namgung Jin. Maju."

Semua mata tertuju pada Namgung Jin.

Ia melangkah maju dengan tenang, berdiri di hadapan utusan istana. Tidak membungkuk terlalu dalam, juga tidak terlalu sombong. Sikap yang tepat.

"Aku Namgung Jin."

Pejabat Hwang mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya yang tajam seolah mencoba membedah setiap rahasia yang ia sembunyikan.

"Kau hanya bocah."

"Usia tidak selalu menentukan kemampuan, Paduka."

Pejabat Hwang terkejut—bukan karena jawabannya, tapi karena ketenangannya. Bocah ini tidak gentar di hadapan utusan Kaisar. Itu... tidak biasa.

"Kau berani."

"Aku hanya jujur."

"Jujur?" Pejabat Hwang tertawa kecil. "Kita lihat seberapa jujur kau nanti."

Ia memberi isyarat, dan para pengawalnya membawa sebuah peti kayu berukir. Peti itu dibuka, memperlihatkan sebuah gulungan berwarna kuning emas—warna kekaisaran.

"Ini adalah titah Yang Mulia Kaisar."

Semua orang berlutut, termasuk Namgung Cheon. Namgung Jin juga berlutut, meskipun enggan.

Pejabat Hwang membuka gulungan itu dan membacakan dengan suara lantang.

"Dengan ini, Yang Mulia Kaisar memerintahkan Namgung Jin, putra Klan Namgung, untuk hadir di Istana Kekaisaran dalam waktu satu bulan. Ia akan diuji kemampuannya oleh dewan istana. Jika lulus, ia akan diangkat menjadi Pendekar Kekaisaran—pengawal pribadi Yang Mulia."

Keheningan menyergap halaman.

Pendekar Kekaisaran? Itu adalah posisi tertinggi yang bisa dicapai seorang pendekar di luar struktur sekte. Mereka adalah elit di atas elit, dipilih langsung oleh Kaisar, dan memiliki akses ke istana serta kekuasaan yang luar biasa.

Tapi mengapa Namgung Jin? Bocah tanpa kekuatan, tanpa prestasi?

Pejabat Hwang menutup gulungan itu, tersenyum melihat ekspresi terkejut semua orang.

"Kau terkejut, Namgung Jin?"

"Sedikit."

"Sedikit? Kau baru saja diangkat menjadi calon Pendekar Kekaisaran. Itu adalah kehormatan yang tidak pernah diberikan pada anak seusiamu."

"Aku sadar, Paduka. Tapi aku juga sadar, tidak ada yang gratis di dunia ini."

Mata Pejabat Hwang berkilat. "Kau pintar. Terlalu pintar untuk anak seusiamu."

"Terima kasih, Paduka."

"Itu bukan pujian."

---

Setelah upacara penyambutan, Pejabat Hwang meminta berbicara empat mata dengan Namgung Jin.

Mereka duduk di ruang tamu paviliun utama, hanya berdua. Teh disajikan, tapi tidak ada yang menyentuhnya.

"Kau tahu kenapa kau dipanggil ke istana?"

"Aku punya beberapa teori, Paduka."

"Sebutkan."

"Pertama, seseorang di istana punya kepentingan pribadi denganku. Kedua, mungkin terkait dengan isu utusan iblis yang sedang heboh. Ketiga..." Ia tersenyum. "...mungkin Kaisar bosan dan butuh hiburan."

Pejabat Hwang tertawa—tawa pertama yang tulus hari ini.

"Kau benar-benar berani. Atau bodoh."

"Atau keduanya, Paduka."

"Hmm." Pejabat Hwang menyesap tehnya. "Aku akan memberitahumu satu hal, karena kau lebih pintar dari dugaanku. Seseorang di istana menginginkanmu. Bukan Kaisar—ia hanya menyetujui usulan."

"Siapa?"

"Itu rahasia. Tapi kau akan mengetahuinya saat tiba di istana nanti."

Namgung Jin diam. Pikirannya bekerja cepat.

"Ada syarat?"

"Pintar." Pejabat Hwang mengangguk. "Kau harus membuktikan diri. Dalam satu bulan, kau harus menunjukkan bahwa kau layak menjadi Pendekar Kekaisaran. Jika gagal..." Ia tersenyum tipis. "...kau akan dihukum mati."

"Karena gagal?"

"Karena tahu terlalu banyak."

Ancaman terselubung. Tapi jelas.

Namgung Jin mengangguk. "Aku mengerti."

"Bagus. Kau punya satu bulan. Manfaatkan sebaik-baiknya."

---

Setelah Pejabat Hwang pergi, Namgung Jin kembali ke paviliun reot.

Nyonya Hwa Ryun sudah menunggu dengan cemas. "Apa yang terjadi?"

"Aku dipanggil ke istana. Menjadi calon Pendekar Kekaisaran."

Nyonya Hwa Ryun terkejut. "Itu... itu kehormatan besar!"

"Atau jebakan besar."

"Maksudmu?"

"Seseorang di istana menginginkanku. Bukan untuk jadi pengawal, tapi untuk sesuatu yang lain."

Nyonya Hwa Ryun mengerutkan kening. "Kau curiga ada konspirasi?"

"Di dunia ini, semuanya konspirasi."

Ia duduk, merenung.

Istana Kekaisaran. Itu adalah level baru. Level yang bahkan Magyo tidak berani sentuh. Jika ia masuk ke sana, ia akan bermain di papan yang jauh lebih besar.

Tapi juga jauh lebih berbahaya.

"Kau akan pergi?"

"Aku tidak punya pilihan. Titah Kaisar tidak bisa ditolak."

*"Tapi—"

"Aku akan pergi. Tapi sebelum itu, ada banyak yang harus dipersiapkan."

---

Malam harinya, Namgung Jin mengirim kode pada Pemburu Kwon.

Mereka bertemu di hutan belakang, tempat biasa.

"Tuan Muda, aku dengar kabarnya."

"Bagus. Aku butuh informasimu."

"Apa pun."

"Cari tahu tentang istana. Siapa pejabat di sana, siapa yang punya pengaruh, dan yang paling penting—siapa yang mungkin menginginkanku di sana."

Pemburu Kwon mengangguk. "Akan kulakukan, Tuan Muda. Tapi itu butuh waktu."

"Kau punya waktu tiga minggu. Setelah itu, aku akan berangkat."

Pemburu Kwon pergi, meninggalkan Namgung Jin sendirian di hutan.

Ia menatap bulan yang bersinar terang.

"Istana Kekaisaran..."

Simma di dadanya berdenyut—bukan takut, tapi penasaran.

"Mungkin ini adalah langkah yang tepat."

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!