NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Lembur dalam Temaram

Colette menghela napas panjang, menatap dua map tebal yang kini teronggok di atas mejanya. Sebelum jemarinya kembali menari di atas keyboard, ia merogoh ponsel dari saku jaketnya. Dengan cepat, ia mengetik pesan singkat untuk sang ibu.

"Bu, Colette pulang agak malam ya. Ada pekerjaan mendadak yang harus diselesaikan segera. Ibu makan malam duluan saja dengan Aris, jangan menungguku."

Hanya butuh beberapa detik sampai balasan masuk. "Iya, Nak. Hati-hati, jangan terlalu lelah. Ibu sisakan lauk untukmu."

Colette tersenyum tipis. Rasa hangat dari perhatian ibunya menjadi sedikit penawar bagi rasa lelah yang mulai menghinggap. Entah sudah berapa lama ia menutup diri dari orang-orang bahkan keluarganya, ia sudah lama tak berbicara dengan mereka, namun kali ini ia ingin memanfaatkan semua nya sebaik mungkin. Ia meletakkan ponselnya, lalu menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan fokusnya kembali.

Satu per satu lampu di ruangan divisi mulai dipadamkan secara otomatis oleh sistem penghemat energi gedung. Kini, hanya tersisa lampu di atas meja Colette yang menyala, menciptakan lingkaran cahaya kecil di tengah ruangan yang luas dan mulai temaram.

Suasana menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar suara dengung halus dari mesin pendingin ruangan dan bunyi klik yang ritmis dari tetikusnya. Colette membuka fail pertama dari Asisten Yone. Matanya yang jernih meneliti baris demi baris angka inventaris yang berantakan.

Anehnya, ia tidak merasa terbebani. Kegelapan dan kesunyian ini adalah zona nyamannya selama bertahun-tahun. Di bawah cahaya yang minim, ia tidak perlu khawatir ada orang yang memperhatikan wajahnya atau menanyakan tentang skincare-nya. Di sini, ia hanya Colette sang pekerja, bukan "Gadis dari Langit" yang membuat gempar kantor tadi pagi.

Colette menghentikan ketikannya sejenak. Matanya mulai terasa pedas menatap baris-baris angka yang seolah menari di layar monitor. Ia butuh sesuatu untuk menendang rasa kantuknya.

Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju area pantry yang berada di sudut lantai itu. Suasana pantry sangat sunyi, hanya ada suara dengung kulkas besar di pojok ruangan. Cahaya di sana pun remang, hanya mengandalkan lampu darurat yang memberikan nuansa biru pucat.

Colette mengambil sebuah cangkir keramik putih, merobek satu sachet kopi instan, dan menyeduhnya dengan air panas. Aroma kafein yang kuat mulai menyeruak, memberikan sedikit ketenangan bagi pikirannya yang kalut. Ia mengaduk kopinya perlahan, menatap uap panas yang membumbung tinggi, sebelum akhirnya kembali ke mejanya.

Sambil menyesap kopi instan yang panas, Colette kembali duduk di depan komputernya. Kafein itu mulai bekerja, memberikan dorongan energi baru. Ia membuka fail kedua, mencoba membedah kesalahan input yang disebutkan oleh Asisten Yone.

Jari-jari Colette menari lincah di atas papan ketik, suaranya menjadi satu-satunya melodi di tengah kesunyian kantor yang kaku. Ia memeriksa kembali setiap rumus, memvalidasi angka-angka inventaris yang sebelumnya berantakan, dan memastikan tidak ada satu pun koma yang meleset. Fokusnya begitu tajam hingga ia seolah masuk ke dalam dimensi lain, di mana hanya ada dia dan barisan data.

Setelah setengah jam berlalu, ia menghela napas panjang. Matanya yang jernih memindai layar untuk terakhir kalinya.

Selesai.

Semua data telah sinkron. Colette menyandarkan punggungnya ke kursi, merasakan ketegangan di bahunya perlahan mengendur. Ia menutup kedua fail tersebut dengan perasaan puas yang jarang ia rasakan. Ternyata, di balik ketakutannya terhadap perhatian orang lain, kemampuan profesionalnya tidak pernah luntur. Ia tetaplah Colette yang kompeten, dengan atau tanpa penampilan barunya.

Colette mulai merapikan mejanya. Ia membuang bungkus kopi instan yang sudah kosong. Colette mematikan layar monitornya, membiarkan ruangan itu tenggelam sepenuhnya dalam kegelapan, kecuali pendar kecil dari lampu darurat di sudut langit-langit. Ia menyampirkan tasnya di bahu, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa keberaniannya, lalu melangkah keluar dari ruangan divisi yang sunyi itu.

Suara langkah kakinya bergema di lorong yang kosong, memberikan kesan dramatis pada kesunyian malam di gedung Sinclair Group. Saat ia sampai di depan lift, ia menekan tombol panah bawah. Pantulan dirinya di pintu lift yang terbuat dari logam mengkilap kembali mengejutkannya; sosok wanita berambut wolf cut dengan mata hazel yang tajam itu masih terasa asing, namun entah mengapa, mulai terlihat serasi dengan suasana gedung yang megah ini.

Namun tiba-tiba sebuah tangan besar menarik diri nya masuk ke ruangan gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!