NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Tawar-menawar dengan Serigala

Kedai teh itu terasa semakin sempit.

Gong Jinsung duduk di hadapanku dengan tenang, seolah-olah dia hanya mengajak ngobrol biasa. Tapi aku tahu—pria ini adalah serigala berbulu domba. Setiap kata yang keluar dari mulutnya pasti sudah diperhitungkan dengan cermat.

Aku menyesap tehnya. Hangat. Pahit. Biasa saja.

"Tawaran yang menarik," kataku akhirnya. "Tapi aku punya beberapa pertanyaan."

"Silakan."

"Pertama: jika aku bekerja sama dengan Klan Gong, apa statusku? Budak? Tahanan? Atau mitra?"

Gong Jinsung tersenyum. "Kau langsung ke inti, ya? Bagus. Aku suka orang yang terus terang." Dia meletakkan cangkirnya. "Kau akan jadi 'penasihat khusus'. Bukan budak, bukan tahanan. Tapi kau akan tinggal di wilayah Klan Gong, dan tentu saja... ada pengawasan."

"Tahanan rumah, maksudmu."

"Katakanlah 'tamu istimewa dengan pendamping'."

Aku hampir tertawa. Diplomasi dunia persilatan ternyata sama manipulatifnya dengan rapat direksi di kehidupan sebelumnya.

"Kedua: apa yang terjadi dengan klanku? Klan Jin?"

Gong Jinsung mengangkat alis. "Kau masih peduli dengan klan yang hampir membunuhmu?"

"Aku tidak peduli pada Hojun. Tapi ada orang-orang yang tidak bersalah. Pendekar rendahan yang tidak punya pilihan. Keluarga mereka. Dan satu orang tua yang setia padaku."

Hyun Moo. Namanya tidak kusebut, tapi pasti dia tahu.

Gong Jinsung menatapku lama. Mungkin menilai, mungkin menghitung.

"Klan Jin akan tetap ada. Tapi dengan pemimpin baru." Dia menjeda. "Kamu."

Aku terkejut. "Aku?"

"Kau pewaris sah. Satu-satunya yang tersisa. Dengan dukungan Klan Gong, tidak ada yang bisa menolakmu. Hojun? Dia sudah terluka. Pendukungnya? Mereka akan lari saat melihat kita berdiri di belakangmu."

Ini tawaran yang lebih besar dari dugaanku. Bukan sekadar perlindungan individu, tapi pengambilalihan seluruh klan.

"Dan sebagai imbalannya?"

"Kau mengajarkan rahasia ledakan itu kepada kami. Semuanya. Tanpa ada yang disembunyikan."

Aku diam.

Ini titik kritis.

Jika aku setuju, aku mendapatkan klan kembali. Kekuasaan. Sumber daya. Tapi aku juga akan terikat dengan Klan Gong. Mereka akan tahu semua pengetahuanku. Dan setelah itu? Apa jaminan mereka tidak akan membuangku setelah semua ilmu terserap?

"Ketiga," kataku. "Bagaimana aku tahu kau tidak akan membunuhku setelah mendapatkan semua yang kau mau?"

Gong Jinsung tertawa. Sungguhan tertawa kali ini.

"Kau cerdas. Aku suka." Dia berhenti tertawa, matanya kembali tajam. "Jawabannya: kau tidak tahu. Itulah risiko bekerja dengan kekuatan besar. Tapi aku bisa memberimu alasan untuk percaya."

"Apa?"

"Kau punya sesuatu yang tidak bisa diambil begitu saja. Bukan hanya pengetahuannya, tapi cara berpikirmu. Dari caramu bicara, aku bisa lihat kau bukan pendekar biasa. Ada sesuatu di matamu... sesuatu yang tidak kumengerti." Dia mencondongkan tubuh. "Kau bisa menciptakan hal-hal baru. Itu lebih berharga daripada sekadar resep mesiu. Klan Gong butuh orang sepertimu. Membunuhmu sama bodohnya dengan membunuh ayam yang bertelur emas."

Aku mempertimbangkan kata-katanya.

Dia benar. Selama aku bisa terus menciptakan inovasi, aku punya nilai. Tapi begitu inovasinya berhenti, atau mereka merasa sudah cukup...

"Ada satu syarat lagi," kataku.

"Kau cukup banyak minta untuk orang yang terpojok."

"Ini bukan permintaan. Ini keharusan." Aku menatap matanya. "Aku tidak akan tinggal di wilayah Klan Gong. Aku akan tetap di sini, membangun kembali klanku. Tapi kita bisa buat perjanjian: aliansi, bukan penaklukan. Klan Jin akan menjadi mitra, bukan bawahan. Dan sebagai tanda itikad baik, aku akan mengajarkan dasar-dasar ledakan itu kepada tiga orang pilihanmu. Sisanya... nanti, setelah kepercayaan terbangun."

Gong Jinsung diam untuk waktu yang lama.

Aku bisa melihat pikirannya bekerja. Ini bukan tawaran yang dia harapkan. Dia datang untuk merekrut, mungkin untuk menguasai. Tapi aku menawarkan sesuatu yang lebih seimbang.

"Berani," gumamnya akhirnya. "Kau benar-benar berani. Atau bodoh."

"Mungkin keduanya."

Dia tertawa lagi. Kali lebih pendek, lebih getir.

"Baik. Aku setuju dengan syaratmu. Untuk sementara." Dia mengangkat cangkirnya. "Tapi ingat, Jin Tae-Kyung. Jika kau mengkhianati kepercayaan ini, jika kau mencoba menggunakan pengetahuanku untuk melawan kami..." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.

Aku mengangkat cangkirku juga. "Aku mengerti."

Kami minum.

Teh yang sama. Pahit yang sama. Tapi rasanya berbeda sekarang.

---

Kami bicara sampai larut malam.

Gong Jinsung ternyata orang yang menarik. Dia bukan sekadar kepala keamanan biasa—dia adalah adik dari Patriark Klan Gong, dan dianggap sebagai otak di balik banyak kemenangan mereka. Dia juga jenius dalam strategi, tapi mengaku tidak mengerti soal teknik.

Aku menjelaskan secara sederhana tentang mesiu. Tidak terlalu detail—hanya konsep dasarnya. Tapi matanya berbinar seperti anak kecil melihat mainan baru.

"Jadi... bubuk hitam ini bisa meledak karena... reaksi berantai? Karena bercampur dengan api?"

"Kurang lebih. Tapi detailnya lebih rumit. Perbandingan campuran, ukuran butiran, kadar air... semua mempengaruhi."

"Dan kau mengerti semua ini?"

"Aku belajar dari buku."

"Buku dari mana?"

Aku tersenyum. "Rahasia."

Dia mengerti. Tidak mendesak.

Saat kami berpisah, Gong Jinsung berkata, "Tiga orangku akan datang lusa. Harap siap menerima mereka."

"Tentu."

"Awas, mereka bukan orang sembarangan. Mungkin mereka akan mengujimu."

"Biarkan. Aku suka tantangan."

Dia tersenyum. Senyum yang aneh—campuran antara hormat dan waspada. Lalu dia pergi, menghilang dalam gelap.

---

Aku kembali ke rumah menjelang tengah malam.

Hyun Moo masih duduk di beranda, menunggu. Saat melihatku, dia berdiri—terlalu cepat, sampai lututnya terlihat sakit.

"Tuan! Syukurlah..."

Aku duduk di sampingnya, menghela napas panjang. Perjalanan pulang terasa lebih melelahkan daripada pergi.

"Selamat, Tuan?"

"Selamat. Tapi belum menang."

Aku menceritakan semuanya. Pertemuan, tawaran, syarat, dan kesepakatan. Hyun Moo mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berubah-ubah—tegang, lega, tegang lagi.

"Tuan... ini terlalu berisiko. Klan Gong bisa saja mengingkari janji."

"Bisa. Tapi untuk sekarang, ini yang terbaik." Aku menatap langit malam. "Kita butuh sekutu. Klan Jin terlalu kecil untuk bertahan sendiri. Dan dengan Hojun masih hidup, kita tidak bisa bergerak bebas."

"Tapi Tuan, apa yang akan Tuan ajarkan pada mereka?"

"Dasar-dasar saja. Cara membuat mesiu. Cara membuat sumbu. Cara membuat bom sederhana."

"Tidak lebih?"

Aku tersenyum tipis. "Tidak lebih. Rahasia terbesarku bukan di mesiu."

Hyun Moo mengerutkan kening. "Lalu di mana, Tuan?"

Aku menunjuk kepalaku. "Di sini. Cara berpikir. Cara memecahkan masalah. Itu yang tidak bisa diajarkan dalam sehari."

---

Dua hari berikutnya, aku mempersiapkan diri.

Aku membuat catatan sederhana—tentang perbandingan campuran, tentang cara membuat arang berkualitas, tentang pentingnya kekeringan. Tapi semua dalam kode yang hanya aku mengerti.

Aku juga membuat beberapa contoh bom dengan berbagai ukuran. Dari yang sekecil telur puyuh sampai sebesar buah kelapa. Semua kususun rapi di halaman belakang, ditutupi kain.

Hyun Moo mengawasi dengan cemas. "Tuan, kalau mereka lihat semua ini..."

"Biarkan mereka lihat. Yang penting mereka tidak tahu bagaimana membuatnya dari awal."

Sore hari di hari kedua, mereka datang.

Tiga orang. Dua pria, satu wanita. Semua berpakaian hitam dengan garis perak—seragam khas Klan Gong. Yang paling tua di antara mereka, seorang pria berusia sekitar empat puluhan dengan jenggot tipis, memperkenalkan diri sebagai Jang Ilso.

"Kami dikirim oleh Jinsung-nim untuk belajar," katanya. Suaranya datar, tidak bersahabat.

Yang lain—wanita muda dengan rambut dikuncir tinggi, dan pria muda bertubuh kekar dengan lengan penuh otot—hanya mengangguk.

Aku menyambut mereka di halaman depan. "Selamat datang. Aku Jin Tae-kyung."

"Kami tahu." Jang Ilso melirik ke arah rumah reyot. "Ini... tempat tinggalmu?"

"Sementara. Sampai klanku kembali pulih."

Dia mendengus. Mungkin meremehkan. Tapi aku tidak peduli.

"Kau mau belajar?" tanyaku. "Ayo kubawa ke laboratorium."

---

"Laboratorium" adalah istilah yang terlalu mulia untuk gubuk belakang yang kujadikan tempat kerja.

Tapi saat mereka melihat tungku, tumpukan arang, karung belerang, dan bom-bom yang berjejer, ekspresi mereka berubah. Jang Ilso mengerutkan kening. Wanita muda itu membelalak. Pria kekar itu membuka mulut, tapi tidak bersuara.

"Ini... semua ini?" Jang Ilso bertanya.

"Aku bilang, ini baru permulaan."

Aku mengambil bom seukuran telur puyuh. "Ini yang paling kecil. Ledakannya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk melukai dalam jarak dekat."

Lalu bom sebesar kepalan. "Ini yang standar. Bisa menghancurkan pintu kayu, atau melukai beberapa orang dalam radius tiga meter."

Terakhir, bom sebesar kelapa. "Ini yang paling besar yang pernah kubuat. Aku belum pernah mengujinya."

Pria kekar itu angkat bicara. "Boleh kami lihat?"

Aku menatapnya. "Kau yakin? Di sini?"

Jang Ilso mengangkat tangan, memberi isyarat agar bawahannya diam. "Mungkin kita lihat dulu teorinya."

Aku mengangguk. "Bijak."

---

Sisa sore itu kuhabiskan untuk menjelaskan dasar-dasar.

Belerang, arang, sendawa. Fungsi masing-masing. Perbandingan ideal. Cara mencampur. Cara membuat sumbu. Cara membuat wadah.

Mereka mendengarkan dengan saksama. Jang Ilso bahkan membuat catatan di buku kecil. Wanita muda—namanya Song Hwa—paling banyak bertanya. Pria kekar—bernama Go Dok—lebih banyak diam, mengamati.

Saat matahari mulai terbenam, Jang Ilso berkata, "Cukup untuk hari ini. Besok kami ingin lihat praktiknya."

"Tentu."

Mereka pergi. Tapi sebelum beranjak, Song Hwa menoleh.

"Jin Tae-kyung-ssi."

"Apa?"

"Kau... dari mana kau belajar semua ini? Aku sudah sepuluh tahun di Klan Gong, belajar berbagai ilmu, tapi tidak pernah mendengar hal seperti ini."

Aku tersenyum. "Dari buku."

"Buku apa?"

"Buku yang tidak akan kau temukan di Murim."

Dia mengerutkan kening, tapi tidak bertanya lebih lanjut.

---

Malam harinya, Hyun Moo mendekat.

"Tuan, bagaimana pendapat Tuan tentang mereka?"

"Aku belum tahu. Jang Ilso tipe birokrat—patuh aturan, kaku. Song Hwa lebih cerdas, ingin tahu. Go Dok... mungkin mantan prajurit. Dia lebih banyak mengamati daripada bicara."

"Bisakah mereka dipercaya?"

"Tidak. Tapi untuk sekarang, mereka alatku."

"Alat?"

Aku menatapnya. "Mereka akan belajar dariku, lalu melapor ke Gong Jinsung. Selama laporan mereka bagus, Gong Jinsung akan terus mendukungku. Itu yang kubutuhkan—dukungan, waktu, dan sumber daya."

"Tapi kalau mereka sudah belajar semua..."

"Aku tidak akan mengajar semua." Aku tersenyum tipis. "Ada hal-hal yang hanya aku tahu. Hal-hal yang tidak bisa diajarkan dalam seminggu atau sebulan."

---

Hari berikutnya, uji coba.

Aku membawa mereka ke clearing di hutan—tempat yang dulu kupakai uji coba pertama. Di sini, bekas-bekas ledakan masih terlihat. Lubang-lubang di tanah. Pohon-pohon dengan pecahan besi tertancap di batang.

"Kau melakukan semua ini?" tanya Song Hwa takjub.

"Aku dan Hyun Moo."

"Sendirian?"

"Kami hanya berdua."

Jang Ilso mengamati sekeliling dengan serius. "Kekuatan ini... kalau dikerahkan dalam skala besar..."

"Bisa menghancurkan seluruh pasukan," sambung Go Dok. Suaranya dalam, penuh pertimbangan.

Aku mengangguk. "Tapi ada batasnya. Mesiu tidak bisa menggantikan pendekar sepenuhnya. Tapi dia bisa jadi penyeimbang. Dengan mesiu, seratus pendekar bisa melawan seribu."

Hari itu, aku menunjukkan uji coba langsung.

Bom telur puyuh: meledak dengan suara keras, pecahan besi beterbangan, menancap di batang pohon.

Bom standar: lubang sedalam setengah meter, radius ledakan tiga meter.

Bom terbesar: kuminta mereka mundur jauh. Ledakannya menggelegar, menghancurkan batu besar menjadi serpihan.

Saat asap hilang, mereka terdiam.

Go Dok bersiul pelan. Song Hwa menutup mulut dengan tangan. Jang Ilso—pria yang sedari tadi selalu tenang—wajahnya pucat.

"Ini... ini bukan ilmu persilatan," gumamnya. "Ini... ini..."

"Ini sains," kataku. "Ilmu pengetahuan."

---

Malam itu, setelah mereka pergi, Hyun Moo bertanya.

"Tuan, kenapa Tuan tunjukkan semuanya? Bukankah Tuan bilang akan menyembunyikan yang terbesar?"

Aku duduk di beranda, menatap bintang.

"Karena aku ingin mereka takut," jawabku pelan. "Aku ingin Gong Jinsung tahu bahwa aku punya kekuatan yang bisa menghancurkan pasukannya. Bukan untuk mengancam, tapi untuk menunjukkan bahwa aku bukan orang yang bisa diperlakukan seenaknya."

"Tapi bukankah itu membuat mereka semakin ingin menguasai Tuan?"

"Ya. Tapi juga membuat mereka berpikir dua kali sebelum mencoba sesuatu yang bodoh."

Aku terdiam sejenak.

"Besok, mereka akan kembali. Dan lusa, mungkin Gong Jinsung sendiri yang datang. Kita harus siap."

"Siap bagaimana, Tuan?"

Aku menoleh padanya. "Kau tahu apa yang paling ditakuti para penguasa?"

"Apa?"

"Perubahan. Mereka takut hal-hal baru yang bisa mengguncang tatanan yang sudah ada." Aku tersenyum. "Aku akan memberi mereka perubahan. Tapi dengan kecepatan yang bisa mereka kendalikan. Sedikit demi sedikit. Sehingga mereka merasa selalu punya kendali."

"Padahal..."

"Padahal, sebenarnya aku yang mengendalikan mereka."

Hyun Moo menatapku lama. Lalu dia tertawa. Tawa tua yang parau.

"Tuan, kadang aku lupa bahwa Tuan masih muda. Cara berpikir Tuan... seperti rubah tua."

"Terima kasih. Itu pujian terbaik yang pernah kudengar."

---

Tiga hari kemudian, Gong Jinsung datang.

Dia datang sendiri—tanpa pengawal, tanpa rombongan. Hanya dia dan seekor kuda hitam yang gagah.

Aku menyambutnya di halaman depan.

"Kau lihat laporannya?" tanyaku.

"Sudah." Dia turun dari kuda, mengikatnya di tiang kayu. "Jang Ilso bilang kau... mengerikan."

"Aku anggap itu pujian."

"Tentu." Dia berjalan mendekat, menatap rumah reyot itu. "Tapi kau tahu, orang sepertimu... bisa jadi aset, atau ancaman."

"Kita sudah bicarakan ini."

"Ya. Tapi sekarang aku lihat sendiri." Dia berhenti di depanku. Matanya tajam menyelidik. "Katakan, Jin Tae-kyung. Apa sebenarnya yang kau inginkan?"

Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya... rumit.

Apa yang aku inginkan?

Di kehidupan sebelumnya, aku hanya ingin hidup tenang. Bekerja, digaji, pensiun. Tapi di sini? Di dunia yang kejam ini?

"Aku ingin membangun sesuatu," jawabku akhirnya.

"Membangun?"

"Ya. Bukan sekadar bertahan hidup. Bukan sekadar merebut kembali klan. Tapi membangun sesuatu yang baru. Tempat di mana ilmu pengetahuan dihargai sama seperti kekuatan pedang. Tempat di mana orang bisa hidup tanpa takut ditindas klan besar."

Gong Jinsung diam lama.

"Ambisi yang besar," katanya akhirnya. "Terlalu besar untuk klan sekecil Jin."

"Maka aku butuh sekutu."

"Dan kau pikir Klan Gong bisa jadi sekutu itu?"

"Bisa. Tergantung kalian."

Dia tersenyum. Senyum yang aneh—antara hormat dan ironi.

"Kau tahu, biasanya orang yang bicara sepertiku padaku akan kubunuh di tempat. Tapi kau... kau berbeda."

"Aku tahu."

Dia tertawa. Lalu menghela napas.

"Baik. Aku setuju dengan aliansi ini. Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Kau harus datang ke markas Klan Gong. Tunjukkan langsung pada Patriark apa yang bisa kau lakukan. Kalau dia setuju, maka kita lanjutkan."

Aku mengerutkan kening. "Ini ujian?"

"Ini kesempatan. Kau bisa menolak, tentu saja. Tapi kalau menolak, aku akan sulit membelamu di depan Patriark."

Aku mempertimbangkan.

Markas Klan Gong. Sarang musuh potensial. Tapi juga kesempatan untuk menunjukkan diri, untuk membangun jaringan.

"Kapan?"

"Tiga hari lagi. Aku akan jemput."

Aku mengangguk. "Setuju."

---

Gong Jinsung pergi saat matahari mulai condong.

Hyun Moo keluar dari persembunyiannya di dapur. Wajahnya tegang.

"Tuan, kau benar-benar akan pergi?"

"Aku harus."

"Tapi itu berbahaya!"

"Semuanya berbahaya, Hyun Moo. Tinggal di sini juga berbahaya—Hojun bisa datang kapan saja dengan sisa pendukungnya." Aku menatapnya. "Aku harus ambil risiko. Untuk mendapatkan sekutu sejati."

"Kalau begitu, aku ikut."

"Tidak."

"Tuan!"

Aku meletakkan tangan di bahunya. "Kau harus tetap di sini. Jaga rumah ini. Jaga persediaan kita. Kalau sesuatu terjadi padaku di sana, kau satu-satunya yang bisa melanjutkan."

Pria tua itu menunduk. Tangannya mengepal.

"Aku tidak suka ini, Tuan."

"Aku juga tidak suka. Tapi ini yang terbaik."

---

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku menulis surat.

Bukan surat panjang—hanya beberapa baris. Isinya instruksi untuk Hyun Moo jika aku tidak kembali. Lokasi persembunyian cadangan. Cara membuat mesiu dengan perbandingan yang lebih baik. Dan pesan terakhir:

"Jangan menangis untukku. Aku sudah mati sekali. Mati kedua kali tidak akan lebih buruk. Tapi kalau bisa, hidup. Hidup dan lanjutkan apa yang sudah kita mulai."

Aku menyelipkan surat itu di bawah batu dekat tungku. Hanya Hyun Moo yang tahu tempatnya.

Lalu aku tidur.

Mimpi itu datang lagi.

Aku di jembatan itu lagi. Rangka baja di atas kepalaku. Suara derit yang memekakkan telinga. Lalu gelap.

Tapi kali lain, sebelum gelap menyelimuti, aku melihat sesuatu.

Wajah.

Bukan wajah orang-orang di kehidupan lamaku. Tapi wajah Hyun Moo. Wajah Gong Jinsung. Wajah Song Hwa. Dan di belakang mereka... ribuan wajah lain yang tidak kukenal.

Mereka menatapku. Menunggu.

Lalu aku bangun.

Keringat membasahi sekujur tubuh. Di luar, ayam mulai berkokok.

Hari baru telah tiba.

Hari di mana aku akan melangkah ke sarang serigala.

---

[Bersambung ke Bab 8]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!