Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Beberapa hari setelah malam lembur itu.
Ken berubah.
Bukan jadi orang lain.
Tapi jadi lebih jelas.
Lebih terang menunjukkan bahwa Zara adalah pilihannya.
Pagi itu di kantor…
Zara baru saja duduk ketika Ken meletakkan segelas kopi favoritnya di meja.
“Kurang gula satu sendok, kan?”
Zara tertegun. “Kamu inget?”
Ken mengangkat bahu santai. “Aku inget semuanya tentang kamu.”
Eve melihat itu.
Tangannya berhenti di atas keyboard.
Ken jarang melakukan gestur kecil seperti itu dulu.
Dulu, mereka sibuk bertahan.
Sekarang…
Ken terlihat… menikmati.
Siang hari, Ken menarik kursi Zara lebih dekat saat makan siang di pantry kantor.
“Tadi kamu belum sempat makan kan.”
“Kamu juga belum.”
“Makanya kita makan bareng.”
Tawa kecil mereka terdengar ringan.
Hangat.
Dan Eve berdiri di ambang pintu, melihat semuanya.
Dadanya terasa panas.
Bukan cemburu biasa.
Tapi rasa kepemilikan yang ditarik paksa.
Setiap kali Ken dan Zara hampir punya momen.
Eve selalu ada.
Kalau bukan tiba-tiba masuk ruangan dengan alasan dokumen,
ia akan berdiri terlalu dekat dengan Ken saat rapat.
“Ken, kamu masih ingat nggak presentasi pertama kita waktu proposal startup?”
Ken terdiam sesaat.
“Iya.”
“Kamu gugup banget waktu itu.”
Eve tertawa kecil, nostalgia di suaranya.
Zara tersenyum sopan.
Tapi ia sadar.
Eve selalu membawa Ken kembali ke masa lalu.
Selalu.
“Dulu kamu bilang aku satu-satunya yang percaya sama kamu.”
Kalimat itu sengaja dijatuhkan di depan Zara.
Ken tak menjawab.
Zara tetap tenang.
Tapi jarinya mencengkeram pena sedikit lebih kuat.
Setiap hari eve jalani dengan berusaha untuk mendekati ken.
Seminggu kemudian…
Bisik-bisik mulai terdengar di kantor.
“Aveline itu cinta pertamanya Pak Ken.”
“Katanya dulu hampir nikah.”
“Dia yang berkorban demi keselamatan Pak Ken.”
“Kasihan ya… sekarang malah tunangannya sama perempuan lain.”
Zara mendengar semuanya.
Di lift.
Di pantry.
Di ruang fotokopi.
Kalimat yang sama berulang-ulang.
Seolah digiring.
Seolah diarahkan.
Dan yang paling menyakitkan.
“Zara cuma datang pas semuanya sudah jadi.”
“Yang berjuang Aveline. Yang menikmati Zara.”
Kalimat itu seperti tamparan pelan tapi berulang.
Zara tetap profesional.
Tetap tegak.
Tapi saat pulang dari kantor, saat sendirian di kamar,
Ia menangis diam-diam.
Bukan karena kalah.
Tapi karena diposisikan sebagai perampas.
Suatu pagi, gosip itu akhirnya sampai ke telinga Ken.
Ia masuk ruangan dengan wajah tegang.
“Apa ini?”
Semua terdiam.
Eve berdiri dari kursinya.
“Ken… aku dengar juga.”
Wajahnya tampak sedih.
“Ini keterlaluan.”
Ia menoleh ke Zara dengan tatapan seolah iba.
“Aku nggak pernah minta orang-orang membandingkan.”
Ken menatap tajam. “Siapa yang mulai?”
Eve menggeleng pelan.
“Aku nggak tahu. Tapi aku sudah bilang ke beberapa orang supaya berhenti.”
Nada suaranya lembut. Terluka.
“Aku nggak mau Zara merasa nggak nyaman.”
Zara menatap Eve.
Senyumnya tipis.
Terlalu rapi...Terlalu terkendali.
Kakek Jo yang berdiri di dekat pintu hanya memperhatikan.
Matanya menyipit sedikit.
Ken mendekat ke Zara.
“Kamu nggak perlu dengerin omongan orang.”
Zara tersenyum kecil.
“Aku nggak peduli dengan omongan orang lain sayang.”
Tapi suaranya tidak sekuat biasanya.
Eve melangkah mendekat.
“Aku minta maaf ya kalau masa laluku bikin kamu nggak nyaman.”
Nada suaranya seperti korban.
Seolah ia yang tersakiti.
Padahal api itu…Berawal darinya.
Ken menatap Eve dengan rasa simpati.
Dan itulah yang membuat Zara sadar.
Eve bukan sekadar cemburu.
Ia sedang membangun narasi.
Bahwa dirinya adalah cinta sejati.
Bahwa Zara hanya bab sementara.
Malam itu di rumah tamu…
Eve berdiri di depan jendela.
Lampu kamar Ken masih menyala.
Ia tersenyum tipis.
Perlahan.
Sabar.
Kalau Ken ingin terus bermain masa kini.
Maka ia akan terus menghidupkan masa lalu.
Sampai Ken ragu.
Sampai Zara lelah.
Karena Eve tahu.
Cinta pertama selalu punya ruang khusus.
Dan ia berniat mengambil kembali tempatnya.
Dengan cara apa pun.