Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melayani Pak Marko
Aku duduk di ruang VIP, menundukkan kepala. Waktu berjalan lambat. Tubuhku mulai merasakan bosan dan resah.
Tiba-tiba pintu terbuka. Marko masuk dengan langkah tegap dan karisma yang sulit ditolak. Wajahnya seperti bintang Korea yang mampu membuat siapa pun terpana.
Aku berdiri dan tersenyum.
“Pak Marko…” suaraku pelan.
Marko duduk dan menyilangkan kaki, menatapku tajam. “Apa kamu akan terus berdiri seperti itu? Apa begini caramu melayani para pelanggan di klubku?”
Aku gugup, lalu duduk. “Ma… maaf, pak. Saya akan menuangkan minuman untuk Pak Marko." kataku, mengambil botol alkohol dan menuangkannya ke gelasnya.
Marko mengangguk. “Layani aku dengan baik, seperti kamu melayani tamu lainnya. Atau buat aku merasa dilayani lebih spesial.”
Dia menarik pinggangku, mendekatkanku. Jantungku berdetak kencang. Aku merasa takut dan bingung, tapi juga tak bisa menolak.
“Ci*m aku. ” katanya dengan suara berat.
Aku menelan ludah dan mencoba bersikap profesional. “Profesionallah, Aluna. Atau aku akan memecatmu.”
Aku mendekat dan mendaratkan bib*rku di bib*rnya. Awalnya pelan\, tapi perlahan-lahan aku semakin larut. Marko tak melawan\, malah membiarkanku memegang pipinya.
Setelah semenit\, aku melepas ci*man itu. Tapi sebelum benar-benar menjauh\, tengkukku ditarik dan Marko menci*mku dengan brutal. Napasku sesak\, aku berusaha memukul-mukul pundaknya agar dia berhenti.
“Hosh… hosh… hosh… bapak mau buat saya mati?” aku mengatur napas.
Marko tertawa pelan. “Ci*man begini saja kamu ngos-ngosan, gimana mau yang lainnya?”
Aku bingung. “Maksud bapak apa?”
“Tidak ada maksud apa-apa. Oh iya… saya mau tanya, kenapa kamu tampil berbeda tadi sebelum sampai di klub? Saya lihat kamu pakai jilbab, tapi setelah itu kamu…” kata Marko menggantung memindai penampilanku malam ini.
Aku hendak bangkit dari pangkuannya, tapi dia menahan. “Tetap di sini. Jangan pindah sebelum aku yang memerintahkan.”
Aku tak berani melawan. Suara itu seperti perintah tanpa kompromi.
“Jadi, apa kamu menyembunyikan pekerjaanmu ini?”
Aku menatapnya, takut tapi juga ingin menjaga rahasiaku. “Maaf, pak. Saya rasa saya tidak punya kewajiban untuk menceritakan hal pribadi saya kepada bapak. Itu bukan urusan bapak.”
Marko tersenyum tipis dan mulai meraba pahaku.
“Aku hanya penasaran saja.” katanya lalu menindihku.
Aku gelagapan. “Pak Marko, mau apa?”
“Tidak… aku hanya ingin bermain sebentar denganmu.” katanya dengan senyum sinis lalu kembali menci*mku, kali ini lebih lembut.
Aku terbuai, melingkarkan tangan di lehernya. Kami larut dalam ci*man itu, sementara musik berdentum keras di luar.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Renaldi masuk, gugup.
“Maaf, pak… saya tidak tahu kalau…”
Marko membenarkan pakaiannya, menatap Renaldi tajam. “Ada apa?”
“Ini tentang Papa Anda, pak. Lebih baik kita pulang sekarang.”
Marko langsung berdiri dan pergi tanpa menoleh.
Renaldi melirikku, lalu mengekor ke Marko.
Aku tertinggal sendiri, duduk dengan hati yang sakit dan penuh kecewa. Rasanya aku seperti sampah, meski pekerjaan ini salah, tapi aku tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini, ditinggal begitu saja tanpa sepatah kata. Jika tamu yang lain akan pergi tentunya dia akan pamit dan memberikan tip untukku.
Tak lama Friska masuk setelah dari ruangan Pak Daniel “ Pak Marko kenapa buru-buru gitu?”
Aku hanya menggeleng dan berdecak sebal.
Friska penasaran dan aku menceritakan kejadian tadi. Friska tertawa terbahak-bahak karena nafsu aku jadi gantung gara-gara asistennya Marko.
Aku mencubit pinggang Friska dan pergi dari ruangan. “ nyebelin kamu.”
Friska mengejarku, tetap menggoda soal Marko.
Aku pura-pura tuli dan duduk di bar, memesan minuman. Rasa haus malam ini terasa menyesakkan.
“Mulai tertarik sama bos kita?” tanya Friska.
“Ya nggak lah, Fris. Aku malah nggak nyaman sama dia. Dia terlalu ikut campur.” jawabku.
“Ikut campur? Maksudnya gimana?” tanya Friska penasaran.
Aku menceritakan tentang kejadian saat Marko melihat aku berganti kostum dari jilbab ke pakaian seksi klub.
“Wajar dia kepo, loh. Kamu dari ibu-ibu ustadzah jadi wanita terhot di klub ini.” Friska menggoda.
Aku tertawa getir. “Sialan. Tapi aku takut ketahuan sama orang lain lagi. Ini saja Pak Marko yang ketemu hari ini, gimana kalau suatu hari Kak Sultan, Kak Annisa, atau keluarga lain yang lihat aku? Bisa mati ibu kalau tau aku kerja kayak gini.”
Friska mengangguk. “Makanya kamu ganti baju di rumah aku aja. Biar lebih aman. Lagian kenapa tadi kamu nggak pakai topi dan masker?”
“Aku lupa gara-gara Kak Sultan. Saking keselnya,” jawabku.
“Ya sudah, lain kali hati-hati. Aku kasih kunci cadangan aku biar kamu bisa ganti di rumah” kata Friska.
Aku tersenyum dan memeluknya erat. “Makasih, Fris. Kamu emang sahabat terbaik.”
“ udah nggak usah lebay. Mending kita kesana yuk, Pak Omar dan teman-temannya udah datang. Bakal menang banyak kita malam ini.” Kata Friska menaik turunkan alisnya.
Ya…Pak Omar adalah salah satu pelanggang tetap di club ini. Hampir setiap minggu dia datang berkunjung bersama para rombongannya. Dia adalah salah satu pebisnis yang cukup terkenal juga di kota Semarang ini. Umurnya kira-kira 45 tahunan. Ya lumayanlah umurnya sudah tua tapi penampilannya masih bisa dikatakan gaya anak muda.
“ selamat malam Pak Omar…….” sapa Friska yang langsung duduk di pangkuan Pak Omar.
Ya Pak Omar memang sangat menyukai Friska dari awal dia berkunjung di club ini. Karena pelayanan Friska yang sangat memuaskan.
“ malam Friskaku sayang.” balas Pak Omar yang langsung mendaratkan lumatan di bibir Friska. Mereka berdua langsung bercumbu begitu saja.
Para rombongan Pak Omar yang lain, hanya tertawa melihat tingkah temannya itu. Aku…Aku menjadi penonton juga disana dan tentunya melayani rombongan yang lain dengan menuangkan minuman digelas-gelas mereka. Sesekali mereka mengelus paha mulusku.
Setelah adegan panas Friska dan Pak Omar. Mereka mulai membahas pekerjaan mereka. Ku dengar mereka sedang membahas proyek besar yang nantinya akan dikerjakan di Bali.
Aku dan Friska sesekali menimpali pembahasan mereka dengan tawa dan cubitan kecil di lengan mereka.
Setelah malam yang panjang ini, aku dan bersiap-siap untuk pulang. Tentunya aku mampir ke rumah Friska untuk membersihkan diri karena tentunya ibu akan curiga jika melihat make upku yang menor dan bau asap rokok dan alkohol dari tubuhku.
**
Pagi harinya, seperti biasa aku bangun bersama ibu untuk menunaikan sholat subuh. Dalam do’aku sungguh aku meminta ampun kepada Tuhan atas segala dosa-dosa yang aku lakukan selama ini. Aku akui, aku adalah manusia hina yang sepertinya mempermainkan agamaku sendiri, membohongi ibuku dengan merahasiakan pekerjaanku, memberi ibu dan adikku uang dari hasil yang kotor. Tapi sungguh, aku pun terpaksa karena keadaan. Kalau tidak begini bagaimana aku menghidupi mereka. Bagaimana aku bisa menyekolahkan adikku? Menebus obat-obat ibu? dan memenuhi kebutuhan sehari-hari? Maafkan aku Tuhan.