"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Kedamaian di Mansion Dirgantara ternyata hanyalah sebuah fatamorgana yang dibangun di atas fondasi yang retak. Di saat Rangga merasa telah memenangkan segalanya dan Alya mulai pasrah pada takdirnya, sebuah badai besar sedang bergerak dari luar negeri—badai yang dibawa oleh pria yang merupakan sumber dari segala kegelapan dalam hidup Rangga.
...****************...
Di sebuah pangkalan udara pribadi di pinggiran Jakarta, sebuah jet mewah mendarat dengan mulus. Pintu pesawat terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah memutih namun memiliki tatapan mata sedingin es melangkah turun. Ia mengenakan setelan jas buatan penjahit terbaik di London, memancarkan wibawa yang bahkan membuat para penjaga keamanan paling tangguh pun menunduk hormat.
Dia adalah Baskara Dirgantara, ayah kandung Rangga, pria yang selama puluhan tahun mengasingkan diri di Eropa sambil mengendalikan jaringan bisnis bayangan keluarga Dirgantara.
Baskara tidak langsung menuju rumah. Tujuannya hanya satu: Lembaga Pemasyarakatan kelas kakap tempat Rendi mendekam.
Di dalam ruang kunjungan yang dingin dan sepi, Rendi duduk dengan tangan terborgol di meja besi. Wajahnya penuh luka lebam akibat sambutan "hangat" dari orang-orang suruhan Rangga di dalam sel. Namun, saat melihat siapa yang datang mengunjunginya, Rendi tersenyum lebar hingga menunjukkan giginya yang berdarah.
"Tuan Baskara... Akhirnya Anda datang," bisik Rendi parau.
Baskara menatap Rendi dengan tatapan meremehkan, seolah sedang melihat serangga yang terjepit. "Kau sangat ceroboh, Rendi. Kau membiarkan putraku yang tidak stabil itu mengalahkanmu hanya dalam satu malam. Kau membiarkan apartemenmu terbakar dan sahammu dirampas."
"Rangga sudah menjadi monster, Tuan! Dia melampaui batas!" geram Rendi.
Baskara menyandarkan punggungnya, mengetukkan jemarinya yang mengenakan cincin batu safir besar ke meja.
"Dia menjadi monster karena aku yang membentuknya. Namun, dia melakukan satu kesalahan fatal: dia membiarkan emosinya terhadap wanita bernama Alya itu mengendalikan bisnis keluarga. Dan aku tidak bisa membiarkan Dirgantara Group hancur hanya karena obsesi asmara seorang anak yang sakit jiwa."
Baskara mengeluarkan sebuah map dari tas kulitnya. "Hari ini, kau bebas, Rendi.
Pengacara-pengacaraku sudah menyiapkan dokumen yang menyatakan bahwa semua bukti pembakaran apartemen itu dimanipulasi oleh Rangga. Kau akan menjadi korban fitnah di mata hukum."
Rendi terbelalak. "Anda mengeluarkan saya? Mengapa? Anda benci saya karena saya mencoba membunuh putra Anda!"
Baskara tersenyum tipis—senyum yang identik dengan Rangga, namun jauh lebih terkendali dan mematikan. "Aku tidak membutuhkan putra yang lemah dan terobsesi pada wanita. Aku membutuhkan anjing penjaga yang haus darah sepertimu untuk 'merapikan' kekacauan yang dibuat Rangga. Keluarlah, Rendi. Bantu aku mengambil kembali kendali perusahaan, dan singkirkan Alya dari hidup Rangga. Aku tidak peduli bagaimana caranya."
Satu jam kemudian, gerbang penjara terbuka. Rendi keluar dengan kursi rodanya, namun kali ini ia tidak sendirian. Ia dikawal oleh tim keamanan elit milik Baskara. Di tangannya, ia memegang ponsel baru yang diberikan oleh ayah Rangga.
Tujuan pertama Rendi bukan rumah sakit, melainkan sebuah gudang senjata milik keluarga Dirgantara yang hanya diketahui oleh Baskara. Ia merasa memiliki kekuatan baru. Ia bukan lagi sekadar asisten yang sakit hati; ia kini adalah tangan kanan sang penguasa tertinggi keluarga Dirgantara.
"Rangga... kali ini ayahmu sendiri yang memberiku ijin untuk menghancurkanmu," tawa Rendi bergema di dalam mobil van hitam yang membawanya pergi.
...****************...
Sementara itu, di mansion, Rangga sedang duduk di meja makan bersama Alya. Rangga mencoba bersikap manis, memotongkan daging steak untuk Alya dengan penuh perhatian. Namun, ponsel Rangga tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari Pak Danu.
“Tuan, Rendi dibebaskan. Surat pembebasannya ditandatangani oleh Tuan Besar Baskara. Beliau sudah tiba di Jakarta.”
Gelas kristal di tangan Rangga pecah berkeping-keping. Air dan pecahan kaca berserakan di atas meja. Wajah Rangga berubah drastis; otot-otot rahangnya menegang, dan matanya berubah menjadi gelap sekelam malam yang paling kelam.
Alya tersentak, menjatuhkan garpunya. "Mas? Ada apa?"
Rangga tidak menjawab. Ia berdiri perlahan, napasnya terdengar berat dan memburu. Suasana yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi sangat dingin hingga Alya menggigil.
"Dia datang..." bisik Rangga dengan suara yang sangat rendah. "Iblis tua itu kembali ke sini untuk mengambil apa yang dia pikir miliknya."
Rangga menatap Alya dengan pandangan yang penuh ketakutan—sebuah emosi yang jarang ia tunjukkan. Ia segera menghampiri Alya, mencengkeram bahu istrinya dengan sangat erat hingga Alya memekik kesakitan.
"Alya, dengarkan aku! Apa pun yang terjadi, jangan pernah keluar dari kamar ini. Jika kau melihat ayahku, jangan menatap matanya! Jangan bicara padanya!"
"Ayahmu? Bukannya dia di Eropa?" tanya Alya bingung.
"Dia bukan manusia, Alya! Dia adalah alasan kenapa aku menjadi monster! Dan sekarang dia membawa Rendi kembali untuk menghancurkan kita!" Rangga berteriak frustrasi.
Ia segera memanggil seluruh penjaga mansion, memerintahkan mereka untuk berjaga di setiap sudut dengan senjata lengkap.
Tiba-tiba, suara deru mobil yang sangat banyak terdengar dari halaman depan. Suara decitan ban di atas kerikil memecah kesunyian malam. Lampu-lampu mansion mendadak padam secara serentak.
KLIK.
Sistem keamanan mansion telah diretas dari luar. Pintu depan terbuka lebar tanpa paksaan.
Seorang pria masuk dengan langkah kaki yang tenang dan mantap, diikuti oleh Rendi di kursi rodanya dan puluhan pria bersenjata. Pria itu—Baskara—berdiri di lobi, menatap putranya yang berdiri di puncak tangga dengan pistol di tangan.
"Selamat malam, Rangga," suara Baskara menggema, penuh otoritas. "Rumah ini tampak berantakan semenjak aku pergi. Kau terlalu sibuk bermain rumah-rumahan dengan wanita rendahan itu."
Rangga mengarahkan pistolnya tepat ke arah ayahnya. "Keluar dari sini, Baskara! Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi, atau aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan sepuluh tahun lalu!"
Baskara tertawa kecil. "Kau masih anak kecil yang emosional. Rendi, tunjukkan padanya apa yang terjadi pada pengikut setianya."
Rendi memberi isyarat, dan dua pengawal melemparkan tubuh Pak Danu yang sudah tidak bernyawa ke lantai lobi. Pak Danu, orang kepercayaan Rangga, telah dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang Baskara di perjalanan.
"Dan sekarang..." Baskara menatap ke arah kamar tempat Alya bersembunyi. "Berikan wanitamu padaku, atau aku akan meratakan tempat ini."
Rangga melepaskan tembakan ke arah kaki Baskara, namun peluru itu tertahan oleh tameng anti-peluru yang dibawa pengawal Baskara.
"LANGKAHI MAYATKU SEBELUM KAU MENYENTUH ALYA!" teriak Rangga.
Di dalam kamar, Alya mendengar segalanya. Ia menyadari bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah Rangga, melainkan pria tua yang baru saja tiba. Pria yang telah menciptakan kekacauan ini sejak awal.
Bersambung...
- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/