NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Penyusup di Kamar Mandi

Pukul enam sore lewat sedikit. Langit di luar jendela kamar Arka sudah berubah menjadi ungu tua, warna yang cantik namun terasa mengancam bagi seseorang yang baru saja melihat peringatan "ospek" di area jemuran. Arka memutuskan untuk mandi lebih awal. Logikanya sederhana: jika ia mandi sekarang, ia bisa menghindari antrean atau pertemuan canggung dengan penghuni lain saat jam sibuk sebelum makan malam.

Dengan kaos oblong putih, celana pendek basket, dan handuk yang tersampir di leher, Arka keluar kamar. Ia membawa sebuah gayung plastik berisi peralatan mandi yang ia beli di minimarket tadi sore. Koridor lantai dua masih sunyi, hanya ada suara televisi dari lantai bawah yang menyiarkan berita petang.

Arka menuju kamar mandi di ujung lorong sebelah kiri. Kamar mandi luar itu tampak sangat bersih, dengan pintu kayu jati tebal dan ubin porselen berwarna krem. Ia masuk, mengunci pintu, dan mulai menyikat giginya di depan wastafel besar yang cerminnya masih berembun.

"Tenang, Arka. Lu cuma perlu sikat gigi, mandi, balik ke kamar, terus mikirin taktik buat makan malam," gumamnya dengan mulut penuh busa pasta minta.

Saat ia sedang asyik berkumur, tiba-tiba terdengar suara kunci diputar dari sisi lain. Arka mematung. Bukankah ia sudah mengunci pintu tadi? Ia menatap pantulan cermin dan menyadari sesuatu yang fatal. Kamar mandi ini adalah tipe interconnected—memiliki dua pintu yang menghubungkan dua lorong berbeda. Dan ia lupa mengunci pintu yang satunya.

Klek.

Pintu di belakangnya terbuka. Seorang gadis dengan rambut hitam lurus yang dipotong bob rapi masuk dengan langkah tegas. Ia mengenakan kacamata berbingkai kotak hitam dan membawa sebuah binder tebal di pelukannya. Gadis itu adalah Sari, sang mahasiswi hukum sekaligus Ketua Kos yang ditakuti.

Sari masuk tanpa melihat ke arah wastafel, jemarinya sibuk membetulkan kacamata yang melorot. Namun, begitu ia mendongak dan melihat bayangan laki-laki tinggi yang berdiri mematung dengan sikat gigi di tangan, dunia seolah berhenti berputar selama satu detik.

"AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"

Teriakan Sari melengking, memecah kesunyian Wisma Lavender dengan frekuensi yang mampu membuat gelas kristal retak.

"Woy! Tunggu! Saya cuma sikat gigi!" Arka mencoba membela diri, tapi kepanikannya justru membuat ia tersedak busa pasta gigi.

"PENYUSUP! OMAAAAA! ADA PENYUSUP DI KAMAR MANDI!" Sari berteriak lebih keras lagi. Bindernya jatuh ke lantai, kertas-kertas berisi draf skripsi hukumnya berhamburan seperti salju di atas ubin basah. Dalam hitungan detik, suara derap langkah kaki yang seperti pasukan berkuda menyerbu koridor terdengar dari segala arah.

Brak!

Pintu kamar mandi yang tadi dikunci Arka ditendang dari luar. Rara, si atlet kos, muncul paling depan dengan pose kuda-kuda karate, diikuti oleh Bella yang masih memegang controller game dan Gendis yang wajahnya tertutup masker lumpur hitam.

"Mana? Mana perampoknya?!" teriak Rara siap menerjang.

"Itu! Si penghuni baru!" tunjuk Sari dengan jari gemetar, wajahnya merah padam antara malu dan marah.

Arka berdiri di pojok wastafel, menempel ke dinding seolah berharap bisa menyatu dengan ubin. Mulutnya masih berlumuran busa putih, tangannya mengangkat gayung plastik sebagai tameng pertahanan terakhir yang sama sekali tidak terlihat gagah.

"Sumpah, pintunya nggak saya kunci karena saya nggak tahu ada dua pintu!" Arka mencoba menjelaskan dengan suara sengau karena hidungnya kemasukan busa.

Oma Rosa muncul di belakang kerumunan gadis-gadis itu, memegang ponsel yang masih dalam mode kamera terbuka. Bukannya panik, ia malah terlihat antusias. "Wah, momen langka! Arka, kamu baru sejam di sini sudah bikin penggerebekan massal?"

"Oma! Ini pelanggaran privasi berat!" Sari memunguti kertas-kertasnya dengan gusar. "Dia laki-laki, Oma! Kenapa dia pakai kamar mandi ini?"

"Lho, ini kan kamar mandi umum, Sar," jawab Oma Rosa santai sambil menggeser layar ponselnya. "Lagian Arka cuma sikat gigi, bukan lagi ngintip kamu mandi. Kamu kan juga baru mau masuk."

"Tetap saja! Aturan kos nomor satu: Area pribadi harus steril dari lawan jenis!" Sari berdiri tegak, menatap Arka dengan tatapan dingin yang biasa ia gunakan untuk memojokkan lawan di debat fakultas hukum.

"Kamu... Arka, kan? Besok pagi, saya akan buatkan jadwal penggunaan fasilitas umum yang sangat ketat untuk kamu. Kalau kamu melanggar satu detik saja, saya tidak segan-segan mengajukan somasi pengusiran!"

Arka hanya bisa mengangguk pasrah. Di hadapannya, lima belas gadis (beberapa masih mengintip dari balik pintu) menatapnya dengan berbagai ekspresi: ada yang kasihan, ada yang geli, dan ada yang menatapnya seolah ia adalah hama yang harus segera dibasmi.

"Sudah, sudah! Semuanya bubar! Mandinya gantian, jangan barengan kecuali kalian mau irit air," komando Oma Rosa sambil tertawa kecil. "Arka, selesai mandi langsung turun ke bawah. Makan malam sudah siap. Dan Sar, tolong jangan bikin tekanan darah Oma naik, Oma belum upload video TikTok sore ini."

Satu per satu gadis-gadis itu bubar dengan bisik-bisik yang membuat telinga Arka panas. Sari adalah yang terakhir pergi. Sebelum menutup pintu, ia memberikan satu tatapan maut lagi. "Satu kesalahan lagi, dan kamu tamat."

Brak.

Pintu tertutup keras. Arka sendirian lagi di kamar mandi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Busa pasta gigi sudah mengering di dagunya.

"Salah kamar, benar rezeki?" bisik Arka getir. "Kayaknya lebih tepat 'Salah Masuk, Siap-siap Almarhum'."

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Baru hari pertama, dan ia sudah hampir dikeroyok massa karena masalah pintu kamar mandi. Arka menyadari satu hal penting: di Wisma Lavender, satu milimeter kesalahan bisa berubah menjadi bencana nasional.

Dengan langkah gontai dan semangat yang sudah merosot ke titik nol, Arka menyelesaikan mandinya secepat kilat. Ia tidak ingin mengambil risiko pintu itu terbuka lagi dan memunculkan penghuni yang lebih galak dari Sari.

Makan malam sudah menunggu di bawah, dan Arka tahu, itu baru permulaan dari "pengadilan" yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!