Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Di gigit sesuatu
"Kak Vera ke mana malam ini belum juga kembali?" Arum menunggu dengan gelisah karena memang sudah malam namun Vera belum juga kembali ke rumah.
Padahal dia ingin membicarakan tentang bagaimana cara mereka untuk menyikapi masalah ini selanjutnya dan mencari tahu apa yang telah terjadi kepada bu Elma itu, namun Vera malah menghilang begitu saja sehingga Arum merasa kesepian dan dia hanya bisa berdiam diri di dalam kamar tanpa mengatakan perasaan dia kepada siapa pun.
Walau Vera sangat keras seperti itu namun tetap saja Arum rasa nyaman bila berdekatan dengan kakak tirinya itu, sebab walaupun Vera bersikap demikian namun tetap saja Dia memiliki hati yang lembut bila sudah bersama dengan Arum ini, mungkin karena kasih sayang dia yang begitu besar sehingga bila berbicara dengan Arum masih memiliki sikap lembut.
"Apa dia kesasar atau tidak tahu jalan pulang ini kok masih ada di luar terus." Arum sedikit gelisah karena memikirkan Vera yang ada di luar rumah.
Sebab Vera sudah lama tinggal di kota sehingga wajar saja bila orang merasa nanti dia akan tersesat dan tidak tahu jalan pulang, rasa ingin mencari namun tetap saja Arum tidak memiliki nyali untuk melakukan itu semua, sebab bila sampai ketahuan oleh Darto maka bisa saja Darto akan mengamuk dan Arum akan mendapat hukuman.
Arum adalah anak bungsu dalam keluarga ini dan dia tidak bisa bertingkah keras seperti Vera, sebab di dalam diri Arum masih ada rasa takut dan tidak berani untuk membantah ucapan Darto sehingga dia lebih memilih untuk menuruti saja apa yang orang tua itu katakan.
Di dalam rumah ini bukan hanya Darto saja tapi masih ada Erna dan juga Siti yang akan mengatur kelakuan mereka semua agar tidak menjadi orang yang salah arah, jadi Arum merasa memang harus mematuhi aturan yang ada di dalam rumah ini tanpa banyak protes atau melanggar seperti yang di lakukan oleh Vera selama ini.
Vera melanggar karena dia memiliki power untuk melawan mereka semua dan walau bagaimana Darto mengamuk dia tetap saja tidak peduli, sebab menurut dia Darto sama sekali tidak perhatian terhadap anak dan hanya mementingkan kepuasan di dalam diri dia sendiri dan itu semua memang terbukti sehingga Vera tetap saja keras kepala seperti itu.
"Aku tidur saja dulu Karena siapa tahu nanti Kak Vera akan segera kembali." Arum segera menarik selimut Karena sekarang memang sudah pukul sepuluh malam.
"Kalau dia tak kunjung ada kabar maka aku harus mencari tahu kemana dia pergi, kan tidak mungkin bila mendadak saja pulang ke kota tanpa memberitahu." gumam Arum dengan mata mengantuk.
"Sudah mau tidur, dik?" Dina muncul di ambang pintu untuk melihat keadaan Arum terlebih dahulu.
"Ya, ini aku baru saja mau tidur." Arum mengganggu dengan mata yang sudah sangat sipit.
"Jangan begadang terlalu larut karena kamu tidak terbiasa melakukan hal seperti itu." nasihat Dina sambil pergi.
"Siapa juga yang mau begadang karena mata di jam segini saja sudah mengantuk berat." rutuk Arum pelan.
Dina sendiri segera pergi dari kamar sang adik karena dia tidak ingin mengganggu tidur Arum di dalam kamar itu, tadi dia memang hanya mengecek saja dan bila sudah melihat Arum akan tertidur maka hati Dina sedikit lega dan sekarang dia hanya telah menunggu Vera kembali dari luar karena dia juga memiliki rasa cemas untuk merah bila pulang terlalu larut malam seperti ini.
"Kemana dia sehingga sampai jam segini masih belum juga kembali dari luar?" batin Dina sambil duduk di kursi goyang.
Karena Dina juga belum mengantuk sehingga dia memutuskan untuk menunggu Vera kembali sejak dari luar dan sambil bermain ponsel di sini, mau tidur juga tidak mungkin karena mata belum mengantuk dan Dina terbiasa begadang sehingga dia tidak kaget gila baru jam segini saja masih menunggu Vera yang belum kembali.
Sementara di kamar tadi Arum sudah tertidur pulas dan dia sama sekali tidak ingat apa yang telah terjadi, pikiran gadis kecil ini kosong karena jauh sebenarnya di dalam hati dia masih sangat kehilangan sosok Bu Elma yang meninggal dunia secara mendadak sehingga bisa di katakan dia hanya berpura-pura tegar saja.
Ini malah muncul firasat di dalam hati Arum sendiri bahwa kematian Bu Elma memang ada yang aneh dan Vera malah mendukung soal firasat itu sehingga di dalam hati Arum begitu bergejolak ingin mengetahui apa yang telah terjadi, sebab saat itu Arum juga melihat bagaimana Bu Elma yang sangat menderita menjelang kematian.
Sraaaakkk.
Craaaaakkk.
"Aaaaaghhh!" Arum menjerit karena karena selimut tertarik oleh sesuatu dan pundak dia seperti kena gigit.
"Kenapa Arum berteriak?!" Dina kaget mendengar suara sang adik.
"Kakaaaaaaak!" Arum ketakutan dan segera turun dari ranjang untuk mencari keberadaan Dina.
"Hei Kau kenapa mendadak saja berteriak seperti itu?" Dina kembali membuka pintu kamar dan melihat Arum yang sudah pucat ketakutan.
"A..ada sesuatu yang menarik selimut dan kemudian dia menggigit aku." Arum berusaha menjelaskan walau saat ini dia begitu gugup dan ketakutan.
"Astaga, Kau pasti sedang banyak berkhayal sehingga mimpi buruk seperti ini." Dina menarik nafas panjang dan mengajak Arum masuk kembali ke dalam kamar.
"Mana ada ini semua hanya mimpi, Kakak lihat itu selimut yang jatuh dari atas ranjang!" Arum tidak terima bila di katakan ini semua hanya mimpi belaka.
"Kan kamu sedang tidur sehingga tidak sadar bahwa sudah menendang selimut ini." ujar Dina sambil mengambil selimut itu.
Arum terdiam saat karena dia berpikir mungkin saja tadi memang sudah tertidur dan tanpa sengaja menendang selimut itu, bisa juga karena dia terlalu kepikiran dengan rencana yang akan mereka lakukan bersama dengan Vera sehingga dia banyak berkhayal dan kemudian justru mimpi buruk seperti ini sehingga membuat keadaan semakin rumit.
"Eh tapi pundak ku sakit beneran, Kak." Arum meraba pundak dia yang terasa begitu perih.
"Mana? ini biar aku lihat!" Dina membuka piyama milik Arum untuk melihat apa memang ada bekas gigitan di sana.
"Ini loh, coba dilihat dengan teliti karena terasa sangat perih dan panas." jelas Arum sambil meraba pundak dia.
Dina tertegun sesaat ketika dia menyadari bahwa di pundak Arum memang ada sesuatu seperti bekas terkena gigitan, yang lebih parah gigitan itu mengeluarkan sedikit darah sehingga pantas saja bila terasa perih dan juga panas untuk Arum, yang menjadi pertanyaan di dalam otak Dina saat ini adalah siapa yang sudah menggigit pundak tersebut.
Selamat malam Besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
ya allah...😂