NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 20

Sore hari di depan gerbang sekolah.

Para siswa mulai keluar satu per satu sambil bercanda dan mengobrol.

Di antara keramaian itu, Dira berjalan sambil membawa tas di satu bahu. Seperti biasa, langkahnya santai tapi suaranya tetap paling keras.

“PR fisika itu nggak masuk akal!”

Bayu dan sinta hanya tertawa.

Namun tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang.

Begitu kaca mobil turun…

Elvan terlihat di dalamnya. Dira langsung menunjuk.

“Eh! Om lagi!”

Elvan hanya menatapnya datar.

“Masuk.”

Dira membuka pintu mobil dan duduk di kursi depan tanpa ragu.

Begitu pintu tertutup, ia langsung mulai mengomel.

“Om kok sering banget jemput aku akhir-akhir ini.”

Elvan menyalakan mesin mobil.

“Tidak boleh?”

Dira mengangkat bahu.

“Boleh sih… tapi nanti orang sekolahku mikir aku punya sopir pribadi.”

Elvan tidak menjawab.

Mobil mulai berjalan meninggalkan area sekolah. Beberapa menit pertama perjalanan berjalan santai.

Dira malah membuka bungkus camilan yang tadi ia beli di kantin.

“Om mau?”

Elvan melirik sekilas.

“Tidak.”

Dira langsung memasukkan keripik ke mulutnya dengan santai.

“Rugi.”

Mobil terus melaju di jalan kota yang cukup ramai. Tidak

Namun setelah beberapa menit…

Elvan akhirnya berkata pelan.

“Dira.”

“Hm?”

“Bagaimana kalau kamu menerima tawaran menikah denganku?”

Suara kunyahan Dira langsung berhenti.

Ia menoleh perlahan. “Apa?”

Elvan tetap fokus menyetir.

“Aku serius.”

Dira menatapnya seperti baru saja mendengar hal paling aneh di dunia.

“ OM ELVAN!”

“Ya.”

“Kan sudah aku bilang. TIDAK MAU!!”

Elvan tetap tenang.

“Aku hanya ingin kamu aman .”

Dira langsung duduk tegak.

“ Dengan Menikah?!”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Aku masih sekolah!”

Elvan menjawab tenang.

Dira kembali mengunyah.

“Serius banget?”

Elvan tetap fokus ke jalan.

“Aku tetap akan menikahimu.”

Suara KRUK dari camilan di tangan Dira langsung berhenti.

Dira perlahan menoleh.

“Hah?”

Elvan mengulang dengan tenang.

“Aku tetap akan menikahimu.”

Beberapa detik mobil terasa sangat sunyi.

Lalu—

“APA?!”

Dira hampir berdiri dari kursinya.

“Om Elvan kamu sudah gila?!”

Elvan tetap tenang. “Dengarkan dulu.”

Dira menunjuk dirinya sendiri.

“AKU? NIKAH? SAMA KAMU?”

Elvan mengangguk kecil. “Ya.”

Dira langsung memegang kepalanya.

“Astaga… ini pasti mimpi.”

Elvan melanjutkan dengan suara serius.

“Ini untuk melindungimu.”

Dira berhenti mengeluh.

“Apa?”

Elvan akhirnya menjelaskan.

“Ada orang yang mengincarmu.”

“Siapa?”

“Pamanku.”

Dira mengerutkan kening.

“Kenapa dia harus ngincer aku?”

Elvan tidak menjawab langsung. “Karena masa lalu keluarga kita.”

Namun sebelum Dira sempat bertanya lebih jauh—

Tiba-tiba—

BRUK!

Sebuah mobil dari belakang menabrak bumper mobil mereka dengan cukup keras.

Mobil Elvan sedikit terdorong ke depan.

Dira langsung kaget.

“WOI!”

Elvan langsung mengerem. Mobil berhenti di pinggir jalan.

Dira menoleh ke belakang. “Orang itu bisa nyetir apa gak sih?!”

Elvan keluar dari mobil.

Dira juga ikut turun.

Mobil yang menabrak tadi berhenti beberapa meter di belakang.

Namun anehnya…

Pengemudinya tidak keluar.

Beberapa detik kemudian mobil itu justru mundur sedikit. Lalu langsung pergi dengan cepat.

Dira mengerutkan kening.

“Eh? Dia kabur om ?”

Elvan menatap mobil yang menjauh itu dengan mata tajam.

Di kaca belakang mobil tersebut…

Ada sebuah kertas kecil yang tertempel.

Dira melihatnya juga.

“Eh… itu apa?”

Elvan berjalan mendekat dan membaca kertas itu.

Hanya ada satu kalimat pendek.

"Ini baru peringatan.”

Dira membaca dari samping.

“Apa maksudnya om ?”

Elvan menatap dira disamping nya perlahan.

Tatapannya berubah lebih dingin dari biasanya.

Ia tahu persis siapa yang mengirim pesan itu.

Bara.

Dira masih bingung.

“Om …Kenal mereka siapa ?”

Elvan menatapnya sebentar.

Lalu berkata pelan.

“Sekarang kamu tahu kenapa aku ingin menikahimu.”

Namun bukannya takut…

Dira justru melipat tangan dengan wajah kesal.

“Bukannya itu malah alasan buat aku MENOLAK?!”

Elvan sedikit menghela napas.

Ia sudah menduga reaksi ini.

Karena satu hal yang pasti tentang Dira—

Semakin ditekan…

Semakin bar-bar reaksinya.

***

Setelah insiden kecil di jalan tadi, mobil kembali melaju.

Suasana di dalam mobil agak berbeda sekarang.

Dira bersandar di kursinya sambil melipat tangan dengan wajah masih kesal.

“Pokoknya aku nggak setuju.”

Elvan tetap fokus menyetir.

“Aku belum meminta jawabanmu sekarang.”

Dira langsung menoleh.

“Bagus! Karena jawabannya tetap tidak.”

Elvan hanya menghela napas pelan.

Beberapa detik hening.

Lalu Dira mulai lagi.

“Tiba-tiba nikah… Om kira aku apa? Paket promo apa?”

Elvan meliriknya sekilas.

“Kamu terlalu banyak menonton drama.”

Dira mendengus.

“Ini bukan drama! Ini hidupku!”

Namun beberapa menit kemudian…

Perut Dira berbunyi kecil.

“Grrr…”

Dira langsung menatap ke jendela pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Elvan meliriknya lagi. “Kamu lapar?”

Dira cepat menjawab.“Enggak.”

Perutnya berbunyi lagi.

Elvan akhirnya membelokkan mobil ke sebuah restoran kecil di pinggir jalan.

Dira langsung menoleh. “Kita ke mana?”

“Makan.”

Dira mencoba tetap merajuk. “Aku bilang aku nggak lapar.”"

Namun begitu mereka masuk restoran… .Dira langsung melihat menu dengan mata berbinar.

“Eh ini ada ramen… ada ayam… ada nasi goreng…”

Elvan duduk di depannya sambil memperhatikan.

Beberapa menit kemudian…

Pelayan datang membawa makanan.

Satu piring.

Dua piring.

Tiga piring.

Elvan menatap meja yang tiba-tiba penuh.

“Kamu bilang tidak lapar.”

Dira langsung mengambil sendok. “Ini bukan lapar. Ini… kesempatan.”

Elvan hampir tersenyum kecil melihatnya makan dengan semangat.

Suasana tiba-tiba terasa normal lagi.

Tidak ada pembicaraan tentang pernikahan.

Tidak ada tentang Bara.

Hanya Dira yang makan sambil mengeluh tentang sekolah.

“Guru sejarah tadi ngomong dua jam. Aku hampir tidur!”

Elvan menatapnya.

“Kamu memang sering tidur di kelas.”

Dira menunjuknya dengan sumpit.

 “Eh! Jangan bongkar rahasia.”

Mereka tertawa kecil.

Namun di luar restoran…

Seseorang sedang berdiri di seberang jalan.Topi hitam menutupi wajahnya.Ia memegang ponsel.

Mengambil foto.

Foto Elvan dan Dira yang sedang makan di dalam restoran.

Beberapa detik kemudian foto itu terkirim.

Ke sebuah nomor.

Di tempat lain…

Bara Sebastian melihat foto itu di ponselnya.

Ia tersenyum tipis.

“Jadi kalian sedang makan malam bersama.”

Ia menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Baiklah…”

Matanya menjadi lebih tajam.

“Kita lihat berapa lama ketenangan kecil itu bertahan.”

Kembali ke restoran.

Dira baru saja menghabiskan mangkuk terakhirnya.

Ia menyandarkan tubuh dengan puas.

“Ah… hidup terasa damai.”

Elvan menatapnya.

“Kamu benar-benar makan seperti tidak ada hari esok.”

Dira tertawa kecil. “Kalau ada masalah, hadapi nanti saja.”

Ia tidak tahu…

Masalah itu sedang melihatnya dari jauh. Dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul.

Namun untuk saat ini…

Perjalanan pulang mereka masih terasa santai.

***

Malam mulai turun ketika mobil Elvan berhenti di depan rumah Dira.

Lampu teras sudah menyala.

Dira membuka sabuk pengamannya lalu menoleh ke arah Elvan.

“Terima kasih traktirannya ya om .”

Elvan menjawab singkat. “Hm.”

Dira membuka pintu mobil, tapi sebelum keluar ia menoleh lagi.

“Oh iya.”

Elvan menatapnya.

“Aku tetap nggak setuju soal nikah itu.”

Elvan tidak terlihat terkejut.

“Aku tahu.” balasnya " Tapi kita tetap akan menikah " lanjutnya dalam hati

Dira menunjuknya dengan jari.

“Dan jangan tiba-tiba ngomong kayak gitu lagi! Jantungku hampir copot tadi.”

Elvan hanya berkata tenang.

“Kamu terlalu dramatis.”

Dira mendengus.

“Ya iyalah! Siapa yang tiba-tiba ngajak nikah di mobil?!”

Namun sebelum Dira turun sepenuhnya…

Pintu rumah tiba-tiba terbuka.

“DIRAAA!”

Suara Kenzo terdengar keras dari teras. Dira langsung menoleh.

Kenzo berdiri di sana dengan tangan disilangkan.

Tatapannya langsung tertuju pada Elvan.

“Kalian lama sekali.”

Dira langsung berjalan cepat ke arah rumah.

“Lapar tadi! Jadi mampir makan dulu!"

Kenzo menatapnya dari atas sampai bawah.

“Kamu aman?”

Dira mengerutkan kening.

“Kenapa tanya begitu?”

Kenzo sedikit menghela napas. “Tidak apa-apa.”

Namun saat Dira masuk rumah…

Kenzo mendekat ke mobil Elvan.

Nada suaranya berubah lebih serius.

“Ada apa lagi?”

Elvan menjawab pelan. “Ada peringatan dari Bara.”

Kenzo langsung menegang. “Apa?”

Elvan menjelaskan singkat tentang mobil yang menabrak mereka tadi.

Wajah Kenzo langsung berubah kesal.

“Dia mulai main kotor lagi.”

Elvan mengangguk.

“Dan dia ingin kita tahu itu.”

Kenzo menoleh ke arah rumah. Di dalam terdengar suara Dira dari dapur.

“BANG! ADA MIE INSTAN NGGAK?!”

Kenzo langsung menggeleng kecil. “Lihat itu.”

Elvan juga sedikit melihat ke arah rumah. Dira muncul di pintu dapur sambil membawa panci.

“Kalian ngobrol apa sih di luar?!”

Kenzo menjawab cepat.“Hal orang dewasa!”

Dira langsung cemberut. “Halah! Sok misterius!”

Ia masuk lagi ke dalam rumah. Suasana kembali sedikit tenang.

Kenzo menatap Elvan lagi.

“Kamu sudah bilang soal rencana itu?”

Elvan mengangguk kecil. " Sudah "

Kenzo langsung tertawa pendek.

“Dan?”

Elvan menjawab datar. “Dia hampir berteriak di mobil.”

Kenzo tertawa lebih keras.

“Sudah aku bilang.”

Namun beberapa detik kemudian ekspresinya kembali serius.

“Kita harus hati-hati.”

Elvan mengangguk. “Aku tahu.”

Kenzo menatapnya tajam. “Karena kalau Bara sampai menyentuh adik aku…”

Elvan menjawab sebelum Kenzo menyelesaikan kalimatnya.

“Dia tidak akan sempat.”

Suasana kembali hening. Dari dalam rumah tiba-tiba terdengar suara Dira lagi.

“BANG! AIRNYA TUMPAH!”

Kenzo langsung memijat pelipisnya. “Ya ampun…”

Elvan bahkan sedikit tersenyum tipis melihat kekacauan itu.

Kenzo berjalan kembali ke rumah.

Sebelum masuk ia menoleh ke Elvan.

“Besok jemput dia lagi?”

Elvan menjawab singkat." Ya " berbalik pergi namun menoleh kembali " Dan jangan lupa tetap jalankan rencana pernikahan " Perintahnya pada kenzo.

Kenzo mengangguk.

“Baik.”

Pintu rumah tertutup. Elvan kembali masuk ke mobilnya. Mesin dinyalakan.

Namun sebelum mobil bergerak pergi....

Ia melihat ke arah rumah itu sekali lagi.

Di balik semua keributan Dira yang bar-bar…

Ada bahaya yang perlahan mendekat.

Dan Elvan tahu satu hal. Ia harus selalu selangkah lebih cepat dari Bara.

Bersambung.........

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!