Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Resonansi Baja yang Terluka
Kegelapan di dalam Ballroom Hotel Majapahit bukanlah kegelapan biasa. Ini adalah kegelapan yang pekat, seolah-olah listrik yang diputus oleh Maya tadi menelan seluruh cahaya peradaban, menyisakan insting purba di antara para elit yang kini berteriak ketakutan. Di tengah kekacauan itu, hanya ada dua sumber cahaya: pendar emas dari dada Arga dan biru elektrik yang berdenyut dari bilah Pedang Patah Mahendra.
"Amankan aset! Tembak siapa pun yang mendekati podium!" teriak pengawal pribadi Vikri Mahendra.
Suara tembakan silencer meletus, percikan apinya menerangi wajah-wajah dingin para algojo. Namun, Arga tidak lagi berada di tempatnya berdiri tadi. Dengan teknik Sinkronisasi Ruang, ia bergerak seperti hantu di antara meja-meja marmer yang hancur. Setiap langkahnya tidak bersuara, setiap napasnya adalah meditasi perang.
“Inang, pedang itu memanggilmu. Ia haus akan darah yang sama dengan yang mengalir di nadimu!” Macan Kencana meraung, energinya meluap hingga ke ujung jemari Arga.
Arga melompat ke atas podium. Seorang penjaga bertubuh raksasa mencoba menghantamnya dengan tongkat listrik, namun Arga menangkap pergelangan tangan pria itu. Tanpa emosi, Arga memutar sendi lawan hingga terdengar bunyi krak yang memuakkan, lalu menggunakan tubuh pria itu sebagai tameng dari rentetan peluru.
Tangannya menjangkau ke depan. Begitu jemari Arga menyentuh hulu Pedang Patah, sebuah ledakan informasi menghantam kesadarannya.
Zzzzzttttt!
Ia melihat kilasan masa lalu: kakek buyutnya yang dikhianati, api yang melalap kediaman Mahendra, dan tangisan seorang bayi di tengah hujan. Pedang itu bukan sekadar senjata; itu adalah kotak hitam sejarah yang telah lama terkubur.
"Lepaskan pedang itu, Kuli!" Vikri Mahendra muncul dari kegelapan, memegang senjata prototipe yang memancarkan laser merah tepat ke jantung Arga. "Kau pikir kau bisa mengubah nasibmu hanya dengan besi berkarat itu?"
Arga menggenggam pedang itu erat. Meskipun bilahnya patah dan permukaannya dipenuhi noda hitam, Arga merasakan kekuatan yang jauh lebih murni daripada Mustika di dadanya. Ini adalah kekuatan leluhur.
"Nasibku tidak berubah karena pedang ini, Vikri," suara Arga terdengar berat, puitis namun mematikan. "Nasibku berubah saat aku memutuskan untuk berhenti menjadi mangsa. Pedang ini hanya akan menjadi saksi... bagaimana aku meruntuhkan takhtamu."
Arga mengayunkan pedang patah itu. Meskipun tidak memiliki ujung yang tajam, ayunannya membelah udara dengan suara seperti guntur. Energi emas dari Mustika dan energi biru dari pedang itu bersatu, menciptakan gelombang kejut yang mementalkan Vikri hingga menghantam dinding kaca hotel.
Prang!
Kaca setinggi lima meter itu hancur berkeping-keping, jatuh seperti hujan berlian di atas jalanan protokol Jakarta.
Di sudut ruangan, Sari bergerak dengan kelincahan yang baru ia temukan. Sesuai instruksi Arga, ia tidak terlibat dalam pertempuran utama. Ia menggunakan kegelapan sebagai jubahnya. Dengan belati pemberian Arga, ia memutus kabel data dari server cadangan yang sedang mencoba mengunggah data pembeli lelang ke cloud Mahendra.
"Satu menit lagi, Sari! Kita harus keluar!" teriak Maya melalui earpiece.
Sari menusukkan belatinya ke port utama, menghancurkan sirkuitnya hingga mengeluarkan percikan api. "Selesai, Maya! Data mereka hangus!"
Sari berbalik, namun ia dihadang oleh dua pembunuh bayaran wanita dari keluarga Rajendra. Mereka bersenjata kawat baja yang sangat tipis namun mampu memenggal kepala dalam sekejap.
"Gadis kecil yang malang," desis salah satu dari mereka.
Sari gemetar, namun ia ingat tatapan mata Arga di bunker. Ia ingat rasa pahit Akar Langit di lidahnya. Ia tidak lagi memejamkan mata. Ia merendahkan kuda-kudanya, memutar pinggulnya, dan menggenggam belatinya dengan cara yang diajarkan Arga—sebagai perpanjangan dari jiwanya.
"Aku bukan lagi gadis kecil kalian," bisik Sari.
Sari menerjang. Ia bukan lagi beban; ia adalah bagian dari badai yang diciptakan Arga.
Arga melihat Sari berhasil melumpuhkan salah satu lawannya dengan gerakan yang efisien. Kebanggaan tipis muncul di hatinya, namun ia segera kembali fokus. Dari arah pintu utama, muncul sosok yang jauh lebih berbahaya. Indra Mahendra sendiri, ayahnya Vikri, berdiri di sana dengan pengawalan berlapis.
Indra menatap Arga dengan tatapan yang dingin dan tanpa belas kasihan. "Kau memiliki api Mahendra yang asli, Arga. Sayang sekali kau memilih untuk membakar rumahmu sendiri."
"Rumah ini sudah busuk sejak kau mengkhianati darahmu sendiri, Paman," balas Arga, mengangkat Pedang Patah yang kini berpendar terang.
Indra mengangkat tangannya, memberi perintah pada pasukan penembak jitu. "Habisi dia. Bawa pedangnya padaku. Dan gadis itu... bawa dia hidup-hidup untuk percobaan Sektor 7 tahap kedua."
"Tidak akan ada tahap kedua," geram Arga.
Arga menancapkan Pedang Patah ke lantai marmer. Energi ledakan yang dihasilkan menciptakan tabir debu dan cahaya yang membutakan. Di bawah perlindungan cahaya itu, Arga, Sari, dan Maya melompat dari celah kaca yang pecah, terjun bebas menuju mobil pelarian yang sudah menunggu di bawah dengan parasut magnetik.
Pelarian dari Hotel Majapahit akan menjadi berita besar besok pagi. Tapi bagi Arga, ini hanyalah permulaan. Dengan Pedang Patah di tangannya, ia kini memiliki kunci untuk membongkar seluruh arsitektur kebohongan keluarga Mahendra.