Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
"Papa!"
Pekikan seorang gadis kecil terdengar di balkon kamar Anjas, dia langsung tersenyum dan melambaikan tangannya pada gadis kecilnya itu yang selalu jadi tempat ternyaman nya untuk pulang. Jika dulu dia punya alasan besar untuk bekerja dan memperkaya diri demi istri dan anaknya, sekarang itu dia lakukan untuk pembalasan dendam yang sudah dia rencanakan sejak satu tahun yang lalu.
"Papa pulang! Holee bisa belmain lagi dengan papa dan jalan jalan naik mobil" ungkapnya terlihat berlari untuk menyambut kedatangan Anjas.
Grep.
"Kenapa berlari, nanti kamu jatuh nak" ucap Anjas
"Tidak apa apa papa, Adis sudah besal dan bisa bellali dengan cepat, Om Juno saja kalah dengan Adis" jawab anak itu yang bernama Adisti Naima Ardian.
Adisti Naima Ardian berusia empat tahun, dia belum pernah merasakan kasih sayang sayang ibunya secara penuh karena Anjas dan mantan istrinya Triana Kaswadi bercerai saat usia Adisti masih satu tahun. Anjas yang saat kejadian itu berlangsung baru saja pulang dari luar kota menemukan Triana sedang berbagi peluh dengan sahabatnya sendiri yang menjabat sebagai manajer di perusahaan Anjas yang bergerak di bidang otomotif. Bahkan kedua sejoli itu di lihat Anjas saling berbagi peluh di depan Adisti yang sedang menangis kencang karena kehausan.
Anjas yang gelap mata karena melihat perselingkuhan istri dan sahabatnya Hendrik langsung memukuli keduanya tanpa ampun, bahkan Anjas membakar tempat tidur yang mereka gunakan, membakar rumah miliknya dan membawa pergi Adisti dari sana tanpa membawa satu barangpun.
Proses sidang perceraian juga berjalan alot karena Triana menuntut harta Gono gini yang cukup banyak, tapi Anjas sama sekali tidak mau mengeluarkan sepeserpun uang untuk Triana yang semua barang berharganya sudah habis terbakar di rumah lama mereka. Anjas bahkan menyewa pengacara ternama dengan banyak bukti perselingkuhan Triana di pengadilan yang membuat Triana kalah dan semua tuntutannya di tolak majelis hakim.
"Adis senang papa pulang?" tanya Anjas menciumi wajah anaknya yang begitu mirip dirinya itu
"Senang, Adis lindu papa banyak banyak" jawab Adisti memeluk leher Anjas
"Papa wangi ibu gulu di sekolah Adis" ucap Adisti
"Benarkah? kalau begitu mungkin kami berjodoh" jawab Anjas asal
"Jodoh itu apa?" tanya Adisti polos
"Jodoh itu seperti papa dan Adis" jawab Anjas
"Bapak mau di siapkan makanan? bapak terlihat terluka?" tanya asisten rumah tangga yang melihat perubahan pada Anjas.
"Iya bi, saya lapar, tadi ada masalah di jalan jadi saya pulang dengan kak Ilham tadi" jawab Anjas
"Baik pak" jawab asisten rumah tangga bernama Tari itu segera ke dapur untuk menyiapkan makanan, sementara Anjas membawa Adisti ke kamarnya karena dia akan mandi dan mengobati luka karena di pukuli begal yang menjegalnya di jalan.
"Bi, pak Anjas ko terlihat semakin gagah ya, sebelum ke luar kota saja pak Anjas sudah tampan sekarang sudah semakin tampan bi" ucap asisten rumah tangga lain benama Lilis terlihat kegirangan.
"Iya, bapak juga tercium wangi loh tadi pas berdiri dekat bibi, wanginya itu beda sekali, bukan seperti parfum" jawab Tari
"Bapak pasti perawatan selama satu minggu ini ya bi, kan orang kaya biasanya mahal perawatannya" ucap Lilis
"Pasti lah, si nyonya Triana pasti menyesal sudah meninggalkan pak Anjas yang begitu tampan hanya demi lelaki pulu pulu itu" cibir Tari.
"Lilis jadi ingin selalu melihat pak Anjas, dia tampan sekali" ungkap Lilis berbinar dan langsung di cubit Tari
+++++++
Di dalam kamar Anjas, dia sudah rapi dan luka di wajahnya sudah di obati, bukannya terlihat jelek, luka di wajahnya justru membuat Anjas jadi semakin tampan, membuat Adisti terus tersenyum kagum melihat ketampanan ayahnya itu.
"Kenapa hmm?"
"Papa tampan sekali" jawabnya polos membuat Anjas gemas
"Kamu juga cantik sekali, anak papa yang paling cantik" jawab Anjas memeluk putri kecilnya itu.
"Ayo kita makan, papa lapar sekali"
"Ayo pa, Adis juga belum makan kalena tunggu papa pulang, Om Juno ikut makan kan pa?" tanya Adisti
"Tentu saja, kita makan bertiga seperti biasanya" jawab Anjas
Juno Ardian adalah adik dari Anjas yang tinggal bersama Anjas, mereka dua saudara yang sejak remaja sudah di tinggal meninggal kedua orang tuanya. keduanya saling melindungi dan saling membantu satu sama lain, bahkan ketika rumah tangga Anjas hancur, Juno ikut berduka dan tidak ingin menikah sampai Anjas nanti mendapatkan kebahagiaan lagi.
"Panggil Om Juno kamu itu, jangan biarkan dia terus tenggelam dalam tumpukan pekerjaan yang sudah menumpuk" ucap Anjas
"Siap papa"
Anjas berjalan ke depan cermin kamarnya, di tatapnya wajahnya yang sekarang tidak kusam lagi seperti dulu, dulu dia pikir wajahnya kusam karena dia kurang merawat diri, tapi Suro mengatakan kalau tubuhnya juga di penuhi teluh yang di kirim Hengki, bahkan dalam tubuhnya di keluarkan banyak paku, kawat dan juga silet.
"Tubuhku sekarang kuat Hengki, kamu tidak akan menyangka kalau teluhmu sudah hilang sekarang, dan aku tidak memerlukan ritual apapun lagi untuk membuat kamu dan Triana menderita" batin Anjas mengepalkan tangannya.
Anjas turun ke lantai satu menuju ke ruang makan, dia melihat Adisti sudah duduk bersama Juno di sampingnya, rahang Juno sampai terbuka karena melihat perubahan drastis dari Anjas kakaknya yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya.
"Lihat kan, aku tampan Adik manis" ledek Anjas mengacak rambut Juno
"Kakak pakai susuk di dukun mana?" celetuk Juno
"Tidak pakai susuk, tapi pakai pelet" jawab Anjas membuat Juno tertawa karena tidak percaya.
"Berapa yang kakak habiskan untuk jadi seperti ini?" tanya Juno
"Satu buah mobil Mercedes Benz e-class, uang tunai lima puluh juta dan satu jam tangan rolex" jawab Anjas menghitung barang yang ada di mobilnya yang di curi begal.
"Banyak juga, tapi tidak sia sia kak, kakak semakin tampan, lebih tampan dari mang Dudung" ucap Juno langsung di tatap sinis Anjas
"Papa tampan Om, lebih tampan dali Om Juno, kalau Om Juno milip bebek Mbak Lilis tuh yang di halaman belakang!" ucap Adisti
"Astaga, kamu mengatai Om mirip bebek, Om nggak akan kasih Adis jajan lagi, apalagi kalau Adis mau jalan jalan, Om nggak akan ajak" ancam Juno
"Hiks... Papa! Om Juno jahat pa!" pekik Adisti berlari ke arah Anjas dan memeluknya.
"Cup cup anak cantik papa, kamu bisa minta jajan dan jalan jalan sama papa, nanti Om Juno biar papa santet saja kalau nakal" bujuk Anjas membuat Juno melotot
"Iya pa, santet saja pa" balas Adisti semakin membuat Juno melotot.