Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie
Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.
Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.
Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?
Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"
Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11:Kau lebih kejam
Pagi itu, udara terasa lebih berat dari biasanya. Aku tiba di kelas sedikit terlambat karena harus membantu Kak Qasrina mengangkat barang-barang di asrama. Langkah kakiku yang terburu-buru seketika berubah perlahan saat aku mencapai ambang pintu kelas. Begitu saat aku melangkah masuk, suasana kelas yang tadinya riuh rendah oleh tawa dan obrolan mendadak sunyi, seolah aku ini adalah hantu di siang hari.
Aku bisa merasakan sepasang demi sepasang mata tertuju padaku. Beberapa teman sekelas menatapku dengan raut wajah kasihan yang dibuat-buat, sementara yang lain terang-terangan menahan tawanya, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan komedi yang sangat lucu.
Pandanganku beralih ke arah papan tulis hitam di depan kelas. Jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Oksigen di sekitarku seakan tersedot habis.Mereka semakin terang -terangan.
Di sana, tertulis beberapa kalimat contoh namun ada satu ayat yang membuatku salah fokus,dalam bahasa Inggris dengan huruf kapital yang besar, dan sangat jelas:
"HANIE DOES NOT HAVE ANY FRIENDS."
Aku terpaku di depan pintu, tubuhku kaku seperti patung.Kalimat itu!Ayat itu seperti meledekku.Bahkan sangat jelas.Ya memang terlihat seperti lelucon jika bukan mereka ditempatku.Sepatutnya aku bisa mengabaikannya namun itu sangat tidak pantas dan seperti pengumuman resmi yang ditunjukkan ke seisi kelas tentang betapa rendah dan hinanya hidupku di sini. Kalimat itu membuatku semakin muak dengan mereka.Aku bahkan tak bisa menangis saling marahnya.
Aku melihat Devian Azka, sahabat karib Arif, berdiri di dekat papan tulis. Ia memegang penghapus papan tulis sambil tertawa mengejek bersama gerombolannya. Matanya berkilat penuh kemenangan saat melihat reaksiku yang hancur.
"Eh, orangnya sudah sampai!"Devian Azka bersuara, suaranya sengaja dikeraskan agar seluruh penghuni kelas bisa mendengar. Tawa pecah dari setiap penjuru kelas, menambah kebisingan yang menyakitkan di telingaku.
Apa salah ku?hanya itu yang bisa ku tanyakan di dalam hatiku.Mengapa kalian sebenci itu.Kejam sangat kejam.Aku benci kalian.
Kemarahan semakin menghantuiku.Jika ada orang yang paling ingin aku maki selain Arif, orang itu adalah DevianAzka. Bagi orang lain mereka menganggap Devian Azka sahabat yang sangat setia kerana sentiasa ada dengan Arif .Namun bagiku dia dan Arif itu sampah yang berisik.Kerana takut untuk mengakui dosa sendiri.Sebulan yang lalu, Azka pernah menjatuhkan nampan makananku di kantin di saat banyak orang di kantin, lalu berpura-pura itu adalah kecelakaan sambil berkata, "Maafkan Hanie, aku nggak lihat ada orang di sini.Mungkin kerana kau terlalu gelap."Lalu ketawa dengan Arif dan meninggalkan ku begitu saja.
Devian adalah tipe yang licik. Dia tahu betul titik lemahku. Dia tahu betapa kerasnya aku berusaha untuk terlihat tegar meskipun aku sendirian. Dengan menuliskan kalimat seperti itu di papan tulis, Azka tidak hanya menghinaku, tapi dia sedang merendahkan harga diriku di depan semua orang. Dia sengaja menggunakan kesempatan yang guru beri"kalimat contoh pelajaran" agar jika ada guru yang masuk, dia bisa berdalih sedang belajar. Itu adalah tindakan pengecut yang dibalut dengan kelicikan.
Belum sempat aku mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri, Azka dengan cepat berlari keluar dari kelas melalui pintu belakang. Ia tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya, suara tawa mereka menggema di koridor. Mereka lari seperti pengecut, melarikan diri dari tanggung jawab sebelum aku sempat berdiri tegak di depan mereka.
Aku mengalihkan pandangan ke arah tempat duduk Syasya dan Hilya. Mereka ada di sana. Mereka melihat kalimat itu sejak awal. Mereka tahu betapa sakitnya aku saat ini. Namun, mereka justru menunduk, pura-pura sibuk mendiskusikan tugas sekolah seolah-olah papan tulis itu kosong.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berinisiatif menghapus kalimat itu sebelum aku masuk. Dan aku juga sudah menduganya begitu.Tidak ada satu pun yang menegur Azka atau membentaknya agar berhenti berbuat jahat. Pengkhianatan dalam diam ini jauh lebih menyakitkan daripada ejekan Azka. Mereka adalah orang-orang yang dulu pernah duduk makan bersamaku, tapi sekarang, mereka memperlakukanku seolah-olah aku adalah wabah penyakit yang harus dihindari.
Aku berjalan perlahan ke depan kelas. Setiap langkah kaki terasa berat, seolah membawa beban yang sangat berat di belakangku. Aku mencapai papan tulis dan mengambil penghapus papan tulis yang ditinggalkan Azka saat dia pergi begitu saja.
Tanganku menggigil hebat saat aku mulai menyentuh papan tulis. Debu kapur beterbangan menyentuh kulitku. Aku menghapus kata 'friends' dengan rasa yang hambar namun penuh penekanan.Dan aku benar-benar muak.
"Apa kalian senang melihat aku seperti ini?!" suaraku keluar dengan lirih, hampir seperti bisikan untuk diriku sendiri, namun cukup tajam untuk memecah keheningan yang canggung di dalam kelas.
Syasya akhirnya bersuara, namun tanpa sedikit pun menoleh padaku. " Hanie... Azka cuma bercanda itu. Kamu nggak usah terlalu ambil hati."
Ia menghela napas, terdengar jengkel seolah-olah aku yang menjadi beban di sini. "Lagipula kamu juga, jangan terlalu menunjukkan kalau kamu itu nggak punya teman. Kan akhirnya jadi bahan ejekan."
Duniaku serasa runtuh mendengar kata-kata itu. Jadi, ini salahku? Salahku karena aku tidak punya teman setelah mereka semua menjauhiku atas perintah Arif? Aku tidak membalas. Aku terus menghapus sisa kalimat itu sampai papan tulis kembali hitam bersih, seolah-olah tidak pernah ada penghinaan yang tertulis di sana. Namun, aku tahu, kalimat itu sudah terukir permanen di ingatanku.
Saat aku hendak kembali ke mejaku dengan kepala tertunduk, pintu depan kelas terbuka. Arif masuk dengan gaya santainya. Ia berhenti sejenak, memandang ke arah papan tulis yang sudah bersih, lalu beralih menatapku.
Sebuah seringai sinis terukir di wajahnya. Ia tidak mengucapkan satu kata pun, tapi tatapan matanya yang dingin dan meremehkan sudah cukup untuk mengirimkan pesan bahawa dia sangat puas dengan perbuatan Devian Azka. Dia dengan Devian dua duanya sama saja.Menjadi iblis di hidupku bagai hal yang sangat diminatinya. Arif ingin aku tahu bahwa dia bisa mengontrol siapa saja di kelas ini untuk menghancurkanku tanpa dia harus mengotori tangannya sendiri.
"Jahat.Kamu terlalu jahat Arif." Aku hanya merutuki itu di hati dengan perasaan benci.
Aku duduk di kursiku, menunduk sedalam-dalamnya hingga wajahku hampir menyentuh permukaan meja yang dingin. Aku merogoh saku seragamku, meraba sebuah cermin kecil yang selalu kubawa. Aku menggenggam cermin itu kuat-kuat, sangat kuat hingga ujung-ujung tajamnya menusuk telapak tanganku, memberikan rasa sakit fisik yang setidaknya bisa mengalihkan sedikit rasa sakit di hatiku.
"Sedikit lagi, Hanie... sedikit lagi kamu harus bertahan," bisikku dalam hati memujuk hatiku sendiri.
Pada saat itu, aku merasakan dinding pertahanan yang kubangun untuk membentengi hatiku semakin menebal dan mengeras. Aku menyadari satu kebenaran pahit yang tidak bisa kubantah.Di dalam kelas ini, di antara puluhan manusia yang bernapas, aku benar-benar sendirian.
Azka tidak berbohong dalam kalimat yang ia tulis. Itu adalah kebenaran yang paling jujur sekaligus paling menyakitkan yang harus kutelan mentah-mentah hari ini. Aku tidak punya siapa-siapa. Dan buat kesekian kali...Aku memang sendiri.
Kebencianku pada Azka kini mencapai puncaknya. Jika Arif adalah api yang membakar, maka Azka adalah bensin yang membuatnya semakin berkobar. Azka tidak pernah punya masalah pribadi denganku, tapi dia memilih untuk menyakitiku hanya demi validasi dari Arif.
Aku mengingat kembali semua episode perundungan yang telah kulewati—semua penderitaan yang telah kucatat dalam benakku dan setiap episodenya selalu melibatkan Azka sebagai manusia yang tertawa paling keras selepas Arif.Kemarahan ini bukan lagi sekadar amarah biasa; ini adalah dendam yang tersimpan rapi di balik diamku.Dia bukan hanya mentertawakan ku ,malah menghina ku.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang tidak beraturan. Aku tahu hari ini hanya permulaan dari rangkaian panjang "lelucon" yang akan mereka mainkan. Tapi satu hal yang mereka tidak tahu, setiap kali mereka mendorongku ke tepi jurang, mereka hanya membuatku semakin tidak takut pada kegelapan.Mereka membuatkan ku semakin terbiasa dengan lembah kesakitan.
Aku tetap menunduk, menggenggam cermin itu sampai jemariku memutih. Bel masuk berbunyi, menandakan pelajaran akan segera dimulai. Guru masuk untuk memulakan kelas.. Kelas kembali normal bagi semua orang, kecuali bagiku.
Bagiku, disini semuanya palsu dan tidak ada yang bisa ku percaya lagi.