NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23. BANTUAN

Debu dan bau darah monster memenuhi udara di sekitar halaman barat Akademi Sihir Oberyn.

Langit yang sebelumnya cerah kini tampak kelabu oleh asap dan sisa ledakan sihir. Beberapa bangunan di sisi akademi runtuh sebagian, sementara tanah dipenuhi bekas tebasan pedang, lubang akibat sihir, dan tubuh monster yang berserakan.

Di tengah kekacauan itu Elara Ravens berdiri dengan napas berat.

Tubuhnya dipenuhi keringat dan debu. Seragam akademi gadis itu robek di beberapa tempat, sementara pedangnya sudah beberapa kali berlumuran darah monster.

Di sampingnya, Leonhart juga berdiri dengan kondisi tidak jauh berbeda.

Pedang besar pria itu tertancap di tanah sementara ia mengatur napasnya.

"Berapa lama kita bertarung?" tanya Elara sambil mengusap keningnya.

Leonhart menoleh ke arah tumpukan monster yang mereka kalahkan.

"Cukup lama," jawab Leon. Ia mengangkat alis ketika melihat Elara yang tak ia sangka masih sanggup berdiri setelah melawan puluhan lebih monster.

"Untuk ukuran anak baru, kau bertahan cukup gila," tambah Leon dengan senyum lebar khasnya.

Elara mendengus. "Jangan panggil aku anak baru terus, Senior." Ia memutar bahunya yang terasa pegal. "Aku sudah membunuh lebih banyak monster hari ini dari pada yang pernah kulihat di buku pelajaran."

Leonhart tertawa kecil. "Itu memang benar. Ini hari tergila di akademi."

Namun keduanya sama-sama tahu ... stamina mereka sudah hampir habis.

Pedang Elara terasa berat di tangannya. Setiap napasnya terasa seperti menarik udara melalui dada yang terbakar.

Leonhart pun sama.

Namun mereka masih berdiri.

Masih berjaga. Karena belum ada yang tahu apakah serangan monster ini benar-benar telah berakhir.

Angin berhembus pelan melewati reruntuhan.

Beberapa detik terasa sunyi.

Tidak ada lagi raungan monster.

Tidak ada lagi langkah kaki berat.

Elara akhirnya menjatuhkan dirinya duduk di tanah.

"Kalau ini belum selesai ..." Ia terengah. "... aku akan memprotes kepada siapa pun yang bertanggung jawab."

Leonhart menyeringai. "Kesatria tidak mengeluh."

Elara menoleh tajam. "Kesatria juga manusia!"

Namun tanah tiba-tiba bergetar.

Leonhart langsung menegakkan tubuh. "Apa itu?"

Dari kejauhan terdengar suara berat.

Langkah besar.

Dan kemudian raungan yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

Dua bayangan besar muncul dari balik reruntuhan gedung.

Ketika sumber suara itu keluar dari asap, Elara langsung membeku.

Yang pertama adalah Troll raksasa. Tubuhnya setinggi bangunan dua lantai, dengan kulit hijau kasar dan tangan besar seperti batang pohon.

Di belakang Troll seekor Wyvern mengepakkan sayapnya. Makhluk bersayap itu memiliki tubuh seperti naga kecil dengan taring panjang dan mata kuning yang menyala.

Leonhart menatap mereka. "Oh. Ternyata masih masih ada."

Elara menatap kedua monster itu.

Lalu ia menjerit kesal, "APA INI TIDAK ADA HABISNYA?!" Ia menunjuk para monster itu dengan pedangnya. "KALIAN MONSTER TIDAK PUNYA PEKERJAAN LAIN APA?!"

Leonhart menoleh padanya dengan wajah tidak percaya. "Kau masih punya tenaga untuk mengomel?"

Elara hampir menangis karena sebal. "Aku lelah! Setidaknya berikan aku sihir pemulihan dulu sebelum mengirim bos terakhir seperti ini!"

Leonhart menghela napas. "Kalau saja kita punya penyihir penyembuh di sini-"

Namun sebelum Leon menyelesaikan kalimatnya ... cahaya hijau lembut tiba-tiba menyelimuti tubuh mereka.

Elara berkedip.

Leonhart menoleh ke tangannya sendiri.

Energi hangat mengalir ke seluruh tubuh mereka.

Luka-luka kecil mereka mulai sembuh.

Stamina yang tadi hampir habis perlahan pulih walau tidak banyak.

Elara tercengang. "Eh?"

Leonhart juga terlihat bingung. "Kita benar-benar mendapat sihir pemulihan?"

Sebuah suara terdengar dari belakang mereka. "Tentu saja."

Elara dan Leonhart menoleh.

Beberapa sosok berdiri di belakang mereka.

Seragam Student Council berkibar tertiup angin.

Leonhart langsung berseru, "Para Student Council."

Di antara mereka Elara juga melihat seorang pria paruh baya berjubah panjang dengan tongkat sihir di tangannya.

Profesor Garrick. Salah satu profesor terkuat di akademi.

Dan di barisan paling depan seseorang berdiri dengan aura yang tidak bisa disalahartikan.

Rambut pirang yang berkilau di bawah cahaya matahari. Tatapan tajam yang penuh ketenangan.

Aaron Oberyn, sang Ketua Student Council.

Aaron mengangkat tangannya. Mana berkumpul di sekelilingnya seperti badai.

"Serahkan sisanya pada kami," kata Aaron yang sepertinya ia juga telah bertarung di tempat lain bersama Student Council lainnya jika dilihat dari kotornya pakaian mereka.

Troll itu meraung dan berlari maju.

Namun Aaron sudah bergerak lebih dulu. Ia mengangkat tangannya.

Lingkaran sihir besar muncul di udara.

"Lightning Lance," ujar Aaron.

Petir besar jatuh dari langit.

DUARRR!

Serangan itu menghantam Troll dengan kekuatan menghancurkan.

Monster itu terhuyung.

Sementara itu Wyvern menyerang dari udara.

Namun anggota Student Council lainnya sudah bergerak.

Sihir angin.

Sihir es.

Sihir api.

Serangan demi serangan menghantam monster itu dari berbagai arah.

Elara menatap pertempuran itu dengan mata lelah.

Leonhart menyandarkan pedangnya ke bahu.

"Sepertinya tugas kita selesai," kata Leon.

Elara menjatuhkan diri ke tanah. "Aku ingin tidur rasanya."

Leonhart tertawa keras. "Sepertinya kakimu juga sudah tidak bisa berdiri."

Leon tiba-tiba berlutut membelakangi Elara. Lalu menunjuk punggungnya.

"Naiklah," suruh Leonhart dengan santai.

Elara berkedip.

Leonhart tersenyum santai. "Biar aku yang menjagamu. Kau butuh istirahat. Aku yakin kakimu bahkan tidak bisa berdiri lebih lama."

Elara tidak membantah. Dengan santai ia bergelayut di punggung Leonhart. Tubuhnya terasa berat. Sangat berat. Ia bahkan hampir tidak bisa membuka mata sejak tadi.

Sejujurnya Elara bahkan sudah tidak bisa merasakan tulang-tulang di tubuhnya sendiri.

Leonhart berdiri sambil menopang Elara dengan mudah di punggungnya layaknya kakak menggendong adik perempuannya.

"Tidurlah." Suara Leon lebih lembut dari biasanya. "Kita sudah aman. Kau mengeluarkan banyak sihir hari ini. Kau hebat."

Elara hanya bergumam pelan," Hmm ...."

Beberapa detik kemudian napas Elara menjadi teratur. Ia benar-benar tertidur dalam sekejap.

Di depan mereka pertempuran melawan Troll dan Wyvern hampir selesai.

Profesor Garrick mengangkat tongkatnya.

Sihir api raksasa jatuh dari langit.

Sementara Aaron menyerang dengan petir sekali lagi.

DUARRR!

Kedua monster itu akhirnya jatuh. Tanah bergetar ketika tubuh mereka menghantam tanah.

Pertempuran berakhir.

Leonhart berjalan menuju mereka.

Aaron yang berdiri di depan langsung menoleh.

Begitu ia melihat Elara di punggung Leonhart, wajahnya langsung berubah. Kekhawatiran jelas terlihat.

Aaron berjalan cepat mendekat.

"Apa dia terluka?" tanya Aaron.

Leonhart menggeleng dan menjawab, "Tidak. Dia hanya kelelahan. Dia bertarung sangat keras. Dan menggunakan sihir cukup banyak untuk seseorang yang baru belajar sihir. Dia hanya tidur."

Aaron menghela napas panjang. Ketegangan di wajahnya sedikit menghilang. Ia mengulurkan tangannya.

"Berikan dia padaku," pinta Aaron. Tak ingin gadisnya di gendong oleh pria lain ketika Aaron ada di sini.

Leonhart memberikan Elara kepada Aaron dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.

Aaron langsung mengangkat Elara dalam kedua tangannya.

Tubuh Elara kecil dibandingkan dengan pelukan pria itu. Aaron memegangnya dengan sangat hati-hati.

Tiga anggota Student Council lainnya menatap pemandangan itu dengan ekspresi aneh.

Seorang gadis berambut perak panjang menyilangkan tangan, Lunaris Avard. Peringkat dua Student Council.

Luna berkata datar. "Apakah akan segera kiamat?" Ia menunjuk Aaron. "Ketua menggendong perempuan?"

Di sebelah Luna, seorang gadis dengan rambut cokelat panjang menyipitkan mata, Selena Mortar. Peringkat lima Student Council.

Selena menatap Aaron. "Apakah itu benar-benar Ketua yang bahkan tidak pernah mah menatap perempuan dalam waktu lama?"

Seorang pria lain bernama Edgar mengernyit. Ia menunjuk Elara.

"Kau kenal Elara, Ketua? Kau terlihat sangat khawatir," tanya Edgar.

Aaron mengeratkan pelukannya sedikit pada Elara. Wajahnya tetap tenang.

"Dia tunanganku," jawab Aaron. Ia berkata santai. "Wajar kalau aku khawatir."

Semua orang langsung membeku.

Leonhart menghela napas.

Lunaris menatap langit.

Selena menutup mulutnya.

Edgar hampir tersedak.

Tak tahu sejak kapan Aaron punya tunangan, terlebih anak baru dari kerajaan tetangga.

Namun Profesor Garrick mendengus. "Cukup. Bicarakan itu nanti." Ia menunjuk area yang hancur. "Kita bereskan dulu sisa kekacauan ini."

Profesor Garrick menoleh ke Aaron. "Bawa Elara ke ruang kesehatan. Dia juga perlu diperiksa. Dan jangan lupa berikan sihir penyembuhan untuk menstabilkan energi dirinya."

Aaron mengangguk. "Baik, Profesor."

Aaron berbalik. Berjalan menuju gedung kesehatan akademi.

Untungnya bangunan itu tidak tersentuh monster. Sehingga mereka yang terluka dan yang menyelamatkan diri berada di sana.

Langkah Aaron cepat. Namun pelukannya tetap hati-hati. Ia menunduk sedikit. Melihat wajah Elara yang tertidur lelap. Debu masih menempel di pipi sang gadis.

Aaron menghela napas. Lalu mencium pucuk kepala Elara pelan.

"Kenapa kau selalu masuk ke zona bahaya, Lala?" Suaranya hampir seperti bisikan.

Elara tidak menjawab, tentu saja. Ia hanya tidur dengan napas tenang.

Namun di kejauhan suara guru dan murid yang masih membereskan kekacauan terdengar.

Masalah tentang serangan monster ini jelas belum selesai.

Dan Aaron tahu apa pun yang terjadi hari in akan membawa konsekuensi besar bagi akademi.

1
mimief
eh...Abang Alon main cium" aja
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
Miss Typo
main nyium aja tuh Aaron pinter bgt cari kesempatan 😁
Jelita S
Aron kesempatan dalam kesempitan lo🤣🤣🤣🤣
Jelita S
sama dong akan merindukan Lala kecil😍😍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐡 𝐜𝐢𝐮𝐦𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐩𝐢𝐩𝐢 𝐛𝐤𝐧 𝐛𝐚𝐤𝐩𝐚𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐠 🤣🤣🤣

𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
Miss Typo
saat dah berubah dewasa lagi, Lala inget gak ya? pasti malu kalau inget semua 😁
Archiemorarty: bisa diliat di bab update jam 5 ini 🤣
total 1 replies
mimief
yah begitulah...ketika kita masih kecil semua akan terasa menyenangkan,ga ada beban dan hidup mengalir begitu aja.
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
Archiemorarty: Bener banget ini...😭
total 3 replies
Ir
kek nya penyihir hitam emang udah ngincer elara deh, karena pasti mereka punya ramalan masa depan bahwa akan ada anak perempuan yang membinasakan para penyihir hitam, nah makanya dia tau elara di Akademi Oberyn jadi mereka ngawasin terus monster itu cuma pancingan aja, mimpi elara pun cuma manipulasi biar elara gagal fokus mempelajari sihir nya
Archiemorarty: noooo
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
lala 😘😘😘
Selinah Albaid
setiap novel yang d tulis oleh Thor ini membuat kan kita ternanti2 bab demi bab dengan hati yang berdebar 2 n semangat..pokoknya the best
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak
total 1 replies
Anisa Muliana
thor,,aku baca sambil bayangin lucu bnget smpek ketawa" 🤣 gemes banget😬
Archiemorarty: Asli bocil paling hyper aktif perempuan tuh gemes banget 🤭
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Archiemorarty: otw 🤭
total 1 replies
mimief
kirain... keluarganya miara naga buat mainan
panik donk😜🤣🤣
mimief: lah iya🤣🤣🤣...
penyihir si penyihir ya
tapi ga Ampe miara naga juga 😜🤣
total 2 replies
Miss Typo
Elara yg cadel menggemaskan sekali 😍
Miss Typo: Aamiin 🤲
terimakasih 🙏🥰
total 9 replies
tqotqo
bagus banget ceritanya kayak ngehipnotis baca teruss
Archiemorarty: Wahh... terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
tqotqo
semangat Thor, aku juga kegemesan bacanya🤭
Archiemorarty: Gx kuat othor juga sama kegemasan Elara 😭
total 1 replies
Jelita S
jdi ingat mereka waktu kecil ( Rowan,epan,Lala dan Alon) 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Kan kan ... tengil banget mereka itu 🤣
total 1 replies
Jelita S
lucu banget Elara balik jdi bayik lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Banget 😭
total 1 replies
Jelita S
uh terharu
mimief
imutnya si ok...
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜
mimief: heran ya..
mestinya dimana mana kaleman perempuan yaaa😜
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!