Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Lahirnya Setengah Langkah Dewa
Surga Kedua - Kapal Utama Armada Malam Abadi, Ruang Inti Tenaga.
Di luar sana, Kota Roda Besi sibuk berbenah. Kapal-kapal emas perlahan ditata dengan darah monster besi dan getah pohon karat, mengubah warna suci mereka menjadi hitam pekat yang melambangkan Malam Abadi. Sorak-sorai prajurit dan derik rantai terdengar hingga ke penjuru daratan.
Namun, di kedalaman lambung kapal utama sebuah kapal perang yang panjangnya mencapai sepuluh mil keheningan yang sangat mencekik berkuasa.
Ruang Inti Tenaga telah disegel sepenuhnya. Tiga lapis formasi pertahanan yang dijaga langsung oleh Lin Xue di luar pintu baja memastikan bahwa bahkan seekor lalat spiritual pun tidak akan bisa menembus masuk.
Di tengah ruangan raksasa yang diterangi oleh formasi kristal penggerak kapal, Shen Yu duduk bersila. Jubah hitamnya telah dilepas, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang memancarkan kilau Tulang Besi Naga Bintang. Kulitnya yang sekeras logam kini dipenuhi oleh retakan-retakan halus yang terus-menerus memancarkan cahaya emas menyilaukan.
Hukum Cahaya dari Eksekutor Bintang sedang memberontak di dalam tubuhnya.
"Menelan hukum alam murni dari seorang Dewa Sejati dengan wadah fana..." Shen Yu bergumam, darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang melengkung membentuk seringaian. "Para tetua kolot di alam bawah akan menyebut ini bunuh diri."
Gumpalan benang-benang emas esensi murni dari Hukum Cahaya Surga Kesembilan berontak layaknya matahari yang terkurung. Hukum itu mencoba memurnikan, membakar, dan menghapus Dao Ketiadaan serta Jantung Iblis Shen Yu dari dalam ke luar. Suhu di dalam meridiannya melonjak hingga mampu melelehkan pusaka tingkat tinggi.
Namun, Jantung Iblis-nya memompa dengan kekuatan yang tidak masuk akal, didorong oleh sisa-sisa sumsum naga purba. Setiap kali Hukum Cahaya membakar meridiannya, Dao Waktu berputar untuk mengembalikan sel-sel itu ke kondisi semula, sementara Ketiadaan menggigit dan merobek jalinan emas tersebut sedikit demi sedikit.
"Kau hanyalah kekuatan yang tidak memiliki tuan!" raung Shen Yu di dalam lautan kesadarannya. "Di dalam tubuhku, Ketiadaan adalah rajanya!"
Shen Yu menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, membentuk segel tangan kuno yang memadatkan seluruh kegelapan di dalam dirinya.
"Seni Kaisar Malam Primordial!"
BZZZZZT!
Pusaran lubang hitam bermanifestasi tepat di tengah Dantian-nya, berputar berlawanan arah jarum jam dengan kecepatan gila. Daya hisapnya meningkat ribuan kali lipat. Benang-benang emas dari Hukum Cahaya menjerit sebuah jeritan spiritual dari hukum alam yang dipaksa tunduk pada fana.
Rasa sakit yang dirasakan Shen Yu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Rasanya seolah-olah jutaan jarum yang dibakar dengan api matahari ditusukkan ke dalam sumsum tulang belakangnya secara bersamaan. Tulang Besi Naga Bintang-nya berderit keras. Retakan di kulitnya membesar, memancarkan cahaya putih keemasan yang menerangi seluruh ruang inti tenaga.
Namun Shen Yu menolak untuk berteriak. Sang Tiran hanya menggertakkan giginya hingga gusi-gusinya berdarah. Matanya terpejam rapat, sementara urat-urat di leher dan dahinya menonjol sehitam tinta.
"Hancur dan jadilah milikku!" perintah Shen Yu mutlak.
Di bawah tekanan absolut dari Ketiadaan dan siklus regenerasi tanpa akhir dari Dao Waktu, Hukum Cahaya itu akhirnya menyerah.
Benang-benang emas yang tadinya mencoba menghancurkan Shen Yu kini mulai terurai. Mereka kehilangan sifat "suci" dari Pengadilan Langit dan dipaksa melebur ke dalam aliran darah Shen Yu yang pekat oleh Qi iblis. Cahaya emas itu tidak lagi memurnikan; ia terkorupsi, berubah menjadi cahaya tiran yang hanya tunduk pada satu kehendak.
BOOOOOOOOOOM!
Sebuah ledakan energi meledak di dalam tubuh Shen Yu. Gelombang kejutnya menghantam dinding Ruang Inti Tenaga, membuat seluruh kapal perang raksasa itu bergetar hebat di udara, memicu kepanikan singkat di antara armada di luar.
Di dalam ruangan, cahaya emas yang menyilaukan tiba-tiba ditarik kembali ke dalam tubuh Shen Yu bagaikan air yang surut, diserap habis tanpa sisa.
Keheningan kembali turun.
Shen Yu perlahan membuka matanya.
Mata kanannya masih hitam legam bagai jurang tak berdasar. Namun mata kirinya telah mengalami transformasi sempurna. Di sekeliling pupil hitamnya, cincin perak dari Dao Waktu kini dihiasi oleh urat-urat emas murni yang berkedip secara ritmis.
Aura yang memancar dari tubuhnya tidak lagi liar, tidak lagi meledak-ledak dengan niat membunuh yang kasar seperti ahli Dewa Fana Tahap Menengah atau Puncak. Auranya kini... mutlak. Tenang seperti permukaan danau yang membeku, namun memendam kedalaman yang bisa menelan langit.
Batas antara manusia dan hukum alam telah ia tabrak.
[Terobosan Berhasil: Setengah Langkah Dewa Sejati (Half-Step True God)]
Shen Yu berdiri. Ia tidak menggunakan Qi untuk melayang. Kakinya menapak lantai logam, namun ia sama sekali tidak memberikan beban pada lantai tersebut. Ia telah berasimilasi dengan hukum alam; gravitasi Surga Kedua tidak lagi membebaninya, melainkan mengalir melewatinya.
"Setengah Langkah," Shen Yu mengepalkan tangan kanannya. Cahaya keemasan yang dilapisi kegelapan Ketiadaan meletup pelan di sela-sela jarinya. "Daging fana yang diperkuat sumsum naga, memegang otoritas cahaya dewa, dan menghapus sisa aturannya dengan Ketiadaan. Fondasi yang cukup kokoh untuk menendang pintu Surga Kesembilan."
Ia melambaikan tangannya. Pintu baja raksasa yang menyegel Ruang Inti Tenaga bergeser terbuka dengan suara gemuruh berat.
Di balik pintu, Lin Xue telah berdiri siaga. Matanya yang ungu menyapu tubuh Shen Yu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Merasakan perubahan fundamental pada fluktuasi Qi gurunya, Lin Xue menyarungkan pedang teratainya dan tersenyum sebuah senyuman yang menyimpan kebanggaan tiada tara.
"Kau telah menelan matahari mereka, Guru," kata Lin Xue lembut, memberikan jubah hitam baru yang telah disulam dengan benang sutra gelap dari Surga Kedua.
Shen Yu mengenakan jubah itu, mengibaskan lengannya dengan santai. "Matahari mereka rasanya agak hambar. Tapi cukup untuk mengganjal perut."
"Selama masa kultivasi tertutupmu, proses asimilasi armada telah selesai," lapor Lin Xue, nadanya kembali menjadi Ratu yang mematikan. "Mo Han telah menyaring mereka. Tiga puluh dua kapal kini siap berlayar di bawah panji Malam Abadi. Namun..."
Lin Xue menghentikan kalimatnya sejenak, matanya menatap tajam ke ujung lorong kapal.
"Sepertinya getaran dari terobosanmu menarik perhatian tamu yang tidak diundang."
Shen Yu menyipitkan matanya. Jangkauan indra spiritual nya yang baru saja mencapai Setengah Langkah Dewa Sejati menyebar seperti jaring laba-laba kosmik. Ia bisa merasakan sebuah fluktuasi Qi yang sangat halus, sangat rahasia, namun memiliki kepadatan yang melampaui siapapun di Surga Kedua, melayang tepat di luar pelindung armada mereka.
"Seseorang dari Surga Ketiga," gumam Shen Yu. Cincin emas dan perak di matanya berkilat tipis. "Mereka lebih tidak sabaran dari yang kukira."
"Haruskah aku memerintahkan armada untuk membunuhnya?" tawar Lin Xue.