Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog: Siapa Bilang Aku Pajangan
Malam ini, Istana Pusat bersinar terlalu terang. Aroma bunga lili yang mahal memenuhi ruangan, namun bagi Shaneen von Asturia, semuanya terasa menyesakkan. Dia berdiri di sudut ballroom, menyesap minumannya dengan gaya yang sangat santai—kontras dengan para wanita bangsawan lain yang berdiri tegap seolah tulang punggung mereka terbuat dari besi.
Shaneen melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Tiga puluh menit lagi, lalu aku pulang dan harus mengirimkan draf lagu baru untuk grup "The Eclipse", batinnya bosan. Ide melodi baru baru saja melintas di kepalanya, jauh lebih menarik daripada mendengarkan gosip para bangsawan ini.
"Ah, Lady Shaneen. Akhirnya kau menampakkan diri," sebuah suara yang tak asing menyapa dengan nada meremehkan.
Shaneen tidak perlu menoleh untuk tahu itu adalah Baronet von Kaelen. Pria yang merasa dirinya hebat hanya karena punya gelar warisan, padahal otaknya kosong.
"Baronet," sapa Shaneen singkat tanpa menoleh. Matanya yang sleepy eyes tetap menatap kerumunan.
"Kudengar kau baru pulang dari Oxford? Tapi kenapa gaya bicaramu tidak mencerminkan pendidikan tinggi itu? Kau tampak... terlalu bebas untuk standar kita," von Kaelen mencoba mengintimidasi. "Atau mungkin rumor itu benar? Bahwa darah ibumu yang berasal dari Timur lebih dominan daripada darah bangsawan kakekmu?"
Shaneen menurunkan gelasnya ke meja di sampingnya dengan dentingan halus. Dia menatap von Kaelen dari atas ke bawah, lalu tersenyum—senyum yang membuat orang di sekitarnya merinding.
"Bebas?" Shaneen mengulang kata itu dengan nada merdu. "Kurasa kau salah mengartikan kecerdasan dengan kekakuan, Baronet. Aku tidak perlu berdiri kaku seperti manekin untuk membuktikan siapa diriku. Dan soal ibuku... dia memiliki kelas yang tidak akan pernah kau miliki meski kau reinkarnasi sepuluh kali. Setidaknya, dia tidak perlu mengemis pada ayahku untuk menutupi hutang kasino keluarganya yang membukit di luar negeri minggu lalu."
Wajah von Kaelen berubah dari merah menjadi pucat pasi. "Kau... bagaimana kau tahu—"
"Aku lulusan Oxford dengan predikat terbaik di bidang Ekonomi, Baronet. Membaca laporan keuangan busuk keluargamu itu lebih mudah daripada membaca menu sarapan," potong Shaneen telak. "Saran dariku: tutup mulutmu sebelum aku memutuskan untuk membeli bank tempat keluargamu meminjam uang dan menyita rumahmu malam ini juga."
Hening. Bahkan detak jam dinding besar di sudut ruangan seolah berhenti. Baronet itu pucat pasi, mulutnya terbuka tanpa kata-kata. Shaneen memberikan senyum tipis—jenis senyum yang tidak sampai ke mata—lalu berbalik pergi tanpa menunggu balasan.
Shaneen berbalik pergi tanpa kata lagi. Namun, di lantai dua yang gelap, di balik pagar balkon emas yang megah, sepasang mata ice blue telah merekam segalanya.
Duke Matthias von Falkenhayn menyesap whiskey-nya. Seragam Jenderal-nya yang kaku dengan deretan medali berkilau di bawah cahaya redup. Selama bertahun-tahun, dia memandang wanita bangsawan sebagai pajangan kaca yang membosankan. Mereka lemah, mereka menye-menye, dan mereka mudah ditebak.
Tapi gadis itu... Shaneen.
Matthias memperhatikan bagaimana Shaneen berjalan menuju pintu keluar—tenang, angkuh, dan benar-benar tidak peduli pada kekacauan yang baru saja dia buat. Cara gadis itu mengintimidasi lawan bicaranya tanpa menaikkan nada bicara membuat darah Matthias berdesir aneh.
"Siapa dia?" Suara Matthias berat dan berwibawa, ditujukan pada ajudannya yang berdiri di kegelapan.
"Lady Shaneen von Asturia, Yang Mulia. Dia baru saja kembali dari Oxford. Kabarnya, dia adalah putri kesayangan keluarga Asturia yang sangat tertutup."
Matthias terdiam. Dia melihat Shaneen menghilang di balik pintu besar menuju taman Elysium. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang sempurna dan membosankan, Matthias merasakan dorongan primitif yang berbahaya. Dia tidak hanya ingin tahu siapa gadis itu. Dia ingin memilikinya. Dia ingin melihat mata sayu itu menatapnya dengan intensitas yang sama saat dia menghina sang Baronet.
"Asturia, ya?" Matthias meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan dentingan pelan. "Siapkan kunjungan resmi ke kediaman Asturia besok pagi. Dan pastikan tidak ada protokol yang terlewat."
Matthias tidak tahu, bahwa Shaneen bukan hanya seorang putri. Dia adalah Nin. Dan di dunianya, Shaneen-lah yang menulis naskahnya. Sang Jenderal mungkin ahli dalam strategi perang, tapi dia baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan seorang Virgo yang tidak pernah kalah dalam permainan hati.
Matthias memperhatikan Shaneen sampai bayangan gadis itu benar-benar hilang di balik gerbang taman. Dia tidak peduli dengan pesta ini lagi. Baginya, hiburan malam ini sudah berakhir setelah Shaneen pergi.
"Siapkan mobil," perintah Matthias dingin sambil meletakkan gelasnya yang sudah kosong.
"Sekarang, Yang Mulia? Tapi acara dansa utama belum dimulai," ajudannya tampak bingung.
Matthias tidak menjawab. Dia hanya melangkah pergi, jubah militernya berkibar, menciptakan jalur kosong di tengah kerumunan bangsawan yang langsung menunduk hormat dengan gemetar. Matthias tidak butuh dansa. Dia butuh rencana untuk menjerat mangsa barunya yang sangat menarik itu.
Sementara itu, di dalam mobil limosin pribadinya, Shaneen menyandarkan kepala pada kursi kulit yang nyaman. Dia melepas sepatu hak tingginya dan menghela napas panjang. Matanya yang sayu menatap layar tabletnya yang berisi deretan not balok yang belum selesai.
"Lady Shaneen, apakah Baronet tadi membuat Anda kesal?" Tanya sopir pribadinya, yang juga merupakan salah satu orang kepercayaan ayahnya di dunia bawah.
Shaneen terkekeh pelan, suara tawanya terdengar merdu namun penuh percaya diri. "Dia? Dia bahkan tidak cukup penting untuk membuatku kesal, Leo. Aku hanya kasihan padanya. Dia baru saja menggali kuburannya sendiri."
Shaneen memejamkan mata, membayangkan ketenangan di Elysium Estate yang menunggunya. Dia tidak tahu bahwa besok pagi, ketenangan itu akan hancur berkeping-keping oleh kedatangan seorang Jenderal yang keras kepala.