Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 2
Kami pun berjalan beriringan menuju kelas, bercengkerama tentang banyak hal mulai dari dosen yang sulit ditemui sampai rencana makan siang nanti.
Suasana kelas yang tadinya riuh dengan obrolan mahasiswa mendadak hening saat dosen pembimbing kami Pak Heru, melangkah masuk. Namun, kali ini beliau tidak sendirian. Di belakangnya, mengekor seorang lelaki yang langsung mencuri perhatian seluruh isi ruangan.
"Selamat pagi, semuanya. Hari ini kita kedatangan rekan baru yang akan bergabung di semester tujuh ini," ujar Pak Heru singkat.
Seketika, bisik-bisik mulai menjalar seperti api di antara barisan kursi. Dhea dan Diva menyenggol lenganku berkali-kali, mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Gila, Han... tinggi banget!" bisik Diva tertahan.
Lelaki itu melangkah ke depan kelas. Dia tinggi, dengan bahu tegap dan wajah yang harus kuakui sangat tampan. Ada kesan tenang namun misterius yang terpancar darinya.
"Silakan perkenalkan namamu," instruksi Pak Heru.
"Halo semuanya. Nama saya Tomi. Saya pindahan dari kampus di luar kota. Mohon bantuannya ya," ucapnya dengan suara berat yang sopan.
Kelas langsung heboh Beberapa mahasiswi di barisan depan mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan iseng,
"Sudah punya pacar belum, Tom?" atau "ID Instagram-nya apa?" timpal yang lain Pak Heru hanya geleng-geleng kepala meredam suasana yang semakin tidak kondusif.
"Sudah, sudah. Tomi, silakan cari kursi yang kosong dan kita mulai perkuliahan hari ini," kata Pak Heru tegas.
Tomi mengangguk matanya menyapu seisi ruangan. Entah kenapa, jantungku mencelos saat tatapannya berhenti di barisanku. Dengan langkah tenang, dia berjalan ke arahku lebih tepatnya, ke satu-satunya bangku kosong yang ada tepat di sebelahku.
"Hai," ucapnya pelan saat sudah berdiri di samping kursiku.
Aku tersentak sedikit, merasa tertangkap basah karena sempat memperhatikannya. "Eh... iya, hai juga."
"Nama kamu siapa?" tanyanya sambil meletakkan tas ranselnya di atas meja.
" Hana," jawabku singkat, berusaha mengatur napas agar tidak terdengar gugup.
Aku bisa merasakan tatapan menggoda dari Dhea dan Diva dari arah samping, tapi aku pura-pura tidak melihatnya.
Tomi tersenyum tipis.
"Oh, Hana,Aku boleh duduk di sini?"
Aku menatap bangku kosong itu sebentar, lalu kembali menatapnya. "Oke."
Tomi duduk dengan santai, lalu menoleh ke arahku. Sebelum ia membuka bukunya, ia menatapku sejenak dengan senyum lembut jenis senyum yang terasa hangat, seolah ia bisa melihat sesuatu yang tidak orang lain lihat.
"Salam kenal ya Hana," bisiknya, sebelum akhirnya fokus pada penjelasan Pak Heru di depan.
...****************...
Jam istirahat tiba dan seperti biasa, kantin menjadi tujuan utama kami.
Suara dentingan sendok dan riuh obrolan mahasiswa memenuhi ruangan yang panas itu. Aku Dhea, dan Diva baru saja mendapatkan meja di sudut saat tiba-tiba sesosok tubuh tinggi berdiri di dekat kami.
"Hai, boleh ikut gabung nggak? Meja lain penuh banget," ucap Tomi sambil menunjuk sekeliling dengan sopan.
Kami bertiga saling lempar pandangan. Diva, yang memang paling cepat bereaksi, langsung mengangguk. "Eh, boleh kok! Duduk aja, Tom."
Tomi menarik kursi tepat di hadapanku. Kehadirannya yang mencolok membuat beberapa pasang mata di kantin melirik ke arah meja kami, tapi Tomi tampak tidak terganggu sama sekali.
"Eh, kamu pindahan dari kampus mana, Tom?" tanya Diva memulai interogasi ramahnya.
"Aku pindahan dari Kota S, Kampus D," jawabnya sambil membuka botol minuman.
Dhea mencondongkan tubuh, penasaran. "Hah? Kota S kan kotanya asik banget. Terus kenapa pindah ke sini? Mana udah semester tua lagi, nggak sayang?"
Tomi sempat terdiam sejenak, senyumnya berubah menjadi sedikit lebih serius sebelum akhirnya ia terkekeh.
"Yah... ada beberapa urusan keluarga yang mengharuskan aku balik ke sini. Lagian, aku juga pengen suasana baru yang nggak terlalu bising kayak di sana."
Tatapannya beralih padaku sekejap sebelum kembali ke Diva.
"Dan kayaknya pilihanku nggak salah, orang-orang di sini ternyata ramah."
Diva dan Dhea langsung tertawa menanggapi pujian terselubung itu. Obrolan pun mengalir jauh, mulai dari perbedaan kurikulum sampai tempat-tempat makan enak di sekitar kampus.
Sesekali Tomi melontarkan lelucon ringan yang membuat Diva dan Dhea terpingkal-pingkal. Aku sendiri lebih banyak menjadi pendengar, namun sesekali aku ikut tersenyum tipis saat Tomi mencoba melibatkan aku dalam pembicaraan.
"Alisya mah emang paling pendiam di antara kita, Tom," celetuk Dhea sambil menyenggol lenganku.
"Nggak apa-apa," jawab Tomi sambil menatapku lembut.
"Pendengar yang baik itu jarang ada."
Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat pipiku terasa sedikit panas.
Kami menghabiskan sisa waktu istirahat dengan bercanda, dan untuk pertama kalinya sejak tadi pagi, aku benar-benar melupakan beban yang tadinya menumpuk di pundakku.
Saat bel masuk berbunyi, kami berjalan beriringan kembali ke kelas. Sesekali Tomi berjalan di sampingku, melemparkan candaan kecil yang membuat perjalanan di lorong kampus terasa lebih singkat dari biasanya.