Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEGILAAN YANG TAK ADA HABISNYA
Pagi datang dengan cahaya yang masih lembut menembus tirai kamar. Udara terasa hangat dan tenang, seperti memberi jeda setelah malam yang panjang dan penuh emosi.
Rico yang lebih dulu terbangun. Ia memandang Anela yang masih tidur di sampingnya, wajahnya tampak lebih damai saat tidak sedang memikirkan dunia luar. Perlahan, ia menyibakkan rambut Anela yang menutupi pipinya, gerakannya sangat pelan seolah takut merusak ketenangan pagi itu.
Awalnya ia hanya ingin memeluk Anela, namun saat selimut tertarik ke bawah dan memampang tubuh sexy Anela, milik Rico bereaksi, menegang, meminta perhatian. Perlahan Rico mulai mendekat kearah bukit kembar Anela, memainkannya dengan lidah dan mulutnya. Anela terkesiap, antara kaget dan geli.
"Ric....kamu lagi apa?"
"kamu sexy banget sayang...." jawab Rico sambil menyingkap selimut, memperlihatkan seluruh tubuh Anela yang tanpa busana. Sejurus kemudia ia membuka kaki Anela dan mulai memposisikan miliknya. Anela menggigit bibir bawahnya, mengantisipasi rasa geli yang dibuat Rico dibagian bawah miliknya. Rico tidak langsung menancap, ia mempersiapkan Anela, menggesek miliknya pada milik Anela perlahan, sambil menciumi ujung bukit kembar Anela.
"Emghhh.....Rico...." suara Anela manja memanggil Rico.
Rico paham, Anela sudah siap. Dan...tanpa basa-basi, Blesss....
Rico memasuki milik Anela, dan mulai bergerak dia atas Anela, wajah Anela saat menikmati penyatuan ini membuat Rico makin semangat memacu.... dan tiba-tiba....dari ruang tamu terdengar suara kecil.
“...Mama?”
Suara Ziyo yang masih mengantuk langsung membuat Anela dan Rico terkesiap,
Ada yang bangun,” bisik Anela sambil tersenyum.
Rico bersiap mencabut miliknya namun Anela menahan.
"Terusin sayang....nanggung...tapi cepet ya"
Rico mengangguk, dan melanjutkan percintaan itu dengan ritme cepat.
To tok tok tok...
Mama...mama.... suara serak Ziyo masih terdengar di luar. Itu membuat suasana makin tegang namun makin menggairahkan. Rico menancap lebih cepat.
"Emhhh....lebih cepat sayang, emghhh....lebih dalem...." pinta Anela menggoda dengan manja dan menggigit bibir bawahnya.
Rico kehilangan akal, ditengah tekanan rengekan Ziyo di luar kamar, dan pemandangan sexy di bawahnya. Anela nampak sangat sexy dibawahnya dengan wajah itu. dan akhirnya......
"Akhhh aakhhhh..... akhhhhhhh....." Rico tak mampu menahan erangannya.
Disusul Anela kemudia " Emhmmmm aaakhhhh".
Anela tertawa kecil, lalu setelah nafasnya mulai lebih tennag, ia bangun dengan gerakan malas yang manis. Ia merapikan rambut dan menarik selimut lebih tinggi sebelum turun dari tempat tidur.
Di luar kamar, sudah tidak terdengar rengekan Ziyo, berganti dengan sayup-sayup suara TV.
Ziyo sudah duduk manis memakan sereal di depan TV.
"Panas banget kayaknya permainan pagi ini?", terdengar sindiran dari arah dapur, ternyata Ratih sudah sibuk di mencuci piring di dapur.
Anela tersenyum malu, "Emang kedengeran?" tanyanya polos.
"Gila kalian ya... desahan sekeras itu gak mungkin gak kedengeran!, untung Ziyo lagi di kamar mandi pas kalian mulai berisik." omel Ratih gemas.
Anela tertawa terbahak sebentar. "Ya maklum... udah dua minggu gak ketemu."
"mau lanjut? kalo ya... biar Ziyo aku bawa."
"Ide bagus.... bawa sampe besok ya..."
Ratih menjawab dengan mencebikan bibirnya. namun tak lama kemudian dia pamit membawa Ziyo, ratih memang sahabat yang pengertian. ia tahu ini adalah momen yang berat buat Anela. dan dia ingin memeberi kesempatan pada Anela untuk menikmati momen-momen panas setelah rintangan yang cukup panjang akhir-akhir ini.