Leana putri tunggal seorang pengusaha yang tidak pernah terekspos, sehingga dia di kenal sebagai anak orang miskin yang masuk ke tempat elit demi menaikkan derajat. Menjadi pacar seorang anak miliyader membuatnya menjadi pusat perhatian, Reno putra ke tiga dari keluarga ternama di kotanya, Ketika berkunjung kerumah sang pacar dia mendapati teman baiknya sedang berduaan. Meminta pertanggung jawaban namun tak di hiraukan Reno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhe vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Besoknya aku sampai dirumah orang tuaku.
“Kenapa sayang kok pulang kesini, Ray di mana?”. Tanya mama
“Ray di rumah orang tuanya ma”.
“Terus kenapa kamu pulang sendirian?”.
“Lea cuma lagi pengen pulang aja ma”.
Mama memelukku dan menuntunku ke ruang keluarga, sebagai anak tunggal rumah ini rasanya sepi, berbeda dengan rumah keluarga Wilder.
Aku tidak ingin membuat mamaku khawatir akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi, dari masalah Adrian hingga berujung bertengkar dengan Melinda. Sekarang hanya aku dan mama yang berada di rumah ini ayahku sedang mengurus beberapa pekerjaan di negara lain.
Kulihat Ray beberapa kali memanggilku bahkan ada puluhan pesan dari dirinya.
“Kenapa nggak di angkat Lea”.
“Malas aja ma, Lea ke kamar dulu ya ma rasanya cape banget”.
“Ya sudah istirahat dulu, kasian juga baby kamu”.
Aku masuk ke kamarku, Hah rasanya lebih anyaman dari pada kamar di rumah Ray walaupun sangat luas tapi aku tidak nyaman terutama dengan Melinda. Dia dan Reno sudah merusak masa depanku sekarang mereka ingin merusak rumah tangga ku juga.
Rumah yang masih ada orang tua sendiri itu memang paling nyaman, apalagi masih ada mama di dalamnya dan hanya orang tua yang akan selalu memberikan keuangan dan ketentraman dalam rumah itu sendiri.
Di ruang keluarga mama sangat sibuk dengan ponselnya mungkin sedang menghubungi ayah. Apa aku dan Ray bisa seperti mereka ya, aku senang melihat mereka masih mesra walau sudah tidak muda lagi dan setia satu sama lain, aku yakin pasti banyak yang menginginkan mereka terutama ayah sih, dia pria mapan wajahnya juga tampan siapa yang tidak tertarik dengan ayahku ini, tapi beliau sangat sayang sama mama dan aku.
”loh Lea kok sudah bangun nak”.
“Iya ma Lea haus, mama lagi apa?”. Tanyaku pada mama dan duduk di sampingnya.
“Oh ini ayah kamu nanyain kenapa kamu pulang kesini, dia tanya apa kamu sama Ray tidak baik-baik aja, mama bilang kalian baik-baik saja hanya saja masalahnya ada pada Melinda”. Aku mengangguk.
“Oh iya Lea tadi ayah bilang Ray menyusul kamu kesini”.
“Hah? Ngapain dia nyusul kesini?”.
“Entah, mungkin dia takut kamu kenapa-kenapa, namanya juga suami Lea. Nih ya mama kasih tau, kalau istri pulang kerumah orang tuanya tapi suaminya tidak peduli lagi itu yang patut di pertanyakan beda cerita kalau istri pulang suami langsung mendatangi istrinya itu artinya dia lebih peduli dan sayang pada istrinya ”.
Aku hanya mengangguk, apa benar Ray lebih peduli dan sayang sama aku?
Esok paginya sebuah mobil taksi terparkir di halaman rumah, ketika ku lihat di balkon siapa yang datang ternyata itu adalah Ray sendiri, kulihat dia mengeluarkan beberapa Papperbag dan koper miliknya yang Begitu besar, dia mau pindah apa mau berkunjung sih.
“Sudah sampai, ayo masuk dulu Ray”. Sambut mama
“Makasih ma, Leana di mana ma?”. Tanya Ray
“Di kamarnya, masuklah”. Ray mengangguk.
Sebuah ketukan pintu dari depan kamarku.
“Masuklah”.
Tanpa kata-kata apapun Ray masuk dan langsung memelukku serta mencium pipiku.
“Beb kenapa kamu kesini, pekerjaan kamu bagaimana?”.
“Kamu lebih penting pekerjaan bisa ku bandel dari manapun. Love kamu mau ninggalin aku ya? Kenapa aku kamu beginikan di telpon tidak menjawab pesanku juga nggak kamu balas, apa karena Melinda dan manusia nggak tau diri itu kamu mau meninggalkan aku?”.
Meninggalkannya? Tentu saja tidak, bagaimana aku bisa meninggalkannya dengan keadaanku yang seperti ini, walaupun aku mampu tanpa seorang suami untuk kehidupanku dan anakku kelak.
“Aku sayang sama kamu beb, mana mungkin aku ninggalin kamu karena dua orang itu, aku hanya nggak mau melibatkan kamu dengan membebani kamu karena permasalahanku dengan kedua orang itu”.
“Ingat ya love, apapun yang mereka perbuat sama kamu itu artinya mereka juga memperlakukan aku begitu, apapun yang mereka perbuat padamu aku akan membalasnya”.
Aku memeluk Ray dengan erat.
“Jangan erat-erat nanti baby kenapa kenapa lagi”. Tegur Ray aku hanya tertawa.
Ray adalah rumah kedua bagiku, dari awal bertemu dengannya saja aku sudah merasa nyaman, dia orang pertama yang melindungi aku dari kedua pengkhianat itu, dia juga menungguku pulang dari perjalanan ku untuk bisa melupakan Reno, sekarang kami menikah entah ini sebuah anugerah atau hanya sebuah kebetulan belaka.
Mama mengetuk pintu kamarku untuk makan siang bersama, kasihan juga suamiku buru-buru kesini pastinya dia belum makan kan.
Ray juga cerita betapa sedih mama mertuaku saat aku memutuskan untuk pulang kerumah orang tuaku, dia juga cerita bahwa Isabella marah besar saat aku keluar dari rumah. Pada akhirnya Melinda dan Reno tetap tinggal dirumah itu karena itu perintah ayahnya, mungkin bagi tuan Wilder melepas Reno untuk keluar dari rumah itu juga terasa berat.
Satu minggu kemudian aku memutuskan untuk pulang bersama dengan Ray, tidak enak juga sama mama kalau aku lama-lama dirumah ini, bukan apa-apa hanya saja sekarang aku sudah berkeluarga dan semua masalahku harus aku selesaikan sendiri.
Ayah meminta kami pulang dengan jet pribadi mama mereka nggak mau aku kenapa kenapa saat di perjalanan.
Setibanya di bandara mama Ray dan Isabella sudah menunggu kedatangan kami.
“Kalian baik-baik aja kan”. Tanya beliau
“Ya ma kami baik-baik aja kok”.
“Syukurlah”. Peluk mama Ray padaku
Selama perjalanan terasa menyenangkan, apakah begini rasanya di ragukan oleh suami dan keluarganya? Kalau iya betapa beruntungnya aku sekarang ini.
Sesampainya di rumah Wilder ku lihat Adrian sudah bermain di ruang keluarga bersama Melinda dan bibi di mana Reno ya?
“Adrian sudah sembuh ma?”. Tanyaku pada ibu mertuaku
“Ya, setelah perawatan intensif dia di perbolehkan pulang”.
“Syukurlah”.
Ray membawakan koper kami ke dalam kamar, kamar ini tidak ada yang berubah walaupun aku masih harus satu rumah dengan Kedua orang itu.
sabar aku harus sabar, demi anakku juga nanti dan Ray juga tidak mau aku terlalu kelelahan dengan rumah yang dia belikan untukku itu.
“Love, aku punya sesuatu untuk kamu”.
“Apa itu”. Nampak Ray menyembunyikan sesuatu di belakangnya
Sebuah dokumen kepemilikan saham terbesar di perusahaan miliknya dan itu semua atas namaku.
“50%, apa nggak berlebihan ini beb. Ini kan sudah setara dengan kepemilikan”.
“Aku tau kamu nggak bakalan mau terima jika perusahaan ku berikan padamu seluruhnya, untuk masa depan anak kita nantinya”.
Jika sudah menyangkut tentang anak begini aku tidak bisa menolaknya, bagaimanapun pernikahan bukan hanya tentang dua orang kan? Masih ada kehidupan yang terus berlanjut dan aku tidak ingin anakku mengalami kesulitan nantinya.
semangat ngetik thor sampe tamat..