Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Kepulangan Fahmi ke Panti
Sinar matahari sore yang mulai meredup memberikan warna keemasan pada dinding-dinding panti asuhan yang sudah mulai retak dimakan usia. Bayu berdiri di depan bak cuci piring yang sama seperti semalam, menyingsingkan lengan kemejanya untuk menyelesaikan tumpukan gelas plastik bekas minum anak-anak.
Sejak pagi tadi, ia sudah berada di panti untuk menepati janjinya kepada Nayla dan dirinya sendiri. Ia melakukan apa saja yang bisa dibantu, mulai dari memperbaiki engsel pintu yang lepas hingga membantu membersihkan halaman belakang yang rimbun oleh semak belukar.
"Bay, mending kamu istirahat dulu sebentar. Kamu dari pagi belum ada duduknya sama sekali," tegur Nayla yang baru saja muncul dari arah kamar anak-anak.
Nayla berdiri di ambang pintu dapur, menatap Bayu dengan sorot mata yang dipenuhi rasa tidak enak sekaligus kekaguman yang tersembunyi. Ia melihat butiran keringat membasahi pelipis Bayu, namun pria itu nampak begitu tekun menggosok setiap peralatan makan seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
"Nggak apa-apa, Nay. Cuma tinggal dikit lagi kok, tanggung kalau ditinggal sekarang," jawab Bayu tanpa menoleh, tangannya tetap lincah di bawah kucuran air.
Nayla mendekat beberapa langkah, ia berdiri di sisi meja makan kayu yang besar. "Kamu beneran berubah ya, Bay. Aku nggak nyangka orang Jakarta kayak kamu mau kotor-kotoran di tempat reot begini."
Bayu terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar jauh lebih ringan dan tulus dibandingkan tawaran-tawaran palsunya beberapa hari lalu. "Aku sama kayak kamu, Nay. Orang desa juga. Cuma bedanya aku pernah merantau ke Jakarta dan jadi sombong aja.”
Bayu kembali fokus pada pekerjaannya, dia bergumam, sebuah suara yang hanya didengar olehnya sendiri, “Gue cuma lagi bayar utang sama masa lalu, Nay. Lagian, Jakarta nggak seindah yang lo bayangin kalau hati kita isinya cuma sampah."
“Kenapa, Bay?”
Bayu mengangkat wajah, dia tersenyum lalu menggelengkan kepala. “Kamu lanjut aja kerjaan kamu, Nay. Aku juga bentar lagi selesai.”
Nayla mengambil sebuah kain lap bersih dan mulai mengeringkan piring-piring yang sudah dibilas oleh Bayu di rak pengering. Mereka bekerja dalam ritme yang harmonis, sebuah kerja sama yang mengingatkan mereka pada masa-masa indah saat masih remaja di desa ini.
Suasana sore yang tenang itu tiba-tiba diinterupsi oleh sebuah bunyi yang sangat mereka kenal. Suara gerbang depan yang terbuat dari besi tua terdengar berderit sangat keras, menandakan ada seseorang yang baru saja masuk ke halaman panti.
Bayu segera mengeringkan tangannya dengan serbet dan berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang di jam menjelang Maghrib ini. Di ambang pintu, sosok Fahmi muncul setelah ia selesai memarkirkan motor besarnya yang nampak sedikit berdebu di halaman panti.
Fahmi membawa dua kantong plastik besar yang nampak sangat berat di kedua tangannya, isinya adalah tumpukan nasi kotak yang aromanya mulai menguar.
"Assalamualaikum!" seru Fahmi dengan nada suara yang tetap ceria meski nampak sangat letah.
Beberapa anak panti yang sedang bermain di halaman langsung berlari menghampiri Fahmi. Pria itu menyambutnya dengan hangat, sama sekali tidak terlihat guratan kelelahan di wajahnya.
"Waalaikumussalam," jawab Nayla. Ia hendak membantu Fahmi mengambil salah satu kantong plastik besar tersebut dari tangannya namun, pria itu menolaknya.
Fahmi meletakkan kantong-kantong tersebut di atas meja panjang ruang tengah yang biasa digunakan anak-anak untuk belajar kelompok atau makan bersama. Ia melihat ke arah Bayu dan tersenyum pelan, sebuah senyuman persaudaraan yang kini tidak lagi membuat Bayu merasa terancam atau minder.
"Bayu? Lo masih di sini ternyata? Masya Allah, rajin bener lo bantuin Nayla," puji Fahmi sembari mengeluarkan sapu tangan dari saku kokonya.
Ia mulai mengelap keringat yang membanjiri dahi dan lehernya dengan gerakan yang perlahan namun nampak sangat lega karena sudah sampai di tujuan. Bayu memerhatikan penampilan sahabatnya itu dengan saksama, menyadari bahwa Fahmi tidak nampak seperti seorang pengusaha sukses yang baru pulang dari kantor.
"Iya, lagi nggak ada kerjaan di rumah, jadi mending di sini. Lo dari mana aja, Mi? Kok kayaknya capek banget?" tanya Bayu penuh rasa ingin tahu.
Fahmi menarik napas panjang dan duduk di kursi kayu sembari menyelonjorkan kakinya yang nampak sangat pegal setelah seharian berkendara. "Gue baru aja keliling desa tetangga, Bay. Gue coba cari beberapa donatur tambahan buat nutupin kekurangan dana panti kita."
Nayla yang baru keluar dari dapur segera membawakan segelas air putih dingin untuk Fahmi, wajahnya nampak sangat tersentuh melihat perjuangan pria itu. "Kamu muter-muter desa tetangga sendirian, Mi? Harusnya kamu bilang, biar aku bisa bantu cari kontak mereka lewat telepon."
Fahmi meminum air tersebut sampai tandas, lalu ia menggelengkan kepalanya pelan sembari menatap Nayla dan Bayu secara bergantian dengan tulus. "Nggak apa-apa, Nay. Kalau cuma lewat telepon kurang sopan, lagipula kita memang harus nunjukin kesungguhan kita kalau mau minta bantuan."
Bayu menundukkan pandangannya dan tak sengaja melihat ujung celana bahan berwarna gelap milik Fahmi yang terkena noda lumpur kering yang cukup banyak. Ia menyadari bahwa Fahmi pasti baru saja melewati jalanan persawahan atau daerah pelosok yang sulit dijangkau hanya demi mendapatkan bantuan untuk panti.
"Mi, celana lo kotor banget itu. Lo beneran masuk-masuk ke pelosok, ya?" tanya Bayu dengan nada bicara yang mengandung rasa hormat yang kini tumbuh subur.
Fahmi melirik ujung celananya lalu terkekeh pelan, ia nampak sama sekali tidak peduli dengan noda lumpur yang mengotori pakaiannya yang biasanya selalu rapi. "Oalah, ini tadi gara-gara lewat jalan pintas di Desa Sukamaju, eh ternyata jalannya lagi becek banget kena hujan semalam."
Nayla menatap lumpur di celana Fahmi dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia tahu betul betapa kerasnya usaha Fahmi untuk menjaga panti ini tetap berdiri. "Kamu nggak perlu segininya, Mi. Aku jadi ngerasa nggak enak terus-terusan ngerepotin kamu soal dana panti."
"Hus! Jangan ngomong gitu, Nay. Ini kan panti kita bareng-bareng, lagian rezeki Haikal dan anak-anak sudah ada yang ngatur, aku cuma jadi perantara," potong Fahmi tegas.
Bayu terdiam sembari menatap tumpukan nasi kotak di atas meja, ia merasa setiap kotak makanan itu mengandung keringat dan pengorbanan yang sangat nyata dari Fahmi. Ia teringat kembali pada ambisinya di Jakarta yang selalu ingin dilayani, sementara di depannya ada seorang pemimpin yang justru memilih untuk melayani dengan tangannya sendiri.
"Mi, sorry ya kalau kemarin gue sempat emosi sama lo. Gue bener-bener buta sama keadaan yang sebenernya," ucap Bayu dengan nada suara yang rendah namun sangat jantan.
Fahmi menatap Bayu dengan binar mata yang bersahabat, ia menepuk bahu Bayu dengan kuat seolah ingin menghapus semua jarak yang pernah ada di antara mereka. "Udah, Bay. Yang penting sekarang lo ada di sini, itu udah lebih dari cukup buat gue sama Nayla."
Suasana di ruang tengah panti asuhan itu terasa sangat hangat, meskipun mereka tahu bahwa badai penyitaan lahan masih mengintai di depan mata dalam hitungan hari. Mereka bertiga berdiri mengelilingi meja panjang tersebut, bersiap untuk membagikan nasi kotak kepada anak-anak panti yang sudah mulai berkumpul dengan wajah ceria.
Bayu merasa bahwa lumpur di celana Fahmi adalah medali kehormatan yang jauh lebih berharga daripada jam tangan mewah yang pernah ia pakai dulu di Jakarta. Ia berjanji di dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan perjuangan Fahmi dan air mata Nayla menjadi sia-sia karena ketidakberdayaannya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰