💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 : Kedekatan yang melampaui batas.
Arsen mengangkat kepalanya, matanya tertuju pada Viona dengan tatapan yang penuh perhatian. Dia berdiri tegak, mengeluarkan tangannya dari kantong celana dan berjalan sedikit mendekat.
"Apa kamu baik-baik saja? Kamu terlihat seperti tidak nyaman dari tadi," tanyanya dengan suara lembut, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.
Viona mengerjapkan matanya pelan, dia menoleh ke samping sejenak sebelum kembali menatap Arsen. "Aku baik-baik saja, Paman. Hanya saja... mungkin aku sedikit lelah karena pekerjaan hari ini."
Arsen mengangkat sedikit tangannya untuk menyentuh pipi Viona, tapi kemudian menariknya kembali. "Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, kamu tinggal bilang saja padaku."
Viona mengangguk kecil, jantungnya kembali berdebar akibat perlakuan hangat Arsen. Namun kali ini dia tidak ingin tersentuh dengan sikap hangat yang ditunjukkan oleh pria itu.
"Aku akan kembali ke meja makan sekarang," tanpa menunggu jawaban dari Arsen, Viona sudah melangkah lebih dulu meninggalkan depan toilet.
Arsen menghela napas panjang sambil menatap kepergian Viona yang berjalan dengan langkah cepat. Dia menyadari bahwa ada yang berbeda dari sikap Viona. Gadis itu seperti sedang berusaha menghindar darinya.
-
-
-
Lampu kamar hanya menyala redup, menerangi sebagian tempat tidur tempat Viona sedang berbaring telentang, matanya menatap langit-langit tanpa fokus.
Pikirannya terus berputar pada kejadian tadi siang, mengingat kedekatan Arsen dan Olivia. Sentuhan tangan wanita itu pada lengan Arsen, senyum hangat mereka saat saling melempar senyum, dan bagaimana hatinya terasa seperti tertusuk duri setiap kali melihatnya, semua itu terasa begitu menyiksa.
Padahal seharusnya tidak ada yang salah. Arsen hanya paman dari Farel, tunangannya sendiri. Tapi mengapa dia harus merasa tersiksa seperti ini.
"Apa yang salah denganku?" bisiknya pelan, suaranya terdengar hampa di kamar yang sunyi.
Viona bangun dan duduk di atas tempat tidur, melihat jam weker yang baru menunjukkan pukul delapan malam. Setelah pulang dari restoran tadi siang dia terus mengabaikan Arsen, bahkan dia tidak tahu pria itu sudah pulang dari kantor atau belum karena tadi sore dia pulang dengan mobil jemputan khusus bersama dengan Dinda.
Setelah beberapa saat merenung, dia akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar. Pandangannya langsung tertuju pada kamar Arsen yang ada di ujung begitu dia keluar, pintu kamar itu tertutup rapat tanpa dia tahu penghuni kamar itu sudah pulang atau belum.
Viona melangkah pelan menuruni tangga. Saat dia hampir mencapai dasar tangga, suara tawa lembut Tante Saskia dan nada bicara yang tenang dari Kakek Danu terdengar jelas dari arah ruang depan.
"Viona, belum tidur sayang?" tanya Tante Saskia dengan senyum lembut saat melihat Viona mendekat.
"Belum bisa tidur, Tan." jawab Viona, lalu ikut duduk disamping Saskia. "Oya, kok masih sepi, apa yang lain belum pada pulang?"
"Paman Bima dan Farel sebentar lagi juga pasti pulang," jawab Saskia. "Kalau paman Arsen... memang tadi kamu tidak ketemu dengannya saat mau pulang?"
Viona menggeleng pelan, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang saat ini tengah dia rasakan, "Tidak, Tan. Tadi pas mau pulang, temanku sudah nungguin jadi kami langsung pulang aja,"
Saskia mengangguk paham, "Ya sudah tidak apa-apa, paman Arsen juga sebentar lagi pasti pulang,"
"Bagaimana dengan pekerjaan kamu, Nak?" tanya kakek Danu. "Paman Arsen memperlakukan kamu dengan baik kan?"
Viona memaksakan sebuah senyuman diwajahnya, "Iya Kek, paman sangat baik padaku saat dikantor,"
Tuan Danu mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kakek sudah yakin, Arsen pasti bisa menjagamu dengan baik. Kalau ada yang tidak kamu pahami atau mengerti, jangan sungkan untuk bertanya padanya."
"Iya, Kek," angguk Viona.
Ditengah-tengah obrolan mereka, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah. Beberapa saat kemudian suara langkah kaki terdengar mendekati pintu ruang depan yang terbuka lebar, sosok Arsen muncul dengan jas kerja yang sudah terbuka semua kancingnya. Matanya yang tadinya tenang sedikit berbinar saat melihat Viona sedang duduk bersama Saskia dan Kakek Danu.
Viona yang menyadari tatapan itu langsung memalingkan wajahnya kesamping, membuat Arsen mengerutkan sedikit keningnya karena bingung dengan perubahan sikap gadis itu padanya. Wajahnya yang tadinya sedikit bersinar langsung meredup, digantikan oleh rasa khawatir yang jelas terlihat di matanya.
Dia menghela napas pelan sebelum menyapa Ayahnya, "Maaf Yah, baru pulang dari kantor. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Arsen, kamu mau Kakak siapkan makan malam?" tanya Saskia.
"Tidak perlu, Kak, terimakasih. Aku akan langsung naik ke kamarku," jawab Arsen dengan nada lembut tapi tegas.
Saskia tersenyum, "Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat ya,"
Arsen mengangguk, menatap Viona sekali lagi sebelum dia berbalik. Namun gadis itu tetap memalingkan wajahnya, seolah tak mempedulikan keberadaannya disana. Tanpa menunggu lama dia akhirnya melangkah menuju tangga dengan langkah lebar. Saat suara langkah Arsen sudah semakin jauh, Viona baru mau menoleh dan melihat sosok Arsen yang menghilang di balik tembok yang menghubungkan ke ruang tengah.
-
-
Setelah lebih dari satu jam berbincang santai bersama dengan Tante Saskia dan Kakek Danu di ruang depan, Viona mulai merasa sedikit ngantuk.
"Maaf Kakek, Tante, aku ingin pamit dulu ya. Mau istirahat karena besok harus masuk kerja pagi." ucap Viona dengan senyuman lembut.
Kakek Danu mengangguk, "Baiklah Nak, istirahat yang cukup ya. Jangan terlalu memaksakan diri di kantor."
Saskia tersenyum dan mengusap pundak Viona dengan hangat. "Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bilang ya, sayang. Kami semua dirumah ini selalu ada untuk kamu."
Viona mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu berdiri dan melangkah menuju tangga. Awalnya dia ingin menunggu sampai Farel pulang, ingin bercerita sedikit tentang pekerjaannya hari ini di kantor. Tapi rasanya tubuhnya sudah mulai merasa lelah, dan pikirannya juga sudah terlalu banyak dipenuhi oleh berbagai hal sehingga dia memutuskan untuk istirahat saja.
Sebelum tangan Viona sempat menyentuh pegangan pintu, tangan besar dan hangat tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dengan lembut. Dia terkejut dan menoleh dengan cepat, menemukan sosok Arsen berdiri tepat di belakangnya.
"P-paman... apa yang Paman lak---"
Kalimat itu menggantung di udara saat Arsen tiba-tiba menariknya menuju kamar pria itu. Arsen membuka pintu dengan satu tangan dan menarik Viona untuk masuk. Setelah menutup pintu kamar, dia mendorong pelan tubuh Viona ke tembok, menguncinya dengan kedua tangan yang dia tempelkan ditembok disisi gadis itu.
Viona terkejut, tubuhnya mendadak kaku, matanya yang tadinya sudah mengantuk kini kembali terbuka lebar-lebar, "P-Paman... apa-apaan ini?"
"Aku tidak bisa lagi diam, Viona." Arsen menghela napas pelan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Viona. Suaranya terdengar dalam dan penuh emosi yang tersembunyi. "Apa yang salah denganku? Kenapa kamu menghindariku?"
"P-paman, sepertinya Paman salah paham. Aku hanya merasa lelah saja hari ini, tidak bermaksud untuk menghindari Paman," jawab Viona dengan sedikit terbata karena rasa gugup dan panik yang tengah menguasai dirinya.
Arsen menggeleng pelan, matanya yang dalam seolah bisa melihat kebohongan kecil yang keluar dari mulut Viona. Dia sedikit menurunkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan wajah gadis itu, membuat kedekatan mereka semakin terasa jelas.
"Jangan bohong padaku, Viona," ucapnya dengan suara yang lebih lembut namun tetap tegas. "Sejak di restoran tadi siang kamu sudah berbeda. Kamu tidak lagi melihatku dengan cara seperti sebelumnya, bahkan ketika aku mencoba menghampirimu, kamu selalu berpaling atau mencari alasan untuk pergi."
Dia menggeser salah satu tangannya dari tembok, merapikan rambut Viona yang menutupi sedikit wajahnya kebelakang telinga. Sentuhan itu membuat Viona membeku, jantungnya berdebar kencang di dalam sana.
"Viona, apa kamu sudah tidur sayang? Aku punya hadiah nih untuk kamu."
Suara keras Farel seperti kilat yang menerangi kegelapan, membuat Viona yang berada di dalam kamar Arsen langsung membeku. Dia mengangkat cepat pandangannya dan menatap Arsen dengan tatapan memohon.
"Paman aku mohon... aku harus keluar sekarang, Farel sedang mencariku,"
Sebelum Viona sempat bergerak, wajah Arsen sudah lebih dulu mendekat dengan cepat, menutup bibir Viona dengan ciuman lembut. Membuat kedua mata Viona terbuka lebar saat melihat wajah Arsen yang begitu dekat dihadapannya.
-
-
-
Bersambung...
panjang banget perjuangan cinta mereka..
ayolah Lisa, datang lah ke rumah farel dan beberkan tingkah laku nya farel dan tentang kasus nindi...