Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah seperti kapal pecah
Ceklek.
Laras mendorong pintu kayu yang terasa berat. Harapannya untuk merebahkan diri sirna seketika. Aroma apek menyambutnya. Rumah itu berantakan, seolah-olah baru saja diterjang badai. Di halaman tadi, daun-daun kering berguguran tanpa ada yang peduli untuk menyapu.
Empat hari Laras pergi ke Lombok dan selama itu pula rumah ini kehilangan nyawanya. Laras menghela napas panjang. Padahal, rumah ini adalah kado istimewa dari ayahnya saat ulang tahunnya yang ke-25 dulu. Melihat aset berharganya tidak terawat seperti ini, hatinya terasa mencelos.
"Hah..." Laras membuang napas kasar.
Ia menjatuhkan tubuh di sofa ruang tengah, namun sesuatu yang keras mengganjal bokongnya. Laras meraba benda itu. Sebuah botol parfum isi ulang berukuran kecil.
Parfum siapa? batinnya heran. Isinya tinggal sedikit, aromanya manis bukan aroma maskulin milik Arga. Punya Tiara, mungkin? pikirnya merujuk pada adik bungsu Arga. Laras hanya mengangkat bahu, memasukkan botol itu ke dalam tas. Mungkin Tiara tertinggal saat berkunjung tempo hari.
Laras menyeret kopernya masuk ke kamar dengan sisa tenaga. Niatnya untuk tidur harus ditunda. Ia tidak tahan melihat rumah pemberian ayahnya ini kotor, meski Arga yang tinggal di sini, Laras merasa punya tanggung jawab moral untuk menjaganya tetap apik.
Saat menuju dapur untuk mengambil sapu, langkahnya terhenti di depan wastafel. Tumpukan piring kotor menggunung, sisa makanan yang mengering menimbulkan bau tak sedap.
"Empat hari ku tinggal, kenapa bisa sekacau ini? Mas Arga makan dengan siapa saja sampai piringnya sebanyak ini?" gumam Laras, dadanya berdenyut karena kesal.
Satu setengah jam berikutnya ia habiskan dengan berpeluh. Laras menyapu tiap sudut, mengepel lantai hingga mengkilap dan menyikat piring-piring berminyak itu. Saat jam menunjukkan pukul setengah lima sore, rumah itu akhirnya kembali bernapas. Harum karbol menggantikan bau apek yang tadi mencekik.
"Makan malam beli saja. Koper urusan nanti." bisiknya pada diri sendiri. Laras menjatuhkan tubuh ke ranjang. Dalam hitungan detik, ia terlelap tanpa sempat membersihkan diri.
**
Brummm... Brummm...
Suara mesin mobil Arga memecah keheningan sore. Arga melirik sekilas ke arah halaman yang masih dipenuhi dedaunan kering. "Dasar malas. Beginilah kalau Laras tidak ada." gerutunya. Ia seolah lupa bahwa ia menumpang di rumah milik istrinya sendiri.
Namun, saat melangkah masuk, ia disambut aroma lantai yang segar. "Oh, dia sudah pulang ternyata." gumam Arga. Hanya Laras yang memiliki obsesi berlebihan terhadap kebersihan di rumah ini.
Arga melangkah ke kamar, mendapati Laras yang masih mengenakan daster rumahan, tertidur lelap. Ia menatap wajah istrinya. Dalam diam, ia mengakui bahwa tanpa riasan pun, Laras tetap terlihat cantik alami. Sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di bibirnya.
Arga mengusap rambut Laras, lalu jemarinya turun ke pipi. Laras tersentak, matanya terbuka lebar karena kaget.
"Eh... Mas Arga? Sudah pulang?" tanya Laras dengan suara serak.
"Memangnya kamu tidak lihat aku di depanmu ini?" sahut Arga, nada bicaranya langsung naik satu oktaf. "Sudah jam lima lewat. Kalau ini bukan aku, berarti hantu yang sedang kamu ajak bicara."
Laras menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kesadaran. "Namanya juga baru bangun, Mas. Kenapa harus sewot? Aku capek sekali. Pulang-pulang harus mengurus rumah yang seperti kapal pecah. Piring menumpuk, sampah di mana-mana. Baru ditinggal empat hari sudah jadi gudang."
"Salahmu sendiri pergi sampai empat hari." balas Arga tak mau kalah. "Kamu itu istri, punya tanggung jawab. Memangnya kamu pikir aku yang harus bersih-bersih? Terus gunamu jadi istri untuk apa?"
Dada Laras sesak. Ia teringat rumah ini adalah milik pemberian ayahnya, namun Arga bersikap seolah Laras adalah pelayan di sini. "Lantas gunamu jadi suami apa, Mas? Uang belanja saja jarang kasih. Kalau tidak diminta, tidak akan keluar. Siapa yang tidak punya tanggung jawab di sini?"
Arga mendengus, merasa tersudut. "Aku baru pulang kerja, Laras! Kamu malah cari masalah. Bukannya disambut dengan baik, malah dimarahi."
Laras memilih diam. Berdebat dengan Arga hanya akan menguras sisa energinya. Ia beranjak mengambil handuk, berniat mandi agar pikirannya lebih dingin.
"Mau ke mana?" tanya Arga, tiba-tiba nadanya melunak dengan senyum aneh yang mulai terukir.
"Mandilah. Memangnya mau ke mana lagi?"
"Ikut, dong. Sudah lama kita tidak mandi bareng. Mas kangen kamu, Laras." Arga mulai mengeluarkan jurus rayuannya.
Laras tertegun. Benar, hubungan mereka mendingin belakangan ini. Jangan sampai dia mencari kesenangan di luar hanya karena aku abai, batin Laras bimbang. Kewajiban tetaplah kewajiban.
"Ya sudah, ayo. Tapi jangan lama-lama, aku lelah," ucap Laras akhirnya.
"Yes." Arga tersenyum penuh kemenangan. Mereka pun melangkah masuk ke kamar mandi bersama.
**
Satu jam kemudian, Laras baru saja menyelesaikan salat Magrib. Di atas ranjang, Arga masih asyik dengan ponselnya sambil berbaring.
"Sholat, Mas. Belakangan ini kamu jarang sekali sholat. Sudah Magrib malah main ponsel." tegur Laras.
"Tadi lupa mandi wajib." sahut Arga santai, matanya tidak beralih dari layar.
Laras hanya bisa menggeleng. Ia tahu, percuma memaksa orang yang memang hatinya tidak tergerak. Ia melirik Arga yang tampak tenang, lalu berpikir, Mungkin urusan keluarganya sudah beres. Tiara tidak menagih uang kuliah lagi, cicilan mobil mungkin sudah aman.
Kruyuuukk.
Perut Laras meronta. Tadi siang ia hanya makan sedikit di pesawat menuju Jakarta.
"Lapar?" tanya Arga sambil meletakkan ponsel di nakas.
"Iya, Mas. Makan di luar, yuk? Aku tidak sempat masak."
"Memangnya tidak bawa oleh-oleh makanan dari Lombok? Makan itu saja dulu buat ganjal perut. Aku malas keluar." keluh Arga, kembali ke sifat aslinya yang egois.
"Aku belum bongkar koper, Mas. Lagipula isinya cuma kue kering. Ayolah, temani istrimu ini."
Arga terdiam sejenak. Ia punya rencana lain. Besok adalah jatuh tempo cicilan bank dan mobil Tiara. Ia butuh Laras tetap dalam suasana hati yang baik agar mau membantu keuangannya lagi.
"Ya sudahlah, ayo. Demi istri tercinta, apa sih yang tidak." ucap Arga dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Mau makan apa?"
"Bebek bakar di Kemang keknya enak deh, Mas.”
"Oke, ayo berangkat. " Arga tersenyum lebar.
Mereka pun membelah jalanan menuju warung bebek bakar favorit mereka. Arga menyetir dengan pikiran yang sedang menyusun strategi, bagaimana cara merayu Laras agar mau menanggung tunggakan keluarganya lagi. Ia harus pandai-pandai mengambil hati Laras, agar tanggungan keluarganya tetap Laras yang biayai dan uangnya sendiri akan tetap aman. Uangnya bisa digunakan untuk jalan-jalan bersama Angel termasuk untuk check-in hotel nanti.
Dalam hati Arga bersorak senang, jika Laras kembali membiayai keluarganya dia tidak akan pusing lagi dan tidak akan mengeluarkan uangnya.