Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19 Derajat
Happy reading
Hawa menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang bertalu tak beraturan. Ia harus mengumpulkan keberanian sebelum kakinya menginjak lantai marmer ruang utama dan menghadapi kemungkinan terburuk yang menanti di sana.
Ada rasa takut yang menyelinap saat bayangan wajah sang bunda terlintas di benak.
Hawa yakin, Gistara akan menghujaninya dengan deretan tanya--tentang siapa yang memengaruhinya dan mengapa penampilannya berubah drastis; membalut tubuh dengan gamis dan menyembunyikan keindahan rikmanya di balik selembar pasmina.
"Fiuh..." Hawa sedikit bernapas lega saat mendapati hanya ada Hanum dan Damar di ruang utama, bukan ayah apalagi bundanya. Setidaknya, ia punya sedikit jeda sebelum menghadapi tatapan penuh selidik, atau bahkan kemurkaan.
"Widih, dari mana, Dek? Tumben cantik banget? Habis ikut kajian, ya?" cecar Hanum begitu menyadari kedatangan Hawa. Matanya berbinar ketika melihat penampilan adiknya yang teramat berbeda. Menutup aurat.
Di sisi Hanum, Damar tampak mematung. Dadanya bergemuruh hebat. Ada binar kekaguman yang tak mampu ia ungkap lewat kata, sebuah perasaan yang terpaksa ia redam mati-matian demi memenuhi janjinya pada Hawa--janji yang mengharuskan hatinya berpaling pada gadis bergelar 'calon istri'.
"Iya, Kak. Kajian di Malioboro sekaligus ingin belajar menutup aurat," jawab Hawa diselipi canda. Coba menyematkan sebaris senyum, meski kegaduhan di dalam dadanya belum mereda. Rasa takut yang dirasa masih enggan pergi dan malah semakin menjadi.
"Ingin belajar menutup aurat atau pengaruh dari laki-laki bernama Rama?"
Suara dingin itu datang dari arah tangga.
Gistara melangkah turun dengan keanggunan yang mengintimidasi. Tatapannya tajam, langsung menghujam ke arah pasmina yang dikenakan Hawa.
Sebenarnya, Gistara tidak membenci selembar kain yang menutupi rikma putrinya. Baginya, jilbab adalah identitas yang mulia. Namun, ia mencium aroma pengaruh orang lain dalam perubahan mendadak sang putri.
Siapa lagi jika bukan Rama?
Ya, ia curiga Hawa melakukannya hanya demi Rama--laki-laki yang dalam pandangannya berada di kasta rendah. Jelas tidak setara dengan derajat keluarga mereka.
Bagi Gistara, derajat tetaplah tembok tinggi yang tak boleh dilompati begitu saja oleh perasaan dangkal dan mungkin hanya fana.
"Bunda..." Hawa berucap lirih. Keberanian yang tadi ia kumpulkan seolah luruh di bawah tatapan sang bunda yang menuntut penjelasan.
"Bunda sudah bilang, jaga batasan! Jangan sampai kamu mencintai pria yang tidak sederajat dengan kita, apalagi hanya seorang pelayan. Terlebih jika itu sampai membuatmu terpaksa mengenakan jilbab saat hatimu sendiri belum siap."
Nada suara Gistara sedikit merendah di akhir kalimat. Ia menatap Hawa dengan tatapan yang sulit diartikan--campuran antara ketegasan dan kekhawatiran seorang ibu.
Gistara berharap Hawa mengerti bahwa petuah yang ia tuturkan semata-mata demi masa depannya, agar putri bungsunya itu tidak salah langkah dalam memilih sandaran hidup.
Hawa sejenak terdiam. Dadanya sesak mendengar kata 'pelayan' disematkan pada sosok Rama yang begitu ia hormati. Bagi bundanya, derajat adalah segalanya. Namun bagi Hawa, Rama adalah sosok yang justru membantunya menemukan jalan pulang.
"Bunda, Hawa udah pernah bilang, kan... Rama bukan pelayan? Dia mahasiswa fakultas humaniora yang bekerja sambilan. Harusnya Bunda bangga pada pemuda seperti Rama. Dia mandiri, tidak hanya bisa membebani orang tuanya," ujar Hawa dengan suara yang bergetar namun sarat penekanan.
Ia meraup udara dalam-dalam, mencoba meredam gejolak amarah yang hampir meledak di dadanya.
Menjeda sejenak ucapannya, menatap lekat manik mata Gistara yang masih tampak keras.
"Bunda, Hawa menutup aurat karena ingin belajar menjadi hamba yang taat pada Tuhan-nya. Apa keinginan untuk patuh pada Sang Pencipta itu salah di mata Bunda?"
Hening menyergap ruang utama. Hanum tampak terpaku, sementara Damar hanya bisa menunduk dalam karena terlilit sesal sekaligus rasa bersalah yang mencekik. Mestinya, ia tidak memberi tahu Gistara mengenai kedekatan Hawa dengan Rama.
Damar mengutuk dirinya sendiri dalam benak.
Hanya karena secuil rasa cemburu yang gagal ia redam, ia justru menjadi pemantik keretakan hubungan antara Hawa dan bundanya.
Penyesalan itu kini menghimpit dada, jauh lebih sesak daripada kenyataan bahwa ia harus melepaskan Hawa.
Gistara terdiam, tak menyangka putri bungsunya yang biasa penurut kini begitu berani melontarkan argumen bernada sarkas. Ada kilat kemarahan di matanya yang kian terlihat jelas.
"Berani kamu bicara begitu pada Bunda?" Gistara berbisik pelan, namun suaranya tetap terdengar tajam di telinga Hawa. Ia merasa kewibawaannya sebagai orang tua sedang diuji di hadapan orang lain.
Hawa tidak menunduk. Ia menatap dalam manik mata bundanya, seolah ingin menunjukkan bahwa jilbab di kepalanya bukan sekadar kain, melainkan wujud keteguhan dalam menentukan jalan hidup.
"Hawa hanya ingin jujur, Bun. Bukan ingin membangkang," sahut Hawa lirih namun tegas.
Setelah mengucap kalimat itu, Hawa berbalik dan berlalu pergi. Ia meninggalkan ruangan yang kini menguarkan atmosfer panas, pengap, dan menciptakan sesak yang menghimpit dada.
Saat ini, ia hanya ingin menemukan ketenangan di dalam kamarnya; mendinginkan hati sekaligus membungkam keriuhan yang berkecamuk di ruang pikir.
Gistara membuang napas kasar, mengepalkan tangan kuat-kuat, lantas mengalihkan atensinya pada Damar.
"Damar," panggilnya pelan, mencoba menekan amarah yang hampir meluap. "Antar Bunda menemui laki-laki itu! Bunda tidak ingin hubungannya dengan Hawa semakin jauh."
Sesaat, Damar bergeming. Ia sedang memantapkan hati untuk berdiri di sisi Hawa sebagai sahabat, bukan lagi sebagai lelaki yang mengedepankan ego dan kecemburuan.
"Maaf, Bunda... Damar tidak bisa. Itu bukan ranah Damar," jawabnya dengan suara rendah, tanpa menanggalkan sikap hormat. "Dan Damar setuju dengan semua yang dikatakan Hawa. Rama bukan sekadar pelayan; dia mahasiswa fakultas humaniora yang sedang berjuang mandiri."
Damar menjeda kalimatnya, menghela napas panjang sebelum kembali bersuara untuk melepaskan beban di pundaknya. "Sekali lagi, Damar minta maaf karena pernah menyampaikan informasi yang kurang akurat. Mengenai keputusan Hawa untuk menutup aurat, Damar yakin sepenuhnya bahwa itu adalah pilihannya sendiri--sebentuk ikhtiar tulus untuk memperbaiki diri."
Perkataan Damar kian membuat Gistara dijejali amarah. Ia memutuskan untuk berlalu pergi, sebelum amarahnya kian menjadi dan mengalahkan akal sehat.
.
.
Hawa mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, lalu merebahkan tubuh dan menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal. Ia menumpahkan tangis yang sedari tadi tertahan di balik ketegarannya.
Pertahanan yang ia bangun di ruang utama tadi kini runtuh, luruh bersama air mata yang mengalir tanpa suara, namun terasa begitu menyesakkan.
"Allah..." bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Ia mengadukan segala sesak dan perih yang ia rasa pada Zat Yang Maha Kasih.
Di kamar yang sunyi itu, Hawa menyadari bahwa jalan menuju cahaya memang tak selamanya bertabur bunga; terkadang ada duri tajam yang harus ia lalui. Bahkan duri itu adalah orang yang teramat dihormati sekaligus disayang--Bunda dan mungkin... Ayahnya.
...🌹🌹🌹...
Jika dipatahkan oleh manusia, maka bangkitlah karena Allah. Jika dunia ini membuatmu berputus asa, maka yakinlah Allah selalu bersama hamba-Nya.
La Tahzan, Innallaha Ma'ana.
🍁🍁🍁
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen