NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bridge - CH 30 : ISENG

Suara sapu lidi yang bergesekan dengan lantai semen kasar mendominasi keheningan pagi di pekarangan rumah tua bercat krem tersebut.

"Hatchi! Ya ampun, ini debu apa sisa-sisa peradaban purba sih?!"

Lintang bersin untuk yang ketujuh kalinya. Gadis Gen Z yang biasanya memegang tablet kasir yang mulus itu kini harus puas memegang gagang sapu ijuk yang ujungnya sudah agak gundul. Rambutnya diikat asal-asalan menjadi cepol tinggi, sementara hidungnya ditutupi masker medis yang dia temukan di laci Si Putih.

Di sudut lain ruang tamu, Bara sedang berdiri di atas kursi kayu, mengelap kaca jendela nako yang buram oleh debu dan sarang laba-laba. Pemuda itu hanya mengenakan kaus oblong hitam yang sudah basah oleh keringat, menampilkan otot lengannya yang terbentuk berkat rutinitas mengangkat karung tepung 25 kilogram setiap hari.

"Jangan banyak ngeluh lu, Lintang. Nyapu yang bener, sampe ke kolong-kolong kursi itu. Kalo masih ada debu sebutir aja, gue potong gaji lu lima puluh ribu," ancam Bara tanpa menoleh, tangannya sibuk menggosok kaca menggunakan kain lap dan cairan pembersih.

"Bos, lu sadar nggak sih ini eksploitasi karyawan di luar jam kerja?!" sungut Lintang sambil memukul-mukul bantalan kursi rotan yang langsung menerbangkan awan debu tebal. "Di kontrak kerja gue, job desc-nya kasir sama admin medsos, bukan cleaning service lintas kabupaten!"

"Lu tadi di mobil tidur mangap, ngabisin jatah snack, sekarang bantuin nyapu dikit aja bawel. Anggap aja ini team building. Daripada lu gue suruh nguras sumur di belakang bareng Mang Ojak," balas Bara santai, melompat turun dari kursi.

Di halaman belakang, Mang Ojak yang sedang asyik membabat rumput liar menggunakan sabit hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar perdebatan dua anak muda itu.

Mereka sudah tiba di desa sejak dua jam yang lalu. Begitu mesin Espass dimatikan, Bara langsung berubah mode menjadi mandor proyek. Tas ibunya dibawakan ke dalam kamar, ibunya disuruh duduk manis di kursi malas, dan dua karyawannya langsung dipersenjatai dengan sapu, kain pel, dan kemoceng.

Satu jam berlalu dengan penuh peluh, omelan, dan debu yang berterbangan. Namun, rumah tua yang tadinya pengap dan kusam itu kini mulai terlihat hidup kembali. Lantainya sudah dipel bersih dengan karbol wangi pinus, kaca jendelanya bening, dan rumput liar di pekarangan sudah rapi.

"Udah, udah... Berhenti dulu kerjanya. Ayo pada cuci tangan, terus ke dapur. Ibu udah selesai masak nih."

Suara lembut Ibu Bara dari arah ruang tengah seketika menghentikan semua aktivitas fisik yang menyiksa itu. Lintang langsung melempar sapunya ke sudut ruangan dengan mata berbinar-binar, melesat ke arah kamar mandi untuk cuci tangan. Mang Ojak menyusul dari belakang sambil mengusap peluh di dahinya menggunakan handuk kecil.

Di meja makan kayu yang sederhana, asap mengepul hangat dari mangkuk keramik besar berisi sayur lodeh yang kuahnya kekuningan dan kaya akan bumbu. Di sebelahnya, terhidang sepiring penuh ikan asin peda yang digoreng garing, tempe mendoan panas, dan cobek tanah liat berisi sambal terasi merah merona.

"Wah... gila, ini sih fine dining versi kearifan lokal namanya!" puji Lintang heboh, meneteskan air liur melihat hidangan tersebut.

"Ayo duduk, Neng Lintang, Mang Ojak. Dimakan yang banyak ya, buat ganti tenaga habis bersih-bersih rumah Ibu," ucap ibunya sambil menyendokkan nasi hangat ke piring mereka masing-masing.

Keempat orang itu pun makan dengan lahap. Hanya terdengar suara dentingan sendok beradu dengan piring dan desisan kepedasan dari mulut Lintang yang terlalu rakus mencocol sambal terasi.

"Masakan Ibuk teh emang juara dunia! Di ruko mah mana pernah Abah makan seenak ini, yang ada makan roti sisaan yang ujungnya gosong," puji Mang Ojak sambil mengunyah ikan asinnya dengan nikmat.

Bara mendengus. "Jangan fitnah lu, Mang. Roti gue pake butter premium ya. Lagian lu ngirit uang makan kan buat dikirim ke kampung."

Ibu Bara hanya tertawa kecil melihat interaksi mereka. Suasana makan siang itu terasa begitu hangat dan kekeluargaan. Bara yang biasanya makan terburu-buru sambil mengecek tablet laporan keuangan, kini makan dengan pelan, benar-benar menikmati momen kebersamaan ini.

Setelah perut mereka terisi penuh, suasana berubah menjadi lebih santai. Mereka duduk-duduk di ruang tengah sambil menikmati teh hangat buatan ibu Bara. Angin sepoi-sepoi dari jendela yang terbuka membawa aroma tanah dan daun bambu.

"Desa ini teh masih asri pisan ya, Buk. Udaranya seger, beda jauh sama di Kota X yang isinya asap knalpot mulu," celetuk Mang Ojak, memijat pelan pundaknya yang pegal.

"Iya, Mang. Di sini mah masih banyak hutan sama sawah. Namanya juga plosok desa," jawab Ibu Bara sambil tersenyum. Namun, senyum wanita paruh baya itu perlahan memudar, tergantikan oleh raut wajah yang sedikit lebih serius. Tatapannya beralih menatap Lintang dan Mang Ojak secara bergantian.

"Nanti kalau kalian mau jalan-jalan sore nyari udara seger, boleh aja," lanjut ibunya pelan. "Tapi inget pesan Ibu ya. Kalian boleh keliling sawah atau sampai ke batas jembatan gantung. Tapi jangan pernah sekali-kali main ke arah utara, yang ngelewatin batas hutan bambu kuning."

Lintang yang sedang asyik meminum tehnya langsung menghentikan gerakannya. "Hutan bambu kuning? Emangnya ada apa di sana, Bu? Ada sarang ular kah?" tanyanya penasaran.

Ibu Bara menggeleng pelan, menurunkan suaranya. "Di ujung hutan bambu itu, agak masuk ke arah bukit, ada goa batu yang ketutup akar beringin tua. Orang sini nyebutnya Goa Suro. Tempat itu... larangan desa."

Mang Ojak langsung bergidik ngeri, merapatkan duduknya. "Larangan kumaha, Buk? Tempat keramat?"

"Sejak Ibu masih kecil, nggak ada warga desa yang berani dekat-dekat ke sana. Konon katanya, dulu waktu zaman penjajahan, banyak warga desa yang lari sembunyi ke dalam goa itu buat berlindung," suara ibunya mengalir pelan, membawa nuansa mistis yang mendadak membuat suhu ruangan terasa turun dua derajat. "Tapi... nggak ada satupun dari mereka yang pernah keluar lagi. Hilang tanpa jejak. Sesepuh desa bilang, Goa Suro itu 'mulut' bumi yang minta tumbal. Siapapun orang luar yang masuk ke sana, pasti bakal ngelihat hal-hal yang nggak seharusnya dilihat, dan susah buat nemuin jalan pulangnya."

Lintang menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduk di lengannya meremang. Gadis yang biasanya tak takut melawan preman itu memang punya kelemahan fatal terhadap cerita mistis lokal.

"A-ah, masa sih, Bu? Mitos aja kali itu mah," kekeh Lintang canggung, mencoba mencairkan suasana.

"Mitos apaan," potong Bara tiba-tiba, meletakkan cangkir tehnya dengan sedikit keras. Pemuda itu bersedekap dada, wajah datarnya kembali muncul. "Itu cuma akal-akalan orang tua zaman dulu biar anak-anak kecil nggak main kejauhan sampai masuk hutan. Goa batu di bukit itu strukturnya rapuh, banyak hewan buasnya, wajar kalau orang tua bikin cerita hantu biar pada takut ke sana. Nggak usah dibikin creepy."

Sang tiran kapitalis memang tidak pernah percaya pada hal-hal gaib yang tidak bisa dikalkulasi dengan angka dan logika. Baginya, satu-satunya hantu yang menakutkan adalah tagihan bahan baku yang membengkak.

Ibu Bara hanya tersenyum maklum melihat reaksi skeptis anak laki-lakinya. "Ya sudah, pokoknya Ibu udah ngingetin. Kalian mainnya yang aman-aman aja di area desa."

Matahari mulai condong ke barat. Pukul empat sore, semburat cahaya keemasan atau golden hour mulai menyelimuti pedesaan tersebut. Udaranya terasa sangat sejuk dan segar, jauh dari hiruk pikuk klakson kendaraan kota.

Setelah memastikan ibunya tidur siang, Bara akhirnya menyerah pada rengekan Lintang yang ingin hunting foto untuk update Instagram Story.

"Cepetan lu, Lintang. Jam lima sore kita udah harus balik ke rumah. Gue nggak mau ninggalin Ibu lama-lama," gerutu Bara yang berjalan dengan langkah lebar menyusuri jalan setapak tanah di pinggiran sawah. Dia hanya memakai celana pendek selutut dan kaus oblong.

"Bawel ih si Bos. Santai dikit napa, kita kan lagi healing," balas Lintang yang sibuk mengarahkan kamera ponselnya ke arah pemandangan sawah yang teraseringnya sangat rapi. "Mang Ojak! Sini Mang, pose bentar di depan gubuk itu, Lintang fotoin masukin feed!"

"Siap, Neng! Gaya abg zaman now kumaha nih?" Mang Ojak dengan semangat berpose sambil mengangkat jari membentuk 'peace', terlihat sangat kontras dengan latar belakang kerbau yang sedang membajak sawah.

Mereka bertiga berjalan semakin jauh, menikmati pemandangan alam dan udara bersih yang langka. Lintang yang terlalu asyik memotret capung dan burung-burung kecil tak sadar terus berjalan ke arah utara, menjauhi area persawahan dan mendekati rimbunnya pepohonan yang mulai rapat.

"Lintang, udah. Balik arah. Ini udah dekat batas hutan," seru Bara dari belakang, insting waspadanya mulai menyala saat melihat hamparan tanaman padi mulai digantikan oleh rumpun bambu yang menjulang tinggi menutupi cahaya matahari.

"Bentar, Bos! Ini ada spot estetik banget sumpah! Cahayanya nembus dari sela-sela bambu kuning, cakep parah buat reels!" seru Lintang bersemangat, mengabaikan peringatan Bara dan melangkah masuk ke sela-sela rumpun bambu tersebut.

Bara berdecak kesal. "Ck, batu banget dibilangin tuh anak. Mang, tunggu sini. Gue seret dia balik."

Bara menyusul masuk ke dalam area hutan bambu kuning itu. Udara di dalam sana mendadak terasa jauh lebih dingin dan lembab. Gesekan antara batang bambu yang tertiup angin sore menciptakan suara derit panjang yang menyerupai rintihan pelan.

"Lintang! Udah woy, balik!" panggil Bara agak keras.

"Mas Bara! Sini cepetan! Liat deh ada apa di sini!" balas suara Lintang dari jarak beberapa meter di depan, nadanya terdengar takjub sekaligus sedikit gemetar.

Bara mempercepat langkahnya, menerobos beberapa tanaman perdu, dan akhirnya menemukan Lintang sedang berdiri mematung di depan sebuah tebing batu karang yang tertutup oleh akar gantung pohon beringin raksasa.

Di balik sulur-sulur akar sebesar paha orang dewasa itu, menganga sebuah lubang gelap gulita. itu mulut goa. Mulut goa yang sangat besar, seolah siap menelan siapa saja yang berani mendekatinya.

Napas Bara sedikit tertahan.

Goa Suro.

"Estetik gundulmu, ini tempat yang dilarang Ibu tadi siang," desis Bara, menarik lengan kaus Lintang. "Ayo balik."

Namun, Lintang tidak beranjak. Matanya terpaku ke arah kegelapan di dalam mulut goa tersebut. Ponselnya yang tadi dia gunakan untuk merekam video kini perlahan turun dari genggamannya.

"Mas..." bisik Lintang pelan, suaranya terdengar serak. "Lu... lu nyium bau sesuatu nggak?"

Bara mengernyit. Dia menajamkan penciumannya. Dan seketika itu juga, bulu kuduk di tengkuknya berdiri.

Dari dalam kegelapan goa tersebut, berhembus sebuah angin dingin yang sangat tidak wajar. Angin itu membawa aroma yang sangat aneh. Bukan bau kotoran kelelawar, bukan bau tanah basah.

Itu adalah aroma wangi bunga melati yang sangat menyengat, bercampur dengan bau anyir darah yang pekat.

KRESEK.

Sebuah suara langkah kaki yang menyeret dedaunan kering terdengar jelas bergema dari arah dalam goa, memecah keheningan hutan bambu yang mati.

Sesuatu di dalam sana... baru saja menyadari kehadiran mereka berdua.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!