Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Keesokan harinya, Laura bangun dengan perasaan hampa dan nyeri di tubuhnya. Ia harus bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, seolah-olah ia tidur nyenyak sepanjang malam di pelukan suaminya.
Di meja sarapan, Lexi sudah duduk, membaca koran dengan tenang. Pagi ini, ia tampak lebih santai, seperti seseorang yang baru saja memenangkan pertarungan besar.
"Pagi, Laura," sapa Lexi tanpa melihat dari balik koran.
"Pagi, Kak," balas Alex ceria.
Laura hanya mengangguk, mengambil tempat duduknya. Ia berusaha menghindari kontak mata dengan Lexi.
"Laura, bagaimana tidurmu? Semalam kamu terlihat gelisah sebelum tidur," tanya Alex penuh perhatian.
Lexi menurunkan korannya sedikit, hanya matanya yang terlihat, menatap Laura dengan tatapan menuntut.
"Aku... aku tidur nyenyak, Sayang," Laura berbohong. "Hanya mimpi buruk sedikit."
"Mimpi buruk tentang apa?" Lexi bertanya, nadanya kelewat santai, membuat Alex menganggap itu hanya kepedulian seorang kakak ipar.
"Entahlah, aku lupa. Mungkin... hanya stres kehamilan," jawab Laura, menundukkan kepala dan mulai mengaduk-aduk tehnya.
Lexi tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke telinga Alex, tapi mengirimkan getaran dingin ke tulang punggung Laura.
"Kamu harus lebih rileks, Laura. Alex, kamu harus memastikan Laura tidak stres. Atau aku akan mulai khawatir tentang kesehatan keponakanku," ujar Lexi, kini beralih menasihati Alex.
"Tentu saja, Kak," sahut Alex, dengan sayang mengusap lengan Laura. "Aku berjanji akan mengajakmu jalan-jalan sore ini, Sayang. Kita butuh udara segar."
Saat itu, ponsel Alex berdering. Wajahnya langsung berubah tegang setelah mendengar percakapan di telepon.
"Sial!" Alex mengumpat pelan. "Kak, bisakah kamu membantuku sekali lagi?"
"Ada apa, Alex?" tanya Lexi, pura-pura tertarik.
"Perusahaan di Shanghai mendadak memajukan jadwal telekonferensi dengan Tuan Dirga hari ini juga. Aku harus segera bersiap," jelas Alex frustrasi. "Tapi Laura harus jalan-jalan sore. Dokter bilang dia tidak boleh hanya duduk. Bisakah... bisakah kamu menemani Laura, Kak? Aku tahu ini merepotkan, tapi aku khawatir jika dia pergi sendiri, dan aku tidak mau membatalkan janji dengannya."
Lexi memiringkan kepala, ekspresi di wajahnya menunjukkan 'keraguan' yang dibuat-buat, namun matanya bersinar penuh kemenangan.
"Tentu saja, Alex. Keluarga di atas segalanya, bukan? Aku tidak mau calon keponakanku kurang berolahraga hanya karena urusan bisnis yang mendadak," Lexi menyetujui, nadanya terdengar seperti sebuah pengorbanan besar.
Alex menghela napas lega. "Terima kasih banyak, Kak! Kamu memang pahlawanku. Aku janji akan menggantinya nanti, Sayang," katanya pada Laura, mencium kening istrinya dengan terburu-buru. "Nikmati waktu bersama Kak Lexi ya. Aku harus pergi."
Setelah Alex bergegas meninggalkan meja, Laura menatap Lexi dengan tatapan penuh kebencian. Rencana Alex untuk menjauhkan Laura dari pengaruh Lexi justru gagal total, dan sekarang Laura diserahkan langsung ke cengkeraman sang tiran.
"Lihat, Laura?" Lexi berbisik, mendekatkan wajahnya sedikit ke meja. "Aku bahkan tidak perlu memintanya. Suamimu sendiri yang mengizinkan aku mengambil alih tanggung jawabnya. Jangan khawatir, aku akan memastikan jalan-jalan sore kita sangat bermanfaat."
Laura tidak menjawab, hanya mengepalkan tangan di bawah meja, merasa malu dan marah. Ia adalah boneka yang dimainkan oleh nasib dan kakak iparnya sendiri.
Sore harinya, saat Alex sudah berangkat ke pertemuan, Lexi menunggu Laura di teras. Laura datang, mengenakan pakaian olahraga longgar, hatinya berat.
Mereka berjalan bersama menuju taman belakang yang sepi, area tersembunyi dengan gazebo dan kolam ikan.
Saat mereka jauh dari pandangan Bik Minah, Lexi menarik Laura dan mendorongnya dengan lembut ke dinding kolam, wajahnya kini dekat dengan wajah Laura.
"Kenapa kamu berbohong pada Alex tentang tidurmu tadi pagi?" bisik Lexi.
"Aku... aku hanya ingin membuatnya tenang," jawab Laura, suaranya bergetar.
"Tentu saja," Lexi tersenyum sinis. "Kamu istri yang sempurna. Tapi kamu adalah selir yang lebih baik, Laura. Tadi malam, saat kamu memanggil namaku, itu bukan karena kebencian. Itu adalah hasrat."
Laura memalingkan wajah, merasa malu dan marah. "Jangan pernah sebut aku selir! Aku istri sah Alex!"
Lexi terkekeh, tawa rendah yang mengerikan. "Status itu hanya ada di surat-surat. Tapi tubuhmu, gairahmu, benih di rahimmu—itu semua milikku. Aku yang menciptakan kebutuhan biologis yang tak bisa dipenuhi suamimu yang polos itu."
Tiba-tiba, Lexi menunduk dan mencium leher Laura, tepat di tempat ia meninggalkan tanda kepemilikan beberapa hari lalu.
"Hentikan Lexi! Nanti pelayan melihat!" Laura mendorong kakak iparnya itu.
"Jangankan melihat,,bik Minah bahkan sudah tahu kalau anak yang kamu kandung itu adalah anakku,," Kekehnya santai.
"Apa..? Kamu gila ya? Bagaimana mungkin kamu memberitahukan hal memalukan ini pada bik Minah?" Pekik Laura semakin malu.
Lexi mengedikkan kedua bahunya.
Cup!
Lexi kembali melumat bibir Laura yang menurutnya sangat menarik.
Saat Laura mulai terbuai,Lexi justru melepaskannya.
Hal itu membuat Laura kecewa.
"Hari ini, kita akan berjalan. Tapi besok," Lexi menjauhkan wajahnya sedikit, tatapannya membakar. "Besok, aku akan menemanimu saat mandi, untuk memastikan kamu membersihkan dirimu dengan benar. Tentu saja, untuk kebersihan anakku. Aku yakin Alex akan setuju jika aku menjelaskan betapa pentingnya kebersihan bagi ibu hamil." Kekehnya santai.
Laura terkesiap. Menemaninya mandi? Itu adalah batas baru, upaya yang lebih intim dan tidak masuk akal untuk mengontrolnya, yang akan dilakukan di bawah dalih kepedulian yang sah.
"Kamu tidak bisa melakukan itu!" seru Laura, nyaris berteriak.
"Kenapa tidak?" Lexi mengangkat bahu, tampak tidak bersalah. "Alex mempercayaiku, bahkan memintaku menemanimu. Dia tahu aku sangat peduli dengan kondisi keponakanku. Dan setelah kejadian tadi malam, aku harus memastikan kamu tidak terlalu lelah saat mandi, kan?"
"Pokoknya aku tidak setuju Lexi!"
"Aku tidak meminta persetujuan mu sayang,,aku hanya mengatakan kepadamu,agar kamu tidak terkejut saat aku menemanimu mandi," Lexi mengedipkan matanya.
Laura menyadari betapa putus asa posisinya. Setiap upaya Lexi dikemas dalam kepedulian keluarga yang sempurna, membuatnya tidak mungkin untuk membantah tanpa dicurigai Alex. Ia telah menjadi sandera di rumah itu, di bawah pengawasan tiran yang kejam.
"Ayo, Nyonya Alex. Kita mulai jalan sorenya," Lexi melepaskan Laura, memberikan senyum yang dingin. "Dan ingat, jika kamu menolak, aku akan mencari cara lain untuk mengurus kebersihanmu, cara yang mungkin membuat Alex sedikit terkejut."
Laura tidak punya pilihan. Ia berjalan di samping Lexi, merasa seperti boneka yang tali kendalinya ditarik dengan kejam. Penjara emasnya kini semakin sempit dan pengap, dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk melarikan diri.
Bersambung...