Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Americano Tanpa Gula
Pukul 08.45 WIB.
Pagi di kantor Penerbitan Aksara Muda biasanya sepi-sepi menyebelin. Paling Cuma suara mesin fotokopi sama bau pengharum lantai yang terlalu menyengat. Tapi hari ini beda. Kedamaian gue nggak bertahan lama.
Suara langkah sepatu pantofel klik, klik, klik yang kedengarannya angkuh banget mulai terdengar di koridor. Gue baru saja mau naruh tas di kubikel pas sebuah bayangan tinggi tiba-tiba menutupi meja kerja gue. Nggak perlu nengok pun, bulu kuduk gue sudah meremang. Bau parfumnya langsung kecium. Wangi mahal. Dan nyebelin, karena Cuma dia yang pakai parfum kayak gitu di kantor ini.
“Kopi saya, Aruna.”
Suaranya datar, tanpa basa-basi, dan jelas bukan sebuah pertanyaan. Itu perintah mutlak. Gue menarik napas panjang, berusaha menahan tangan gue biar nggak refleks melempar kabel charger ke arah suara itu.
“Pagi juga, Pak Genta. Senang ya lihat Bapak masih sehat walafiat dan masih hobi merintah di detik pertama saya baru napak di kantor,” sahut gue ketus.
Genta. Berkacamata, mukanya bagus. Sayang, orangnya nyebelin setengah mati. Dia Cuma melirik jam tangannya tanpa ekspresi.
“Lima belas menit lagi rapat redaksi. Dan saya belum lihat naskah ‘Lentera di Balik Kabut’ di meja saya. Kamu itu editor atau kura-kura? Lambat sekali,” katanya.
“Lagi saya poles diksinya, Pak. Penulisnya masih muda, butuh bimbingan biar nggak kaku-kaku amat... kayak Bapak,” sahut gue sambil berdiri, menyambar mug hitam milik Genta dengan gerakan kasar.
Gue jalan ke pantry sambil ngomel nggak jelas. Pas lagi nunggu mesin kopi bekerja, gue iseng mengeluarkan HP dari saku rok gue. Begitu lihat notifikasi NovelToon, kesal gue langsung berkurang. Ada pesan baru dari Kaka’s. Gue langsung senyum. Dia bahkan membuat gue lupa kalau kopinya belum jadi. Gue buru-buru membuka pesannya.
Kaka’s: Selamat pagi, Senja. Gue baru baca bab 15 lo tadi subuh. Deskripsi lo soal hujan di situ ngena banget. Lo lagi sedih ya pas nulis itu?
Gue menggigit bibir bawah, menahan tawa yang hampir pecah. Aneh. Orang yang bahkan belum pernah gue temui malah lebih ngerti gue. Gue pun gercep mengetik balasan.
Senja_Sastra: Pagi, Kaka’s. Wah, lo peka banget. Iya nih, gue lagi kesel tingkat dewa sama ‘monster’ di kantor gue.
Senja_Sastra: Dia kayak robot yang nggak punya perasaan. Makanya gue tumpahin semua emosi ke bab itu. Makasih ya udah baca!
“Lama sekali. Kamu lagi bikin kopi atau lagi nanam bijinya dulu?”
Gue terkejut sampai HP gue nyaris jatuh ke lantai. Genta sudah berdiri di ambang pintu pantry, menyender di kusen sambil melipat tangan. Matanya langsung tertuju ke HP gue.
“Eh, ini... sudah jadi!” Gue buru-buru memasukkan HP ke saku dan menyodorkan mug panas itu dengan tangan sedikit gemetar.
Genta menerima kopinya, menyesap sedikit, lalu dahinya berkerut dalam. “Terlalu panas. Dan... kamu pakai gula?”
“Cuma sedikit, Pak. Biar Bapak nggak pahit-pahit amat jadi orang,” jawab gue pelan.
Genta menatap gue tajam, tatapan yang bikin gue nggak nyaman. “Saya bayar kamu buat kerja, bukan buat jadi ahli gizi saya. Lima menit lagi di ruang rapat. Bawa naskahnya, atau saya kasih surat peringatan karena nggak disiplin.”
Begitu Genta balik badan, gue langsung menjulurkan lidah ke arah punggung lebar bos gue itu.
“Dasar robot kaku! Coba aja lo sehangat Kaka’s,” gumam gue kesal sambil mengentakkan kaki Menuju meja kerja.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻