NovelToon NovelToon
Jodoh Ku Mas Kades

Jodoh Ku Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa pedesaan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Prettyies

Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayi Gede

Mario keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat, rambutnya sedikit berantakan.

“Gimana, Rio? Masih sakit?” tanya Anggika mendekat, nada suaranya berubah jadi penuh khawatir.

Mario mencoba tersenyum tipis.

“Udah… mendingan kok.”

Herry langsung menyuruhnya duduk.

“Duduk dulu sini. Biar di bikinin teh tawar hangat sama Emak biar perutnya enakan.”

“Makasih, Pak…” Mario baru saja mau duduk, tiba-tiba wajahnya meringis lagi.

“Aduh… sakit lagi.”

Ia berbalik dan kembali lari ke kamar mandi.

Anggika memijat pelipisnya sendiri.

“Ya Allah…”

Beberapa menit kemudian Mario keluar lagi, lalu masuk lagi. Sampai hampir sepuluh kali bolak-balik.

Kulsum menggeleng sambil berkacak pinggang.

“Tuh kan, Gi. Karena ulah kamu kebanyakan sambal, jadi diare begini.”

“Lho kok jadi salah aku, Bu? Dia sendiri yang nambah!” balas Anggika, tapi suaranya melemah karena merasa bersalah.

Herry terlihat makin cemas.

“Kalau begini terus dia nggak bisa pulang. Bisa pingsan itu anak.”

Pintu kamar mandi terbuka lagi. Mario keluar dengan langkah sempoyongan, wajahnya makin pucat.

“Rio…” Anggika langsung menahan lengannya. “Kita ke puskesmas aja, yuk. Aku anterin.”

Mario menggeleng pelan walau tubuhnya lemas.

“Aku nggak apa-apa… cuma salah makan.”

Kulsum menatap tajam ke arah Anggika.

“Udah, bawa aja ke rumah sakit. Kamu harus tanggung jawab urusin Mario.”

Anggika makin panik.

“Iya, iya… ayo Rio, jangan keras kepala.”

Herry datang membawa segelas teh tawar hangat.

“Nih diminum dulu. Pelan-pelan.”

Mario menerima gelas dengan tangan sedikit gemetar.

“Makasih, Pak…”

Setelah itu ia menelan dua tablet norit yang diberikan Herry.

“Saya beneran nggak apa-apa…” katanya pelan, walau wajahnya pucat pasi dan tubuhnya terlihat lemas.

Anggika menatapnya dengan rasa bersalah bercampur cemas.

“Besok-besok kalau aku ambil sambal banyak, kamu jangan ikut-ikutan lagi… ngerti nggak?”

Mario masih terlihat pucat tapi tetap saja sempat membela diri.

“Lho, bukannya tadi kamu yang nantangin aku makan sambal banyak biar keliatan laki-laki kuat? Sekarang malah bilang aku playing victim,” protesnya pelan sambil memegangi perut.

Anggika mendengus.

“Ya aku cuma bercanda! Mana aku tahu kamu selemah itu?”

“Udah, udah, jangan ribut terus,” potong Kulsum tegas. “Anggi, anterin Mario ke UGD sekarang. Kalau sampai kenapa-kenapa, kamu mau dituntut orang tuanya?”

“Emak, jangan nakut-nakutin dong…” Anggika makin panik.

Herry ikut menyahut, suaranya serius.

“Cepat sana, Gi. Keburu malam. Jangan ditunda-tunda.”

Anggika langsung bergerak cepat.

“Ayo, Rio. Kita ke rumah sakit sekarang.”

Ia mengambil jaket dan helm, lalu memasangkan helm ke kepala Mario dengan tergesa.

“Pelan-pelan, Gi… pusing,” gumam Mario lemas.

Mereka keluar rumah. Anggika menuntun motor Scoopy miliknya.

“Kita pakai motor aku aja. Kalau pakai moge kamu nanti capek, kamu lagi lemes gini,” katanya.

Mario tersenyum tipis walau wajahnya masih pucat.

“Iya, bos… aku nurut.”

“Ayo naik. Pegangan yang kenceng,” ucap Anggika saat motor mulai dinyalakan.

Begitu motor melaju, Mario memeluk Anggika erat dari belakang. Kepalanya bersandar di leher gadis itu.

Dalam hati ia bergumam,

“Rasanya pengin pura-pura sakit terus deh… biar bisa peluk dia seerat ini.”

Anggika merasakan napas hangat di lehernya.

“Rio… kamu jangan pingsan ya. Kalau pingsan aku panik loh.”

“Aku nggak pingsan… cuma lagi menikmati momen,” bisik Mario pelan.

Di rumah, Kulsum masih berdiri di teras dengan wajah cemas.

“Ya Allah, semoga Mario nggak kenapa-kenapa. Mereka kan mau nikah sebentar lagi.”

Herry mengambil ponselnya.

“Cepat telepon Bu Aisyah. Kasih tahu kondisi anaknya. Jangan sampai kita dibilang nutup-nutupin.”

Kulsum mengangguk gelisah.

“Iya, Pak… semoga cuma sakit perut biasa.”

Anggika melirik pria besar yang masih memeluknya erat.

Dalam hati ia menggerutu,

“Badannya segede gaban, tapi kalau sakit manjanya kayak bayi gede.”

Ia menarik napas pendek.

“Mana meluknya kenceng banget… lama-lama aku yang sesak napas.”

Motor berhenti di depan IGD rumah sakit setelah 1 jam perjalanan.

“Ayo turun. Lepasin dulu pelukannya,” kata Anggika tegas.

“Iya… tapi papah ya, Gi. Aku lemes banget,” jawab Mario dengan wajah pucat.

“Iya aku papah, tapi jangan minta gendong. Bisa remuk aku ketiban kamu,” sahut Anggika.

Mario masih sempat tersenyum tipis.

“Kalau kamu di atas, aku di bawah juga nggak apa-apa kok…”

“Mario! Ini lagi sakit, bukan waktunya mikir aneh-aneh,” tegur Anggika.

Ia merangkul lengan Mario dan membawanya masuk ke IGD.

“Suster, tolong… calon suami saya diare setelah makan sangat pedas. Sejak tadi bolak-balik ke kamar mandi,” jelas Anggika cepat.

Perawat segera mendekat dengan kursi roda.

“Baik, Mbak. Kita dudukkan dulu, ya. Mas, silakan duduk.”

Mario menurut, wajahnya terlihat lemas dan berkeringat.

Di dalam ruang pemeriksaan, dokter jaga datang menghampiri.

“Selamat malam. Saya dokter jaga. Keluhannya apa, Mas?” tanya dokter sambil memeriksa tekanan darah.

Mario menjawab pelan,

“Perut mules hebat, Dok. Diare berkali-kali sejak sekitar dua jam lalu. Badan juga terasa lemas.”

“Berapa kali BAB cair?” tanya dokter lagi.

“Kurang lebih sepuluh kali, Dok,” sahut Anggika membantu menjawab.

Dokter mengangguk.

“Ada muntah? Demam? Nyeri perutnya di seluruh bagian atau terpusat?”

“Mual iya, muntah tidak. Nyeri melilit di bagian tengah perut,” jawab Mario.

Dokter mulai memeriksa perutnya dengan palpasi ringan.

“Perut terasa nyeri saat ditekan?”

“Iya, Dok, agak sakit.”

Tekanan darah dan nadi diperiksa.

“Tekanan darah sedikit turun dan nadi agak cepat. Kemungkinan besar ini gastroenteritis akut akibat iritasi makanan pedas berlebihan,” jelas dokter profesional.

Anggika terlihat khawatir.

“Dok, apa perlu dirawat inap?”

Dokter menjelaskan dengan tenang,

“Karena diare sudah cukup sering dan terlihat ada tanda dehidrasi ringan—lemas, nadi meningkat—sebaiknya dirawat inap untuk observasi dan diberikan cairan infus agar tidak kekurangan cairan.”

Mario menoleh ke Anggika.

“Infus ya, Gi…”

“Iya, daripada kamu pingsan di rumah,” jawab Anggika tegas meski wajahnya cemas.

Perawat mulai menyiapkan infus.

“Kita pasang infus untuk rehidrasi, berikan obat anti-diare dan obat pereda nyeri lambung. Mas juga perlu istirahat dan sementara hindari makanan pedas, berminyak, serta minuman berkafein,” lanjut dokter.

Mario menghela napas lemah.

“Baik, Dok.”

Anggika berdiri di samping ranjang, menggenggam ujung selimut.

“Makanya jangan sok kuat makan sambel banyak,” bisiknya pelan.

Mario tersenyum tipis meski pucat.

“Demi kamu… apa pun kucoba.”

Anggika memalingkan wajahnya, tapi senyum kecil tak bisa ia sembunyikan.

Anggika berdiri di samping ranjang, memperhatikan wajah Mario yang masih pucat.

Dalam hati ia bergumam,

“Dia memang nyebelin… tapi mau ngelakuin apa aja demi aku. Nggak kayak Rafly.”

Ia langsung menggeleng pelan.

“Eh, kenapa jadi dibandingin sih? Jelas beda…”

Perawat datang membawa set infus.

“Mas, tangannya diluruskan ya. Saya pasang infus dulu supaya cairan tubuhnya cepat tergantikan,” ujar perawat lembut.

Mario meringis saat jarum masuk.

“Pelan-pelan ya, Sus… saya takut jarum suntik,” katanya dramatis.

Perawat tersenyum tipis.

“Nanti sebelum tidur akan kami berikan suntikan pereda nyeri dan obat untuk lambungnya supaya rasa mulasnya berkurang. Sekarang mas istirahat dulu.”

“Iya, Sus… terima kasih,” jawab Anggika.

Ia lalu menoleh ke Mario.

“Kamu istirahat aja. Aku tunggu di luar.”

Mario langsung mengangkat wajahnya.

“Dok…” panggilnya pada dokter yang masih berdiri di dekat meja.

Dokter menoleh.

“Ada yang bisa saya bantu lagi, Mas?”

“Calon istri saya boleh tidur di sini nggak, Dok? Biar saya nggak sendirian,” ujar Mario pura-pura takut.

Anggika membelalak.

“Hah? Kalau aku tidur di situ, kamu tidur di mana? Di lantai?”

Mario menggeleng pelan.

“Ya seranjang berdua aja, Dok. Ini kan ranjangnya dari besi, kuat kok. Badan kami juga kecil-kecil.”

“Mario!” Anggika menepuk lengannya pelan.

“Dok jangan didengerin, dia lagi ngaco karena sakit.”

Dokter tersenyum menahan tawa.

“Saya paham, Mas mungkin merasa lebih tenang kalau ada yang menemani.”

Mario mengangguk cepat.

“Iya, Dok. Kalau dia di sini, saya pasti cepat sembuh.”

Dokter menjawab profesional,

“Untuk pasien dewasa biasanya satu penunggu boleh menemani, tapi tetap menggunakan kursi penunggu. Tidak diperbolehkan satu ranjang dengan pasien.”

Anggika langsung menyahut,

“Nah, dengar itu. Ada kursi.”

Mario pura-pura menghela napas panjang.

“Baiklah… kursi juga nggak apa-apa, asal dia tetap di sini.”

Dokter menambahkan,

“Mas fokus istirahat dulu. Cairan infusnya kita habiskan, nanti kita evaluasi lagi kondisinya.”

“Baik, Dok,” jawab Mario.

Saat dokter dan perawat keluar, Anggika duduk di kursi samping ranjang.

“Kamu ini ya… lagi sakit masih sempat bercanda.”

Mario menatapnya lembut.

“Biar kamu nggak pulang.”

Anggika terdiam sesaat, lalu mendengus pelan.

“Cepat sembuh. Besok jangan sok kuat makan sambel lagi.”

Mario tersenyum tipis, matanya mulai terpejam karena lelah.

“Asal kamu tetap di sini… sambel segunung pun aku pikir-pikir lagi.”

1
Nabila Nabil
laaahhhh jangankan beda rumah, aku yg beda kamar sama pak suami aja kalo malem WA nan... 🤣🤣🤣🤣
sundusiyah86
yeeehhh otw kondangan Thor wkwkkwkw lanjut Thor lanjut
Ayu
lanjut
Ayu
lanjut kak
wagiyah baru
lanjut
Nabila Nabil
promagh kok pedes... 🤣🤣🤣🤣🤣
Prettyies: oh iya lupa 😭 efek lapar kayanya kak gagal fokus padahal aku punya asam lambung😭
total 2 replies
Anonymous
lanjut
Nabila Nabil
seneng lu ye tiap malam gempur si anggi mulu... 🤣🤣🤣🤣
Nabila Nabil
harus sehat banget ya... di kampungku yg 2 orang aku ceritain itu perempuannya gendut semua... makanya orang bilang pada bilang "diet nak menowo iso meteng" tapi ya gak didepan orang banyak bilanginnya,,, bisa bicara dari hati ke hati,,, itu mah namanya ngeledek, aku kalo ada yg bilang gitu mulutku rasanya gatal pengen belain tapi suami ku selalu bilang jangan ikut campur urusan orang.... hiiiihhh gatel mulutku.....
sundusiyah86
lanjut Thor lanjut
Prettyies: ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
sundusiyah86
wkwkw cuma semcama aja Mario 🤣... lanjut Thor lanjut
sundusiyah86: hayuu gass keun Thor....jangan sampai berhenti 🤭🤭
total 2 replies
Nabila Nabil
pingit aja seminggu.... walau udah nikah tapi jangan diketemuin dulu🤣🤣
Prettyies: Sulit sepertinya😂
total 1 replies
Nabila Nabil
pukul pukulan mulut mereka... 🤣🤣🤣
Prettyies: Belum tahap berantem diranjang😅
total 1 replies
Nabila Nabil
dasar buaya... semua laki mah sama ngomongnya gitu.... eh tapi ada lho tetanggaku nikah udah lama ada 2 pasangan malahan,, lama banget gak punya anak... nah ada yg bilang suruh ganti jago atau ganti pasangan... ya gak mau lah.... edan aja... tapi respek sih pada setia banget....
Prettyies: Aamiin Terima kasih doaanya😊
total 3 replies
sundusiyah86
lanjut Thor lanjut keyen ceritanya....semoga Anggi SM Mario cepet nikah
Prettyies: Terima kasih Kak. Ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
Ayu
lanjut kak
Ayu
lanjut thor
wagiyah baru
lanjut
wagiyah baru
lanjut thor
Nabila Nabil
othornya pinter,, jadiin si tasya tumbal... padahal kan yak yg bikin marah nggak itu.... 🤣🤣🤣🤣
Prettyies: Daripada nyalahin Pak Huda gak lucu banget kak😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!