NovelToon NovelToon
Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.

Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyusahkan

Dean yang masih di kantor dan selesai meting mengerutkan keningnya saat sang sekertaris mondar mandir di depan ruangannya. Begitu juga dengan Gerald yang merasa aneh dengan sekertaris Dean yang nampak menggigit jarinya pertanda jika dia sedang gelisah dan ketakutan dengan kondisi yang terjadi saat ini.

"Edward, ada apa? Kenapa malah mondar mandir di depan ruangan?" tanya Gerald akhirnya.

Edward yang melihat kehadiran Gerald dan juga Dean akhirnya bisa bernapas lega karena dia merasa tertolong tapi juga khawatir dia akan di hukum oleh Dean karena kelalaia n ini.

Edward mengambil napas panjang terlebih dahulu sebelum mengatakan apa yang terjadi padanya saat ini.

"Bos, eh kak, eh gimana sih,"

Edward mengerang frustasi dan mengacak rambutnya karena bingung harus mulai dari mana mengatakannya pada Dean dan Gerald.

"Lo kenapa? Bisa nggak ngomong yang jelas, bukan malah jadi gaguk gitu!" omel Gerald pada Edward.

Edward mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan.

"Tadi waktu gue tinggal ke kamar mandi, ada seorang cewek yang menyerobot masuk ke dalam ruangan kak Dean. Dan apesnya dia nggak mau keluar meskipun di paksa, gue bingung karena gue baru ini nemu cewek kaya gitu yang nggak tahu malu bahkan dia bilang kalau dia ceweknya kak Dean," jelas Edward dengan nada geramnya.

Dean dan Gerald saling pandang dengan apa yang di katakan oleh Edward, karena Dean tak merasa dekat dengan siapapun dan sudah jelas dia mempunyai calon istri yang sudah tak di ragukan lagi kemampuannya.

"Siapa?" tanya Gerald lirih pada Dean.

Dean mengangkat kedua bahunya tak tahu menahu karena memang dia tak tahu siapa yang di maksud oleh Edward. Dan karena Gerald penasaran, dia lebih dahulu membuka pintu ruangan Dean dan terlihat di sana ada seorang perempuan yang tak di kenalinya saat ini.

Dean mengangkat sebelah alisnya karena dia tak mengenali siapa wanita itu, begitu juga Gerald yang sudah dalam keadaan siaga dan juga alarmnya tanda bahayanya berbunyi.

"Wah masih aja ada uler sawah nyasar di sini," gumam Gerald lirih.

"Siapa lo?" tanya Dean yang risih dengan adanya orang asing di ruangannya.

Perempuan yang tengah menunduk sambil bermain ponselnya itu mengangkat dagunya dan langsung berusaha tersenyum lembut ke arah Dean tapi Dean langsung memalingkan wajahnya karena jijik dengan apa yang ada di hadapannya. Sedangkan Gerald dan Edward sudah membungkam mulutnya untuk menahan tawanya.

Gerald sudah membalikan badannya karena dia tak tahan lagi dengan apa yang di lihatnya saat ini. Bagaiamana tidak, perempuan yang ada di dalam ruangan Dean seperti tante tante yang ingin pergi ke sebuah acara arisan dengan dandanan yang menor dan dengan pewarna bibir yang sangat tebal sekali.

"Ah, akhirnya kamu kembali, aku sudah menunggu sejak tadi untuk mengajakmu makan siang bersama," ucap perempuan itu dengan mata berbinar dan sangat percaya diri.

Dean sudah menaikkan sebelah alisnya karena tak mengerti dengan apa yang di maksud dan siapa yang di maksud oleh perempuan itu. Dia melirik ke arah Edward dan Gerald secara bergantian.

"Pergi dari ruangan gue!!!" ucap Dean dengan nada dingin.

Perempuan itu mengerutkan keningnya tapi kemudian matanya berbinar karena dalam pikirannya dia akan di ajak pergi makan di luar oleh Dean.

"Ah, kamu mau mengajakku makan di luar ya? Ayo pergi..." ucap perempuan itu dengan percaya diri.

Perempuan itu sudah beranjak berdiri dan mendekat ke arah Dean. Tepat saat perempuan itu sudah ada di depan Dean untuk meraih tangan Dean, sebuah suara terdengar dari balik badan Gerald.

"Siapa lo? Berani banget ngajak calon suami gue pergi makan siang!"

Semua orang yang ada di sana langsung menoleh ke sumber suara itu, tapi berbeda dengan Gerald dan Dean sudah dalam posisi siaga level tinggi. Berbeda dengan Edward yang masih terlihat biasa saja saat ini. Edward sendiri memang orang awam yang tak tahu menau secara dalam tentang Dean dan juga Valen. Tapi yang Edward tahu hanya Valen adalah tunangan Dean dan mereka juga akan segera menikah nanti.

"Ck, untuk apa nona Valen datang kemari? Apa nona tidak masuk kuliah?" tanya perempuan itu tiba-tiba.

Glek...

Gerald meneguk ludahnya kasar begitu juga dengan Dean, tapi mereka berdua tak berani menyela apa yang di lakukan oleh Valen karena sekarang ini adalah mainan baru bagi Valen. Di tambah lagi perempuan itu malah semakin menantang Valen.

Valen mendekat ke arah Dean dan bergelayut manja di lengan Dean. Tapi mata Valen menatap tajam ke arah perempuan yang ada di depannya saat ini. Perempuan itu terlihat kesal dengan Valen yang bergelayut manja pada Dean.

Berbeda dengan yang di rasakan oleh Dean, bukan gelayutan manja padanya tapi cengkeraman erat dan sudah jelas akan langsung membiru nantinya. Valen yang mencengkeram erat pun semakin menguatkannya karena ternyata feeling nya benar jika betina sawah itu akan nekad datang menemui Dean di kantornya.

"Kenapa memang jika gue ke sini? Ini kantor tunangan gue, jadi gue bebas masuk ke sini. Dan harusnya gue yang bertanya bukan untuk apa suster panti datang ke sini? Mau minta sumbangan? Bukankah sumbangan rutin selalu di tranfer ke ibu panti?" tanya Valen pura pura tak tahu.

Yaya yang merasa di sindiri dan di ungkit tentang pekerjaannya mendengus kesal karena memang bukan itu tujuannya.

Yaya hanya ingin bertemu Dean mengingat kemarin mereka sangat dekat, itu menurut Yaya tapi berbeda dengan Dean yang bahkan tak ingat tentang siapa Yaya ini.

"Nona Valen, hari ini aku libur jadi aku ingin mengajak Dean pergi. Dan lagi bukannya Dean bukan siapa siapa mu, kenapa kamu mengaku kalau dia tunanganmu. Apakah itu sopan nona? Bukankah kamu terlalu percaya diri saat ini!" ejek Yaya pada Valen.

Valen menyeringai menatap Yaya yang terlalu percaya diri dan sok tahu tentang siapa dirinya dan juga Dean. Karena menurut informasi Yaya adalah seorang suster yang baru di panti milik mami dan papinya. Tapi Valen tidak akan mewajarkan apa saja yang sekiranya akan membuatnya terganggu.

Valen melepaskan tangan Dean dan berjalan santai ke depan Yaya. Suasana di ruangan itu mulai memanas dan membuat Edward bingung karena dia baru kali ini melihat Valen seperti ini. Memang biasanya Valen hanya bersikap datar tapi kali ini hawa Valen sangat menakutkan bagi Edward.

Gerald sendiri sudah menahan napas sejak tadi apalagi Valen sudah berjalan dengan tenang dan terlihat santai ke arah Yaya.

"Apa lo tuli? Dean tunangan gue, dan gue nggak bakal ijinin perempuan lain mengajaknya pergi meskipun hanya sekedar makan. Dan tadi lo bilang apa? Makan siang? Mata lo nyangkut di tiang bendera ya, ini masih jam sembilan pagi dan lo bilang buat makan siang? Hahaha, buta mata lo emang!!" ejek Valen keras.

Yaya yang tak terima dengan apa yang di katakan Valen berusaha mengangkat tangannya untuk memberi pelajaran pada Valen, tapi Valen berhasil menangkap tangan itu. Valen bahkan mencengkeram erat tangan Yaya dan mendorong Yaya mundur ke belakang.

Valen bahkan sudah menabrakkan badan Yaya ke dinding dengan keras dan membuat Yaya menjerit kesakitan.

"Jangan pernah mengangkat tangan lo di depan gue," bisik Valen lirih.

Valen melepaskan tangan Yaya dengan keras dan berbalik ke arah Dean. Dia masih diam dengan sorot yang tajam ke arah Dean. Saat Valen sudah ada di depan Dean, Valen mengamati Dean dengan seksama.

"Ini salah satu alasan gue buat minta nikah tadi pagi, ternyata gue belum sekuat mami," batin Valen pelan.

"Lo pengen bukti kan kalau kak Dean tunangan gue?" tantang Valen pada Yaya.

Yaya yang sudah berdiri tegak kembali tentu saja semakin marah pada Valen. Apapun akan dia lakukan untuk mengusir Valen dari ruangan ini agar dia bisa pergi bersama Dean.

"Ck, bocah ingusan seperti kamu juga hanya menggoda Dean dan tak mungkin serius dengan Dean. Kamu juga pasti cuma bermain main dengan Dean." ejek Yaya pada Valen.

Valen sudah mengepalkan kedua tangannya merasa terhina dengan apa yang di katakan oleh Yaya. Dia memejamkan matanya dengan erat dan kemudian membukanya dengan cepat.

Tanpa Dean bisa duga, Valen menarik tengkuk Dean dan menciumnya secara ganas untuk menyalurkan semua emosinya saat ini karena ulah ular sawah yang ada di belakangnya saat ini. Dean, serta Edward dan Gerald membelalakan matanya begitu juga dengan Yaya yang menatap tak percaya jika Valen akan melakukan itu.

Saat Dean sudah tersadar dengan apa yang terjadi, Dean mengambil alih apa yang di lakukan oleh Valen bahkan mereka sudah berciuman panas kali ini. Gerald dan Edward sudah memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Berbeda dengan Yaya yang menggeram marah, entah setan apa yang merasuki Yaya dia meraih Vas bunga yang ada di sana dan ingin di gunakannya untuk menghantam Valen. Tapi Dean dengan sigap menangkis itu dan membuat Vas itu pecah berserakan di lantai.

Valen yang mendengar itu segera menghentikan ciumannya dengan Dean dan berbalik ke arah Yaya. Dia menatap Yaya dengan tajam, dia kembali mendekat ke arah Yaya dan matanya terpaku pada tangan Yaya. Dia sempat melirik tangan Dean yang berlumuran cairan merah kental.

"Berani banget lo? Nyali lo sungguh besar, tapi gue heran, orang kayak lo bisa jadi suster panti. Siapa yang ada di balik lo?" tanya Valen pada Yaya.

Yaya membelalakan matanya dan menggelengkan kepalanya pelan, dia tak akan mengaku siapa dia. Tapi Gerald bukan orang yang tak peka dan tak tahu apa maksud Valen. Dia segera menyuruh beberapa anak buahnya untuk menyelidiki semuanya dan menangkap siapa dalang di balik Yaya bisa masuk ke dalam panti dengan sikapnya yang begini.

Valen yang sudah kesal meraih tangan Yaya dan tak lama terdengar suara retakan dari arah Yaya. Gerald dan Dean langsung tahu dari mana sumber itu berasal dan mereka membiarkan apa yang di lakukan Valen pada Yaya. Sementara wajah Edward sudah memucat dan tubuhnya menegang seperti patung di tempatnya.

"Gue nggak akan ampuni lo kali ini," bisik Valen pada Yaya.

Yaya terus di buat berteriak karena kesakitan.

Valen terus memberinya pelajaran sampai tubuh Yaya memucat dan Yaya tak bisa lagi berteriak karena semua badannya sudah merasakan kesakitan yang luar biasa. Dan terakhir yang Dean dengar Yaya meminta ampun pada Valen dengan suara yang sangat lirih.

Dean menghembuskan napasnya panjang dan meraih tangan Valen untuk di bawa pergi ke ruangan tempatnya beristirahat yang masih berada di dalam ruangan itu.

"Gerald, urus dia. Dan urus tua bangka yang membantunya masuk ke dalam panti. Selidiki semua yang ada di panti dan serahkan laporan hari ini soal panti sama papi. Mungkin papi sudah terlalu lunak pada orang orang itu sampai kecolongan seperti ini!"

Gerald mengangguk dan segere memberi isyarat kepada anggotanya yang ada di sana. Mereka segera membereskan Yaya dan semua kekacauan yang dia buat di sana.

Gerald yang melihat Edward berdiri seperti patung itu menghela napas panjang. Dia mendekati Edward dan menepuk pelan pundak Edward.

Puk....

Gerald melongo saat melihat badan Edward ambruk ke lantai.

"Astaga, dia nyusahin gue banget!"

to be continued...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!