Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Malam itu tidak ada yang benar-benar tidur di rumah Virellia.
Ruang kerja Papa Alveron masih menyala lewat tengah malam. Bang Kaiven duduk di sofa dengan laptop terbuka, layar penuh data akses dan catatan jadwal. Arcelia Virellia berdiri di dekat jendela, tangan terlipat di dada.
“Konsultan eksternal itu,” ucap Arcelia pelan, “sejak kapan bekerja sama dengan kita?”
“Enam bulan,” jawab Bang Kaiven. “Direkomendasikan oleh salah satu anggota dewan.”
“Rekam jejaknya?”
“Bersih. Terlalu bersih.”
Papa Alveron menutup map di tangannya. “Namanya Adrian Mahera. Spesialis strategi tender.”
Arcelia mengulang nama itu dalam hati.
Adrian Mahera.
Kalau dia yang membocorkan… berarti dia dibayar lebih besar dari yang kita tahu.
Keesokan paginya,
Suasana meja makan terasa tegang tapi terkendali. Elvarin masih bercerita soal tugas sekolahnya, tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
Mama Mirella menyentuh tangan Arcelia pelan. “Kamu jangan terlalu memaksakan diri ya Sayang.”
Arcelia tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja, Ma.”
Tapi dalam hatinya, ia tahu hari ini akan menentukan arah berikutnya.
Di sekolah,
Arcelia berjalan bersama Kaelion Ravert menuju kelas.
“Aku mungkin menemukan sumber kebocoran,” katanya pelan.
Kaelion menoleh cepat. “Siapa?”
“Bukan dari keluarga kamu.”
Itu membuat Kaelion sedikit menghela napas lega.
“Tapi lebih berbahaya,” lanjut Arcelia.
Ia menjelaskan singkat soal konsultan eksternal dan rapat palsu.
Kaelion terdiam beberapa saat. “Kalau dia benar menjual informasi, berarti ada perusahaan yang membayarnya.”
“Dan perusahaan itu kemungkinan pemain ketiga.”
Kaelion mengangguk.
“Kau butuh bukti lebih dari pola waktu.”
“Aku tahu.”
Sore itu,
Bang Kaiven sengaja mengatur pertemuan mendadak dengan Adrian Mahera di kantor. Arcelia tidak ikut masuk ke ruang rapat. Ia duduk di ruang tunggu, pura-pura membaca majalah bisnis.
Pintu ruang rapat tertutup rapat.
Satu jam berlalu.
Akhirnya pintu terbuka.
Adrian keluar dengan wajah tetap profesional.
Terlalu tenang.
Ia menyapa Arcelia dengan senyum tipis.
“Nona anda putri dari Pak Alveron, ya? Pintar sekali katanya.”
Arcelia membalas senyum sopan. “Terima kasih, Pak.”
Tapi dalam hati, ia membaca gerakan kecil. Cara pria itu menghindari kontak mata terlalu lama. Cara tangannya sedikit lebih kaku saat memegang ponsel. Ia mencatat semuanya.
Malamnya,
Bang Kaiven masuk ke kamar Arcelia.
“Dia menyangkal,” katanya pelan.
“Tentu saja.”
“Tapi ada satu hal aneh.”
“Apa?”
“Dia tahu tentang jadwal rapat palsu itu.”
Arcelia menatap kakaknya tajam.
“Bagaimana mungkin Bang?”
“Aku sengaja menyebutnya sebagai ‘rapat penting besok’ saat berbicara. Dia menjawab, ‘Oh, yang pagi itu?’”
Padahal rapat palsu itu dijadwalkan sore. Jantung Arcelia berdetak lebih cepat.
“Berarti dia memang menerima info yang salah itu.”
Bang Kaiven mengangguk.
“Dan tetap menyebarkannya.”
Itu bukan kesalahan.
Itu konfirmasi.
Malam semakin larut.
Arcelia membuka kembali pesan dari nomor tak dikenal. Ia mengetik perlahan.
Arcelia:
Rapat besok pagi dibatalkan.
Terima kasih sudah memastikan infonya.
Ia sengaja mengirim pesan jebakan.
Beberapa menit berlalu.
Balasan datang.
Unknown:
Sudah terlambat. Informasi sudah bergerak.
Arcelia tersenyum tipis.
Ia menunjukkan layar pada Bang Kaiven.
“Dia tidak menyangkal.”
Bang Kaiven mengangguk pelan. “Besok kita laporkan ke dewan ya Dek.”
“Tunggu Bang,” kata Arcelia cepat.
Bang Kaiven mengerutkan kening.
“Kita perlu tahu perusahaan mana yang membayarnya.”
“Risiko terlalu besar.”
“Kalau kita berhenti sekarang, kita hanya memotong satu tangan Bang. Bukan kepala.”
Hening panjang.
Papa Alveron yang berdiri di ambang pintu sejak tadi akhirnya bicara. “Biarkan Adikmu melanjutkannya.”
Bang Kaiven menoleh.
“Pa—”
“Kita sudah diserang berkali-kali. Sekarang kita harus tahu siapa yang berdiri di belakang.”
Arcelia menatap papanya. Ada kebanggaan tipis di mata pria itu.
“Besok,” lanjut Papa Alveron, “kita buat satu lagi informasi palsu. Tapi kali ini hanya diketahui Adrian.”
Bang Kaiven perlahan mengerti.
“Kalau informasi itu bocor…”
“Kita tahu ke mana arahnya.”
Di balkon kamarnya malam itu,
Arcelia memandang kota dengan pikiran lebih jernih. Permainan ini sudah naik tingkat. Bukan lagi tentang reputasi sekolah. Bukan sekadar persaingan dua keluarga. Ini sabotase terencana.
Dan besok, mereka akan memasang perangkap. Jika Adrian Mahera benar pengkhianat, maka pemain ketiga akan segera terlihat. Dan saat itu terjadi, Arcelia Virellia tidak akan ragu lagi untuk menjatuhkan siapa pun yang berani mengkhianati keluarganya.
__________
Beberapa hari, setelah kejadian itu. Arcelia disuruh oleh Papanya untuk ke salah satu Akademi di pinggiran kota. Meski Arcelia tidak tau apa yang akan terjadi dan mengapa dia disuruh kesana. Namun, dia tetap pergi dan dia percaya sama papanya. Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi.
Saat sudah di Akademi Arcelia di ceritakan semua yang terjadi dan apa yang terjadi pada dirinya dan semua keluarganya.
Saat itu juga, dia menyadari kalau dia mempunyai kekuatan mistis atau semacamnya. dia berlatih setiap hari untuk bisa mengenali dan mengendalikan apa yang dia punya di dalam tubuhnya tersebut.
Suatu malam,
Langit Lumin tidak lagi berwarna biru pucat seperti biasanya. Sejak retakan di menara tua itu muncul, cahaya di atas kota berubah menjadi keperakan, seolah ada lapisan dunia lain yang menekan dari balik langit.
Arcelia Virellia berdiri di atap Akademi Astral, rambutnya tertiup angin malam. Lambang keluarga Virellia di kerah seragamnya berkilau samar. Ia masih remaja, masih dianggap “baru naik” dalam hierarki kekuatan kota, tetapi namanya sudah beredar sebagai ancaman baru.
Ancaman bagi siapa?
Bagi mereka yang selama ini mengendalikan Lumin dari balik bayangan.
“Aku bisa merasakannya,” bisik Arcelia.
Energi itu berdenyut, bukan seperti sihir biasa. Bukan elemen, bukan aura murni. Sesuatu yang campur. Cahaya dan gelap menyatu seperti dua sisi cermin yang retak.
Langkah kaki terdengar di belakangnya.
“Kau tidak tidur lagi Lia?” suara itu dalam dan tenang.
Arcelia tidak menoleh. “Kalau aku tidur, mereka akan bergerak.”
Ia tahu siapa yang berdiri di sana, Ravenor, pengawas khusus dari Dewan, yang ditugaskan mengawasinya sejak kekuatannya bangkit terlalu cepat untuk ukuran remaja.
“Kau terlalu mencolok, Arcelia Virellia,” ucap Ravenor pelan. “Dewan tidak menyukai hal yang tidak bisa mereka kendalikan.”
“Dan aku tidak menyukai hal yang mencoba mengendalikanku,” balas Arcelia datar.
Tiba-tiba, langit terbelah oleh garis cahaya tipis. Retakan di atas menara tua membesar, membentuk simbol yang sama dengan yang muncul di pergelangan tangan Arcelia sejak malam kebangkitannya.
Ia menatap tangannya. Simbol itu menyala. Rasa sakit menjalar, bukan menyiksa, tapi memanggil. Dari kejauhan, sirene kota berbunyi.
Ravenor menegang. “Itu bukan kebetulan.”
“Aku tahu,” jawab Arcelia.
Di bawah, warga Lumin berlarian. Cahaya turun seperti hujan terbalik, dan dari dalam retakan itu… muncul bayangan berbentuk manusia.
Bukan satu.
Tiga.
Mereka melayang tanpa suara, mata mereka kosong namun bersinar perak. Aura mereka bukan milik dunia ini.
“Makhluk Astral tingkat tinggi…” gumam Ravenor. “Bagaimana mungkin gerbang terbuka di tengah kota?”
Arcelia melangkah maju ke tepi atap.
“Karena aku di sini.”
Ravenor menatapnya tajam. “Kau pikir ini semua karena dirimu?”
Arcelia tidak menjawab. Ia melompat turun.
Tubuhnya jatuh bebas beberapa detik sebelum cahaya menyelimuti dirinya. Sayap tipis, bukan sepenuhnya cahaya, bukan sepenuhnya bayangan, muncul di punggungnya.
Ia berhenti di udara, tepat di hadapan salah satu makhluk itu. Makhluk tersebut mengangkat tangan.
Energi meledak.
Gelombang kejut mengguncang bangunan di sekitar alun-alun utama Lumin.
Arcelia mengangkat tangannya juga. Energi yang sama, namun berbeda mengalir dari dalam dirinya. Cahaya bercampur gelap, membentuk perisai retak yang memantulkan serangan itu kembali.
Makhluk itu terhuyung. Warga yang menyaksikan mulai berbisik.
“Itu dia…”
“Virellia muda…”
“Ancaman baru itu…”
Arcelia mendengar semuanya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak membantahnya. Jika menjadi ancaman adalah satu-satunya cara melindungi Lumin, maka ia akan menerima nama itu.
Makhluk kedua menyerang dari samping. Ravenor turun tangan, pedangnya memancarkan garis energi biru yang memotong udara. Pertarungan berlangsung cepat. Terlalu cepat untuk mata biasa.
Namun makhluk ketiga… tidak menyerang. Ia hanya menatap Arcelia. Lalu berbicara, langsung ke dalam pikirannya.
“Pewaris Virellia… gerbang belum sepenuhnya terbuka. Tapi ketika terbuka… kau harus memilih.”
“Memilih apa?” bisik Arcelia tanpa sadar.
Makhluk itu tersenyum tipis.
“Kota… atau kebenaran.”
Dan dalam sekejap, ketiganya menghilang bersama retakan di langit yang menutup perlahan.
Keheningan jatuh di Lumin. Debu beterbangan. Beberapa bangunan retak. Tapi kota masih berdiri. Arcelia mendarat perlahan di tengah alun-alun.
Ravenor berjalan mendekat. “Kau dengar sesuatu, bukan?”
Arcelia menatap langit yang kembali normal.
“Mereka akan kembali,” katanya pelan. “Dan saat itu… Lumin bukan lagi sekadar kota.”
Ravenor menunggu penjelasan.
Arcelia menunduk, simbol di pergelangan tangannya masih berpendar. “Aku bukan hanya ancaman bagi Dewan,” ucapnya akhirnya. “Aku adalah kunci.”
Angin malam berhembus lebih dingin.
Dan jauh di balik menara tua, sesuatu yang telah lama tertidur… mulai terbangun.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....