NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:782
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desa Ditengah Kabut

Hari ke-16. Atau mungkin ke-17. Tio tidak tahu lagi. Yang ia tahu, fajar kali ini berbeda.

Kabut tebal menyelimuti segalanya—lebih tebal dari biasanya, seperti susu yang dituang di antara pepohonan.

Tio berjalan, atau lebih tepatnya merangkak, tanpa arah. Ia sudah tidak peduli lagi mau ke mana. Yang penting bergerak. Selama masih bisa bergerak, ia masih hidup.

Tubuhnya sudah seperti mayat hidup. Kulitnya kering dan pecah-pecah, tulang-tulangnya nyaris menembus kulit, matanya cekung ke dalam.

Kaki kanannya—ia sudah berhenti memikirkannya. Infeksi itu sekarang menjalar, ia bisa merasakan demam yang naik turun, panas dingin yang bergantian menyerang. Kepalanya pusing, pandangannya kabur, kadang ia melihat dua bayangan dari satu pohon.

Tapi ia tetap merangkak. Tangan dan satu kaki kiri menjadi penggerak utama. Maju beberapa sentimeter, berhenti, mengambil napas, maju lagi. Lambat. Sangat lambat. Tapi tidak berhenti.

Di sekelilingnya, kabut bergerak aneh. Seperti hidup, seperti bernapas, seperti membentuk pola-pola yang tidak biasa. Tio tidak peduli. Ia sudah terlalu lelah untuk peduli.

Dan kemudian, di antara kabut yang mulai menipis, ia melihat sesuatu.

Atap.

Atap rumah. Dari ijuk, tua, berlumut, tapi jelas itu atap. Dan di bawahnya, dinding bambu anyam. Dan di sampingnya, asap mengepul dari dapur.

Tio berhenti merangkak. Ia mengerjap, mengira matanya menipu. Ini pasti halusinasi. Ini pasti efek demam, efek kelaparan, efek putus asa.

Tapi atap itu tidak hilang. Malah semakin jelas saat kabut bergerak.

Asap itu nyata. Ia bisa menciumnya—bau kayu bakar, bau masakan sederhana. Aroma yang sudah lama tidak ia cium. Aroma kehidupan.

Air mata mengalir di pipi Tio yang kotor. Ia menangis, terisak-isak, tanpa suara. Tubuhnya gemetar—campuran kelelahan, harapan, dan ketidakpercayaan.

Ini nyata? Ini sungguhan nyata?

Ia memaksakan diri merangkak lebih cepat. Tangan dan kaki bergerak lebih kuat, didorong oleh adrenalin yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Sepuluh meter. Dua puluh meter. Ia semakin dekat.

Gubuk itu kini jelas di depan mata. Bangunan sederhana, beratap ijuk, berdinding anyaman bambu. Di halaman depan, ada lesung batu, ada alu yang tergeletak.

Ada ayam berkeliaran, beberapa ekor, mematuk-matuk tanah. Ada pohon pisang di samping rumah, buahnya menggantung kuning.

Nyata. Semua nyata.

Tio merangkak ke halaman rumah itu. Tubuhnya jatuh tersungkur di tanah, tidak bisa bangun lagi. Ia hanya bisa terbaring di sana, menatap gubuk itu, menangis.

Pintu gubuk terbuka.

Seorang wanita keluar. Usia mungkin 40-an, berpakaian sederhana—kebaya lengan panjang, kain jarik yang melilit di pinggang, rambut disanggul rapat. Wajahnya... cantik, dengan garis-garis halus yang menunjukkan kebaikan.

Tapi ada sesuatu di matanya. Terlalu tajam. Seperti elang yang mengamati mangsa, tapi tanpa ancaman.

Wanita itu melihat Tio, dan untuk beberapa detik ia hanya diam. Tidak terkejut, tidak takut. Hanya mengamati.

Lalu ia berteriak memanggil, dalam bahasa yang asing di telinga Tio. Bukan Indonesia, bukan Jawa modern. Bahasa Jawa kuno, mungkin, dengan intonasi yang berbeda.

Dari dalam gubuk, keluar seorang pria. Lebih tua, mungkin 50-an. Berpakaian sederhana juga—kemeja putih lengan panjang, kain batik di pinggang, caping bambu di tangan. Wajahnya keras, tapi matanya... matanya sama. Tajam. Menembus.

Pria itu mendekati Tio, berlutut di sampingnya. Ia menatap Tio lama, lalu berbicara dalam bahasa Indonesia yang aneh—lambat, dengan aksen kuno.

"Kowe... seko endi?" (Kamu... dari mana?)

Tio ingin menjawab, tapi suaranya tidak keluar. Tenggorokannya kering, pita suaranya seperti tidak terpakai selama berabad-abad. Ia hanya bisa membuka mulut, mengeluarkan suara serak yang tidak jelas.

Wanita itu segera masuk ke gubuk, keluar membawa tempurung berisi air. Ia mendekatkan ke mulut Tio, menyuapkan air sedikit demi sedikit.

Air itu... luar biasa. Segar, manis, seperti air kelapa muda. Mengalir di tenggorokan, membasahi kerongkongan yang kering, masuk ke perut yang kosong. Tio minum, minum, minum, sampai tempurung itu kosong.

"Alon-alon, Le," kata wanita itu lembut. (Pelan-pelan, Nak.)

Tio menatapnya. Matanya berkaca-kaca.

"Ma... makasih," bisiknya serak.

Wanita itu tersenyum. Senyum yang hangat, tapi matanya tetap tajam.

Pria itu—yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Ki Jaga—mengangkat Tio, membawanya masuk ke dalam gubuk. Tio hanya bisa pasrah, tubuhnya sudah tidak bertenaga sama sekali.

Di dalam, gubuk itu sederhana. Lantai tanah yang dipadatkan, tikar pandan di beberapa sudut, tungku tanah liat di dapur, beberapa periuk tanah di rak bambu. Ada wewangian—dupa? kemenyan?—yang samar-samar tercium.

Tio dibaringkan di atas tikar. Wanita itu—namanya Mbok Ranti—segera mengambil daun-daunan, menumbuknya di cobek batu, lalu mengoleskan ramuan itu ke luka-luka Tio. Di kaki, di tangan, di kepala.

Rasa dingin menjalar. Tio merasa sakitnya sedikit berkurang. Atau mungkin hanya sugesti. Tidak tahu.

Ki Jaga duduk di sampingnya, mengamati dengan mata tajam itu. "Kowe suwe banget neng alas, Le," katanya. "Wis pirang dino?"

(Kamu lama sekali di hutan, Nak. Sudah berapa hari?)

Tio mencoba mengingat. "Ti... tidak tahu. Mungkin 16 hari. Atau lebih."

Ki Jaga mengangguk, tidak terkejut. "Kowe kuwat. Wong lio mesthi wis mati." (Kamu kuat. Orang biasa pasti sudah mati.)

"Mbah... ini desa apa? Saya mau lapor ke polisi, ke basecamp..." Tio berusaha bangun, tapi Ki Jaga menahannya.

"Ojo ndisik. Istirahat dhisik. Sesuk wae." (Jangan dulu. Istirahat dulu. Besok saja.)

Tio menurut. Tubuhnya memang sudah tidak sanggup apa-apa. Ia berbaring lagi, memandangi langit-langit gubuk yang terbuat dari bambu anyam.

Di luar, kabut masih tebal. Suara ayam berkokok, suara burung, suara kehidupan. Setelah berminggu-minggu hanya mendengar suara hutan yang mencekam, suara-suara ini seperti musik.

Tio tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam 16 hari, ia benar-benar tersenyum.

Aku selamat. Aku... aku selamat.

Tapi ada yang aneh. Tio mulai menyadarinya setelah beberapa jam di gubuk itu.

Pertama, bahasa mereka. Ki Jaga dan Mbok Ranti berbicara dalam bahasa Jawa kuno yang sesekali masih ia pahami. Tapi ketika mereka berbicara satu sama lain, bahasanya terdengar asing, seperti dialek yang sudah punah.

Kedua, gerakan mereka. Terlalu anggun. Setiap langkah, setiap gerakan tangan, seperti tarian yang diperlambat. Tidak wajar untuk manusia biasa.

Ketiga—dan ini yang paling aneh—mata mereka. Tajam. Terlalu tajam. Seperti bisa melihat menembus kulit, menembus pikiran, menembus jiwa. Dan kadang-kadang, di sudut mata, Tio melihat kilatan merah. Sangat cepat, hampir tidak terlihat, tapi ada.

Tio mulai bertanya-tanya. Tapi rasa syukur dan kelelahan mengalahkan kecurigaan. Ia terlalu lelah untuk memikirkan hal-hal aneh.

Malam tiba. Mbok Ranti memberinya bubur hangat—pertama kali dalam berminggu-minggu ia makan makanan sungguhan. Tio makan dengan lahap, meski hanya beberapa suap sebelum kekenyangan. Perutnya yang mengecil tidak bisa menerima banyak.

Setelah makan, ia tertidur. Tidur paling nyenyak dalam 16 hari. Tanpa gangguan, tanpa mimpi buruk, tanpa bayangan menonton.

Di luar gubuk, malam turun dengan tenang. Tapi kabut tidak hilang—masih tebal, menyelimuti desa seperti selimut.

Di halaman, Ki Jaga berdiri memandangi kabut. Mbok Ranti di sampingnya.

"Dheweke weruh dewe" kata Mbok Ranti lirih. (Dia melihat kita.)

"Ya," jawab Ki Jaga. "Lan dew weruh dheweke. Wis suwe ora ono manungsa mlebu kene."

(Dan kita melihatnya. Sudah lama tidak ada manusia masuk sini.)

"Dadi kepiye? Dikandhani opo ora?" (Jadi bagaimana? Diberitahu atau tidak?)

Ki Jaga diam lama. Matanya menatap kabut yang bergerak perlahan.

"Sesuk. Sesuk tak kandhani sopo kita sejatine." (Besok. Besok akan kukatakan siapa kita sebenarnya.)

Mbok Ranti mengangguk. Lalu mereka masuk ke gubuk, meninggalkan malam yang sunyi.

Di dalam, Tio tidur pulas. Tidak tahu bahwa ia telah memasuki tempat yang tidak ada di peta mana pun. Tidak tahu bahwa orang-orang yang menolongnya bukan manusia biasa.

Tidak tahu bahwa desa ini—Desa Tenganan—adalah desa di dimensi lain.

Tapi untuk malam ini, ia aman. Untuk malam ini, ia bisa tidur.

Besok, kebenaran akan terungkap.

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
baca sekarang jadi lupa alur😭😭
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!