NovelToon NovelToon
Tertembak Cinta Nona Gangster

Tertembak Cinta Nona Gangster

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Bad girl / Preman / Persaingan Mafia
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.

Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.


Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?

NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenyataan

Nalea menghapus air mata yang jatuh ke pipinya dengan kasar. "Malam itu... saat Grace menyusup ke markas Slyters untuk menyelamatkan Karin dan Ryan. Dia sedang bertarung, Kak! Dia sedang berada di tengah kepungan musuh! Dan saat itu, telepon dari Kakak berbunyi berkali-kali tanpa henti. Getaran dan nada dering itu membuatnya kehilangan konsentrasi sesaat karena dia tahu Kakak pasti akan marah jika dia tidak menjawab. Di detik itulah, punggungnya dihantam balok kayu oleh preman Slyters!"

Suasana seketika menjadi hening yang mencekam. Suara detak jam di dinding koridor terdengar seperti dentuman keras di telinga Zavian.

"Setelah dia terluka, dia masih harus berpura-pura sehat di depan Kakak karena dia takut Kakak akan memarahinya. Dia menahan sakit sendirian hanya agar Kakak tidak mengomelinya tentang 'keamanan' atau 'berhenti dari Blackrats'. Dia mencintaimu sampai dia harus mengorbankan tubuhnya sendiri untuk menjaga perasaanmu yang egois itu, Kak!"

Tubuh Zavian limbung. Ia mundur selangkah, menyandarkan punggungnya pada dinding rumah sakit yang dingin. Kata-kata Nalea menghujam jantungnya lebih dalam daripada pukulan Codet tadi siang.

"Tidak... tidak mungkin..." bisik Zavian. Suaranya mendadak hilang kekuatan.

"Itu kenyataannya, Kak. Nalea tidak mungkin mengarang cerita hanya untuk menyakiti Kakak," Kayzo menambahkan dengan nada yang lebih tenang namun menusuk.

"Grace..." Zavian memukul dadanya yang mendadak terasa sangat sesak, seolah oksigen di sekitarnya menghilang. Ingatannya kembali ke malam tadi, saat Grace menunggunya dengan nasi goreng. Saat Grace meringis dan ia percaya begitu saja bahwa itu hanya kram kaki.

"Lebih baik Kakak pergi sekarang," ujar Nalea dingin. "Grace juga setelah sadar pasti tidak ingin melihat Kakak. Terutama jika dia tahu Kakak hanya akan memberinya omelan dan kemarahan karena luka ini, bukannya perhatian yang dia butuhkan. Pulang saja, Kak. Biar aku yang menjaganya di sini."

Kenyataan itu menghantam keras jiwa dan hatinya. Rupanya, dialah penyebab Grace kembali terluka. Dia yang selama ini berkoar-koar ingin melindungi Grace, justru menjadi senjata yang melukai wanita itu dari belakang.

Grace, kenapa kamu tidak terus terang kepadaku? Apa kamu begitu tidak mempercayaiku sampai harus menanggung semuanya sendiri? batin Zavian merintih.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Zavian berbalik. Langkahnya gontai, kepalanya tertunduk. Ia tidak sanggup lagi menatap pintu IGD itu.

Zavian enggan kembali ke kantor. Pekerjaan, uang, dan kontrak bisnis terasa sangat menjijikkan saat ini. Ia memilih pulang ke rumah, berharap sunyinya kamar bisa meredam badai di kepalanya.

"Vian? Kok sudah pulang, Nak?" tanya Mutiara yang sedang fokus memasak di dapur. Ia tidak menyadari luka lebam di wajah putranya karena posisi Zavian yang langsung berjalan menuju tangga.

Zavian tidak menjawab. Ia terus melangkah dengan gontai, menaiki anak tangga satu per satu seperti robot yang kehabisan daya. Begitu sampai di kamarnya, ia langsung mengunci pintu.

Ia tidak mengganti pakaiannya. Dengan langkah kasar, ia menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower dengan suhu paling dingin. Air es itu seketika mengguyur tubuhnya yang masih mengenakan kemeja kantor yang berantakan.

CRAAAASSSHHH!

Rasa dingin yang menusuk kulit tidak ia hiraukan. Tubuhnya yang terasa panas karena amarah dan penyesalan seolah membutuhkan air itu untuk memadamkan api di dalam dirinya.

BUGH! BUGH!

Zavian memukul dinding kamar mandi yang dilapisi marmer dengan keras. Kepalan tangannya memerah, namun ia tidak peduli.

"Grace... kenapa kamu tidak jujur padaku?!" teriak Zavian di sela-sela suara air.

BUGH! BUGH!

"Apa kamu begitu membenciku? Apa kamu tidak mencintaiku sampai kamu lebih memilih menahan sakit daripada bicara padaku?!"

Ia memukul dinding itu lagi dan lagi. Rasa sakit di buku jarinya mulai menjalar, namun itu tak sebanding dengan rasa sakit di dadanya. Zavian kesulitan mengungkapkan rasa cintanya dengan cara yang benar. Ia dididik untuk menjadi pemimpin, untuk mengendalikan segala sesuatu. Baginya, mencintai berarti memastikan orang itu aman di bawah pengawasannya. Namun ia lupa, bahwa Grace bukan objek yang bisa ia kendalikan. Grace adalah manusia dengan harga diri dan dunianya sendiri.

Setiap kali ia memarahi Grace karena terluka, itu adalah bentuk ketakutannya yang teramat sangat akan kehilangan. Namun di mata Grace, itu hanyalah sebuah tuntutan dan kekangan.

"Aku mencintaimu, Grace... aku sangat mencintaimu sampai aku tidak tahu cara mengatakannya tanpa membuatmu merasa tercekik," isak Zavian. Air mata kini bercampur dengan air shower yang mengalir di wajahnya.

Zavian terduduk di lantai kamar mandi yang basah. Ia menekuk lututnya, menyembunyikan wajah di sana. Ia merasa gagal. Gagal sebagai pria, gagal sebagai pelindung, dan gagal sebagai kekasih. Ia menyadari bahwa perhatiannya yang berlebihan justru menjadi beban bagi Grace.

"Maafkan aku... maafkan aku, Sayang..." gumamnya lirih.

Di bawah guyuran air dingin itu, Zavian bersumpah. Jika Grace sadar nanti, ia akan mencoba menurunkan egonya. Ia akan belajar bahwa mencintai Grace berarti harus siap menerima lukanya, bukan justru menambah luka baru dengan kemarahannya. Namun, apakah Grace masih mau menerimanya setelah semua tekanan yang ia berikan? Pertanyaan itu terus berputar, menciptakan konflik yang semakin mencekam di dalam hati Zavian yang hancur.

...********...

Aroma cairan antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Grace saat kelopak matanya perlahan terbuka. Langit-langit putih bersih menjadi hal pertama yang ia lihat. Kepalanya terasa berat, dan punggungnya masih mengirimkan sinyal rasa sakit yang berdenyut setiap kali ia mencoba menggeser posisi duduknya.

"Grace? Kamu sudah sadar?" Suara lembut Nalea terdengar dari samping ranjang.

Grace menoleh pelan, mendapati Nalea dan Kayzo sedang memperhatikannya dengan raut cemas. Ia mencoba mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, mencari satu sosok yang biasanya akan memenuhi ruangan itu dengan aura dominan—dan mungkin suara kemarahan. Namun, kursi di pojok ruangan itu kosong.

"Dia tidak ada?" tanya Grace dengan suara serak, hampir seperti bisikan.

Nalea menghela napas panjang, ia tahu siapa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. "Kak Vian sudah kusuruh pulang, Grace. Kamu tahu sendiri kan, kakakku itu selalu emosi setiap kali melihatmu terluka. Aku tidak mau suasana rumah sakit menjadi gaduh karena perdebatan kalian."

Grace terdiam, ia menatap punggung tangannya yang tertancap jarum infus. Ada rasa pahit yang menjalar di hatinya. "Madam... maafkan aku. Aku selalu saja membuat repot. Dan maaf karena membuat hubunganmu dengan Kak Vian menjadi tegang."

"Jangan meminta maaf, Grace. Ini bukan salahmu," sahut Nalea tegas. Ia menggenggam tangan Grace yang dingin.

Grace tersenyum miris. "Aku hanya merindukan Zavian yang dulu, Madam. Zavian yang saat kita baru melakukan pendekatan... Dia yang lembut, dia yang sangat memperhatikanku tanpa perlu menghakimiku. Sekarang, setiap kali kami bertemu, yang kudengar hanya tuntutan agar aku berhenti, atau amarah karena aku dianggap tidak becus menjaga diri."

Nalea menatap Grace dengan rasa sedih yang mendalam. Sebagai sahabat sekaligus orang yang pernah berada di posisi yang sama, ia sangat memahami beban itu.

"Grace, dengarkan aku," Nalea memperbaiki posisi duduknya. "Jika hubungan ini benar-benar membuatmu merasa sesak, mungkin sudah waktunya kamu berpikir ulang. Pasrahkan semuanya kepada Tuhan. Aku melihat kalian saling mencintai dengan luar biasa, tapi kalian tidak tahu cara bersikap yang tepat. Masing-masing dari kalian memiliki sisi egois yang tidak bisa disentuh. Kak Vian dengan kontrolnya, dan kamu dengan rahasiamu."

Grace hanya terdiam, air matanya perlahan mengalir di sudut mata.

"Aku akan menasehati Kak Vian nanti. Aku akan katakan padanya, jika dia hanya datang untuk marah-marah, lebih baik dia tidak perlu menemuimu dulu. Kamu fokus saja dengan kesembuhanmu. Sementara urusan Blackrats, biar aku yang menanganinya untuk beberapa hari ke depan," pungkas Nalea dengan nada yang tak terbantahkan.

1
Valencia
Nah ksn grace jadi gak sadar lagi, ini semua gara2 ksmu andreas, lagian sakit hazi sama cewek kok mabuk2an
Valencia
Aduh Andreas main sosor aja, gimana kalau sampai Zavian tau grace di cium coeok lain🙈
Valencia
Astaga Andreas sampai segitunya mau merubah penampilan grace, sampai manggil penata rias sehals🤣
Valencia
Wahh Zavian keren gak sia2 mengjilang dan belajar bels diri di swis
Valencia
syukurlah Zaviang datang tepat waktu dan busa membantu grace melawan tikus2 got itu, semoga aja zavian terus menjadi pelindung
Valencia
Wahh untung ada grace coba gak bakal ketipu tuh si Andreas, pasti andreas tambah kagum sama Grace
Valencia
wahh ternyata yang jadi pembunuh bayaran paman nya andreas adalah penerus lyus, jadi lenasaran apakah mereka akan berhasil menghabisi Andreas
Valencia
Grace benar2 hebat bisa mengwtahui niat musuh, dan untungnya cuma grace cuma luka lecet
Valencia
wkwk ngakak kasihan Andreas udah cerita banyak tapi grace tetap pads pendiriannya tetap dingin dan gak kepo sama urusannya si tuan muda🤣
Valencia
Wahh ada saingan Zavian nih,jadi penasaran gimana kalai Zavian lihat andreas bersama grace
Valencia
wajar sih kalau Grace takut secara biasanya Zavian ngomel2 mulu kek mak2, ini tiba2 mellow kan Grace malah takut🤣
Valencia
Bagus lah kalau kamu sadar diri zavian emang itu yang harus kamu lakukan, menjadi pelindung buat grace
Valencia
nah kan akhirnya kamu tau kevenarannya Zavian, percuma kamu nyesel sekarang grace juga belum sadar, makanya jadi cowok itu jangan terlalu posesif dan selalu marah2
Valencia
Zavian ini otaknya udah miring apa gimana sih, di pikirannya mau marah mulu
Valencia
Codet benar2 cari mati dah di kasih tau masih aja ngeyel, kalau udah gini siapa yang mau nolingin
SENJA
menjijikan lu sumpah 😤
SENJA
lu menjijikan soale 😤
SENJA
dih gila lu dasar 😤
SENJA
hadeeeh mabok ga jelas 😤
SENJA
grace udah ada kontrak kerja, lu jangan bikin blackrats juga rusak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!