NovelToon NovelToon
My Little Lily

My Little Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:635
Nilai: 5
Nama Author: Nanawf_98

Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.

Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 17

Malam pekat bertabur bintang terlihat sangat indah dari kejauhan. Rembulan menggantung rendah, memancarkan cahaya perak lembut yang menyapu atap-atap rumah. Sarah duduk dalam diam di dekat jendela sembari menatap keluar. Pandangannya kosong. Pikirannya sedang terbang kemana-mana, sedang tidak pada tempatnya. Seolah raga itu hanya cangkang tanpa jiwa.

Nafasnya terhela berkali-kali. Air mata jatuh membasahi pipi tanpa ia sadari.

Suasana hatinya sedang buruk saat ini. Harusnya sejak awal Sarah menolak untuk pergi. Tetapi saat melihat sang suami begitu merindukan ibunya, rasa kasihan datang menghampiri, yang diiringi dengan rasa iba yang melingkupi.

Bagaimanapun, sebagai orang yang hidup tanpa kasih sayang orangtua, Sarah bisa merasakan betapa pedihnya merindu tanpa bisa berjumpa. Dan ia tidak mau Chandra mengalami itu, dan ia juga tidak mau menjadi penghalang diantara mereka.

Namun, selalu ada harga yang harus dibayarkan atas sebuah pengorbanan. Demi menurunkan egonya, kini ia lah yang tersakiti. Kini putrinya lah yang ikut menderita.

Setelah kejadian di meja makan itu, Sarah kembali ingin pulang. Tangis Lily juga semakin kencang. Meminta hal yang sama. Sementara sang mertua kembali marah-marah seperti biasa. Kembali mencaci, menuduhnya tak becus mengurus anak. Padahal sebelumnya, Lily tak pernah serewel ini.

Gadis kecil itu memang terbiasa merengek, tetapi tak pernah menangis kencang. Tak pernah memberontak, tak pernah tantrum. Sarah yakin putrinya bisa merasakan ketidaknyamanan berada disini. Makanya ia begitu.

Selain oleh sang mertua, kedua kakak iparnya juga ikut menyudutkannya. Mengatakan bahwa ia tak berguna. Mengatakan bahwa ia tak seharusnya bersanding dengan Chandra.

Bahkan kini di meja makan yang penuh dengan orang-orang, di depan anak-anak yang harusnya tak perlu tahu hal seperti ini, kebencian mereka tak lagi ditutupi.

Sarah tersentak dari lamunan ketika ponsel Chandra yang tergeletak di atas meja terus berdering panjang, tak berhenti. Tapi tak dihiraukannya. Ia hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap ke depan. Terlalu malas untuk bergerak, terlalu malas untuk bergeser meski sedikit.

Di atas ranjang, Lily begitu gelisah. Entah terganggu karena suara ponsel yang memekakkan telinga, entah terganggu karena hal lainnya. Karena saat mata itu masih terpejam, gumaman tak jelas terdengar dari bibir mungilnya, sementara dari sudut mata, butiran bening itu keluar.

Sarah datang mendekat, lalu duduk disisi ranjang. Ia menepuk-nepuk bahu Lily pelan. Berharap sang putri kembali tenang. Selimut yang tersingkap, ia betulkan. Kali ini Lily bergerak lagi, namun rintihannya berhenti. Sementara jempolnya yang kecil dan gemuk, masuk ke dalam mulut.

Chandra datang setelahnya. Dari luar kamar. Ia menatap sang istri sebentar, sebelum akhirnya berjalan kearah dimana ponselnya berada. Nama Rama tertulis disana. Terpampang nyata. Saat panggilan itu diangkat, terdengar suara panik dari ujung sana.

"Chan tolong..." Nafas Rama tersendat, membuat apa yang ingin ia katakan terhenti.

Chandra mengerutkan dahi. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak. "Ada apa Ram? Apa yang terjadi?"

Namun Rama tak kunjung bicara. Hanya suara nafasnya yang terdengar semakin berat.

"Ram, tenangkan diri kamu dulu. Tarik nafas pelan-pelan, lalu hembuskan. Kamu bisa bicara ketika sudah lebih baik." Kata Chandra.

Sarah yang masih fokus pada Lily, mengalihkan tatapnya. Pupil matanya bergerak-gerak gelisah. Jemarinya saling meremas dipangkuan. Rasa khawatir menelusup perlahan.

Di ujung sana Rama mulai menceritakan apa yang terjadi. Secara singkat, padat dan runtut. Tanpa ada yang ditutupi.

Chandra terus mendengarkan dalam diam. Pupil matanya membesar. Rahangnya mengeras. Sementara cengkraman pada ponselnya menguat hingga urat-urat ditangannya terlihat.

Sarah tidak ingin menduga-duga. Ia hanya bisa menunggu dalam ketidaktahuan yang menyesakkan. Namun kekhawatirannya semakin jelas seiring berubahnya raut wajah Chandra.

Setalah panggilan terputus. Chandra segera berjalan ke sudut, tepat dimana barang-barang mereka berada, koper, tas milik anak-anak, lalu membereskannya.

"Apa yang terjadi?" Tanya Sarah.

"Kita harus pulang sekarang. Rama dan keluarganya dalam bahaya." Balas Chandra cepat.

"Apa maksudnya?"

"Seseorang berusaha mencelakai mereka. Pagi tadi mobil Rama masih baik-baik saja. Masih bisa digunakan dengan normal tanpa kendala. Tapi malam ini, setelah mereka kembali dari sebuah restoran, remnya tiba-tiba blong. Lalu menabrak mobil lain. Mona dan Jeffrey terluka parah dan dirawat dirumah sakit sekarang."

Sarah menutup mulutnya, tak percaya. Orang seperti apa yang dengan tega mencelakai orang lain?

"Dimana Andra?" Tanya Chandra.

"Dia lagi main sama Risma dan Tasya." Balas Sarah.

Chandra mendekat. "Tolong kamu selesaikan ini dan bangunin Lily. Aku mau jemput Andra sekalian mau pamitan sama mama."

Sarah mengangguk sebagai balasan. "Iya mas."

Dengan itu Chandra segera keluar, kemudian berbelok ke kanan. Ia telusuri setiap sudut rumah. Kamar mandi, dapur, halaman samping, namun tak ada.

Hari ini semua yang telah ia susun tak berjalan sesuai rencana. Sebelumnya, ia berniat untuk mendekatkan sang istri dengan ibunya. Membuat hubungan yang sejak awal retak, supaya membaik. Tetapi gagal sepenuhnya. Ibunya masih sekeras dulu. Lamanya waktu tak melunturkan itu.

Di ruang keluarga, ibu dan kedua kakaknya tengah menonton televisi sembari bercerita. Selayaknya ibu-ibu pada umumnya. Tentang tokoh protagonis yang terlalu lemah atau tentang tokoh antagonis yang terlalu jahat sebagai manusia. Tak jarang obrolan mereka beralih pada bahan pokok yang semakin mahal atau gosip antar tetangga yang menghebohkan.

Chandra berjalan menghampiri mereka. Langkahnya cepat dan pasti. Dengan wajah penuh ketegangan. "Mba, anak-anak dimana?" Tanyanya tanpa basa-basi.

"Mereka lagi main di teras. Kenapa? Mau disuruh tidur yah? Masih sore Chan, biarin aja mereka main." Balas kakak perempuannya.

"Bukan."

"Kenapa wajah kamu tegang begitu. Berantem sama istri mu?" Tanya kakak perempuan Chandra yang lain. Nada suaranya begitu sinis. Dengan kaki menyilang sempurna.

"Kita mau pamit pulang."

Nenek segera berdiri dengan wajah marah. Rahangnya terkatup, alisnya menukik tajam. Sementara tangannya terkepal disisi tubuh.

"Apa istri mu yang meminta pulang?!! Kenapa dia nggak suka sekali kamu dekat dengan ibu?!! Ini juga rumah kamu Chandra!!" Teriaknya jengkel.

"Bu, bukan begitu." Sanggah Chandra. Ia berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Namun apa yang akan keluar dari mulut, hanya bisa menyangkut di tenggorokan karena sang ibu berhasil menyela.

"Lalu apa??!! Istrimu itu kan emang kayak gitu!! Dia nggak suka sama ibu!! Kenapa dulu kamu kekeh banget sih nikah sama dia? Asal usulnya aja nggak jelas. Dia itu nggak layak. Dia nggak setara sama kita. Harusnya kamu tahu itu. Bahkan demi dia kamu rela meninggalkan Ranti. Apa bagusnya Chandra!!"

"Bu! Tolong, jangan ungkit itu lagi. Semuanya sudah punya kehidupan masing-masing. Dan aku nggak pernah cinta sama Ranti." Chandra berusaha menekan suaranya. Berusaha tak menyakiti perasaan ibunya.

Air mata Sarah kembali turun. Dari balik pintu ia bisa mendengar semuanya.

***

Di rumah sakit, tiga ambulan baru saja tiba di depan IGD. Dengan suara sirine yang memecah hiruk pikuk di dalamnya. Suara pintu masuk terbuka, kemudian tertutup secara otomatis. Begitu terus tanpa henti, seolah tak memberi ruang untuk beristirahat.

Suara langkah kaki cepat, derit kursi roda, detak monitor dan tangisan keluarga memenuhi setiap sudutnya. Petugas medis berlari, menarik brangkar ke dalam. Sementara tangan-tangan ajaib mereka berusaha menyelematkan.

Di atas ranjang rumah sakit, tiga tubuh terbaring lemah. Tak sadarkan diri. Sementara cairan berwarna merah membasahi baju mereka. Rama mengalami benturan keras pada bagian kepala. Menyebabkan memar dan kebiruan. Ada juga luka sobekan di bagian pelipis yang memanjang. Serta gesekan pada siku.

Benturan pada Mona lebih keras. Lebih parah. Mengenai area sekitar perut. Menyebabkan sakit yang tak tertahankan. Bagian belakang kepalanya sobek. Darah banyak keluar dari sana.

Sementara Jeffrey mendapat luka tusukan pada bagian perut. Luka itu menyebabkan ia kehilangan banyak darah.

Setelah mobil Rama menabrak mobil lain, dengan kerusakan berat dan hampir terguling, seseorang datang untuk memperparah keadaan.

Orang tak dikenal itu mengenakan penutup kepala. Hanya matanya saja yang terlihat. Berkilat, penuh aura permusuhan. Sementara di tangan orang itu, sebuah pisau berkilau karena terkena cahaya dari lampu jalan.

Pada awalnya orang itu menargetkan Rama. Mencoba membunuhnya. Namun gagal karena Rama masih bisa melawan ditengah kesadaran yang hampir hilang. Ia berhasil memukul orang itu dan menendangnya mundur.

Orang-orang mulai berdatang saat mendengar keributan. Disaat itulah, orang dengan penutup kepala itu beralih ke kursi belakang. Tepat dimana Jeffrey berada tak sadarkan diri. Dan pisau itu mendarat padanya, tepat dibagian perut sebelum orang itu menghilang.

Dokter segera memeriksa tanda vital. Pernapasan, nadi dan kesadaran. Untuk kemudian diprioritaskan berdasarkan tingkat keparahan. Pemasangan infus, pemberian oksigen dan menghentikan pendarahan dilakukan dengan cepat.

Malam semakin mencekam. Dengan hening yang memilukan. Di luar, hujan terdengar seperti bisikan-bisikan ketakutan yang tertahan.

Kesadaran Rama perlahan kembali. Ia mulai membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah ruangan serba putih dengan gorden biru yang membatasi. Di tangan, sesuatu terpasang.

Rama mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya, lalu terduduk seketika. Rasa pusing dapat ia rasakan setelahnya. Yang membuat ia menunduk sembari memegangi kepala.

Rama mencoba turun dari ranjang. Infus ia pegang ditangan. Sementara tubuhnya turun perlahan. Kini ia berencana untuk mencari anak dan istrinya.

Sesampainya di depan pintu, seorang dokter berhasil menahannya.

"Pak Rama, syukurlah anda telah sadar." Ucap dokter itu. Senyumnya tak sampai ke mata. Seperti ada hal yang tersembunyi di dalamnya.

"Dimana anak dan istri saya dok?" Tanya Rama cemas.

Dokter itu mencoba menangkan. "Mohon tenang dulu pak Rama. Anda juga belum pulih benar."

"Mari masuk dulu, anda bisa mendengarkannya sambil duduk." Ajak dokter itu.

Mau tidak mau Rama menurut. Ia mengikuti langkah sang dokter.

Saat ia telah duduk diatas ranjang, barulah dokter itu kembali membuka suaranya.

"Jadi begini pak Rama, anda mengalami cedera ringan dikepala. Itu akan membaik dalam 7-10 hari. Namun masa pemulihan bisa sampai 1-4 Minggu tergantung kondisi. Sementara lainnya hanya luka luar yang akan segera pulih,"

Dokter menjeda ucapannya. Menunggu hingga Rama mampu menerima.

"Untuk putra anda, kami telah melakukan operasi untuk menghentikan pendarahannya. Mengeluarkan benda asing yang mungkin saja tertinggal. Beruntung, organ vitalnya baik-baik saja. Dia masih dalam pemantauan pasca operasi."

Lutut Rama terasa lemas sekarang. Keringat dingin mulai bermunculan. Air mata mengalir perlahan.

"Kondisi istri anda sedikit tidak beruntung. Benturan keras yang dia alami menyebabkan rahimnya sobek. Terjadi pendarahan internal yang sangat hebat yang mengharuskan kami untuk segera melakukan pengangkatan rahim. Keadaanya begitu darurat pada saat itu hingga bisa membahayakan nyawa istri anda."

Saat itulah, dunia Rama seolah runtuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!