NovelToon NovelToon
Am I Really Daddy'S Daughter?

Am I Really Daddy'S Daughter?

Status: sedang berlangsung
Genre:Putri asli/palsu / TimeTravel / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ChikoGin

Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.

Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?

Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14: Mawar Yang Menumbuhkan Duri

Tahun-tahun berlalu seperti embusan angin yang tak terasa, namun jejaknya tertinggal jelas pada sosok yang kini duduk di balik meja kerja itu. Sejak kepergian Valerius, kehidupan Rubellite berubah drastis menjadi serangkaian jadwal yang ketat. Hari-harinya diisi dengan pelajaran politik, etiket tingkat tinggi, hingga strategi untuk memperkuat posisinya di istana. Tak ada lagi waktu untuk sekadar berlari di lorong; kini setiap langkahnya diperhitungkan.

Cahaya sore yang hangat menyelinap masuk, menembus jendela besar dengan tirai tipis yang menari-nari ditiup angin. Di sana, terlihat seorang wanita muda yang cantik luar biasa dengan postur tubuh tegak dan anggun. Jemarinya yang lentik dengan lincah menggoreskan tinta di atas dokumen-dokumen penting. Di rambutnya yang tertata rapi, masih tersemat pita perak putih yang kini sudah menjadi ciri khasnya—tanda bahwa ia masih menjaga janji yang tertinggal bertahun-tahun lalu.

Kriieeet...

Suara pintu yang terbuka perlahan memecah keheningan ruang pribadi tersebut.

"Nona, ini dokumen tambahan tentang persiapan upacara hari kedewasaan Anda," suara yang sudah sangat akrab itu memanggil.

Sosok wanita itu berpaling sedikit, memperlihatkan garis wajah yang kini lebih tegas namun tetap menawan. Matanya yang jernih menatap ke arah pelayan setianya yang juga telah tumbuh dewasa.

"Letakkan saja di mejaku, Anna," jawab Rubellite dengan nada suara yang tenang namun penuh wibawa.

Anna melangkah masuk, meletakkan tumpukan kertas itu dengan rapi. Ia menatap nonanya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Upacara kedewasaan tinggal menghitung hari. Seluruh ibu kota sedang membicarakannya, Nona. Dan... kabarnya, para tamu dari perbatasan juga mulai berdatangan."

Tangan Rubellite yang sedang memegang pena sempat terhenti sejenak mendengar kata 'perbatasan'. Jantungnya memberikan reaksi kecil yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia terdiam, membiarkan ujung penanya menggantung di atas kertas hingga setetes tinta jatuh merusak tulisan rapi di hadapannya. Kata 'perbatasan' itu masih memiliki sihir yang sama, bahkan setelah bertahun-tahun ia mengubur perasaannya dalam tumpukan dokumen negara.

"Para tamu dari perbatasan..." Rubellite mengulang kalimat itu dengan suara rendah, seolah sedang mencicipi makna di balik setiap katanya. "Apakah ada daftar nama resminya, Anna?"

Anna yang sudah sangat mengenal nonanya itu hanya tersenyum simpul. "Daftar manifes tamu baru saja tiba di meja kepala pelayan, Nona. Namun... kudengar pertempuran terakhir di wilayah Utara sangat sengit. Beberapa bangsawan muda mungkin akan terlambat sampai ke ibu kota karena harus mengurus pembersihan sisa-sisa pemberontak."

Rubellite menarik napas panjang, mencoba mengusir kekecewaan kecil yang mulai merayap. Ia bangkit dari kursi kerjanya, melangkah menuju jendela yang terbuka lebar. Angin sore memainkan helaian rambutnya, dan jemarinya secara refleks menyentuh permukaan pita perak putih yang masih terikat setia di sana.

"Dia sudah berjanji akan kembali," gumam Rubellite lebih kepada dirinya sendiri. "Dan aku sudah menunggunya selama ini sambil memperkuat posisiku. Aku tidak akan membiarkan upacara kedewasaanku berlalu tanpa kehadirannya."

Rubellite kemudian berbalik, tatapannya kini kembali tajam dan penuh determinasi. "Anna, siapkan gaun upacara yang paling megah. Dan pastikan daftar tamu itu sampai ke tanganku malam ini juga. Aku ingin tahu siapa saja yang akan menginjakkan kaki di istanaku."

Anna membungkuk hormat, meletakkan tumpukan dokumen persiapan itu dengan presisi di sudut meja yang masih kosong. "Saya juga sudah menyiapkan teh kamomil untuk membantu Anda beristirahat nanti, Nona," tambah Anna lembut sebelum melangkah mundur dan keluar dari ruangan.

Klik.

Pintu tertutup rapat. Keheningan kembali merajai ruang pribadi itu, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung setiap detik penantian Rubellite selama bertahun-tahun ini.

Rubellite menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang empuk, matanya terpejam sejenak. Ia teringat janji di surat kecil bertahun-tahun lalu. 'Aku akan kembali. Tunggu aku.'

Ia membuka matanya, menatap lurus ke arah jendela di mana matahari mulai tenggelam, menciptakan semburat warna merah mawar di cakrawala. Ada rasa sesak yang akrab di dadanya—campuran antara rindu yang berkarat dan ketakutan jika sosok yang ia tunggu telah berubah menjadi orang asing.

Ia menarik laci meja paling bawah yang terkunci rapat. Di sana, tersimpan puluhan surat yang tak pernah ia kirimkan. Setiap surat hanya berisi satu pertanyaan yang sama, Kapan kau pulang?

Rubellite mengambil pena kembali, mengabaikan rasa lelahnya. Ia sempat berpikir, jika Valerius benar-benar akan kembali, maka ia harus memastikan bahwa dirinya adalah sosok yang pantas bersanding di sisi Duke muda itu—bukan lagi mawar kecil yang butuh dilindungi, melainkan mawar berduri yang mampu menguasai istananya sendiri.

"Datanglah, Valerius," bisiknya pada angin sore yang dingin. "Sebelum aku lupa cara merindukanmu."

[malam pun tiba]

Suara langkah kaki Anna sudah lama menghilang di balik lorong, menyisakan keheningan yang berat di dalam ruang kerja tersebut. Rubellite masih mematung di kursinya, menatap tumpukan kertas manifes tamu yang tadi sempat dijanjikan akan diantar oleh pelayan lain ke mejanya.

Tangannya yang semula bergerak lincah menulis dokumen negara, kini terulur dengan ragu. Ada ketakutan kecil yang tidak masuk akal saat jemarinya menyentuh tepian kertas tersebut. Dengan napas yang sedikit tertahan, ia menarik lembaran itu ke hadapannya.

Mata Rubellite menyisir nama-nama yang tertera dengan kecepatan yang tidak biasa. Ia melewati daftar bangsawan dari wilayah Selatan, Timur, dan Barat tanpa minat sedikit pun. Fokusnya hanya satu: Wilayah Utara.

Count Erland...

Baroness Sybil...

Baron dari Divisi Ketiga...

Rubellite berhenti. Ia mengerutkan kening, lalu membalik halaman kertas itu, mencari di bagian belakang, barangkali nama itu terselip di daftar tambahan atau catatan kaki. Namun, putihnya kertas itu seolah mengejeknya.

Nama Valerius tidak ada di sana.

Tangan Rubellite yang memegang kertas perlahan gemetar. Ia meletakkan kembali kertas itu di atas meja, tapi kali ini dengan tekanan yang lebih kuat hingga kertas itu sedikit kusut di bawah jemarinya.

"Tidak ada..." gumamnya lirih. Suaranya pecah di tengah ruangan yang sunyi itu.

Ia kembali mengambil kertas itu, membacanya untuk ketiga kalinya, berharap ia hanya melewatkan satu baris karena kelelahan. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada nama pria yang selama bertahun-tahun ini menjadi alasan utamanya untuk tetap bertahan di tengah intrik istana yang kejam.

Rubellite tertawa kecil, tawa getir yang terasa perih di tenggorokannya. Ia menatap Pita Perak Putih yang terpantul di cermin mejanya—benda yang ia jaga seperti nyawanya sendiri, sementara pemilik aslinya bahkan tidak mendaftarkan namanya untuk hadir di hari paling penting dalam hidup Rubellite.

"Jadi, begini caramu membalas penantianku, Valerius?"

Ia meremas manifes tersebut hingga menjadi bola kertas yang berantakan, lalu melemparnya sembarang ke atas meja. Rasa sesak di dadanya kini berubah menjadi kemarahan yang dingin. Rubellite berdiri, melangkah menuju jendela dan menatap kegelapan malam ibu kota yang mulai dihiasi lampu-lampu persiapan pesta.

"Baiklah," bisiknya pada angin malam. "Jika kau memilih untuk menjadi pengecut yang melupakan janji, maka aku akan memastikan besok adalah hari di mana aku benar-benar menghapusmu dari hidupku."

Ia tidak lagi menyentuh pita di rambutnya. Ia justru berbalik, mengambil pena, dan melanjutkan pekerjaannya dengan gerakan yang lebih tajam dan tegas dari sebelumnya. Jika cinta hanya memberinya rasa sakit, maka kekuasaanlah yang akan ia peluk erat-erat mulai besok.

Lampu minyak di atas meja kerja itu terus menyala, menjadi satu-satunya sumber cahaya di tengah kegelapan istana yang mulai tertidur. Rubellite tidak berhenti. Suara goresan penanya di atas kertas terdengar konsisten dan tajam, seirama dengan detak jantungnya yang kini terasa lebih dingin. Setiap dokumen yang ia tandatangani malam itu seolah menjadi paku yang mengunci rapat kotak masa lalunya. Ia tidak lagi melirik ke arah bola kertas manifes yang tergeletak di lantai.

Hingga akhirnya, cahaya biru pucat dari ufuk timur mulai menyusup masuk melalui celah jendela. Fajar hari kedewasaannya telah tiba.

Rubellite meletakkan penanya. Ia berdiri dengan punggung tegak, menatap matahari terbit yang akan menyinari perayaannya. Wajahnya yang kelelahan tidak menyurutkan binar determinasi di matanya.

"Masuklah, Anna," ucap Rubellite tenang, seolah ia tahu pelayannya sudah berdiri di balik pintu untuk membangunkannya.

Pintu terbuka, dan Anna terpaku melihat nonanya masih mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin, namun dengan aura yang jauh berbeda.

"Siapkan mandiku," perintah Rubellite tanpa menoleh. "Dan Anna... simpan gaun merah itu. Aku ingin mengenakan sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang akan mengingatkan mereka bahwa aku bukan lagi seorang putri yang bisa mereka remehkan."

Ia terdiam sejenak, lalu tangannya terangkat ke belakang kepala. Dengan satu tarikan yang mantap, ia melepas Pita Perak Putih yang selama bertahun-tahun menghiasi rambutnya. Ia menatap benda itu sebentar, lalu meletakkannya di dalam laci meja yang paling bawah—bersama puluhan surat yang tak pernah dikirimkan.

Klik.

Laci itu terkunci rapat.

"Ayo mulai hari ini," ucapnya tegas.

1
Raine
heh bukannya si raze bela kamu ya, kok jadi marah ke si raze ?? trus mengulang waktu kan, tumbang cuman karna diketawain ck
★Xia★
🥳🥳🥳
★Xia★
semangat kak, ak selalu nunggu up nih tapi cuma 1bab aja, semangat terus biar bisa up banyak kedepannya
★Xia★: gppp kok, akan ku tunggu
total 4 replies
★Xia★
seru banget
★Xia★
semangat kakkkk😍😍😍😍
★Xia★: Sama-sama
total 2 replies
Zimbabwe Zimbabwe01
mantap bro walaupun agak kureng💪🤣🤣
Nico Ardi: baru belajar buat novel sih hhe👍
total 1 replies
Steven Stevennn
p
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!