"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"
"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."
"Hentikan! Jangan sentuh aku!"
"Jika aku tak mau?"
"Kau tidak waras!"
Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.
Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.
Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Sekalinya Milikku Akan Menjadi Milikku
Valeria tidak tidur dengan nyenyak, terkadang ia terbangun. Tapi dengan resiko tangan Rodrigo menahannya.
Gadis itu memutar tubuhnya,membuat keduanya berhadapan. Ia menatap wajah tampan itu, wajah yang selalu menjadi candu dan cintanya.
Wajah terlelap, lelah. Bahkan Rodrigo tidur dengan memakai kemeja.
Valeria menggigit bibir bawahnya. Saat ia hendak meraih remot AC. Tangan Rodrigo menahan tubuhnya.
Rodrigo mengerjap. Ia menatap wajah Valeria begitu dekat.
"Apa kau berusaha menghindar dariku?"
"A.....aku hanya ingin mengambil itu." tunjuknya pada remote AC.
"Aku berpikir itu hanya alasanmu saja!"
"Terserah apa yang kau katakan."
Rodrigo mengambil remot AC itu. Matanya tidak lepas dari tatapan Valeria. Dengan cepat ia memberikan itu pada Valeria.
Malam itu, hujan gerimis di luar rumah toko milik Valeria. Tidak deras, hanya cukup untuk membuat jalanan basah, memantulkan cahaya lampu kota seperti serpihan kaca yang berkilau.
Di bawah, toko kue milik Valeria sudah lama tutup. Papan "CLOSED" menggantung miring di kaca etalase. Aroma manis vanila, kayu manis, dan mentega masih tersisa di udara, menempel pada dinding, pada tirai, pada napas Valeria seolah rumah itu sendiri menyimpan jejaknya. Namun, di atas suasananya jauh berbeda.
Di kamar sempit yang biasanya menjadi tempat Valeria bersembunyi dari lelahnya dunia, ia justru terjebak bersama pria yang menjadi masalalunya.
Kasur Valeria tidak besar, hanya cukup untuk satu orang jika ingin nyaman. Tapi Rodrigo tidur di sana seolah kamar itu miliknya. Tubuhnya yang tinggi membuat ranjang tampak lebih kecil. Bahkan bantal Valeria sudah berpindah posisi, dan selimutnya kini menutupi separuh dada Rodrigo.
Valeria menelan ludah. Ia memegang remote AC itu, tapi jarinya gemetar. Bukan karena dingin. Bukan karena takut pada gelap. Melainkan karena Rodrigo menatapnya seperti itu. Tatapan yang terlalu dalam, terlalu menuntut, terlalu memiliki.
Hening menggantung di antara mereka, hanya suara AC yang mulai terdengar pelan.
Angin dingin berembus lembut, tapi tidak mampu mendinginkan panas yang menyelinap di bawah kulit Valeria.
Rodrigo tidak bergerak, tapi lengannya masih melingkar di pinggang Valeria, seakan itu adalah pengingat. Kau tidak akan pergi lagi, sudah cukup dua tahun kau menghindar dariku.
Valeria mencoba menepis rasa sesak di dadanya.
"Rodrigo…" suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.
Rodrigo mengerjap lambat. "Apa?" suaranya serak, khas orang yang baru bangun. Tapi tatapannya sama sekali tidak terlihat mengantuk.
Valeria menarik napas, memaksakan keberanian yang bahkan ia sendiri tidak yakin masih punya.
"Ini salah."
Rodrigo terdiam. Mata gelap itu menyipit sedikit, seperti ia menahan sesuatu, entah marah, entah emosi lain yang lebih berbahaya.
Valeria menggigit bibirnya, lalu melanjutkan, lebih tegas meski suaranya bergetar.
"Kau.... kau punya tunangan. Seraphine."
Nama itu keluar dari bibirnya seperti duri.
Sekejap, wajah Rodrigo berubah. Bukan kaget. Bukan bersalah. Melainkan, dingin.
Rodrigo perlahan mengangkat tangannya, menyentuh dagu Valeria, memaksanya menatap tepat ke matanya.
"Aku tidak datang ke sini untuk membicarakan Seraphine."
Valeria menahan napas. "Tapi itu kenyataan!" Valeria membalas, kali ini lebih keras, meski matanya berkaca-kaca.
"Kau bertunangan! Kau akan menikah dengannya! Dan aku—"
Ia berhenti. Tenggorokannya tercekat.
"Dan aku apa, Rodrigo? Aku ini apa untukmu?"
Rodrigo tidak memberi kesempatan Valeria menyelesaikan kalimatnya. Ia menarik Valeria lebih dekat, sampai tubuh mereka nyaris tidak punya jarak. Sampai Valeria bisa merasakan napas Rodrigo di bibirnya.
"Dan kau?" Rodrigo bertanya pelan.
Valeria membeku.
"Apa kau pikir kau hanya akan menjadi kenangan?" Rodrigo menekan, suaranya seperti racun yang manis. "Atau kau ingin aku berpura-pura tidak pernah menyentuhmu?"
Valeria memalingkan wajah, menahan air mata yang hampir jatuh.
"Kau jahat...."
Rodrigo tersenyum tipis. Tapi senyum itu tidak hangat. Tidak lembut.
Senyum itu mencekam.
"Ya," jawab Rodrigo tanpa ragu. "Aku memang jahat kalau itu semua tentangmu."
Valeria mencoba mendorong dada Rodrigo, tapi tubuh pria itu tidak bergeser sedikit pun. Ia seperti tembok. Seperti penjara yang bernafas.
"Rodrigo, sadar!" Valeria berkata lirih, suaranya pecah. "Ini salah. Ini, Kau disini sedangkan kau seharusnya bersama calon istrimu itu."
Rodrigo menatapnya lama. Lalu ia berkata, suaranya rendah dan tegas, seperti sumpah yang tidak bisa ditarik kembali.
"Sekalinya milikku akan menjadi milikku."
Valeria membeku total. Jantungnya seperti berhenti satu detik.
"Aku tidak akan melepaskanmu." Kata-kata itu menghantam Valeria seperti badai.
Valeria menatap Rodrigo, mata coklatnya berkabut. "Kau.....kau tidak bisa bicara seperti itu," Valeria berbisik, nyaris memohon. "Aku bukan barang."
Rodrigo menghela napas pelan, lalu mengusap rambut Valeria dengan gerakan lambat. Terlalu lembut untuk seseorang yang barusan berkata sekejam itu.
"Aku tahu kau bukan barang." Valeria menelan ludah.
"Tapi kau milikku," lanjut Rodrigo, lebih pelan, lebih dekat. "Dan kau juga tahu itu."
Valeria menggeleng cepat.
"Tidak.... tidak.... Itu tidak benar!"
Rodrigo memegang kedua pipi Valeria, memaksa wajah itu kembali menatapnya.
"Berhenti bohong pada dirimu sendiri," katanya.
Valeria memejamkan mata. Air mata jatuh satu. Lalu dua. "Aku benci ini semua!" Valeria berkata lirih. "Aku benci diriku sendiri karena, karena aku masih—"
Rodrigo menunduk, menempelkan keningnya pada kening Valeria.
"Kau masih mencintaiku," Rodrigo menyelesaikan kalimat itu dengan tenang, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Valeria terisak.
"Dan kau masih mencintaiku," Rodrigo menambahkan.
Valeria menggigit bibirnya sampai sakit, mencoba menahan.
"Aku tidak mau jadi wanita ketiga,pergi dari hidupku!" Valeria berkata, tegas meski air matanya mengalir. "Aku tidak mau jadi alasan seseorang terluka."
Rodrigo terdiam sejenak. Lalu ia tertawa kecil—tawa yang tidak lucu, tidak ramah.
"Seraphine tidak akan terluka."
Valeria membuka mata, menatapnya tajam.
"Apa maksudmu?" Rodrigo mengusap pipi Valeria, menghapus air mata yang mengalir.
"Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu," ucap Rodrigo.
Valeria semakin sesak. "Itu tidak menjawab pertanyaanku, Rodrigo! Kau bertunangan!"
Rodrigo memandangnya lama. Lalu ia berkata, datar tapi menusuk. "Pertunangan itu hanya kontrak. Aku tidak menginginkannya!"
Valeria menggeleng. "Kontrak atau bukan, itu tetap ikatan."
Rodrigo mendekat sedikit lagi. "Tapi kau... bukan kontrak."
Valeria menahan napas. Rodrigo melanjutkan, suaranya lebih gelap, lebih mencekam.
"Kau adalah satu-satunya hal yang aku inginkan sejak dulu."
Valeria menatapnya, seolah tidak percaya.
"Rodrigo, ini gila...."
Rodrigo mengangguk pelan. "Aku tahu. Tapi aku menyukai hal gila. Katakan kenapa kau meninggalkanku?"
Pria itu menekan tubuh Valeria kembali ke kasur, bukan kasar, tapi cukup kuat untuk membuat Valeria sadar bahwa ia tidak punya kendali.
Sialan.
Valeria menatap langit-langit kamar.
Suara hujan di luar terdengar semakin jelas. Toko kue di bawah seolah menjadi saksi bisu.
Seolah aroma manis itu berubah menjadi ironi, karena malam ini, yang terjadi bukanlah manis. Yang terjadi adalah sesuatu yang berbahaya.
Valeria menelan ludah, lalu berkata dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar.
"Kalau kau terus begini.... kau akan menghancurkan semuanya."
"Jawab pertanyaanku, apa sesulit itu untuk menjawab pertanyaanku?" Rodrigo menatapnya tanpa berkedip.
"Biarkan hancur."
Valeria terkejut. "Apa?! Aku.... Aku tidak bisa menjawabnya."
Rodrigo menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Valeria.
"Aku tidak peduli pada apa pun selain kau."
Valeria gemetar. "Itu egois....."
Rodrigo mengangguk.
"Ya. Aku egois."
Ia lalu menarik napas panjang, seperti menahan amarah yang sejak tadi ia tekan.
"Aku sudah terlalu lama membiarkanmu hidup tanpa aku, Valeria."
Valeria memejamkan mata lagi.
"Rodrigo—"
"Tidak," Rodrigo memotong. Suaranya kali ini berubah. Lebih keras. Lebih tajam.
"Kau tidak akan mengusirku lagi."
Valeria membuka mata, menatapnya.
Di mata Rodrigo ada sesuatu yang membuat Valeria takut. Bukan karena ia ingin melukainya. Tapi karena Rodrigo, benar-benar serius.
Rodrigo menatap Valeria seolah dunia hanya ada di antara dua mata itu.
"Kalau kau mencoba pergi, aku akan mengejarmu."
Valeria menggigil. "Kau mengancamku?"
Rodrigo tersenyum tipis. "Aku berjanji."
Valeria terdiam. Ia ingin marah, ingin menampar, ingin menolak. Tapi tubuhnya lemah. Hatinya lebih lemah. Dan bagian paling buruk dari semuanya.
Valeria tahu, ia masih mencintai pria itu.
Rodrigo mengusap rambut Valeria lagi, lalu berkata dengan nada yang lebih rendah, lebih lembut tapi tetap mencekam.
"Tenang. Aku tidak akan menyakitimu."
Valeria menatapnya dengan mata basah.
"Tapi kau menyakitiku sekarang."
Rodrigo terdiam. Ia menatap Valeria seperti seseorang yang kalah, tapi menolak mengaku kalah.
"Aku tahu," bisiknya.
Lalu ia menempelkan bibirnya di kening Valeria. Ciuman yang seharusnya terasa hangat. Tapi malah terasa seperti segel.
Seperti tanda kepemilikan.
Rodrigo menarik selimut, menyelimuti tubuh Valeria, lalu memeluknya lebih erat.
Valeria ingin melawan. Tapi ia tidak punya tenaga. Tidak setelah semua yang ia rasakan. Tidak setelah semua yang Rodrigo ucapkan. Di luar, hujan terus turun. Di bawah, toko kue tetap diam, gelap, kosong. Namun, di atas kasur Valeria. Ada dua orang yang terjebak dalam masalalu yang tidak pernah selesai.
Dan Rodrigo, dengan suaranya yang serak dan dingin, mengulang sekali lagi, tepat sebelum ia memejamkan mata.
"Sekalinya milikku akan menjadi milikku.Aku tidak akan melepaskanmu!" tekannya
Valeria menutup matanya. Air matanya jatuh pelan di dada Rodrigo. Dan malam itu, ia sadar, Ia bukan hanya sedang melawan Rodrigo. Ia sedang melawan dirinya sendiri. Dan Valeria sudah tahu jika melawan Rodrigo sangatlah percuma karena pria itu tidak akan pernah mengubah itu semua.