novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Setelah sesi baris-berbaris yang penuh tensi itu selesai, para dokter perwakilan diminta untuk duduk di ruang tunggu eksekutif yang sangat mewah. Kursi-kursinya terbuat dari kulit asli, dan dindingnya penuh dengan piagam penghargaan internasional. Satu per satu dokter dipanggil masuk ke ruang wawancara dan orientasi akhir.
Lyra duduk di pojok, masih dengan sisa-sisa emosi yang meluap di dadanya. Ia terus mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari rambut pirang yang sangat mencolok itu.
> Mana sih si Pharma?! Batin Lyra sambil celingukan. Tadi gayanya udah paling bener, sok ngatur, sok rapi, eh sekarang pas mau wawancara malah ngilang. Jangan bilang dia kabur karena malu jas bedahnya miring? Atau jangan-jangan dia sebenernya cuma dokter magang yang pura-pura jadi perwakilan?! Wah, kalau iya, berani banget dia ngerjain gue!
Lyra bangkit dari duduknya, berjalan ke arah meja resepsionis dengan langkah gusar.
"Permisi," tanya Lyra dalam bahasa Inggris kepada staf wanita yang tampak sangat sibuk. "Tadi ada dokter pirang, Pharma Andriend. Dia perwakilan dokter juga kan? Kok nggak ada di barisan atau di ruang tunggu?"
Staf itu mendongak, menatap Lyra dengan ekspresi yang sulit diartikan antara bingung dan ingin tertawa. "Dokter Pharma? Oh, beliau... beliau sedang ada urusan mendesak di dalam. Anda silakan tunggu saja, Dokter Raven. Nama Anda akan segera dipanggil."
> Dih, urusan mendesak apa?! Palingan lagi nyisir rambut biar makin pirang! Lyra kembali ke tempat duduknya sambil menghentak-hentakkan kakinya. Dokter syalan! Dia yang bikin gue telat karena jemput di gudang, dia yang marahin gue karena berdebu, sekarang dia malah enak-enakan ngilang. Awas aja kalau nanti gue satu divisi sama dia, gue kasih jadwal jaga malem seminggu berturut-turut!
Lyra mencoba membuka tabletnya, berniat membaca ulang laporan medis Timmy supaya tidak terlihat bodoh. Tapi fokusnya buyar setiap kali pintu ruang direktur terbuka. Dokter dari Jerman keluar dengan wajah pucat, lalu dokter dari Prancis masuk dengan tangan gemetar.
> Serem banget ya wawancaranya? Lyra menelan ludah. Duh, mana Pharma nggak ada lagi. Meskipun dia nyebelin, seenggaknya kalau ada dia gue ada temen buat dighibahin. Eh, bukan temen deng, musuh tapi senasib.Lyra masih duduk di ruang tunggu dengan perasaan campur aduk. Ia berkali-kali melirik jam tangan, lalu melirik ke arah pintu besar di ujung lorong. Fokusnya bukan lagi pada laporan medis di pangkuannya, tapi pada bayangan sosok CMO (Chief Medical Officer) yang kabarnya ganteng banget itu.
> Oke, tenang hazel, Batin Lyra menyemangati diri sendiri. Lupakan dulu drama diculik tadi. Sekarang saatnya cuci mata! Katanya si CMO ini 'The Best' dan mukanya spek dewa. Gue harus tampil maksimal. Jangan sampai kelihatannya gue habis diajak gelut sama penculik!
Tiba-tiba, langkah kaki yang sangat ia kenali terdengar mendekat. Tanpa menoleh pun, Lyra tahu itu siapa dari aroma parfum maskulinnya yang khas.
"Masih di sini, Dokter Raven?" suara berat Pharma terdengar tepat di belakang telinganya.
Lyra menoleh dengan ekspresi malas. "Ya masihlah! Gue kan nunggu panggilan wawancara sama CMO. Lo sendiri kenapa masih di sini? Bukannya tadi katanya ada urusan mendesak? Udah selesai nyisir rambut pirangnya?"
Pharma tidak terpancing. Ia malah berdiri di samping kursi Lyra dengan tangan masuk ke saku jas bedah. "Saya hanya ingin memastikan perwakilan dari Indonesia ini tidak pingsan karena gugup sebelum masuk ke ruangan itu."
"Dih, sok tahu! Gue nggak gugup ya!" sahut Lyra ketus, meskipun sebenarnya tangannya agak dingin. "Gue cuma lagi mempersiapkan mental buat ketemu orang hebat. Nggak kayak lo, nyebelin!"
Tepat saat itu, asisten direktur keluar dari ruangan utama. "Dokter hazel Lyra Raven, silakan masuk. Chief sudah menunggu."
Mata Lyra langsung berbinar. Ia berdiri dengan sigap, merapikan blazernya untuk terakhir kali. > OKAY, THIS IS IT! Batinnya bersorak. Ia melangkah dengan penuh percaya diri menuju pintu besar itu. Namun, baru dua langkah, ia menyadari ada bayangan tinggi yang mengikuti tepat di belakangnya.
Lyra berhenti mendadak dan berbalik. Benar saja, Pharma berdiri di sana dengan wajah tanpa dosa.
"Eh, mau ke mana lo?!" tanya Lyra sewot, lupa kalau mereka sedang di koridor VIP. "Gue dipanggil wawancara, bukan diajak tawuran. Ngapain lo ngikutin gue?!"
Pharma menaikkan sebelah alisnya, menatap Lyra datar. "Saya juga harus masuk."
"Nggak bisa gitu dong! Ini kan sesi pribadi gue sama Bos CMO yang cakep itu," bisik Lyra setengah protes, berusaha mendorong Pharma menjauh tapi pria itu bergeming seperti tembok. "Lo perwakilan dokter juga kan? Baris sana sama yang lain! Jangan ganggu momen gue ketemu 'The Best'!"
"Saya punya kepentingan di dalam," jawab Pharma singkat sambil melangkah mendahului Lyra dan memegang gagang pintu.
> DOKTER SYALAN! Lyra menggerutu hebat dalam hati. Ini orang beneran mau ngerusak suasana ya?! Gue mau tebar pesona sama Bos CMO, eh malah dikuntit sama mandor pirang yang mulutnya pedes ini. Nanti kalau si Bos liat gue bareng Pharma, dikira gue ada apa-apa lagi sama dia. Idih, amit-amit!
"Pharma, serius ya, kalau lo ikut masuk dan ngerusak wawancara gue, gue sumpahin kacamata lo burem sebelah!" ancam Lyra sambil melotot.
Pharma hanya menatapnya sekilas dari balik kacamata tipisnya sebuah tatapan yang sulit diartikan lalu ia mendorong pintu kayu besar itu terbuka lebar.
"Silakan masuk, Dokter Raven," ucap Pharma dengan nada yang tiba-tiba terdengar sangat formal, namun ada sedikit kilatan jahil di matanya.