NovelToon NovelToon
Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.

Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.

Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Wujud Tara Si Kucing yang Sesungguhnya

Yuda menatap kucing putih itu cukup lama.

Kucing itu menatap balik tanpa berkedip, seolah sedang menilai apakah manusia di depannya layak diselamatkan atau lebih baik dibiarkan mati di hutan.

Api unggun berderak pelan dengan cahaya oranye memantul di dinding gua yang sempit, memperlihatkan retakan batu dan bekas cakaran lama.

Terasa juga bau daun kering terbakar bercampur dengan bau tanah lembap dan darah kering dari luka Yuda.

“Jika kau bisa bicara, tolong jelaskan pelan-pelan, kepalaku masih sakit, dan aku juga tidak ingin pingsan lagi.” kata Yuda akhirnya dengan suara serak.

“Masalahmu bukan dikepala bocah, tapi.. masalahmu itu karena kau bodoh, keras kepala, dan terlalu percaya pada orang dewasa berjubah abu-abu.” jawab kucing itu tanpa ekspresi.

Akhirnya Yuda pun menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

“Baik, aku akan terima semua tuduhan itu.” ucapnya pelan.

Kucing putih itu mengangkat satu alisnya, gerakan yang seharusnya tidak mungkin dilakukan oleh seekor kucing.

“Kau tenang sekali untuk manusia yang baru sadar dan diselamatkan oleh siluman,” kata kucing putih kecil itu.

“Guruku pernah bilang, kalau panik, kita akan mati lebih cepat, hihihi...” jawab Yuda sedikit bercanda.

“Jadi… terimakasih sudah menolong.” lanjutnya.

“Ini bukanlah pertolongan secara gratis,” kata kucing itu cepat.

Mendengar itu, Yuda hanya mengangguk kecil, ia paham yang dimaksud oleh kucing tersebut.

“Aku juga tidak berharap ini gratis, tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini.” jawab Yuda.

Tempat itu pun seketika hening sesaat, namun akhirnya kucing putih kecil itu kembali berbicara.

Kucing putih itu memperkenalkan dirinya dengan nama Tara.

Ia menyebutkan namanya sambil menjilat kaki depan, seolah nama itu tidak penting.

Ia tidak menjelaskan asal-usulnya, tidak menjawab pertanyaan tentang jenis siluman apa dirinya, dan dengan sengaja menghindari tatapan mata Yuda saat berbicara.

“Aku menyelamatkanmu karena kau akan berguna nanti, meoww-” kata Tara lugas dengan diakhirnya dengkuran yang lucu.

“Untuk apa?” tanya Yuda cepat.

“Aku juga belum tahu, tapi firasatku seperti itu.” jawab Tara tanpa ragu.

Yuda pun terdiam sejenak, lalu mengangguk.

“Baiklah, setidaknya kau berkata jujur.” jawab Yuda.

“Hei bocah, kau seharusnya takut setelah mendengar itu,” kata Tara sambil menyipitkan mata.

“Aku akan takut, tapi mungkin nanti saja,” jawab Yuda datar.

“Sekarang aku sudah terlalu sakit untuk takut. hehehe..." lanjutnya dengan tangan yang memegangi pundaknya.

Akhirnya Tara pun memeriksa luka Yuda dengan cara yang jauh dari kata lembut.

Ia seketika menekan lengan Yuda tanpa peringatan sama sekali.

“Ah—!” teriak Yuda dengan tiba-tiba.

“Diamlah bocah, kau mengagetkanku saja..” kata Tara.

“Jika kau teriak lagi, maka jangan salahkan aku jika ku gigit.” lanjut Tara dengan datar.

Tara mencabut sisa anak panah dengan menggigitnya, membersihkan luka dengan air bercampur ramuan pahit yang ia ramu dengan mengunyahnya, lalu membalutnya dengan kain kasar.

“Lengan kananmu memiliki luka sedang. Tulang rusukmu retak ringan,” ucapnya setelah selesai.

“Kalau kau bertarung lagi dalam dua hari kedepan maka kau bisa saja mati.” lanjut Tara menggoda.

“Baiklah, aku juga tidak berencana untuk bertarung.” jawab Yuda

"Manusia memang selalu bilang begitu.” jawab Tara dengan acuh.

Malam itu mereka hampir tidak berbicara lagi.

Tara duduk di dekat api, punggungnya menghadap Yuda, dan sesekali ekornya bergerak pelan, waspada terhadap suara di luar gua.

“Kenapa kau diburu klan?” tanya Tara akhirnya dengan tiba-tiba.

“Katanya tubuhku ini memiliki sebuah keanehan,” jawab Yuda jujur.

“Aku sendiri juga tidak tahu apa yang mereka cari dari tubuhku ini.”lanjutnya dengan tatapan yang bingung.

Tara mendengus pelan. “Kalau dua klan mengincarmu sekaligus, berarti nilaimu cukup tinggi.” ucap Tara datar dengan tubuh yang masih membelakangi Yuda.

“Hei kucing...  Itu bukanlah kabar baik.” jawab Yuda lalu kembali berbaring.

“Aku memang tidak bermaksud berkata baik kepadamu, tidak akan pernah, meouww--” jawab Tara.

Pagi pun datang dengan terlalu cepat.

Yuda terbangun karena air dingin yang disemburkan ke wajahnya.

“Apa—!”

“Meouw-.. Bangunlah bocah, dasar pemalas.” kata Tara.

“Pencari jejak Klan Wasesa sudah dekat, ada tiga orang atau mungkin empat.” lanjut Tara.

Yuda pun akhirnya bangkit dengan kepala yang masih berat.

“Apa kau yakin Tara?” tanya Yuda menjawab.

“Aku sudah mencium bau mereka,” jawab Tara singkat.

Tak berselang lama, mereka berdua pun keluar dari gua lewat celah sempit yang tertutup semak dan batu.

Yuda harus merangkak dengan satu tangan, dan menahan rasa nyeri di dadanya.

“Ke mana kita akan pergi?” tanya Yuda terengah setelah keluar dari goa.

“Untuk saat ini kita harus menjauh dari mereka, tapi mungkin sebagai gantinya, kita akan mendapat masalah baru. Meuww-..” jawab Tara sembarang, sehingga membuat Yuda kesal.

"Dasar kucing brengsek." gumamnya lirih.

Perjalanan pun berlangsung cepat, kasar, dan penuh keluhan.

Tara memimpin melalui jalur binatang, melompati batu-batu licin, dan menyeberangi sungai dangkal tanpa ragu, sedangkan Yuda, ia tertinggal beberapa kali.

“Bocah, kenapa langkahmu terlalu lambat,” komentar Tara.

"Hei kucing bebal, bagaiman tidak lambat, aku masih memiliki luka dan hanya punya dua kaki, tidak punya empat kaki sepertimu.” jawab Yuda kesal.

“Dasar bocah sialan,” balas Tara tak mau kalah.

Menjelang sore, mereka akhirnya tiba di dataran berbatu yang menghadap lembah.

Di kejauhan tampak menara kayu, pagar kasar, dan bendera berkibar.

“Pos perbatasan Klan Wasesa,” kata Tara.

“Jika mereka melihatmu, maka kita akan langsung dikepung.” lanjut Tara waspada.

“Lalu, apakah harus berjalan memutar?” tanya Yuda dengan wajah yang sudah terlihat sangat kelelahan.

“Hanya bertambah dua hari, dan medannya juga buruk.” jawab Tara dengan datar lalu mulai melangkah lagi.

Yuda menarik napas panjang. “Huhh... Baiklah.”  keluhnya.

Di malam kedua, bahaya datang lebih cepat dari dugaan.

Tiga sosok muncul dari balik pepohonan, mereka tidak mengenakan lambang klan, tapi senjata di tangan mereka bersih dan terawat.

“Itu dia, anak itu,” kata salah satu dari tiga sosok itu.

Yuda maju selangkah meski tubuhnya gemetar.

“Mundur kalian, aku tidak ingin bertarung.” ucap Yuda dengan sedikit panik mengingat lukanya belum pulih sepenuhnya.

“Kalimat yang bodoh,” balas pria itu.

Tara disampingnya pun juga berteriak, namun kepada Yuda.

“Jangan..!!!,” kata Tara.

Yuda pun langsung meliriknya.

“Jangan apa?” tanyanya dengan mata yang kebingungan.

“Jangan mati bodoh,” jawab Tara singkat.

Dan tak menunggu waktu lama, akhirnya sebuah pertempuran terjadi dengan singkat dan kasar.

Yuda menghindar, memukul, dan jatuh bangun.

Tenaga dalamnya mengalir tak stabil, namun cukup mampu untuk menjatuhkan satu lawan.

Saat pedang kedua hampir mengenai leher Yuda, Tara melompat ke depan, menerjang lawan.

Tubuh kecilnya seketika membesar.

Dalam satu tarikan napas saja, sebuah wujud tiwikrama terjadi.

Seekor kucing raksasa berdiri, bulu putihnya berdiri tajam, dan taring panjangnya yang lebih keras dan lebih mengerikan dari pada harimau buas juga sudah terlihat.

Sebuah raungannya mampu mengguncang tanah di sekitarnya dan akhirnya mematahkan keberanian lawan.

Para penyerang pun langsung melesat kabur dan melarikan diri.

Beberapa detik kemudian, tubuh Tara kembali menyusut kecil, kembali menjadi kucing lucu, namun masih dengan taring yang terlihat panjang, taring yang tak sewajarnya di miliki oleh seekor kucing lucu itu.

“Hei bocah, jangan menatap seperti itu,” katanya sambil mengibaskan ekor kecilnya.

“Aku sedikit tidak suka dengan tatapan kagum seperti itu.” lanjut Tara dengan mulut yang sedikit tersenyum, namun malah terlihat aneh di wajah lucunya.

Yuda pun hanya mampu menelan ludah sendiri.

“Baiklah. Tapi… kita perlu bicara serius.” jawab Yuda dengan tatapan penuh rasa penasaran.

Tara menguap dengan lebar menunjukkan taring tajamnya.

“Besok saja, sekarang aku mau tidur, dan kau juga sudah terlihat sangat kelelahan.”

Mendengar perkataan kucing kecil itu ada benarnya juga, akhirnya Yuda pun menurut.

___

Di luar goa, dunia pun terus bergerak, dan nama Yuda mulai benar-benar masuk ke arus besar konflik karena tiga sosok yang sebelumnya mengepungnya pasti akan bercerita ke berbagai orang yang mereka temui.

____

1
JUNG KARYA
/Coffee/
JUNG KARYA
mohon dukungannya teman-teman🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!