NovelToon NovelToon
ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin Novel Toon Alif cariza nofiriyanto,isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili Novel Toon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 3

“Raka… kau merenung lagi?” tanyanya lembut.

Aku tersenyum tipis. “Iya… cuma mikir, Dina. Dulu aku sering merasa cemburu sama perhatian Ma padamu. Aku takut posisi suami tergeser. Tapi sekarang… aku merasa lega. Semua berubah.”

Dina duduk di sebelahku, menggenggam tanganku. “Raka… aku senang kau bisa merasa begitu. Kau lihat kan? Ma tetap sayang, tapi dia juga belajar menghargai kita.”

Aku menatapnya, tersenyum hangat. “Iya… aku belajar banyak. Bahwa cinta bukan soal siapa yang paling dekat atau paling perhatian, tapi tentang kepercayaan. Aku percaya kau selalu pilih aku, bukan yang lain.”

Dina tersenyum, menempelkan kepalanya di bahuku. “Dan aku selalu pilih kau, Raka. Selamanya.”

Tak lama kemudian, Nenek Mira keluar, membawa piring sisa kue. “Kalian berdua… ngobrol serius apa di sini? Jangan bikin Ma iri ya.”

Aku tertawa kecil. “Ma… aku cuma merenung. Belajar menghargai kasih sayang Ma, tapi tetap menjaga cinta kita.”

Nenek Mira duduk di bangku dekat kami, tersenyum hangat. “Raka… aku bangga padamu. Kau sudah jadi suami yang hebat, dan aku bisa lihat Dina bahagia bersamamu. Itu saja yang aku inginkan.”

Aku menatapnya, suara lembut tapi tegas keluar dari bibirku. “Terima kasih, Ma… kehadiran Ma selalu hangat, tapi sekarang aku merasa kita punya keseimbangan. Kita bisa sayang-sayangan, tapi tetap punya ruang untuk satu sama lain.”

Dina menatap kami berdua, tersenyum. “Iya… rumah kita sekarang penuh cinta, tapi juga nyaman. Tidak ada tekanan, tidak ada rasa cemburu yang berlebihan. Semua berjalan harmonis.”

Nenek Mira mengangguk, matanya berbinar. “Benar… aku senang bisa melihat kalian begitu. Aku tahu aku harus memberi ruang, dan aku akan selalu belajar. Kau tahu, Raka, aku tidak pernah ingin menjadi penghalang, cuma ingin jadi bagian dari kebahagiaan kalian.”

Aku tersenyum lega, menggenggam tangan Dina erat. “Ma… aku juga belajar banyak. Aku belajar tegas tapi tetap menghargai. Aku belajar sabar, tapi juga tidak takut menegaskan batas. Dan yang terpenting, aku belajar bahwa cinta kita bisa kuat meski ada perhatian lain di sekitar kita.”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku, tersenyum lembut. “Raka… aku bangga padamu. Kita berhasil, ya.”

Nenek Mira tersenyum, lalu berkata sambil tertawa kecil, “Kalau begitu, Ma boleh tetap sayang sama Dina, tapi jangan lupa sayang sama Raka juga, ya!”

Dan aku tahu, di tengah perhatian yang berlimpah, cinta sejati selalu menemukan jalannya. Aku, Dina, dan Nenek Mira—kami menemukan keseimbangan sempurna.

 

Nenek Mira sibuk membuat sarapan, sementara Dina menata piring, dan aku… duduk santai sambil menyeruput kopi.

“Raka… tolong ambilkan garam itu,” pinta Dina sambil tersenyum.

Aku meraih garam, sambil menatap Nenek Mira yang sedang mengaduk telur dadar di wajan. “Ma… bau telur dadarnya enak banget, ya.”

Nenek Mira tersenyum bangga. “Iya, Nak Raka… Ma kan sudah latihan beberapa hari ini. Kalau kalian suka, Ma senang.”

Aku tersenyum, menatap Dina. “Lihat, Ma sekarang cuma bantu-bantu dan bikin rumah hangat. Tidak ikut campur terlalu jauh lagi.”

Dina tertawa, menepuk tanganku. “Iya… rumah kita jadi nyaman. Semua terasa natural, penuh tawa dan kasih sayang.”

Beberapa menit kemudian, Nenek Mira menyodorkan telur dadar hangat ke piringku. “Raka, Nak… coba ini. Jangan bilang Ma berlebihan ya.”

Aku mengambilnya, menggigit perlahan, lalu tersenyum puas. “Hmm… enak, Ma. Lembut dan pas rasanya. Kau benar-benar punya bakat tersembunyi.”

Nenek Mira tertawa kecil. “Nak Raka… jangan terlalu puji, nanti Ma jadi besar kepala.”

Dina ikut tertawa, duduk di sebelahku, lalu menatap kami berdua. “Lihat, Raka… semuanya terasa alami sekarang. Ma hadir, tapi tidak menekan. Kita tetap bisa jadi suami-istri, tapi rumah tetap hangat.”

Aku mengangguk, menatap mereka berdua, dan tersenyum lega. “Iya… aku bahagia. Aku belajar banyak—bahwa cinta itu tidak hanya tentang memiliki, tapi juga tentang memberi ruang, menghargai, dan saling percaya.”

Setelah sarapan, Nenek Mira duduk di sofa sambil menatap kami. “Raka… Dina… Ma senang bisa melihat kalian bahagia. Tidak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan kalian berdua.”

Aku menggenggam tangan Dina, tersenyum hangat. “Terima kasih, Ma… kehadiran Ma membuat rumah ini lebih hidup dan penuh cinta.”

Dan pagi itu, rumah kami dipenuhi tawa, aroma kue dan telur dadar hangat, serta cinta yang tulus. Aku memeluk Dina, tersenyum ke Nenek Mira, dan merasa damai—di sinilah kebahagiaan sejati berada.

Tidak ada tekanan, tidak ada rasa cemburu, hanya kehangatan keluarga yang saling menghargai.

Dan aku tahu, selama kami bersama, rumah ini akan selalu menjadi tempat di mana cinta, tawa, dan kehangatan hidup berdampingan—selamanya.

 

Suatu sore, Dina sedang menata ruang tamu, sementara aku duduk membaca koran. Tiba-tiba, Nenek Mira muncul membawa sekotak kue.

“Raka… kau pasti lapar, kan? Ma bawain kue kesukaanmu,” katanya sambil tersenyum nakal.

Aku menatap kotak kue, lalu menatap Dina. “Ma… kau selalu tau aja ya, kapan aku lapar.”

Dina tertawa. “Iya, Raka… Ma memang perhatian. Tapi kau jangan terlalu manja, ya.”

Aku pura-pura terkejut. “Apa? Aku manja? Ini namanya… dihargai!”

Nenek Mira tertawa kecil. “Benar, Nak… dihargai itu penting. Tapi jangan sampai lupa bantuin Dina juga, ya.”

Hari lain, aku dan Dina sedang memasang lampu hias di balkon. Nenek Mira ikut, tapi gaya khasnya muncul lagi—selalu menyelipkan komentar lucu.

“Raka… jangan pasang lampunya miring, nanti kau ditertawakan tetangga,” katanya sambil menahan tawa.

Aku menatapnya, tersenyum, lalu menoleh ke Dina. “Lihat? Ma ini sudah berubah, tapi tetap nggak bisa hilang sifatnya yang cerewet lucu.”

Dina tertawa, “Iya… tapi aku suka. Rumah jadi terasa hangat dan hidup.”

Suatu malam, saat kami menonton film bersama, Nenek Mira tiba-tiba ikut masuk ke kamar.

“Raka, Nak… jangan tidur dulu, Ma mau duduk bareng kalian nonton,” katanya sambil tersenyum manis.

Aku tersenyum, Dina ikut tertawa. “Ma… filmnya santai saja, kita bisa nikmati bersama.”

Nenek Mira duduk di samping kami, membawa selimut kecil. “Aku senang bisa ikut, tapi janji ya… kalau kau capek, kau boleh tidur dulu. Ma nggak akan ganggu.”

Aku menggenggam tangan Dina, tersenyum hangat. “Lihat, Dina… Ma hadir dengan cara yang lucu tapi tetap nyaman. Aku bisa santai.”

Dina menatap kami berdua, tersenyum. “Iya… rumah kita memang penuh cinta, tapi juga penuh tawa. Ini yang aku suka.”

Dan malam itu, setelah film selesai, kami tertawa kecil bersama, makan kue yang dibawa Nenek Mira, dan berbagi cerita ringan tentang masa lalu.

Aku sadar, rumah ini bukan hanya tentang aku dan Dina, tapi tentang tiga hati yang saling menghargai: kasih sayang seorang ibu, cinta seorang suami, dan kelembutan seorang istri.

1
Emen Umakpauny
lanjutkan
Khoerun Nisa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!