Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. Seperti Lucas dan Ervana
Pagi itu Lucas berperang dengan isi kepalanya sendiri. Pria berambut coklat itu melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu menuruni tangga kokoh rumah besar milik keluarganya. Kemeja hitam yang dipakainya melekat sempurna di tubuh kekarnya. Tangan kanan pria itu memegang sebuah jaket tebal yang berharga fantastis. Derap langkahnya seirama dengan detak jantungnya. Pria itu bahkan mengabaikan beberapa pasang mata yang menatapnya dengan sorot penuh keheranan.
"Lucas, kau mau ke mana?" Eva bertanya pelan pada sang putra yang pagi ini terlihat sedikit murung.
"Aku ingin menjenguk, Ervana".
"Untuk apa?" Efendi bertanya dengan terburu-buru.
"Hanya ingin memastikan kondisinya, Ayah". Ucap Lucas dengan pelan. Tangannya terulur, mengambil segelas kopi lalu meneguknya dengan gerakan terukur. Rambut coklatnya terlihat sedikit basah. Pria itu bahkan tidak sempat mengeringkan rambutnya terlebih dahulu seolah takut kehilangan waktu untuk bertemu adik malangnya itu.
"Dia akan baik-baik saja, Nak. Rumah sakit jiwa itu adalah yang terbaik di seluruh kota. Ervana pasti baik-baik saja di sana". Eva berucap santai seolah keadaan putrinya tak sepenting itu.
"Kak, maafkan aku! Gara-gara aku Kak Ervana harus dirawat di rumah sakit jiwa. Ini semua salahku ak-"..
"Berhenti meminta maaf untuk hal yang tidak seharusnya menjadi urusanmu, Renita. Caramu meminta maaf seolah-olah kau sengaja menjebak Ervana". Ucap Lucas sambil menatap intens wajah Renita yang saat ini tengah susah payah menahan kegugupannya.
"Ak-aku hanya merasa bersalah, Kak. Demi Tuhan, aku tidak pernah menjebak Kak Ervana".
"Tidak perlu setegang itu. Sikapmu benar-benar mencurigakan". Untuk pertama kalinya Lucas Moses merasa muak melihat wajah polos adik angkatnya. Gadis yang terlihat seperti badai besar yang siap menerjang keutuhan keluarganya.
"Lucas, kau tidak seharusnya mencurigai Renita. Ia adalah gadis normal. Tidak seperti Ervana yang depresi". Eva mendekat ke arah sang anak angkat lalu memeluk erat tubuh bergetar gadis itu.
Sial, Kak Lucas sepertinya sudah mulai mencurigaiku, batin Renita dengan amarah yang mengebu-gebu.
"Aku tidak pernah mencurigainya. Mungkin ibu terlalu berlebihan". Lucas lalu meninggalkan ruang makan rumah itu dengan langkah teratur, menyisakan aroma parfum mewahnya yang begitu menenangkan.
"Enam bulan, kurasa itu adalah waktu yang cukup untuk memberinya pelajaran. Walaupun ia menjijikkan, dia tetaplah adikku".Lucas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang pagi itu begitu sibuk. Di kiri kanan jalan, beberapa pengamen cilik berlarian ke sana kemari, menggaungkan nada-nada sumbang yang memekakkan telinga. Lucas merogoh dompetnya lalu mengambil beberapa lembar uang dan menyerahkannya kepada seorang gadis berusia 10 tahun yang terlihat begitu dekil.
"Terima kasih, Tuan". Mata sang gadis berbinar lalu dalam sekejap suara teriakannya mulai bergema.
"Kak, Tuan baik hati ini baru saja memberiku banyak uang. Kurasa ini sudah cukup untuk biaya pengobatan adik". Seorang anak laki-laki mendekat lalu menatap intens wajah Lucas yang masih menikmati momen sederhana itu. Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, membuat pria itu sedikit santai.
"Tuan, terima kasih banyak. Kau seperti dewa penolong". Anak laki-laki itu menunduk takzim ke arah Lucas. Sedetik kemudian dua bersaudara itu sibuk mengeluarkan lantunan kalimat terima kasih yang membuat tenggorokan Lucas tercekat.
"Hei, berapa usia kalian?" Tanya Lucas kemudian. Pria angkuh itu sebenarnya bukan tipe manusia yang suka mencari tahu segala sesuatu yang bukan menjadi urusannya. Namun, pemandangan indah di depannya ini terlalu sayang untuk dilewatkan.
"Umurku 13 tahun adikku 10 tahun". Sang kakak berbicara sambil sibuk menyeka air mata bahagianya. Dada Lucas terasa semakin sesak. Selisih usia mereka persis seperti selisih usianya dengan Ervana. Ia seperti melihat gambaran adiknya dalam diri gadis kecil berpenampilan lusuh itu.
"Di mana orang tua kalian?"
"Kami hanya punya ibu, Tuan. Ibu sedang menjaga adik yang sedang sakit". Gadis lusuh itu mulai berbicara sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap netra gelap milik Lucas.
Lucas terhenyak mendengar penjelasan keduanya. Sisi baiknya sebagai seorang manusia mulai mendominasi. Pria itu sedikit tidak menyangka jika di luar sana ada manusia yang bahkan kesulitan untuk mendapatkan kehidupan yang layak sementara dia sibuk menghamburkan untuk hal yang tak perlu. Sekali lagi, jemari panjangnya mengeluarkan beberapa sejumlah uang dari dompet mahalnya sampai tak ada yang tersisa.
"Apakah ini cukup untuk kalian?"
"Tuan, terima kasih banyak". Anak laki-laki itu menundukkan kepalanya rapat-rapat. Lucas mengangguk pelan lalu melajukan mobilnya persis ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit jiwa itu, Lucas hanya bisa termenung membayangkan segala hal yang mungkin terjadi ketika ia bertemu adiknya.
"Apakah ia akan memelukku erat-erat seperti yang sering ia lakukan dulu?" Lucas tersenyum lembut, membayangkan kehidupan masa lalunya yang begitu berbahagia. Ia harus ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan menengah atasnya. Saat itu, Ervana kerap menangis diam-diam saat menelponnya. Mengatakan bahwa hidupnya tidak baik-baik saja semenjak kakaknya pergi.
"Gadis kecil yang penuh drama". Lucas Moses menyeka ujung matanya yang sedikit basah. Ah, membayangkan momen berharga itu membuat dadanya terasa sesak. Waktu telah merebut paksa kenangan berharga itu, setiap kali ia membayangkan wajah adiknya yang muncul di kepalanya adalah cara gadis itu menatap Renita dengan sorot mata penuh kecemburuan.
"Apakah yang dikatakan Renita benar? Ervana menggoda Tuan Morgan supaya diterima di perusahaan milik keluarga Aston". Lucas meraup wajahnya dengan kasar. Kebingungan menguasainya sekejap. Lantas, siapa yang harus ia percaya? Adik kandung yang dulu begitu disayanginya atau adik angkat yang selalu terlihat polos dan membanggakan.
"Renita tidak mungkin berbohong! Cih, aku malu sekali punya adik seperti Ervana". Sedetik kemudian, keegoisannya sebagai seorang kakak menang. Pria itu menganggap adiknya hanyalah sampah yang kerap mempermalukan keluarganya.
Rumah sakit jiwa terbesar di kota itu terlihat seperti rumah hantu. Pohon beringin besar yang berada di belakang rumah sakit itu seperti menambah kesan mistis, membuat Lucas merapatkan jaketnya persis ketika hawa asing menyergapnya.
"Mau bertemu dengan siapa, Tuan?" Seorang perawat berusia sekitar 50 tahun mendekat ke arah Lucas yang masih sibuk memandangi pohon beringin tua di belakang rumah sakit itu.
"Pasien atas nama Ervana".
"Nama lengkapnya?"
"Ehmm Ervana Moses". Ucap Lucas sedikit ragu. Sang perawat terhenyak, apakah pasien itu adalah keturunan langsung keluarga Moses? Takut-takut ia menatap wajah tampan Lucas, jantungnya berdetak kencang ketika ia menyadari satu hal. Ervana dan Lucas terlihat begitu mirip.
"Ada apa?" Tanya Lucas kemudian.
"Ti-tidak Tuan. Mari ikut saya". Pemandangan yang dilihat oleh Lucas kemudian sukses membuat pria itu nyaris gila.