NovelToon NovelToon
TENTANG KAMU DAN DIA

TENTANG KAMU DAN DIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cintapertama
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: MAMI ADRIELLA20

Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang rindu

Suara troli tempat tidur bergulir menuju ruangan, aku di tempat kan dimana ada sofa didalam kamar rawat inap, bang Dean memberikan ku minum obat dan ya ia juga berjanji akan menjaga ku, aku tau dia mengambil foto ku ketika di IGD bahkan foto itu di kirim ke seseorang, tapi siapa ya mungkin bou.

"Aku kedinginan," menggigil ku tarik selimut. Bang Dean pergi dan datang dengan selimut tambahan dari rumah sakit. Aku kembali pulas tidur, mungkin efek obat tadi jadi ngantuk begitu cepat datang nya.

Hanya beralas jaket dari mobil bang Dean tidur di sofa, ia tidak berani' mengambil selimut lagi untuk dirinya. berhubung AC disini sentral jadi kita ikut aturan suhu rumah sakit aja ya guys. Aku enggak egois membiarkan bang Dean tidur dengan kedinginan seperti ini, aku turun memberikan selimut ku untuk dia.

sekembalinya dari kamar mandi aku lanjut tidur, benar-benar tidur malam yang puas. Bang Dean di pagi hari ini sudah berpindah tidur di kursi dekat dengan wajah ku.

Rambutnya satu malam ini mengenai pipi ku, aku masih terus mengantuk sampai ingin hilang kesadaran. Untungnya ada dia disamping ku, serapan di antar kan. Bang Dean super sabar, dia membantuku makan lagi-lagi dan lagi. Kan jadi nagih rasanya aku.

"Enggak kedinginan kan? "Bang Dean seolah sadar aku sudah bangun. Aku mengangguk lembut, ia semakin menyandang selimut itu sampai ke bagian dada ku. Sedikit lapar tapi bang Dean juga pasti enggak peka tentang itu, buktinya serapan dibiarkan aja di meja dia malah tidur pulas di samping ku.

Bang Dean masih terlelap bahkan sudah pindah ke sofa, untungnya makanan bergizi datang, jadi aku bisa makan sendiri, terkadang aku dimanjakan olehnya Terkadang di biarkan mandiri. Makanan itu cukup kami dua bagi, aku mengambil kursi dan gantian menyuapi nya, wajahnya amat kelelahan, disini lah aku belajar kata memahami. Dia bukan tidak perduli hanya rasa lelahnya kalah dengan keperdulian nya, dia pasti begadang juga tadi malam.

Dokter masuk berbarengan ompreng/ nampan rumah' sakit itu diambil.

Doa' ku didengar kan Tuhan, sakit ku enggak begitu serius. Jam 3 sore nanti sudah di izinkan pulang. Ini efek dari setres kurang tidur dan juga kurang minum air. Jadi hal-hal yang harus di hindari cukup tau kedepannya untuk tidak di konsumsi lagi.Menurut dokter fisik ku sebenarnya rentan untuk sakit, dia salut dengar penuturan ku kalau aku jarang sakit selama ini, mungkin benar kata dokter akibat beban terlalu banyak akhirnya tubuh ku berontak dan waktu nya aku istirahat.

"Tapi si Abang nya sigap Lo, kemarin suster tu cerita kalau kakaknya sempat demam tinggi, telepon juga ke aku cuman akunya enggak bisa tangani langsung kan ya pertolongan pertama di lakuin suster... Aman kan bang?" Aku melihat ke arah bang Dean, pantesan dia tidur di sebelah ku tadi.

Suntikan terakhir menjelang infus di buka, aku semakin yakin mungkin dialah yang Tuhan tulis untuk ku, ketika suntikan itu mendatangkan nyeri bang Dean terus menjadi pegangan ku, baru pertama kali seseorang menghapus air mata ku, sakit cuman enggak begitu terasa karena ada bang Dean.

Air hangat diberikan supaya aku tenang, posisiku dibuat setengah duduk. Pandangan ku terus menatap dia, dia tiada lelah menghadapi ku, melihat ku diam dia menyerahkan handphone ku, sesekali ia mengambil waktu untuk main game online kesukaan nya.

"Kau enggak kabarin orang rumah kalau lagi sakit." Dia melihat lurus ke arah tempat tidur, sofa itu seakan semakin berjarak ketika ia membahas tentang Mama Papa, aku diam mengabaikan dia.

Tiba-tiba dia mendapat panggilan telepon, ternyata Papa. Kurang ajar dia mendahului ternyata, "Halo tulang, gimana kabarnya?" dia mengambil kursi tadi dan mendekat ke arah ku. "Masih di rumah sakit jaksa." Kata Papa memanggil bang Dean, bang Dean tersenyum dan mengarahkan video call ke wajah ku.

"Kompak kali anak bapak yang satu ini," ia tertawa namun seperti menahan air mata untuk sesuatu, apa Papa sudah cerita tentang masalah latar belakang ku. Aku masih mempertahankan egois ku, disaat ini aku sedih cuman rasa kesal kenapa aku tidak mendapat penjelasan begitu berat untuk di terima.

Kami saling membisu, air mata Papa sudah cukup menjelaskan semua yang terjadi di belakang ku. Papa pasti sudah cerita ke bang Dean akan latar belakang ku, aku yakin dari tatapan dan diam nya bang Dean melihat sikap kami. "Bapak sakit Inang, rindu bapak sama mu." Memang aku diam dan memalingkan wajah, tapi bukan karena benci. Aku sedang menutupi air mata kekecewaan dari Papa, di pernikahan ku nanti aku takut kalau aku anak haram akan terungkit.

"Kapan bisa kau libur satu Minggu aja, pulang lah kita berdua." bang Dean menjanjikan untuk kami berangkat pulang kampung bersama-sama. "Kalau tanggal pernikahan Lista sama Ijonk udah timbul." Jawabku cuek tidak memperhatikan Papa.

Disana mungkin ruang rindu Papa sudah tidak terbendung, ia mulai membujuk ku.

"Boru, ampunilah aku sebagai manusia yang lemah ini. Bukan mau ku bohongi atau mau ku miliki kau sepenuhnya, sadar aku salah menutupi ini semua dari mu cuman untuk mengatakan nya terlalu berat untuk kami Boru, ini lah yang ku takut kan. Pergi kau dari kami, mau minta maaf pun aku enggak cukup membalikkan hati mu melihat kami..." Batuk Papa kian menggelegar, bang Dean sabar memegangi handphone untuk posisi kamera tepat penuh di aku.

"Bapak tau ! Aku malam itu cuman butuh penjelasan kalian, enggak kalian bikin begitu kan? Cuman itu, soal itu biarlah berlalu toh kalian yang pertama kali dalam ingatan ku keluarga ku, enggak mungkin ada pikiran ku benci sama kalian, justru kalian lah yang menyelamat-kan ku darimana pula datang ketakutan Bapak." Emosiku benar-benar memuncak, bang Dean saja sampai mengelus bahu ku, isyarat supaya aku menenangkan diri. Sayangnya itu tidak membuat ku mereda malah semakin menjadi adanya. "Cepp" kercap lidah bang Dean, ia ikut marah dengan prilaku ku seperti ini.

"Tulang itu udah merendah Lo, kok kau buat begitu." Syapp benar dugaan ku kalau bang Dean tau tentang masalah ini. Di amarah ku aku masih bisa berpikir kalau cuman keluarga bang Dean yang bisa memahami kenapa ini bisa terjadi dan menerima ku sepenuhnya.

"Jangan emosi mu aja kau bawa," kata bang Dean ikut marah kepada ku, aku diam dan memikirkan ada benarnya ucapan bang Dean barusan.

Kami saling menenangkan terlebih dahulu, Mama juga menenangkan Papa aku juga di tenangkan oleh bang Dean. Disana Papa menangis sejadi-jadinya, bahkan waktu kehilangan Boru kandung nya tidak seperti itu. Sesayang itu kah mereka kepada ku? Enggak layak juga kalau aku terus marah ke mereka.

"Sudah tenang?" bang Dean tertunggu. "Nanti kalau ada waktunya kami pulang ya nantulang, istirahat lah tulang. Baik-baik aja Miwa sama aku." Sikap dewasa seperti ini belum ku temui di hubungan mana pun. Inilah akan ku jadikan alasan untuk aku selalu setia terhadap bang Dean.

Ia memelukku, pelukan bukan karena nafsu melainkan cara untuk menguatkan raga ku. Ia tidak banyak bicara tapi sekali tindakan itu membuat rasa nyaman di hatiku.

1
Zanahhan226
aku mampir nih, Kak..
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
MAMI ADRIELLA20: woke kak, terima kasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!